Halaman

Cari Blog Ini

Jangan Lupakan Tubuh Ayam

Infovet

Jangan Lupakan Tubuh Ayam

(( Membahas produksi telur ayam jangan lupakan anatomi dan faali ayam, sebagai dasar bagi kita agar kuat memahami bagaimana ternak ini berproduksi dan terjaga produksinya. ))


Kerangka unggas ringan tetapi kuat, sesuai dengan keperluannya untuk terbang dan berjalan. Adapun tengkorak unggas kecil dengan hubungan antartulang yang kuat, berhubungan dengan atlas yaitu tulang pertama columna vertebrae (susunan luas tulang belakang).

Menurut sumber di Universitas Terbuka, tulang-tulang pinggang dan punggung unggas saling berhubungan dengan erat, merupakan tempat melekatnya otot-otot yang digunakan untuk terbang, dan untuk menahan tekanan. Ujung pasterior tulang pubis dan ujung posterior sternum digunakan untuk memperkirakan daya bertelur pada kegiatan culling ayam.

Selanjutnya menurut sumber yang sama, tulang-tulang unggas yang bersifat pneumatik berhubungan dengan sistem pernapasan. Tulang-tulang pneumatik terdapat pada humeras, tulang-tulang kepala klavicula as sternum, vertebrae lumbales dan os sacrum.

“Unggas mempunyai tulang-tulang meduler yang digunakan untuk menimbun kasium. Tulang-tulang meduler terdapat pada tibia, femur, pubis, tulang-tulang rusuk ulna, tulang-tulang telapak kulit dan scapula,” kata sumber di UT.

Sistem pencernaan unggas sendiri, sederhana jika dibandingkan dengan ruminansi dalam arti hanya sedikit tempat tersedia bagi kehidupan mikrorganisme ynag dapat membantu pencernaan makanan.

Karena unggas tidak bergigi akan pengunyahan makanan tidak terjadi di mulut. Di tembolok, makanan dilunakkan dan mulai dicerna. Di perut pengunyah, makanan dipecah dan digiling. Makanan terutama dicerna dan diabsorp (diserap) oleh usus halus.

Berbeda dengan vertabrata lainnya, unggas memiliki kloaka yaitu ruang pertemuan dari tiga saluran, pencernaan, urinaria dan reproduksi.

Sistem reproduksi unggas jantan berupa testes ductus (vas) deferens, dan ogan kopulasi yang bentuknya rudimenter. Unggas tidak mempunyai penis. Sperma diproduksi di dalam testis, disalurkan ke luar tubuh melalui ductus deferens yang bermuara pada papilla. Perkawinan unggas jantan dengan unggas betina pada hakikatnya ialah mempersatukan dua kloaka untuk memungkinkan pemancaran sistem yang mengandung sperma.

Sistem reproduksi unggas betina terdiri atas ovarium dan oviduk. Ovarium yang mengandung sekitar 1.000-3.000 folikel dan di dalam folikel terdapat kuning telur (yolk). Ukuran folikel berkisar dari yang mikrokopik hingga yang sebesar yolk, tergantung pada tingkat kemasakan yolk di dalamnya. Setelah sebuah yolk diovulasikan, kemudian diterima oleh infudibulum dan melewati bagian-bagian lain dari oviduk, menjadi telur yang sempurna yang dikeluarkan melalui anus.

Menurut sumber Infovet yang lain, kuning telur (yolk) dari ayam yang diimunisasi (divaksin) sudah sangat terkenal sebagai salah satu sumber antibodi. Produksi immunoglobulin yolk (IgY) dengan memanfaatkan kuning telur ayam sebagai pabrik biologis mempunyai beberapa keunggulan. Ayam memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap pemaparan antigen asing, sehingga sistem imun ayam sangat responsif dan persisten untuk produksi IgY


Faali Ayam

“Sistem pencernaan unggas berfungsi mencerna dan mengabsorpsi zat-zat makanan serta mengeluarkan sisanya yang tidak dapat dicerna melalui anus, “ ungkap Sumber di Universitas Terbuka

Menurut sumber UT ini, unggas tidak bergigi dan sebagai-gantinya maka makanan yang besar atau yang keras digiling di dalam perut pengunyah. Di situ makanan dipecah menjadi partikel-partikel kecil.

Pankreas menghasilkan HCl dan pepsin, sedangkan hati menghasilkan empedu. Zat-zat yang dihasilkan oleh kedua organ pencernaan tambahan ini memberikan lingkungan yang baik bagi terjadinya reaksi-reaksi pencernaan yang bersifat enzimatis.

Penyerapan zat-zat makanan sebagian besar terjadi di dalam usus halus (duodenum) karena permukaan dinding usus ini diperluas oleh adanya lipatan-lipatan dan villi, zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna, tidak banyak bermanfaat bagi unggas karena mikroorganisme (bakteri) yang seharusnya membantu pemecahan bahan-bahan makanan tidak mempunyai tempat khusus, dalam sistem pencernaan unggas. Hal ini sangat berbeda dengan ruminansia.

Air sebagai zat makanan yang berada di dalam bahan makanan tersisa, diserap kembali oleh dinding usus besar dan dimanfaatkan kembali oleh tubuh unggas.

Seperti halnya unggas betina, sistem produksi unggas jantan (termasuk ayam) dipengaruhi oleh intesitas cahaya dan kerja hormon-hormon reproduksi.

Sistem reproduksi unggas betina melibatkan kegiatan interaksi kerja berbagai macam hormon reproduksi yang dipengaruhi oleh banyaknya cahaya yang diterima oleh kelenjar pituitari. Cahaya yang sangat kurang dapat menghentikan kegiatan.

Dengan demikian kita lebih kenal Sang Ayam Produsen Telur untuk kesehatan kita.
(UT/ YR)

EDS dan Vaksin Lokal

Infovet

EDS dan Vaksin Lokal

(( Apakah antigen EDS' 76 inaktif buatan lokal untuk uji HI dapat digunakan dalam membedakan antara ayam yang mempunyai antibodi EDS' 76 atau tidak? ))

Penurunan produksi telur merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi oleh peternak ayam pembibit maupun petelur. Di antara sekian banyak faktor yang dapat menyebabkan penurunan produksi telur adalah penyakit Egg Drop Syndrome'76 (EDS'76).
Sumber di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga Surabaya menyatakan uji hambatan hemaglutinasi (Hemagglutination Inhibition, HI) merupakan salah satu cara pemeriksaan serologis yang sering dilakukan, karena mudah dan praktis serta mempunyai nilai keakuratan yang tinggi.
Hanya saja, kata Drh Nanik Sianita Widjaja dalam penelitiannya, yang menjadi kendala, antigen EDS'76 untuk uji HI, tetapi baru dalam taraf membandingkan titer hemaglutinasi (HA) dan stabilitasnya setelah penyimpanan pada suhu 4 derajat C.
Menurutnya permasalahannya sekarang adalah apakah antigen EDS' 76 inaktif buatan lokal untuk uji HI dapat digunakan dalam membedakan antara ayam yang mempunyai antibodi EDS' 76 atau tidak?
Lalu, berapa antibodi dalam serum ayam yang divaksin EDS'76 inaktif atau diinfeksi virus EDS'76 masih dapat dideteksi dengan uji HI menggunakan antigen EDS'76 inaktif buatan lokal?
Kemudian, apakah ada perbedaan hasil antara antigen EDS'76 inaktif buatan lokal dan antigen EDS' 76 aktif bila digunakan untuk mengukur titer antibodi EDS'76 pada serum ayam dengan uji HI?
Dari hasil penelitiannya, Drh Nanik Sianita Widjaja menyatakan kesimpulan antigen EDS'76 inaktif dapat digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi EDS'76. Tetapi, tidak dapat digunakan untuk membedakan antara antibodi akibat vaksinasi atau terinfeksi virus EDS' 76.
Maka, kata Nanik Sianita, “Perlu dipikirkan kemungkinan membuat antigen EDS' 76 yang dapat membedakan antara antibodi akibat vaksinasi ataukah terinfeksi virus EDS' 76.”

Vaksin Lokal
Penelitian vaksin hewan termasuk vaksin EDS’76 untuk ayam ini di Indonesia memang telah banyak dilakukan oleh perguruan tinggi, lembaga penelitian departemen dan nondepartemen, serta produsenvaksin hewan baik milik pemerintah maupun swasta.
Adapun, lembaga penelitian pemerintah yang punya wewenang untuk menghasilkan vaksin adalah Balai Balai PenelitianVeteriner (Balitvet) sebagai lembaga penelitian penyakit hewan tertua di Indonesia.
Beberapa vaksin lokal ini mempunyai efektivitas yang lebih baik, antara lain vaksin IBD aktif intermediate isolat lokal.Vaksin ini dikembangkan dari isolat virus IBD lokal yang ganas yang mewabah di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Galur virus lokal ini mempunyai karakteristik molekuler yang berbeda dengan virus vaksin IBD yang diimpor, di mana vaksin impor tersebut tidak dapat melindungi wabah IBD di Indonesia
Vaksin IBD lokal dikembangkan oleh Dr Drh Lies Parede dari Bbalitvet berbagai uji coba dan dapat melindungiserangan wabah IBD di Indonesia. Dr Drh Darminto Kepala BaBalitvet juga telah mengembang-kan vaksin IB inaktif untuk ayam yangmempunyai keunggulan komparatifdibanding vaksin IB inaktif impor, karenaberasal dari isolat virus lokal yang berbedadengan virus vaksin.
Badan Tenaga Nuklir Nasional(BATAN) juga telah berhasil menelitivaksin ayam coccidia melalui proses radiasi. Beberapa perguruan tinggi sepertiInstitut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga mempunyai pengalaman dalam menelitidan memproduksi vaksin hewan dalamskala terbatas terutama vaksin ND.
Perguruan tinggi sebenarnyamempunyai potensi yang besar untukberperan sebagai produsen vaksin, tetapi dibatasi oleh masalah dana, sarana dan prasarana serta peraturan perundangan. Prof Dr Drh Masdoeki Partadiredja almarhum jauh hari mengemukakan bahwa status otonomi beberapa perguruan tinggi membuka peluang bagi perguruan tinggiuntuk mendirikan badan usaha yang bergerak dalam bidang produksi vaksin dan bahan biologis veteriner lainnya.
Sekarang telah terbukti, FKH-IPB berhasil membentuk perusahaan terbatas yang memproduksi vaksin avian influenza (AI). Dengan demikian, semakin kuat keberadaan para peneliti kita dalam menguji dan mengambangkan vaksin dalam negeri. Penelitian-penelitian semacam di awal tulisan ini menjadi sangat berarti. (FKHUnair/Bbalitvet/YR)

Diagnosalah Penurunan Produksi Telur

Infovet

Diagnosalah Penurunan Produksi Telur

(( Untuk mendiagnosa kasus-kasus itu beberapa kasus infeksius, diagnosa menurut sumber Disnak Sumatera Barat Infovet urutkan berdasar peringkat berdasar hasil survei Infovet yaitu: ND, EDS, IB, disusul Lain-lain selain AI dan IBD. ))


Berdasar hasil jajak pendapat Infovet terhadap 29 responden tentang penyakit yang paling menyebabkan penurunan produksi telur adalah: ND (24%), EDS (20%), IB (20%), Lain-lain (20%), AI (6%) dan IBD (6%), Infovet menyusun tiap penyakit ini terkait kasus penurunan produksi menjadi trend saat ini.

Sumber peternakan di Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat faktor penting yang mempengaruhi penurunan produksi telur adalah strain ayam layer modern yang mengalami seleksi genetika untuk mencapai penampilan produksi yang maksimal.

Ayam layer dengan karakter dan genetik yang baru ini, kata Drh Asrul Anwar, “Sangat peka terhadap penurunan produksi telur baik akibat kegagalan manajemen, fluktuasi nutrisi pakan, maupun kasus penyakit. Pola penurunan produksi berbeda baik segi intensitas / keparahan kasus, kompleksitas, dan frekuensi kasus. Agar produksi dapat kembali mencapai standard, diperlukan diagnosa lebih teliti.”

Di lain pihak, Drh Asrul Anwar menyarankan para peternak harus memelihara lingkungan, menjalankan manajemen yang baik dan memberikan pakan yang berkualitas agar ayam mencapai potensi genetiknya.

Drh Asrul Anwar menyatakan di lapangan penyebab penurunan produksi bervariasi. Ada 2 kelompok besar, kasus infeksius dan non infeksius. Kasus Infeksius terdiri atas Virus: AI, ND, IB, ILT, EDS; lalu Bakteri: Coryza, E. Coli, Pasteurella, Pseudomonas, Clostridium, Mycoplasma; kemudian Parasit: Leucocytozoon sp, Helminthiasis.

Untuk mendiagnosa kasus-kasus itu beberapa kasus infeksius perlu diketahui manifestasi klinisnya. Diagnosa menurut Drh Asrul Anwar itu Infovet urutkan berdasar peringkat berdasar hasil survei Infovet yaitu: ND, EDS, IB, disusul Lain-lain selain AI dan IBD.


Kasus ND

Menurut Drh Asrul Anwar Kasus Newcastle Diseases atau ND dapat menyebabkan penurunan poduksi tergantung pada status kekebalan tubuh ayam. Penurunan produksi pada kasus ini cepat tetapi kenaikan kembali produksi lambat. Pada telur dari ayam penderita ND, variasi warna kerabangnya lebih kecil dari IB, yakni

Kasus EDS

Kasus Egg Drop Syndrome atau EDS menurut Drh Asrul Anwar umumnya menyerang ayam menjelang puncak produksi. Tidak tampak gejala klinis. Perubahan spesifik adalah pada telur dengan kulit yang sangat tipis, atau menyerupai telur penyu. Produksi dapat menurun sebanyak 30-50% hanya dalam jangka 2 minggu.

“Produksi telur akan berada pada titik terendah selama 1-2 minggu, baru kemudian berangsur-angsur naik kembali dan mencapai kurva normal dalam waktu 48 minggu kemudian. Pengujian patologi anatomis dapat dijumpai oedema pada uterus,” kata Drh Asrul Anwar pada sumber Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat itu.


Kasus IB

Terjadinya kasus Infectious Bronchitis atau IB, dituturkan Drh Asrul Anwar, “Umumnya pada 4-6 minggu sebelum puncak produksi atau 4-6 minggu setelah puncak produksi. Bobot rata-rata telur umumnya menurun sebanyak 5 - 15% pada 2-3 minggu sebelum jumlah telur mengalami penurunan dan prosentase penurunan sangat beragam.”

Kata Asrul Anwar, pada ayam yang tidak divaksin, produksi telur dapat turun sebanyak 50 – 70% dari awal hanya dalam waktu 1 minggu. Berada pada level terendah selama 1-2 minggu, kemudian kembali meningkat mendekati kurva standar dala waktu 6-8 minggu, tetapi tidak pernah mencapai puncak kurva normal. Kegagalan ini akibat adanya kerusakan permanen pada ovarium dan oviduct.

Selanjutnya Drh Asrul Anwar menuturkan, pada ayam yang telah divaksin tatapi tidak cukup terproteksi. Penurunan produksi dapat terjadi sebesar 30% dari awal kasus dalam waktu 1 minggu. Level terendah bertahan selama 1 minggu pula dan berangsur-angsur meningkat dalam 4-6 minggu, namun tidak dapat kembali ke kurva awal.

Sementara pada ayam dengan tantangan tertinggi, ungkapnya, terjadi penurunan produksi sebesar 10% dalam jangka 1 minggu dan berada di level terendah selama 1 minggu, selanjutnya akan meningkat dalam 1 minggu kemudian. Jika diamati telur dariayam yang terserang kasus ini akan berwarna pucat dengan variasi warna hingga 7 macam.

“Telur yang mengalami depigmentasi ini sebanyak 20% dan 10% diantaranya mempunyai bentuk kerabang yang tidak normal.salah satu perubahan spesifik adalah bentuk albumin yang cair pada 10% telur dengan kerabang yang tidak normal dan dijumpai gumpalan kecil darah yang dikenal dengan blood spot,” ujar dokter hewan ini.


Kasus Mg atau Ms

Menurut Drh Asrul Anwar, kasus Mycoplasma gallisepticum (Mg) mengganggu jumlah telur yang diproduksi serta dapat menyebabkan kurva produksi seperti mata gergaji atau jigsaw phenomenon, umumnya menyerang ayam pada tiga titik kritis yaitu pada saat produksi 5%, 75% atau satu bulan setelah puncak produksi.

“Kualitas kerabang menurun dengan warna yang lebih pucat. Di samping itu ditemukan adanya sandy egg yaitu bintik-bintikmaterial kerabang yang menyerupai pasir di ujung tumpul permukaan kulit telur sebanyak lebih 1%,” ujar Asrul.

Diungkap, gejala Klinis berupa gangguan pernafasan akibat Mycoplasma gallisepticum (Mg) pada ayam produksi seringkali tidak jelas. Pada pengujian patologi anatomis dapat ditemukan kabut atau perkejuan pada kantong hawa, pada Mycoplasma synoviae(Ms) diikuti oleh enteritis yang tidak spesifik, hepatomegali (perbesaran hati), splenomegali (pembengkakan limpa) dan sinovitis (peradangan pada persendian lebih dar 2 tulang) hingga kelumpuhan.

Akhirnya, uji laboratorium dapat dilakukan dengan Rapid Serum Test untuk mengetahui IgM yang menjadi petunjuk dari infeksi akut. IgM ini dapat terdeteksi pertama kali 5-7 hari setelah infeksi terjadi. (disnaksumbar/ Infovet/ YR)

AMATILAH SI TELUR AYAM

Infovet

AMATILAH SI TELUR AYAM


(( Telur ayam sering kita makan, apa sebetulnya bagian-bagian yang ada dalam si telur itu? ))

Bertelur merupakan cara alamiah ayam untuk memperbanyak keturunannya. Ayam betina rata-rata dapat menghasilkan sebutir telur setiap pagi,dan jumlah telur yang sudah dibuahi dapat mencapai 15 butir. Ayam betina akan mengerami telurnya setelah telur terakhir keluar dari badannya.

“Telur akan menetas setelah dierami oleh ayam betina selama 21 hari. Semakin baik kualitas telur, semakin besar prosentase penetasannya. Baiknya kualitas telur itu sendiriditentukan oleh pakan ayam betina semasa proses bertelur, dan bahkan jauh sebelum masa bertelur,” kata sumber di Universitas Kristen Petra.

Dengan kata lain, kata sumber universitas itu, pakan dan perawatan ayam betina amat menentukan kualitas telurnya. Semakin baik pakan dan perawatannya, semakin baik pula mutu telurnya. Bagi peternak ayam, membeli telur dan menetaskannya sendiri merupakan cara yang paling murah dalam menambah jumlah ayamnya.

Cara lain untuk menambah jumlah ayam adalah dengan membeli DOC (day old chick) yaitu ayam yang baru berusia beberapa hari atau dengan membeli ayam muda yang berusia kurang dari setahun. Membeli anakan jelas lebih mahal daripada menetaskan telur, dan membeli ayam muda lebih mahal lagi dibandingkan dengan membeli anakan.

“Semuanya sangat bergantung pada kebutuhan dan ketersediaan danapeternak itu sendiri,” kata sumber di Universitas Kristen Petra itu menuturkan.

Struktur Telur

Kata sumber yang sama, kuning telur dibentuk dalam tubuh oleh sistem perkembangbiakan ayam betina sewaktu sedang birahi dan siap untuk dikawini ayam jantan yang sedang dalam ‘peranakan’, sekelompok kuning telur yang bentuknya seperti sekelompok buah anggur ini dimasuki oleh sel telur betina (ovum), tepat berada di tengah-tengahnya.

Karenanya, agar terjadi pembuahan dibutuhkan seljantan (sperma) yang kuat yang dapat menerobos masuk ke dalam kuning telur sehingga dapat bersatu dengan ovum. Pembuahan terjadi di bagian atas‘peranakan’.

Proses selanjutnya adalah dilapisinya kuning telur ini oleh lapisan yangterbuat dari zat fosfoprotein (vitellin), yang berfungsi sebagai bagian pengaman pertama pada pembuahan. Pada saat ini dibentuk pula semacam tambang penyimbang, yang biasa disebut chalaza, agar kuning telur dapat tepat berada di tengah-tengah lapisan putih telur.

Tambang ini berada tepat di bagian ujung atas dan ujung bawah bulatan kuning telur.Kuning telur lalu turun ke bagian tengah ‘peranakan’. Di sini dua kali lagikuning telur dilapisi zat putih telur yang berfungsi sebagai penahan guncangan.Setelah itu, kuning dan putih telur turun ke bagian bawah ’peranakan’ untuk dilapisi dengan kulit ari dan zat kapur yang terlihat sebagai kulit telur.

Pada proses akhir ini, kulit ari akan membentuk kantung udara, zat kapur akan semakinmengeras, dan keluar melalui dubur ayam betina. Kantung udara itu sendiri berisi udara yang berhasil menerobos masuk ke dalam telur melewati ribuan pori-poriyang terdapat di kulit telur.

Udara di kantung ini digunakan embrio untuk bernafas.Seluruh proses ini terjadi dalam waktu 24-26 jam. Itulah sebabnya, ayambetina (sebagus apa pun kualitasnya) hanya dapat bertelur sebutir setiap pagi.

Komposisi TelurTelur pada umumnya memiliki berat sekitar 50-57 gram per butirnya, yangterdiri dari 11% bagian kulit telur, 58% bagian putih telur, dan 31% bagian kuningtelur. Komposisi zat yang tergantung di dalam setiap telur dapat dihitung bahwa kandungan protein yang terdapatpada setiap butir telur adalah sekitar 7 gram.

Akhirnya sumber di Universitas Kristen Petra itu mengungkap, lemak yang terdapat pada telur terdiri dari lemak tidak jenuh dan lemak jenuh dengan perbandingan 2 : 1. OleicAcid adalah komposisi utama lemak tidak jenuh, dan lemak ini tidak berpengaruhterhadap kolesterol darah manusia. (UKP/ YR)

21 HARI AYAM BERTELUR

Infovet

21 HARI AYAM BERTELUR
(( Ikutilah hari demi hari ayam kita bertelur. ))

Masa pengeraman selama 21 hari merupakan masa yang sangat kritis untuk menentukan kelahiran seekor anak ayam. Embrio di dalam telur ini tumbuhsecara luar biasa setiap harinya sampai akhirnya menetas menjadi anak ayam.

Secara garis besar, sumber di Universitas Kristen Petra menyampaikan perkembangan embrio selama 21 hari pengeraman sampai akhirnya jadi anak ayam yang mungil.

Pada hari ke-1 sejumlah proses pembentukan sel permulaan mulai terjadi. Sel permulaanuntuk sistem pencernaan mulai terbentuk pada jam ke-18. pada jam-jamberikutnya, secara berturut-turut sampai dengan jam ke-24, mulai jugaterbentuk sel permulaan untuk jaringan otak, sel permulaan untuk jaringantulang belakang, formasi hubungan antara jaringan otak dan jaringan syaraf,formasi bagian kepala, sel permulaan untuk darah, dan formasi awal syarafmata.

Pada hari ke-2 embrio mulai bergeser ke sisi kiri, dan saluran darah mulai terlihat padabagian kuning telur. Perkembangan sel dari jam ke-25 sampai jam ke-48secara berurutan adalah pembentukan formasi pembuluh darah halus danjantung, seluruh jaringan otak mulai terbentuk, selaput cairan mulai terlihat,dan mulai juga terbentuk formasi tenggorokan.

Lalu pada hari ke-3 dimulainya pembentukan formasi hidung, sayap, kaki, dan jaringanpernafasan. Pada masa ini, selaput cairan juga sudah menutup seluruh bagianembrio.

Selanjutnya pada hari ke-4 sel permulaan untuk lidah mulai terbentuk. Pada masa ini, embrio terpisahseluruhnya dari kuning telur dan berputar ke kiri. Sementara itu, jaringansaluran pernafasan terlihat mulai menembus selaput cairan.

Kemudian pada hari ke-5 saluran pencernaan dan tembolok mulai terbentuk. Pada masa ini terbentukpula jaringan reproduksi. Karenanya sudah mulai dapat juga ditentukan jeniskelaminnya.

Lantas hari ke-6 pembentukan paruh dimulai. Begitu juga dengan kaki dan sayap. Selain itu,embrio mulai melakukan gerakan-gerakan.

Berikutnya hari ke-7, ke-8, dan ke-9 jari kaki dan sayap terlihat mulai terbentuk. Selain itu, perut mulai menonjol karena jeroannya mulai berkembang. Pembentukan bulu juga dimulai. Pada masa-masa ini, embrio sudah seperti burung, dan mulutnya terlihat mulaimembuka.

Ketika hari ke-10 dan ke-11 paruh mulai mengeras, jari-jari kaki sudah mulai sepenuhnya terpisah, danpori-pori kulit tubuh mulai tampak.

Saat hari ke-12Jari-jari kaki sudah terbentuk sepenuhnya dan bulu pertama mulai muncul.

Hari ke-13 dan ke-14 sisik dan kuku jari kaki mulai terbentuk. Tubuh pun sudah sepenuhnyaditumbuhi bulu. Pada hari ke-14, embrio berputar sehingga kepalanya tepatberada di bagian tumpulnya telur.

Hari ke-15 jaringan usus mulai terbentuk di dalam badan embrio.

Waktu hari ke-16 dan ke-17 sisik kaki, kuku, dan paruh semakin mengeras. Tubuh embrio sudahsepenuhnya tertutupi bulu yang tumbuh. Putih telur sudah tidak ada lagi, dankuning telur meningkat fungsinya sebagai bahan makanan yang sangat pentingbagi embrio. Selain itu, paruh sudah mengarah ke rongga kantung udara, selaput cairan mulai berkurang, dan embrio mulai melakukan persiapan untukbernafas.

Ketika hari ke-18 dan ke-19 pertumbuhan embrio sudah mendekati sempurna. Kuning telur mulai masukke dalam rongga perut melalui saluran tali pusat. Embrio juga semakin besarsehingga sudah memenuhi seluruh rongga telur kecuali rongga kantung udara.

Kala hari ke-20 kuning telur sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuh embrio. Embrio yanghampir menjadi anak ayam ini menembus selaput cairan, dan mulai bernafasmenggunakan udara di kantung udara. Saluran pernafasan mulai berfungsi danbekerja sempurna.

Akhirnya hari ke-21Anak ayam menembus lapisan kulit telur dan menetas. (UKP/YR)

STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN



Infovet Edisi 169 Agustus 2008

STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN


(( Mengapa menggunakan teknologi genetik reverse untuk jenis bibit vaksin masa depan? ))

Secara historis strain lapangan virus LPAI dengan sub tipe yang cocok HA ditumbuhkan pada telur ayam berembrio atau perusahaan yang memenuhi kaidah BSL2; memberikan proteksi yang luas terhadap tantangan virus LPAI dan HPAI; mempunyai potensi keamanan yang rendah untuk infeksi manusia dan konsekuensi yang rendah dengan pengaruh lingkungan.

Secara kekinian strain virus benih HPAI di antaranya strain Legok tahun 2003 dan strain Rusia tahun 2005; membutuhkan fasilitas penyimpanan biologik yang tinggi di mana resiko keamanan ditingkatkan dan kesalahan dapat dikurangi.

Genetik yang berubah dan kekayaan antigenik yang berbeda dari virus antara lain virus AI tipe H5 mengalami perubahan HA yang merupakan versi Eurasian dan variasi genetik didalam kelompok; virus H5N1 Eurasia/Afrika bukanlah sebuah virus tunggal tetapi masih satu garis dalam famili virus; sejak 1996 telah dibentuk secara genetik berdasar pada isolasi geografis dan infeksi spesies kedalam 10 garis.

Demikian disampaikan dalam pertemuan perkembangan dari Proyek OFFLU (OIE/FAO Animal Influenza Network) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan FAO/OIE belum lama ini di Jakarta oleh Frank Wong, Anna Axel, Pater Daniels dari AAHL, Geelong, Indi Dharmayanti dari Bbalitvet Bogor, Johannes Oritomo, Dr Andeena dari JAPFA Comfeed, Bhudipa Choudhury dari OOFLU dan Mia Kim dari FAO Roma.

Kesamaan subtipe proteksi HA dengan vaksin AI menunjukkan bahwa khususnya pada tahun 2006 vaksin virus AI yang inaktif digunakan pada ayam melawan HPAI subtype H5N1 bermanfaat untuk mencegah ayam sakit dan mencegah kematian; lalu menurunkan replikasi dan perluasan virus dari sistem pernapasan dan saluran usus. Sifat vaksin HPAI tipe H5N1 melawan virus yang sama ini merupakan satu keunikan yang dapat diidentifikasi secara lengkap resisten terhadap vaksin-vaksin dengan strain tertentu.

Hal tersebut memberi penekanan bahwa kebutuhan untuk mendapatkan strain varian yang dimodifikasi dan aplikasi untuk jenis strain masa depan. Jalan keluar dari berbagai permasalahan tersebut, dibutuhkan vaksin yang secara antigenik lebih baik dan cocok untuk hemaglutinin, secara periodik meningkatkan strain vaksin yang cocok dengan virus lapangan yang cukup mendominasi; diperlukan penggunaan teknologi yang lebih baru seperti genetik reverse untuk strain AI atau teknologi rekombinan untuk vaksin diperantarai virus.

Vaksin AI genetik versi ulang tersebut menggunakan 8 atau 12 sistem plasmid untuk memproduksi virus dengan subtipe HA dan NA yang spesifik; menggunakan genetik internal yang mengijinkan pertumbuhan yang tinggi pada telur ayam.

Di masa depan konsep yang dibutuhkan untuk perijinan dan penggunaan vektor virus adalah virus cacar unggas rekombinan atau strain vaksin penyakit ND; kebutuhan yang dapat diletakkan ulang untuk virus AI yang genetik terkini HA nya.

Persyaratan OIE tentang manual uji diagnostik dan vaksin untuk ternak menyatakan setiap subtype hanya virus AI yang karakterisasinya baik dari tingkat keganasan rendah dianjurkan dari pengujian internasional dan nasional dapat digunakan untuk benih utama yang stabil guna vaksin yang di inaktifkan.

Kebijakan di atas disebabkan oleh karena beberapa alasan yaitu lebih aman untuk bekerja dengan lingkungan LPAI dan ketelitian kerja; manipulasi dari virus HPAI diijinkan hanya pada fasilitas yang ditemukan pemenuhan persyaratan lebih tinggi untuk penyimpanan dan keamanan contohnya divalidasi untuk agen infeksi secara lebih tinggi; umumnya virus LPAI adalah kurang ganas pada embrio sehingga pertumbuhannya lebih baik dan mengijinkan produksi titer tinggi dari virus aktif secara umum.

Beberapa isu yang berkembang antara lain apakah PT. Shigetta IPB merupakan pemilik paten eksklusif untuk H5N1 genetik reverse? Lalu, tentang lisensi untuk medimmune berupa royalti atau biaya per dosis?

Kesimpulannya, vaksin genetik reverse mempunyai tingkat keamanan yang lebih tinggi, keampuhan atau kecocokan, lapangan produksi yang lebih tinggi dan peningkatan yang lebih mudah. Tetapi, soal royalti, paten, dan lisensi butuh untuk dipertimbangkan. (YR/Fj)

EFEKTIFKAN BIAYA VAKSINASI

Fokus Infovet Edisi 169 Agustus 2008

EFEKTIFKAN BIAYA VAKSINASI


(( Hasil sementara untuk Indonesia mengindikasi suatu biaya vaksinasi untuk unggas adalah antara 0,08 sampai 0,14 dolar Amerika tergantung pada sistem produksi. ))

Ongkos vaksinasi dalam peternakan memerlukan kekuatan sumberdaya yang menggunakannya yang mana merupakan subyek sosio ekonomi peternakan itu sendiri. Efektivasi suatu biaya dari strategi vaksinasi yang dianjurkan memerlukan sebuah kombinasi dari ilmu penyebaran penyakit dan ilmu ekonomi.

Alokasi dari sumber daya menjadi lebih kritis jika sumber daya masyarakat untuk pengendalian HPAI dan pencegahan menurun. Analisa Efektivasi biaya dapat menuntun proses alokasi sumberdaya. Demikian disampaikan Jonathan Rushton seorang ahli ekonomi sosial dari FAO di Roma pada pertemuan perkembangan dari Proyek OFFLU (OIE/FAO Animal Influenza Network) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan FAO/OIE belum lama ini di Jakarta.

Struktur dan hasil keluaran dari model biaya meliputi kertas kerja input data seperti: populasi unggas, target vaksinasi, dan sektor yang terpisah. Intinya biaya merupakan total biaya yang dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel, biaya per vaksinasi unggas dan perkiraan dari pembagian biaya antara sektor publik dan sektor privat. Hasil sementara untuk Indonesia mengindikasi suatu biaya vaksinasi untuk unggas adalah antara 0,08 sampai 0,14 dolar Amerika tergantung pada sistem produksi.

Struktur model dan hasil keluaran populasi unggas merupakan suatu hal yang dinamis dan berbeda antara setiap model populasi dalam kandang input data meliputi: ukuran kandang yang asli, angka kematian dan rata-rata yang diafkir, umur saat panen dan produksi telur, strategi vaksinasi, dan keampuhan vaksinasi.

Produksi yang dihasilkan meliputi: produksi unggas dan telur baik itu penjualan dan konsumsi rumah sendiri, ukuran kandang dengan penyesuaian pada musim, aplikasi dosis vaksin, dan jumlah unggas yang diproteksi perhari untuk seluruh kandang dan kategori umur unggas.

Sumber data yang mungkin meliputi struktur dasar dari sektor unggas Indonesia diantaranya laporan terkini dari nilai yang dihasilkan, informasi pada sektor komersial dan kerja yang terprofilkan; sedangkan biaya vaksinasi meliputi proyek penelitian yang dijalankan, kerjasama Indonesia dan Belanda, dan sektor privat seperti Japfa Comfeed dan lain-lain.

Selanjutnya langkah yang akan datang meliputi aksi yang lebih kuat melibatkan banyak pihak dengan penggunaan data sekunder, opini Ahli dan pembetulan model yang dihasilkan. (YR/Fj)

Ketika Ditemukan Kasus Flu Burung pada Manusia Pertama di Bali

Infovet

Ketika Ditemukan Kasus Flu Burung pada Manusia Pertama di Bali


((Departemen Kesehatan mengkonfirmasi bahwa telah terjadi kasus flu burung pada manusia di Bali. Ini merupakan kasus pertama pada manusia yang terkonfirmasi di Bali. Kita pun kilas balik sejarah dan konsep ketahanan tubuh ayam. ))

Warga Dusun Dangin Tukad Aya, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Ni Luh Putu Sri Widiantari, 29 tahun, yang positif terinfeksi virus H5N1 penyebab flu burung, meninggal dunia, Minggu (12/8), setelah dirawat di RS Sanglah. Kasus tersebut merupakan yang pertama di Bali. Demikian disampaikan Bayu Krisnamurthi, Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) kepada Infovet saat jumpa pers di Jakarta, Senin (13/8).

“Kami memahami kebutuhan masyarakat baik dari dalam maupun luar negeri mengenai kasus suspek ini. Sebuah tim sudah berada dilapangan dimana para pakar dari FAO dan WHO sedang menyelidiki kasus ini,” jelas Bayu.

Dari pantauan Infovet, hingga Selasa (14/8), empat anggota Tim Depkes dan seorang investigator Konsultan WHO mengambil sampel darah sembilan orang terdekat korban, seperti suami, nenek, kakek almarhumah. Sampel hendak diuji di laboratorium Depkes di Jakarta.

Kasus itu disorot Depkes dan WHO karena penderita meninggal dan sebelumnya, Dian (5), yang merupakan anak korban, juga meninggal dunia. “Ini jadi pertanyaan, apakah anak korban juga terduga virus H5N1. Kami belum bisa menyimpulkan apakah virus ini mulai menular antarmanusia. Ini perlu penelitian lebih serius,” kata Kepala Sub- dinas Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Dinas Kesehatan Bali I Ketut Subrata.

Dia menjelaskan, Dian meninggal pada 3 Agustus, di saat yang sama, Widiantari menderita gejala sakit. Berdasarkan keterangan RSUD Negara, Dian meninggal akibat infeksi paru-paru. Sementara seorang anak perempuan berumur 2 tahun 9 bulan dari dusun yang sama juga sedang dibawah pengawasan. Sampel dari anak ini sudah dikirim ke Jakarta untuk diperiksa.

Hingga berita ini diturunkan, kasus penularan flu burung pada manusia di Indonesia telah menyerang 103 penderita, 82 di antaranya meninggal dunia. Angka kematian manusia akibat terinfeksi flu burung 79,6 persen. Kabupaten Jembrana sudah ditetapkan sebagai wilayah kejadian luar biasa flu burung. Ratusan unggas dimusnahkan.

Sebenarnya keberadaan virus AI telah terdeteksi di area tersebut sejak bulan sebelumnya dan sejak 19 Juli 2007 telah dilakukan pemusnahan terbatas di daerah tersebut serta pemusnahan lanjutan telah mulai dilakukan sejak beberapa hari yang lalu.


Gubernur Kecewa pada Bupati Jembrana

Ditempat terpisah, Gubernur Bali Dewa Beratha mengaku kecewa terhadap Bupati Jembrana, dan menganggap kasus tersebut sebagai sebuah kecolongan. Oleh karena itu, Gubernur meminta Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan Bali dan Jembrana memantau aktivitas di sekitar rumah korban.

Widiantari mulai menderita sakit pada 3 Agustus lalu dengan gejala panas, batuk berdahak, dan menggigil. Pada 6 Agustus, ia berobat ke petugas kesehatan, lalu ke dokter. Ia sempat dirawat di RSU Daerah Negara sebelum dirujuk ke RS Sanglah dengan diagnosis pneumonia berat.

Penderita dirawat di RS Sanglah pada 10 Agustus dengan panas 40 derajat Celsius. Tetangga Widiantari, PN (2 tahun 9 bulan) juga diduga terinfeksi H5N1 dan dirawat di RS Sanglah sejak Minggu lalu.

Dewa Beratha juga memerintahkan agar seluruh unggas yang berada pada radius satu kilometer dari rumah korban dimusnahkan dan seluruh warga diperiksa kesehatannya. Ini untuk memastikan tidak adanya penularan lebih lanjut.

Tak lama berselang, Bupati Jembrana Gede Winasa mengelak bahwa kasus flu burung tersebut sebuah kecolongan. “Kami tidak ingin menuduh atau menjadikan siapa pun kambing hitam. Kami prihatin dengan kasus ini,” katanya. Ia menegaskan, biaya untuk pemberantasan flu burung pasca kasus Widiantari tidak terbatas. Bupati juga menyantuni keluarga korban sebesar Rp 5 juta.

Dari Sukabumi, Jawa Barat, Wakil Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Tri Satya Putri N mengimbau pemerintah agar tidak melihat kembali merebaknya flu burung pada unggas sebagai hal biasa. Hal itu dia sampaikan karena flu burung kembali menyerang unggas di peternakan-peternakan dan menyebabkan kematian massal. Tri Satya menilai, penanganan pemerintah masih lambat.


Sungguh Ironis...

Bayu juga menambahkan, petugas kesehatan dari dalam dan luar negeri juga memonitor lalu lintas semua jenis hewan dari dan ke daerah sekitar kasus dideteksi. Semua unggas dalam radius 1 kilometer dari lokasi disembelih dalam minggu ini. Bersama dengan UNICEF, kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di daerah sekitar juga segera dilaksanakan.

Pihaknya bersama tim ahli dari Komnas FBPI segera bertolak ke Bali untuk melihat langsung langkah-langkah yang dilakukan untuk mengendalikan penyebaran pada unggas. “Dengan kejadian ini wisatawan diminta untuk tidak panik, tetapi mereka juga harus mengetahui informasi yang ada. Kasus pada manusia di Jakarta telah bisa dikendalikan dan kontrol ketat juga sedang diberlakukan di Bali,” jelas Bayu.

Lebih lanjut Bayu juga memaparkan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko tertular virus flu burung:

1. Jangan sentuh unggas yang sakit atau mati. Jika telanjur, cepat-cepat cuci tangan pakai sabun dan laporkan ke kepala desa.
2. Cuci pakai sabun tangan dan juga peralatan masak Anda sebelum makan atau memasak. Masak ayam dan telur ayam sampai matang.
3. Pisahkan unggas dari manusia. Dan juga pisahkan unggas baru dari unggas lama selama 2 minggu.
4. Periksakan ke puskesmas jika mengalami gejala flu dan demam setelah berdekatan dengan unggas.

Yang menjadi pemandangan ironis adalah saat ini Bali telah ditetapkan sebagai wilayah dengan prioritas pertama dalam penanggulangan virus Avian Influenza oleh Departemen Pertanian. Sementara di saat yang sama terjadi kasus kematian akibat Flu Burung pertama di Pulau Dewata ini yang bisa jadi bisa memukul sektor pariwisata yang menjadi andalan devisa pendapatan daerah.


Kilas Balik ke Tahun 2004

Flu Burung yang makan korban manusia di Bali belum lama ini tersebut secara teoritis memang bisa terjadi, bila sebelumnya sudah diketahui ada Avian Influenza ketika pada 2004

Pemerintah pun pada 2004 sudah menyampaikan perkembangan wabah penyakit unggas menular (avian influenza) penyebarannya termasuk di Bali, meski pada saat itu hasil uji serologi dari Departemen Kesehatan terhadap peternak di Bali menunjukkan hasil reaksi negatif terhadap avian influenza/flu burung

Saat 2004 itu, Virus flu burung yang menjangkiti Indonesia termasuk Bali membuat semua pihak ekstra waspada. Sebab tak hanya unggas yang bisa kena virus ini. Manusia pun bisa kena. Hanya saja penularannya lewat unggas yang sudah terkena virus ini. Jembrana pun sempat dikagetkan dengan pemberitaan ribuan unggas mati karena flu burung.

Sejak tersiarnya kabar adanya virus flu burung sampai berita ribuan unggas di Jembrana mati pada 2004 itu, pemantauan terhadap peternak makin intensif. Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan melalui Bidang Peternakan turun ke lapangan. Data yang mereka temukan, tidak ada kematian ternak hingga ribuan ekor.

Kalau ada yang mati jumlahnya tak sampai ribuan. Peternakan yang sudah mereka sasar adalah Mitra Abadi Farm (20 ribu ayam petelur), Suwina, peternak di Sebual (3500 ayam petelur), Tantra peternak di Melaya (7000 ayam petelur) dan Adi Adnyana peternak di Negara (2000 ayam petelur).

Mengantisipasi lebih mewabahnya flu burung Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Jembrana mengeluarkan surat edaran no 524.3/140/Nak/PKL/2004 ini tentang wabah penyakit unggas. Surat edaran tersebut menekankan lima hal, yakni semua peternak unggas harus melaporkan tiap ada penyakit dan menutup lokasi peternakan yang sudah tertular.

Selain itu, tidak memberdayakan unggas yang sakit dari peternakan yang sudah tertular, melakukan pemusnahan unggas yang sakit dan mati dengan cara dibakar atau ditanam, terakhir melakukan sanitasi (desinfeksi) terhadap unggas, kandang dan alat ternak lainnya dengan venol, Na/K, dan hipo klorit.

Selain surat edaran, para peternak juga dihimbau melakukan mencegahan di kandang masing-masing. Peternakan terbesar yang ada di Jembrana, Mitra Abadi Farm sampai melakukan isolasi kandang.

''Hal ini kami lakukan agar mereka yang ke luar masuk diperhatikan dan mengurangi penyebaran virus. Kami pun akan membelikan masker untuk tujuh karyawan yang bertugas di kandang,'' papar I Ketut Sudiasa, pemiliki kandang yang terletak di banjar Kebon, kelurahan Baler Bale Agung, Negara ini.

Pada 2004 itu, Kabid Peternakan IGN Sandjaja menambahkan, isolasi kandang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran virus, seandainya kandang sudah terjangkit virus. ''Mereka yang masuk kandang wajib memakai masker dan melakukan cuci hama,'' tandasnya.

Hal ini dilakukan karena penyebaran virus melalui kontak alat dengan manusia, melalui angin dan makanan. Obat untuk virus ini belum ditemukan, yang ada adalah vaksin.


Gumboro

Sebelumnya, Januari 2004, Pihak Dinas Kesehatan Propinsi Bali bersama Dinas Kesehatan Jembrana dan Bid Peternakan pun sudah melakukan pemantauan di lokasi peternakan milik Sudiasa. Apa yang dilakukan ini untuk mengetahui apakah ada masyarakat sekitar lokasi kandang ayam terkena imbas virus.

Sampai saat itu belum ditemukan adanya orang yang terkena virus flu burung di Jembrana. Komisi B DPRD Jembrana bersama Bid Peternakan direncanakan turun lagi ke lapangan.

Soal kekhawatiran terjangkitnya flu burung juga menghantui para peternak. ''Saya yang tiap hari bergelut dengan ayam juga khawatir. Kalau ada pekerjaan lain saya mau kerja yang lain saja,'' ujar Ketut Winarsa, salah seorang pengelola peternakan ayam pedaging di Banjar Dangin Berawah, Perancak, Negara januari 2004.

Kebetulan kandang ayam yang dimiliki Putu Budiastra ini sedang kosong. Mereka baru saja panen dan belum tahu apakah akan melanjutkan usaha ini sehubungan dengan adanya virus flu burung. ''Melanjutkan atau tidak terserah bos saja. Kalau ternak ayam lagi, ya saya kerja kalau nggak ya nggak apa-apa,'' ujar Winarsa yang didampingi istrinya, Ni Wayan Sutarmi yang sampai 2004 sudah tiga tahun mengelola peternakan ayam milik Budiastra.

Salah seorang adik Sudiasa pun mengakui ada kekhawatiran virus flu burung ini. Walaupun sudah disemprot desinfektan, rasa khawatir juga masih ada. Soal ayam-ayam yang mati, Sudiasa dan Winarsa mengakui ada yang mati, namun jumlahnya tidak sampai ribuan. ''Tiap hari paling-paling ada tiga ekor yang mati. Itu pun langsung kami bakar di dapur khusus,'' papar Sudiasa.

Sementara Winarsa mengatakan dari 5000 ekor ayam pedaging, yang mati dalam waktu 36 hari itu sekitar 300-400 ekor. ''Matinya ayam itu tidak bersamaan, penyebabnya juga bukan virus flu burung tetapi gumboro,'' tandasnya. Soal kebersihan kandang pun dia akui sudah dilakukan dengan baik. Tiap dua hari kandang dibersihkan dan kotoran pun sudah ada yang memesan untuk dijadikan pupuk.


Peneguhan oleh FKH Universitas Udayana

Pada tahun 2004 itu pun terjadi peneguhan tentang adanya kasus AI di Bali. Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana sudah mengisolasi virus Avian Influenza (AI) pada ayam kampung di Bali.

Kasus yang ditemukan tim ahli FKH Unud tersebut terjadi pada ayam kampung milik seorang peternak di Desa Kerobokan, Kota Madya Denpasar yang pada tanggal 16 Juni 2004 yang menunjukkan gejala tidak mau makan dan minum, bulu kusam, lemah, pucat, inkoordinasi dan kepala menunduk.

Adapun tim dari FKH Unud itu adalah GNK Mahardika, M Sibang, M Suamba, KA Adnyana, NMS Dewi, KA Meidiyanti, dan YA Paulus. Pada kasus yang dilaporkan Jurnal Veteriner FKH Universitas Udayana itu, bedah bangkai ditemukan perdarahan titik atau menyebar di bawah kulit, trakhea dan paru-paru, proventrikulus dan seka tonsil.

Selanjutnya, suspensi material paru-paru, seka-tonsil, dan otak ayam contoh diinjeksikan pada ruang alantois telur ayam bertunas umur 10 hari. Sekitar 20 jam paska injeksi semua embryo telah mati dan mengalami perdarahan seluruh tubuh serta membrannya.

Sumber yang sama menyatakan, aktivitas hemaglutinasi dapat dideteksi dari cairan alantois dengan uji haemaglutinasi (haemagglutination assay/ HA). Aktivitas tersebut dapat dihambat oleh antibodi standar terhadap AI tetapi tidak dapat oleh antibodi terhadap ND dengan menggunakan teknik hambatan hemaglutinasi (haemaglutination inhibition/HI) yang baku.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa agen yang terlibat adalah virus AI. Pengujian dari agen tersebut untuk dijadikan sebagai bibit untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.

Ternyata, 3 (tiga) tahun setelah tahun 2004 itu, kini kita mendapati kenyataan berbeda dengan penyebaran virus Avian Influenza, menurut berita Komnas Pengendalian Flu Burung itu, telah menyerang manusia.

Maka berbagai wacana tentang AI di Bali pun kembali bermunculan. Namun hendaknya semua tidak berhenti cuma sampai pada wacana semata. Menjadi tugas kita untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh virus yang penuh liku-liku ihwal penguasaan konsep tentang ketahanan tubuh ayam ini. (wan/YR/berbagai sumber)

Sekali Lagi: DIAGNOSA YANG TEPAT

Infovet

Sekali Lagi: DIAGNOSA YANG TEPAT


Narasumber Infovet bersaksi, masalah kemunculan flu burung di mana-mana, secara diagnostik tidaklah lagi sama seperti gejala-gejala flu burung di awal kasus ini pada tahun 2003-2004. Maka, ketrampilan dan keahlian mendiagnosa dengan diagnosa perbandingan dengan penyakit lain sangatlah penting.

Demikian terungkap pada diskusi Infovet, ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) dan UPPAI (Unit Pengendalian Penyakit Avian Influenza) di Ruang Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian baru-baru ini.

"Penyakit baru menjadi masalah buat peternak kalau menimbulkan kerugian ekonomi. Kalau tidak, bisa diatasi sendiri diam-diam tidak usah ribut," kata Dr Drh Lies Parede dari BBalitvet Bogor dan Drh Hernomoadi Huminto MS dari Laboratorium Patologi FKH IPB.

Langkah-langkah bila ada flok wabah ayam, menurut Dr Lies dan Drh Hernomoadi adalah:

1) Secara diagnosa harus dilihat bedah bangkai yang mengarahkan apakah organ yang dominan terserang.
2) Ditambah dengan pemeriksaan histopatologi, kerusakan menunjukan agen primer penyebab.
3) Ditambah serologi atau isolasi, mengarah pengobatan atau pencegahan.
4) Pencegahan diarahkan untuk ayam periode (siklus) berikut: misalnya biosekuriti, program vaksinasi, monitoring.


Gumboro dan ND

Kasus Gumboro kadang dapat disamarkan oleh ND, namun menurut Drh Brigitta Etik W Technical Service PT Medion, pada kejadian ND yang berlanjut terjadi diare putih kehijauan dan adanya gejala syaraf.


AI dan ND

Menurut narasumber Infovet dalam diskusi dengan UPPAI tersebut, kalau dulu tortikolis selalu identik dengan ND, sekarang Avian Influenza pun bisa mempunyai gejala ini.

Namun menurut ahli penyakit viral dan patolog Dr Lies Parede dan Drh Hernomoadi MS, gejala ND berbeda dengan AI menurut kacamata patolog maupun virolog. Tortikolis milik ND ganas, Pial biru ungu milik AI ganas.

Nah, "Kalau infeksi campuran: ikuti langkah-langkah tadi," saran mereka.


AI dan Gumboro

Kembali menurut narasumber Infovet dalam diskusi dengan UPPAI, bila ada penyakit gumboro yang menyerang, kasus Avian Influenza pun lebih berbahaya!

Dr Drh Rahaju Ernawati dari Laboratorium Virologi FKH Unair Surabaya mengungkap bahwa Gumboro menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar karena angka morbiditas mendekati 100% dan angka mortalitas 20 - 30%.

"Penyakit IBD pada dasa warga terakhir menular hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 1991 penyakit mewabah hampir melumpuhkan seluruh peternakan ayam di Indonesia," katanya.

Masalah diagnosa yang sangat terkait dengan pengetahuan kondisi tubuh ayam yang kekebalannya bisa turun ini tentu saja sangat perlu dipahami. Penyakit infeksius bursal (IBD) atau penyakit Gumboro merupakan penyakit viral akut pada ayam yang menyerang organ sistem kekebalan terutama bursa fabrisius sehingga bersifat imunosupresif.

Dalam mendiagnosa penyakit Gumboro, Drh Brigitta Etik W Technical Service PT Medion menjelaskan dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih tinggi akurasinya, di antaranya adalah pendekatan epidemiologis, klinis patologis, isolasi dan identifikasi.

Secara epidemiologis, penyakit ini susah dibedakan dengan jenis penyakit viral lainnya, karena penampakan dari penyakit ini hampir sama yakni kecenderungan mewabah dan menyerang berbagai jenis ayam terutama ayam dari golongan muda.

Untuk membantu peneguhannya, alumni FKH UGM 1986 ini menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan gejala klinis, sehingga diagnosa penyakit dapat diarahkan.

Kemudian ditambahkan Etik, untuk tindakan isolasi dapat dilakukan secara in vitro dan in vivo dengan menggunakan media biakan sel dan biakan pada telur ayam yang berembrio.

Sementara itu, untuk identifikasi virus Gumboro dapat dilakukan dengan berbagai uji dengan menggunakan mikroskop elektron (EM), diantara uji tersebut adalah Agar Gel Precipitation (AGP), Flourescence Antibody Technique (FAT), Immunopetoxidase, ELISA dan banyak lagi uji lainnya yang dapat membantu peneguhan kasus Gumboro dimaksud.

Masih jelas dalam ingatan kejadian tahun 2006, sedikitnya 500 ekor ayam mati secara mendadak di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Kematian unggas di lokasi peternakan rakyat itu, diduga terkena penyakit gumboro atau flu burung. Akibatnya, puluhan peternak menjadi panik dalam dua hari terakhir, karena sebelumnya ayam mereka masih sehat, namun tiba-tiba mati.

”Ayam yang mati itu terpaksa dikuburkan massal dalam satu lubang sementara yang masih sehat, ada yang segera disembelih,” ungkap salah seorang warga Bontomarannu Rusli Kadir kepada wartawan, Juni 2006 itu.

Menurutnya, ayam yang mati tersebut umumnya ayam bukan ras (buras) alias ayam kampung. Karena itu, banyak peternak meyakini kalau ayamnya itu mati bukan karena flu burung, melainkan hanya penyakit unggas biasa yang menyerang ayamnya pada saat memasuki musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya.

Untuk memastikan hal tersebut, lanjut Rusli, pihaknya bersama Dinas Peternakan setempat sudah mengirim sampel ayam yang mati ke laboratorium peternakan yang ada di Kabupaten Maros dan ternyata hasilnya memang Gumboro, bukan Flu Burung.

”Kami sangat khawatir jangan sampai flu burung menyerang unggas di Bontomarannu. Tetapi bila diperhatikan gejalanya, kelihatannya sama dengan peristiwa di Bontonompo beberapa waktu lalu dan hasil laboratoriumnya ternyata positif penyakit gumboro,’’ ujar alumnus Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin itu.


Diagnosa yang Tepat

Dengan diagnosa yang tepat maka terbuktikan penyakit apa yang menyerang.

Pengalaman serupa juga dialami Dinas Peternakan Kabupaten Blitar mengindikasikan, puluhan ayam yang mati mendadak di Kelurahan Dandong Srengat pada 2006, akibat serangan penyakit gangguan pernafasan pada unggas yang hampir mirip Flu Burung.

Pada saat itu diungkapkan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Blitar, Drh. Hermanto Zubaidi, MM, puluhan ayam yang mati mendadak di Kelurahan Dandong Srengat, sementara diindikasikan akibat serangan penyakit gangguan pernafasan pada unggas antara lain Snot atau Coriza, Infectious Laryngo Tracheitis, dan Chronic Respiratory Disease (CRD).

Ciri-ciri yang ditunjukan serupa dengan tanda-tanda yang muncul pada Flu Burung, yakni kepala membiru dan bengkak atau disebut Sianosis. Dugaan ini muncul setelah Dinas Peternakan beberapa kali melakukan uji laboratorium.

Dari hasil sample darah ayam yang diduga terjangkit Flu Burung, tidak menunjukkan adanya titer antibodi. Dengan gamblang Hermanto menjelaskan, ketika unggas terinfeksi Avian Influensa secara alami dalam darahnya akan membentuk antibodi (kekebalan tubuh), jika antibodi tidak ditemukan maka unggas tidak terinfeksi Flu Burung. (YR, Daman Suska, berbagai sumber)

VAKSINASI, REAKSINYA DAN NUKLIR Untuk Ketahanan Tubuh Ternak

Infovet

VAKSINASI, REAKSINYA DAN NUKLIR Untuk Ketahanan Tubuh Ternak


Sudah lazim dikenal masyarakat peternakan, agar ayam memiliki daya kebal sehingga terlindung dari serangan penyakit telah dilakukan usaha untuk mengatasi masalah penyakit dengan melakukan vaksinasi pada ayam, baik menggunakan vaksin aktif atau inaktif (killed).

Proses vaksinasi adalah dengan memasukkan agen penyakit yang telah dilemahkan dengan tujuan untuk merangsang pembentukan daya tahan atau kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit tertentu dan aman untuk tidak menimbulkan penyakit.

Demikian Gatut Wahyudi selaku Technical Service CP. Prima, Semarang dalam terbitan oleh Divisi Agro Feed Business Charoen Pokphand guna pelayanan oleh Customer Technical & Development Departement.


Pentingnya Reaksi Post Vaksinasi

“Reaksi yang merugikan terkadang kita jumpai sebagai akibat dari pembentukan respon kekebalan pada tubuh ayam. Reaksi yang ditimbulkan dapat berupa reaksi lokal maupun umum,” katanya.

Menurutnya, reaksi lokal adalah seperti mata berair, bengkak pada daerah muka, ayam menggosokkan mata pada punggungnya, menggoyang-goyangkan kepalanya atau terjadinya kerusakan jaringan pada daerah bekasinjeksi.

Adapun, gejala umum biasanya terjadi demam dan penurunan produksi. Pemberian vaksin ” killed bacterial” dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada bekas injeksi sebagai akibat dari reaksi adjuvant.

Gatut Wahyudi menjelaskan, pembengkakan pada daerah periorbital sering kita jumpai sebagai akibat pemberian killed vaksin coryza.

Encephalitis dan encephalopathy sering kita jumpai sebagai akibat dari reaksi setelah pemberian vaksin ND (R2B) dengan menunjukkan tanda-tanda yang khas seperti torticollis, tremors dan paralysis.

“Reaksi post-vaksin ini dapat terlihat pada hari kedua sampai enam hari setelah pemberian vaksin aktif seperti ND, IB atau IBD,” ungkapnya.

Adapun, lanjutnya, reaksi post-vaksin yang paling utama adalah munculnya penyakit gangguan pernafasan ringan dengan gejala batuk, bersin dan ngorok yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: Reaksi vaksin yang terlalu kuat

Sementara, adanya “rolling reaction” sebagai akibat dari pelaksanaan dan waktu vaksinasi yang kurang tepat, telah terjadi infeksi pada ayam yang tidak memiliki kekebalan.

”Reaksi ini berjalan sangat lambat dan terus-menerus,” tegas Gatut Wahyudi.

Ia pun melanjutkan, vaksin aktif seperti ND dan IB akan menimbulkan kekebalan setelah terjadinya reaksi pada sistim pernafasan. Tanpa timbulnya reaksi pernafasan tersebut kekebalan tidak akan terbentuk.

Pada dasarnya seberapa parah reaksi pernafasan terjadi setelah pelaksanaan vaksinasi tergantung pada:

- Level zat kebal induk. DOC dengan kekebalan induk rendah reaksi post-vaksin akan semakin jelas, tetapi akan memberikan reaksi yang positip untuk membentuk kekebalan aktif.
- Strain vaksin. Semakin kuat strain vaksin yang digunakan, reaksi yang ditimbulkan semakin kuat.
- Umur. Pada umumnya ayam muda akan memberikan reaksi yang lebih kuat.
- Dosis vaksin. Pemberian dosis yang tinggi reaksi semakin jelas.
- Aplikasi vaksin. Vaksin lewat air minum dan tetes mata reaksi yang ditimbulkan lebih lemah dibandingkan cara spray.
- Terjadinya infeksi E coli dan Mycoplasma gallisepticum.
- Kelembaban udara yang terlalu rendah.
- Adanya faktor immunosupresi. Faktor stres akan memberikan reaksi yang lebih hebat.
- Level immune yang rendah sebagai akibat jarak vaksin aktif yang terlalu jauh.
- Pelaksanaan vaksin yang ceroboh, sehingga ada beberapa ayam yang tidak tervaksin.
- Pelaksanaan vaksin aktif pada flok dengan banyak umur.
- Level amonia dan debu yangtinggi.
- Populasi kandang terlalu padat
- Kualitas liiter yang jelek.

Gatut wahyudi pun menuturkan berdasar penelitian yang dilakukan oleh Dr Avinsh Dhawale dari Diamond Hatcheries India, untuk mencari hubungan antara reaksi post-vaksin terhadap produksi ayam breeder, dapat disimpulkan bahwa :

- Perlunya mengetahui lebih dahulu level antibodi sebelum melakukan revaksinasi
- Vaksin aktif dan inaktif hendaknya diberikan secara terpisah
- Perlunya pemberian antibiotik jika terjadi infeksi mycoplasma
Dengan memperhatikan faktor apa saja yang dapat menimbulkan reaksi post-vaksinasi, kerugian yang ditimbulkannya dapat dikurangi serendah mungkin.
Gatut Wahyudi pun memberi tips beberapa tindakan untuk mengurangi reaksi post-vaksin, yaitu:
- Lakukan sterilisasi pada alat injeksi
- Jangan melakukan vaksin pada ayam yang menunjukkan gejala klinis,lemah atau dalam kondisi stres.
- Gunakan vaksin yang berkualitas baik
- Pilih DOC yang berkualitas baik.
- Kontrol populasi mycoplasma dengan menggunakan program dan preparat antibiotik.
- Lakukan penyimpanan vaksin secara benar
- Hindari kontaminsai oleh agen penyakit lainnya
- Perhatikan tanggal kadaluarsa vaksin dan diluentnya.
- Gunakan vaksin IBD strain hot hanya pada daerah yang rawan outbreakIBD.
- Pilih strain vaksin yang tepat (mild vaksin).
- Perhatikan petunjuk pelaksanaan yang ada pada setiap kemasan
- Lakukan program biosecurity


Nuklir untuk Ketahanan Tubuh Ternak

Adapun menurut Irawan Sugoro selaku Pusat Penelitian dan Pengembangan Isotop dan Radioisotop (P3TIR Badan Tenaga Nuklir Nasional) pada sebuah sumber informasi P3TIR BATAN, definisi vaksin adalah suatu suspensi mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit tetapi telah dimodifikasi dengan cara mematikan atau menatenuasi sehingga tidak akan menimbulkan penyakit dan dapat merangsang pembentukan kekebalan/antibodi bila diinokulasikan.

Terkait dengan vaksinasi ini, Irawan Sugoro mengungkapkan, BATAN sudah melakukan pemanfaatan teknik nuklir radiasi yang dilakukan di bidang peternakan terutama di sub bidang kesehatan ternak, yaitu untuk melemahkan patogenisitas penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus dan cacing.

„Litbang pemanfaatan radiasi telah menghasilkan radiovaksin, reagen diagnostik, dan pengawetan,“ katanya.

Menurutnya, radiovaksin adalah teknik pembuatan vaksin dengan cara iradiasi. Pembuatan radiovaksin memiliki keunggulan dibandingkan dengan cara konvensional, yaitu mempercepat proses pembuatan vaksin dengan memperpendek waktu pasasel.

„Selain itu, radiovaksin yang diproduksi memiliki kualitas yang sama dengan vaksin buatan secara konvensional,“ tambah Irawan Sugoro.

Ia menjelaskan, sumber radiasi yang digunakan untuk pembuatan radiovaksin adalah sinar gama yang digunakan untuk menurunkan infektivitas, virulensi, dan patogenitas agen penyakit, tetapi diharapkan mampu merangsang timbulnya kekebalan pada tubuh terhadap infeksi penyakit.

Salah satu hasil penelitian yang telah menjadi produk adalah vaksin koksivet untuk penyakit Coccidiosis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh protozoa Emeria Sp pada usus yang mengakibatkan berak darah.

Ookista generasi 1 diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis optimum 125 Gy dan diinokulasikan ke ayam sehingga diperoleh ookista generasi II yang lemah sifat infektivitas dan patogenitasnya. Selanjutnya, ookista dari generasi II tersebutlah yang dijadikan vaksin. Vaksin ini diinokulasikan ke ayam berumur 7-10 hari sehingga ayam memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.

Sedangkan pada ternak besar, penelitian yang dilakukan saat ini adalah upaya pengembangan vaksin terhadap penyakit ternak, seperti brucellosis dan mastitis. Selain penelitian radiovaksin penyakit ternak yang berasal dari mikroorganisme, dilakukan pula penelitian radiovaksin penyakit ternak yang berasal dari cacing, seperti Coccidiosis, Fasciolosis, dan Haemonchosis. (Infovet/ berbagai sumber)

SECUIL IHWAL GEN UNTUK KETAHANAN TERNAK BEBAS AI

Infovet

SECUIL IHWAL GEN UNTUK KETAHANAN TERNAK BEBAS AI


Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik.

Demikian sumber di Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tentang budidaya peternakan.

Dituturkan, ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.

Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat.

Menurut sumber di Menegristek itu, persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul. Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan.

Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia.

Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni).

Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam. Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan.

Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya. Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya.

Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula.

Di sinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung. Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja.

Persaingan inilah menandakan maraknya peternakan ayam petelur. Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul.

Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras.

“Hanya kemampuan genetis (gen)-nya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika,“ tegas sumber Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tentang budidaya peternakan itu.


Genetis Tahan AI

Menurut Cahyo Budiman SPt, Peneliti dan Dosen di Fakultas Peternakan IPB Bogor Jawa Barat, sejatinya karakteristik suatu individu tidak lepas dari pengaruh gen, sang pengendali sifat yang selalu diturunkan dari tetua ke anaknya.

”Seperti halnya teori probabilitas dalam statistika, maka sejatinya setiap individu punya dua pilihan untuk memiliki suatu karakteristik tertentu : Ya dan tidak,” katanya.

Dalam konteks kekebalan terhadap penyakit, maka ada dua pilihan bagi sang individu, yaitu: dia kebal terhadap penyakit tersebut (peluang pertama) atau tidak kebal (peluang kedua).

Menurut sumber yang dapat dipercaya, Cahyo Budiman mengatakan, ”Karakteristik ini (sekali lagi) dikendalikan oleh gen dalam tubuh individu tersebut.”

Ia pun menyoroti, dalam kasus penyakit flu, ada fenomena menarik dari serangkaian penelitian terdahulu mengenai karakteristik individu terhadap penyakit ini.

Menurutnya, penelitian menunjukkan bahwa kekebalan terhadap penyakit influenza dikendalikan oleh suatu gen yang disebut dengan gen Mx.

”Pertama kali fenomena ini saya dengar ketika mengikuti seminar Prof. Yoshizae Meada, seorang guru besar dari Kagoshima University, Jepang. Beliau intens meneliti mengenai karakteristik genetik pada berbagai ayam lokal di wilayah Asia,” katanya.

Diuraikan, gen ini akan mengkode dua kemungkinan karakter ayam (kebal dan tidak kebal) melalui dua alelnya, yakni Mx+ dan Mx-.

Keberadaan Mx+ akan menyebabkan sang individu mampu meproduksi protein Mx. Protein ini pada tahap selanjutnya berperan dalam pemblokiran replikasi virus AI dalam nukleus.

Alhasil, katanya, sang virus akan ‘mandul’ alias tidak mampu berkembang biak. Sebaliknya, keberadaan alel Mx- akan tidak akan mampu memproduksi protein Mx, sehingga virus AI dalam sel akan tetap berkembang biak dan melakukan aktivitas yang merusak sistem tubuh sang ayam.

”Inilah yang menjadi penyebab ambruknya ribuan ayam akibat penyakit AI,” kata Cahyo Budiman.

Ia pun menuturkan, meski di awal keberadaan gen Mx ini dideteksi pada mencit, akan tetapi penelitian-penelitian berikutnya menunjukkan bahwa hampir semua organisme memiliki gen tersebut, termasuk yeast. Tentu saja dengan frekuensi gen yang berbeda-beda.

Di kelompok unggas, gen ini pertama kali ditemukan di kelompok itik. Dimungkinkan karena frekuensinya yang tinggi, maka tidak heran banyak sekali itik yang tahan terhadap serangan virus AI ini.

Penelitian selanjutnya, gen ini juga ditemukan pada kelompok ayam. Hasil penelitian Prof. Maeda di berbagai negara Asia menguatkan hal tersebut. Dan ini merupakan titik cerah bagi mimpi kita untuk menciptakan ayam ‘kebal’ tersebut.

Singkatnya, keberadaan gen Mx dalam ayam dimungkinkan dalam dua kondisi, yakni dengan alel Mx+ dan Mx-. Kehadiran Mx- akan menyebabkan ayam rentan terhadap serangan virus AI.

Sebaliknya, Mx+ akan membuat ayam resisten terhadap penyakit tersebut. Dari sini, maka strategi pengembangan ayam yang kebal terhadap flu burung bisa dilakukan dengan menseleksi ayam yang memiliki Mx+.

”Dengan mengembangkan bibit ayam dalam kondisi Mx+ homozigot baik jantan maupun betina, maka dipastikan keturunannya pun akan berada dalam kondisi yang sama. Disinilah generasi ayam kampung kita yang kebal terhadap penyakit flu burung mulai terbentuk,” tutur Cahyo Budiman. (Infovet/ berbagai sumber)

AI di DKI JAKARTA

Infovet

AI di DKI JAKARTA


Provinsi DKI Jakarta yang merupakan barometer dan sebagai daerah contoh dalam penanggulangan Al telah melakukan tindakan-tindakan pencegahan yang lebih awal sehingga hal ini telah diikuti oleh propinsi lainnya.

Sejauh mana Peraturan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 15 Tahun 2007 sudah dilaksanakan, dan apa kendala-kendala yang ditemui dalam pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan AI di lapangan?

Kepala Dinas Peternakan, Perikanan & Kelautan Provinsi DKI Jakarta Drh Edy Setiarto MS menyampaikan bahwa kendala-kendala pelaksanaan Peraturan Gubernur adalah Relatif tidak ada halangan karena sebagian besar masyarakat sadar bahwa PERGUB tersebut adalah untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.

Namun, katanya, dari aspek pelaku usaha TPA dan TpnA muncul kerisauan-kerisauan
diantaranya tentang kelangsungan usaha dan tenaga kerja. “Untuk pemotongan yang ada di pasar tradisional dan ataupun pemotongan di pemukiman akan ditata lagi secara bertahap,” katanya.

Informasi yang didapat Infovet dari sumber di Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian itu mengungkap bahwa PERGUB tersebut pada tanggal 19 April 2007 telah ditetapkan oleh DPRD Propinsi DKIJakarta sebagai PERDA No. 4 tahun 2007 tentang Pengendalian Pemeliharaan dan Peredaran Unggas.

Menurut Drh Edy Setiarto, rencana telah dituangkan dalam Rancangan (disempurnakan) Peraturan Daerah (PERDA) yang mengamanatkan bahwa semua tempat-tempat penampungan (TPnA) dan pemotongan unggas pangan (TPA) akan direlokasi ke lokasi yang ditetapkan oleh Gubernur secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 3 tahun.
Rencana lokasi untuk relokasi TPA dan TPnA ada beberapa, yaitu :

1). TPA Rawa Kepiting, lokasi di Jalan Rawa Kepiting - Kawasan Industri-Pulo Gadung dengan luas keseluruhan 2 ha, termasuk kawasan peruntukan fasilitas khusus (fasus) dan fasilitas umum (fasum) serta sudah dibangun kandang penampungan dan pemotongan

2). RPA Cakung, lokasi di Jalan Penggilingan Cakung Jakarta Timur, dengan luas untuk TPnA 1 ha, dan untukTPAseluas1.600m2.

3). RPA Pulo Gadung, lokasi Jalan Palad Kawasan RPH - Pulo Gadung Jakarta dengan luas keseluruhan 1,5 ha, khusus untuk penampungan Et pemotongan ayam.

4). TPA PT. Kartika Eka Darma, lokasi di Jalan Swadarma No. 69 Kelurahan Srengseng Kec. Kembangan Jakarta Barat dengan luasTPA 1,2 ha. RPA ini milik masyarakat yang kita coba kembangkan.

5) TPnA Kelompok Arela, lokasi di Jalan Penghulu Rt 012/01 No. 99A Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dengan luas lahan keseluruhan 1 ha.

Namun, katanya, “Pemerintah tidak membatasi hanya pada lima lokasi tersebut diatas. Kepada masyarakat yang ingin membangun RPA dan TPnA dapat mengajukan izin pembangunan sesuai dengan peraturan Pemerintah yang berlaku.”

Peraturan yang akan diberlakukan untuk 6 (enam) bulan ke depan adalah pemerintah DKI akan menutup pemotongan dan penampungan yang ada di Jakarta Pusat sebanyak 17 penampungan dengan batas waktu sampai dengan pertengahan bulan Oktober. Demikian diungkap Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia dalam Media Budidaya Ternak Non Ruminansia Unggas dan Aneka Ternak itu.

Setelah tanggal 15 Oktober tidak diperbolehkan lagi pemotongan dan penampungan terutama di daerah padat penduduk atau yang ada kasus positif AI atau kemudian ada kasus AI pada manusia atau ada komplain/pengaduan dari masyarakat. Sejalan dengan keadaan ini maka merupakan suatu moment yang sangat penting untuk membenahi penataan perunggasan

Dengan adanya isu Avian Influenza, sebagian besar peternak unggas dan industri perunggasan di DKI Jakarta mengalami kerugian yang cukup besar, bahkan ada yang sampai gulung tikar. Maka keluar Peraturan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 15 Tahun 2007 Tentang Pengendalian Pemeliharaan dan Peredaran Unggas.

“Pada prinsipnya pengaturan pengendalian pemeliharan dan peredaran unggas yang dilakukan di DKI Jakarta adalah untuk mencegah semakin berkembangnya dan memutus mata rantai penyebaran penyakit flu burung,” kata Edy Setiarto.

“Keadaan peternakan di perkotaan sudah tidak layak lagi di pemukiman dan tidak sesuai dengan standar ibukota, di mana masyarakat hidup tidak berdampingan dengan unggas. Penataan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang sehat,” katanya.

Relokasi juga dilakukan untuk menjaga jarak antara peternakan unggas dengan orang yang tidak berkepentingan dengan unggas. Namun demikian pemeliharan di pemukiman tidak dilarang sepanjang dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu dengan jarak 25 m dari pemukiman.

Diungkap Edy, Pengaturan PERDA ada dua pendekatan yaitu unggas pangan adalah untuk dikonsumsi seperti ayam, itik, entok, angsa, merpati potong, dan burung puyuh, diatur dengan peraturan perizinan. Kemudian unggas non pangan seperti unggas kesayangan adalah ayam kate, ayam pelung, ayam bangkok, ayam bekisar, ayam cemani, merpati pos, merpati balap, burung berkicau dan burung hias lainnya, diatur dengan sertifikasi.

Dia uraikan, pengaturan untuk unggas pangan ada dua yaitu kegiatan budidaya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu berjarak 25 m dari pemukiman sedang untuk pemotongan sesuai dengan relokasi yang sudah ditetapkan Gubernur.

Adapun, sertifikasi hanya berlaku selama 6 bulan dan untuk selanjutnya harus diperbaharui. Sertifikasi diberikan kepada pemilik unggas kesayangan apabila pemiliknya memenuhi persyaratan antara lain setiap unggas kesayangan dikandangkan, kandang dibersihkan setiaphari, dan kandang didesinfeksi setiap 3 (tiga) hari lalu vaksinasi. Juga disarankan agar diberi pakan yang baik dan vitamin secara rutin.

“Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi kerugian peternak adalah bahwa jauh-jauh hari kita sudah melakukan kampanye memakan ayam (mengkonsumsi daging ayam secara baik). Dengan adanya upaya-upaya tersebut jadi hampir tidak ada penurunan permintaan konsumen akan daging ayam,” kata Edy.

Selanjutnya, katanya, relokasi pasar unggas kesayangan akan diatur kemudian karena harus dipikirkan kendala kesulitan pemasaran. Saat ini yang dilakukan adalah penekanan pada persyaratan sanitasi (biosecurity). Gubernur juga akan segera menetapkan tentang persyaratan teknis penataan unggas kesayangan yang baik.

Lalu, khusus untuk unggas kesayangan adalah dengan pendekatan pemberian sertifikat kepada pemilik unggas kesayangan, dan apabila petugas datang untuk memproses sertifikasi.

Menurut Drh Edy Setiarto, sebenarnya sudah banyak aturan dori tahun-tahun sebelumnya yang Man ditetapkan tetapi masih lemah dalam penegakan hukumnya dan dalam pemeriksaan ternyata tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku maka hewan kesayangan tersebut ditiadakan tanpa kompensasi. Sedang untuk masyarakat yang tidak memenuhi persyaratan peraturan yang berlaku dalam budidaya ayamnya harus ditiadakan/dipotong dan atau dapat dikonsumsi dengan cara pengolahan yang benar dan kandangnya dimusnahkan.

Adapun dalam jangka panjang PEMDA perlu mengupayakan adanya standar hygiene untuk pemotongan hewan kemudian perlu persyaratan lokasi yang cukup luas untuk mempertahankan hygiene.

“Untuk ke depan tuntutan masyarakat terhadap hygiene sudah semakin tinggi. Masyarakat perunggasan didorong bisa menyesuaikan tuntutan masyarakat tersebut diantaranya ikut berperan dalam kegiatan penataan perunggasan yang dilakukan 6- Riwayal Pekerjaan : PEMDA,” katanya.

Sedangkan untuk masyarakat umum, secara tidak langsung konsumen dapat mengajari produsen dengan membeli ayam yang baik pada kios yang disediakan dan mempunyai label halal.

“Masyarakat harus terus waspada, jangan membeli sembarangan seperti membeli ayam dengan harga murah, karena harga ayam sudah standar dan selalu dilakukan pengawasan,” tegas Drh Edy.

Adapun menurutnya, untuk mendorong timbulnya industri yang menghasilkan peralatan pendingin (kendaraan, tempat penyimpanan, tempat pajangan dll) yang sangat diperlukan dalam perubahan sistim tataniaga yang diinginkan dan kegiatan itu sepenuhnya dilakukan oleh pelaku usaha. (YR)

SELEKSI BENIH VIRUS AI UNTUK VAKSINASI


Infovet

SELEKSI BENIH VIRUS AI UNTUK VAKSINASI


asalah lain dalam strategi vaksinasi adalah penentuan seed virus yang digunakan sebagai bibit vaksin yang baku. Virus influenza merupakan virus yang secara antigenik sangat labil sehingga penentuan seed vaksin menjadi masalah yang pelik.

Virus Avian Influenza yang sangat palogen (highly pathogenic avian influenza virus/HPAI) subtipe H5N1, telah menyebabkan sampar ayam pada unggas di berbagai neqara di Asis seperfi Vietnam, Thailand, Cina, Jepang, Korea Selatan, Kamboja, Laos, dan Indonesia sejak akhir 2003 sampai sekarang (WHO 2005). Ratusan juta ayam dan itik telah dimusnahkan untuk menghentikan laju penyebarannya.

Di samping menyebabkan kerugian ekonomi yang besar dan ancaman pada ketahanan pangan, virus HPAI ini juga telah terbukti dapat melompati barier spesies unggas-manusia dan dapat menjadi ancaman pandemi.

Karenanya, pencegahan infeksi pada unggas sangat penting. Strategi yang umum dilakukan untuk pengendalian Al pada unggas adalah pemusnahan unggas yang tertular dalam radius tertentu (stamping out/preemptive culling), biosekuriti, dan vaksinasi.

Berbagai sediaan vaksin Al untuk unggas telah banyak dicoba. Akan tetapi sediaan yang umum untuk penggunaan komersial adalah vaksin virus inaktif dalam adjuvant minyak. Vaksin jenis ini telah terbukti dapat melindungi unggas dari gejala klinis dan kematian, tetapi tidak menekan eksresi virus.

Fakta ini menimbulkan keraguan tentang daya-guna vaksinasi dalam mencegah penyebaran antar hewan. Penuiaran yang tak kasat mata ini meningkatkan risiko wabah baru dan membawa ancaman pada kesehatan masyarakal.

Untuk mengatasi masalah tersebut diusulkan untuk menerapkan strategi vaksinasi dengan sentinel dan teknologi DIVA yang membedakan antibodi akibal vaksinasi dengan infeksi alam. Mengingat masalah dalam aplikasi strategi diatas, jalan keluar terbaik adalah pengembangan vaksin yang mencegah transmisi virus dengan sempurna.

Vaksin yang mendekati kondisi ideal tersebut telah dikembangkan untuk virus AI subtipe H7N7. Vaksin untuk subtipe H5N1 yang mempunyai potensi menekan ekskresi virus secara sempurna belum pernah dilaporkan.

Masalah lain dalam strategi vaksinasi adalah penentuan seed virus yang digunakan sebagai bibit vaksin yang baku. Virus influenza merupakan virus yang secara antigenik sangat labil sehingga penentuan seed vaksin menjadi masalah yang pelik.

Perkembangan virus Al dan dampaknya pada penentuan seed vaksin diulas G Ngurah Mahardika dari Laboratorium Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dan Wayan I Wibawan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor kepada Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia dalam Media Unggas dan Aneka Ternak baru-baru ini. Atas ijin khusus Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Drh Djajadi Gunawan MPH kepada Infovet pembaca dapat menikmati untuk sebuah pencerahan bersama sekaligus untuk dikritisi.

Pencegahan, Pengendalian, dan Eradikasi

Penyakit AI termasuk penyakit yang harus dimonitor dan dilaporkan. Kata kunci untuk tindakan pemusnahan (eradikasi) adalah diagnosis akurat dan segera. Kunci yang kedua untuk keberhasilan pencegahan, pengendalian, dan eradikasi adalah pengendalian harus dilakukan serentak dan seragam. Tanpa hal seperti ini, banyaknya hewan dan burung liar akan membuat Virus AI ganas lestari dan endemik di suatu wilayah.

Pemusnahan unggas yang tertular dan yang kontak dengannya dalam radius tertentu merupakan strategi yang paling efektif. Strategi ini meliputi penentuan zona karantina, pembatasan lalu lintas unggas dan produk-produknya serta manusia, repopulasi peternakan setelah tindakan pembersihan dan daerah yang bersangkutan memang bebas Virus AI HPAI.
Gelombang wabah H5N1 antara Juli sampai September 2004, diperkirakan terjadi karena pembersihan yang tidak memadai, pengujian yang tidak mencukupi, dan repopulasi yang terlalu dini. Jika wabah tidak meluas, dan virus belum endemik pada ternak unggas dan burung liar, strategi ini dapat berhasil.

Strategi ini telah terbukti berhasil di berbagai negara, seperti Amerika Serikat pada wabah H5N2 di Pennsylvania tahun 1980-an dan Jepang untuk H5N1 pada awal 2004.
Jika penyebaran suatu Virus AI HPAI pada ternak sudah demikian luas atau penyakit sudah menjadi endemik pada ternak dan burung liar, stamping out mustahil dilakukan. Strategi alternatif adalah stamping out plus vaksinasi. Strategi ini diadopsi oleh Cina dan Indonesia sejak 2004.

Strategi ini banyak ditentang, seperti pengalaman Meksiko dalam mengendalikan wabah HPAI H5N2 tahun 1990-an. Walaupun kasus wabah tidak dilaporkan kembali setelah penerapan strategi tersebut, sumber virus tetap bersirkulasi dan telah terbukti kembali mengganas di Amerika Tengah dan Amerika Serikat tahun 2004.

Program vaksinasi yang diterapkan di suatu negara membuat produk perunggasan negara tersebut tidak boleh diekspor. Thailand, yang juga tertular HPAI H5N1, masih menggolongkan tindakan vaksinasi sebagai ilegal.

Argumen penentang vaksinasi antara lain: vaksinasi tidak mendorong peternak untuk meningkatkan isolasi dan biosekuriti. Lalu vaksinasi dapat berhasil mencegah penyakit klinis akan tetapi tidak mencegah eksresi virus pada ayam yang divaksin.

Adapun penggunaan vaksin dilaporkan memicu munculnya varian akibat mutasi; penggunaan vaksin menyebabkan virus menjadi endemik seperti terjadi di Meksiko dan Amerika Tengah, dan mungkin sedang berlangsung di Asia.

Sementara itu penggunaan vaksin mempengaruhi perdagangan dan menyembunyikan virus menular yang masih ada.

Vaksinasi tampaknya memang telah menjadi pilihan Indonesia. Vaksinasi hendaknya disertai dengan strategi untuk memantau virus ganas yang mungkin masih beredar di kandang atau wilayah yang bersangkutan.

Dengan demikian, kebijakan vaksinasi mestinya disertai penyediaan dan pelaksanaan prosedur pemantauan virus yang pathogen pada ternakyang divaksin. Jika vaksin homolog digunakan, kelompok unggas sentinel yang sengaja tidak divaksin tersedia di sekitar kandang yang divaksin.

Aktivitas virus ganas dapat dipantau dari kelompok hewan ini. Penerapan vaksin heterolog digolongkan sebagai vaksin DIVA, singkatan dari "Differentiating Infection from Vaccinated Animal", membedakan hewan yang terinfeksi alami dengan hewan yang divaksinasi. Antibodi terhadap NA selain subtipe yang tersedia dalam vaksin menjadi indikator aktivitas virus ganas alami.

Perkembangan Virus AI

Sekalipun publikasi tentang genotipe virus Al H5N1 asal Indonesia belum banyak dipublikasi, data yang telah tersedia menunjukkan bahwa virus tersebut telah berevolusi dan kian menyebar di Indonesia melalui perantara lalu lintas unggas dan produk perunggasan.

Reassortment genetik dan peran burung liar migratori belum teridentifikasi. Seperti yang diduga, materi genetika virus Al H5N1 terus mengalami perubahan melalui mutasi (genetic drift) terutama pada segmen ke-4 yanj menyandi protein HA. Sequence gen I dari mayoritas virus H5N1 yan bersirkulasi pada burung selama 3 tahul terakhir telah terpisah menjadi duf 'phylogenetic clades' yang berbeda.

Grup 1 bersirkulasi Kamboja, Thailand dan Vietnam. Grup4 beredar di China dan Indonesia 2003-2004, yang kemudian menyebar ke Timur Tengah, Eropa, dan Afrika padal tahun 2005-2006. Grup ini juga telatif berkembang menjadi 6 sub-grup, tiga diantaranya mempunyai daerah penyebaran geografis yang berbeda dan merupakan agen penyebab kasus-kasus infeksi pada manusia di Indonesia, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Cina.

Semua virus Indonesia yang dianalisis berada dalam satu klaster yang mengindikasikan introduksi virus awal yang sama. Analisis lebih lanjut menunjukkan virus H5N1 Indonesia membentuk tiga sub-l kelompok genetik.

Sub-kelompok Al ditemukan di Jawa, Sulawesi Selatan, danl Timor Barat. Sub-kelompok B terisolasil dari Jawa, Bali, Flores dan Timor Barat.

Sementara sub-kelompok C berasal dari isolat Jawa dan Sumatra.

Dari informasi tersebut tampak bahwa semua sub-kelompok ditemukan di Jawa, sementara daerah tertular lain umumnya mempunyai satu sub-kelompok saja. Hubungan ini mengindikasikan introduksi virus Al H5N1 di Indonesia yang pertama terjadi di Pulau Jawa yang kemudian menyebar ke pulau-pulau lainnya.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa perkembangan genetik virus Al H5N1 asal Indonesia tampaknya lebih kompleks dari postulasi tersebut.

Pohon filogenetik virus Al H5N1 isolat asal hewan dan manusia di Indonesia dengan mengikutsertakan isolat-isolat terakhir, termasuk isolat virus asal babi di Bali (data belum dipublikasikan) seperti ditampilkan pada Gambar menerangkan bahwa pembagian sub-kelompok A, B, dan C tampaknya belum mencakup semua isolat asal Indonesia. Beberapa isolat berada di luar sub-kelompok tersebut.

Khusus untuk Bali, ketiga sub-kelompok yang diisolasi di Jawa tampaknya juga menyebar di pulau tersebut.

Perkembangan tersebut mempengaruhi struktur antigenik virus Al yang menyebar di Asia, termasuk Indonesia. Kajian yang dilaporkan menunjukkan bahwa virus-virus asal Indonesia tidak bereaksi dengan antibodi terhadap representatif virus asal Vietnam, demikian juga sebaliknya, namun masih menunjukkan reaksi silang dengan virus asal Hong Kong dan Cina.

Di samping itu, variasi antigenik juga tampak sekali diantara virus-virus asal Indonesia. Variasi antigenik tersebut bahkan ditunjukkan dengan titer antibodi terhadap virus-virus dari masing-masing subkelompok sampai empat log.

Perkembangan tersebut juga mempunyai implikasi yang besar dalam pemilahan seed vaksin yang hendak digunakan di suatu wilayah. Idealnya, vaksin yang digunakan mestinya mempunyai homologi genetik dan antigenik yang mendekati sempurna dengan virus yang beredar di wilayah yang bersangkutan.

Untuk wilayah yang mempunyai virus yang berasal dari satu sub-kelompok, vaksin yang digunakan idealnya mengandung antigen dari masing-masing sub-kelompok.

Penggunaan seed vaksin yang tidak sesuai dapat menurunkan protektivitas vaksin. Kasus-kasus kegagalan vaksinasi mungkin akan semakin sering terjadi. Kalaupun unggas yang divaksin tetap tidak menunjukkan gejala klinis yang nyata, penurunan produksi dan tingginya beban virus pada lingkungan dapat menjadi konsekuensi logis pada penggunaan seed vaksin yang tidak sesuai.

Dengan demikian risiko kerugian ekonomi dan kesehatan masyarakat akan tetaptinggi.
Di samping itu, penggunaan vaksin ditenggarai dapat memicu munculnya varian akibat mutasi dan vaksinasi menyembunyikan virus menular dapat menjadi ancaman baru. Dari survei virologi dan epidemiologi intensif di Cina Selatan, dilaporkan kemunculan dan dominasi virus Fujian-like sejak akhir 2005.

Virus ini menggantikan secara bertahap klaster virus yang sebelumnya beredar dan telah menyebabkan infeksi pada manusia di Cina belum lama ini. Disamping itu, virus Fujian-like ternyata telah tersebar di Hong Kong, Laos, Malaysia, dan Thailand. Dominasi virus ini diduga difasilitasi program vaksinasi massal yang dilakukan di Cina. Hal serupa perlu dimonitor di Indonesia.

Sekalipun publikasi tentang genotipe virus Al H5N1 asal Indonesia belum banyak dipublikasi, data yang telah tersedia menunjukkan bahwa virus tersebut telah berevolusi dan kian menyebar di Indonesia melalui perantara lalu lintas unggas dan produk perunggasan.

Sesuai dengan sifat-sifat virus influenza, materi genetika virus Al H5N1 terus mengalami perubahan melalui mutasi (genetic drift) terutama pada segmen ke-4 yang menyandi protein HA. Semua virus Indonesia secara genetik berada dalam satu klaster yang mengindikasikan berawal dari introduksi virus awal yang sama.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahawa virus H5N1 Indonesia membentuk tiga sub-kelompok genetik dengan daerah sebaran geografis tertentu, kecuali di Pulau Jawa dan Bali yang mempunyai representatif ketiga kelompok itu.

Perkembangan tersebut mempengaruhi struktur antigenik virus Al yang menyebar di Asia, termasuk Indonesia. Virus-virus asal Indonesia tidak bereaksi dengan antibodi terhadap representatif virus asal Vietnam, demikian juga sebaliknya, namun masih menunjukkan reaksi silang dengan virus asal Hong Kong dan Cina.

Di samping itu, variasi antigenik juga tampak sekali, walaupun masih menunjukkan reaksi silang diantara virus-virus asal Indonesia.

Idealnya, vaksin yang digunakan mestinya mempunyai homologi genetik dan antigenikyang mendekati sempurna dengan virus yang beredar di wilayah yang bersangkutan.

Dalam hal menggunakan vaksin yang heterolog yang materi genetik H5-nya tidak berasal dari Indonesia, vaksin yang bersangkutan sebaiknya diuji tantang dengan representatif ketiga sub-kelompok virus yang beredar di Indonesia dan dipilah vaksin yang menunjukkan protektivitas klinis dan penekanan ekskresi virus seminimum mungkin.

Tentu uraian tulisan ini sangat bermanfaat untuk melacak keberadaan virus AI sekaligus bbit untuk vaksin di tanah air dalam menfatasi kemelut yang rasanya kalangan peternakan relatif sudah semakin lihai untuk menangani. Meski ada masalah di sana-sini, bukankah itu sebuah kewajaran dalam proses untuk menjadi lebih baik dalam menangani? Kiranya begitu. (YR)

MENGINGAT VIRUS INFLUENZA


Infovet

MENGINGAT VIRUS INFLUENZA


Struktur virus influenza A mirip sangat mirip satu dengan lainnya. Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament.

Virus influenza adalah virus dengan genom asam ribo-nukleat (RNA) serat tunggal dan berpolaritas negatif yang terpisah dalam 8 dari Familia. Virus-virus dari keiuarga ini dikelompokkan menjadi klas A, B dan C berdasarkan, perbedaan antigenik protein nukleoprotein dan matriks protein.

Semua Virus AI diklasifikasikan dalam tipe A. Pembagian sub-tipe lebih lanjut didasarkan pada struktur antigen dua glikoprotein permukaan virus, yaitu hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA).

Sampai saat ini 16 macam HA dan 9 NA telah diidentifikasi pada virus influenza A. Derajat homologi dari susunan asam amino HA antar subtipe adalah kurang dari 70 persen.

Struktur virus influenza A mirip sangat mirip satu dengan lainnya. Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament.

Dua protein yang menentukan patogenitas dan kekebalan suatu virus influenza, serta sangat mudah mengalami mutasi, yaitu HA dan NA, membentuk penjuluran khas di permukaan partikel virus dengan panjang sekitar 16 nm. Kedua protein ini adalah glikoprotein yang vital bagibiologi virus.

HA berperan dalam memulai infeksi pada sel dengan menempel pada reseptor sialiloligosakarida pada permukaan sel. HA juga menginduksi antibodi penetral yang penting dalam pencegahan infeksi. Derajat kemudahan pemecahan protein ini dan tersedianya enzim protease yang sesuai menentukan virulensi Virus AI dan tropisme jaringan.

Sedangkan NA adalah suatu enzim sialidase yang menghambat agrerasi virion dengan menghilangkan asam sialat sel. Antibodi terhadap NA juga berperan dalam perlindungan hewan terhadap infeksi berikutnya.

Protein virus influenza lain tampaknya juga sangat berperan dalam patogenitas strain. Protein-protein tersebut adalah M1, M2, IMP, tiga enzim polymerase RNA kompleks (PB1, PB2, dan PA) dan IMS2.

Protein IMS1 yang hanya terdapat pada sel terinfeksi dan tidak diintegrasikan dalam partikel virus yang berfungsi menekan fungsi interferon hewan/manusia. Fungsi ini juga vital dalam patogenesis virus.

Dalam hal menginduksi kekebalan yang protektif, protein-protein ini tampaknya juga tidak dapat diabaikan. Jika protein permukaan, yaitu HA dan NA berperan sebagai antigen penetralisai dengan menginduksi kekebalan humoral yang mencegah penetrasi virus pada jaringan, protein yang lain berperan dalam menginduksi kekebalan berperantara sel.

Protein yang banyak diulas dengan kapasitas seperti itu adalah nukleoprotein (NP) dan matriks (M1). Karena protein-protein ini secara genetik relatif stabil, maka, jika kekebalan humoral menginduksi kekebalan terhadap virus yang homolog, CMI protektif terhadap virus yang heterolog. Hal yang sama tampaknya berlaku untuk infeksi virus Al H5N.

Struktur antigen virus influenza berubah secara bertahap oleh karena mutasi dan rekombinasi atau secara drastis karena reassortment. Mutasi terjadi karena enzim RNA-polimerase virus tidak mempunyai kemampuan memperbaiki kesalahan.

Sedangkan dari inang, cekaman imunologis pada HA dan NA dikatakan sebagai "motor" penggerak terjadinya hanyutan antigenik. Kajian tentang HA pada strain virus influenza manusia H3 menunjukkan bahwa mutasi pada satu posisi saja dapat mengubah struktur glikoprotein tersebut yang menyebabkan terjadinya variasi antigenik yang signifikan. Mutasi ini merupakan proses yang berlangsung setiap saat.

Tercatat perubahan antigenik yang signifikan pada stud: tentang virus H9N2 yang diisolasi setiap tahunsejak 1997 sampai 2003 dan H5N1 sejak tahun yang sama sampai 2004.

Hanyutan antigenik dapat terjadi karena rekombinasi. Fenomena ini terjadi bila RNA virus influenza terpotong dan disisipipotongan RNAasing yang berasal dari sel. Meskipun peristiwa ini relatif jarang dilaporkan pada Virus AI, tetapi kecenderungannya meningkat akhir-akhir ini.

Lompatan antigenik terjadi karena transmisi langsung virus non-manusia ke manusia atau reassortment genetik dari dua virus influenza yang berbeda setelah menginfeksi satu sel yang sama. Secara teoritis, 256 kombinasi RNA dapat terbentuk dari tukar-menukar 8 segmen genom virus.

Reassortment genetik sudah sering dilaporkan di alam maupun laboratorium. Di samping itu, infeksi campuran sering terjadi di alam yang dapat menyebabkan terjadim reassortment genetik.

Dalam model reassortment klasil yang dikembangkan 200 babi berperan sebagai wahana pencampuran. Basis model tersebut adalah spesifisitas strain terhadap reseptor pada permukaan sel Virus influenza avian dapat menginfeksi sel yang mempunyai reseptor berbeda dengan influenza manusia.

Kedua macam reseptor ini terdapat pada trakeal babi. Jika dua virus influenza unggas dan manusia atau mamalia menginfeksi satu sel yang sama pada sel tersebut, maka progeni virus dapat merupakan kombinasi 8 segmen virus unggas dan 8 segmen virus manusia atau mamalia.

Mekanisme lain yang memungkinkan virus influenza unggas dapat bereplikasi secara efisien pada manusia adalah adaptasi untuk berikatan dengan reseptor dalam tubuh babi. Dengan kata lain, Virus AI asal unggas berevolusi sedemikian rupa sehingga dapat mengenali reseptor mamalia.

Fakta ini telah terbukti dengan meyakinkan dari studi tentang virus H5N1 dan H9N2 yang menyebabkan wabah di Hong Kong, masing-masing tahun 1997 dan 1999. Protein HA dari kedua virus tersebut dapat berikatan dengan reseptor unggas dan manusia.

Di masa depan, teori spesifisitas reseptor untuk virus avian dan mamalia tampaknya akan mengalami pergeseran yang signifikan. Juga berhasil dibuktikan kedua reseptor tersebut terdapat pada sel-sel epitel pernafasan manusia.

Lokasinya memang berbeda. Reseptor a2,6 terdapat pada sel-sel yang tidak bercilia, sementara reseptor a2,3 terdapat pada sel-sel yang bercilia. Temuan ini akan dapat menjelaskan kemungkinan penularan langsung dari unggas kepada manusia tanpa hewan perantara.

Dalam banyak kasus wabah, peran babi sering sulit ditelusuri. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa HPAI H5N1 merupakan produk reassortant virus-virus yang secara alarm bersirkulasi pada puyuh, angsa, dan itik liar dari Cina. Diduga reassortment terjadi pada burung puyuh di pasar burung atau pasar hewan hidup.

Berbagai jenis hewan dan burung diletakkan dalam kandang-kandang saling berdekatan atau bahkan bercampur di tempat tersebut, sehingga peluang untuk saling tukar menukar virus influenza terjadi dengan mudah. Juga berhasil ditunjukkan perubahan molekul HA sudah menyebabkan adaptasi dan peningkatan kemampuan suatu virus H9 asal itik untuk menginfeksi burung puyuh.

Dapat pula dibuktikan bahwa burung puyuh menyediakan lingkungan yang memungkinkan suatu virus asal mamatia, yaitu influenza babi H3N2, dapat mengalami reassortment dan menghasilkan vius influenza yang berpotensi menyebabkan pandemi.

Fenomena reassortment telah dapat dibuktikan di alam. Contoh yang paling baru adalah perbandingan susunan RNA semua gen virus influenza Hong Kong-H5N1/1997 dengan dalam kandang yang berdekatan turut membantu kesinambungan virus influenza. Manajemen seperti itu memungkinkan sebagai tempat evolusi virus influenza yang cepat dan lestari. Hal ini telah dibuktikan pada kasus virus Al H5NI.

Virus influenza dikeluarkan oleh unggas terinfeksi dalam jumlah yang besar bersama kotoran, leleran, dan udara pernafasan. Karena sifat-sifat virus yang labil dalam udara terbuka, penularan melalui udara pernafasan dapat terjadi melalui kontak yang sangat dekat. Penularan melalui kotoran dan leleran lebih besar peluangnya.

Virus influenza dapat bertahan lebih lama dalam material organik seperti dalam kotoran, darah ayam, atau leleran dan dapat menulari manusia atau hewan lain secara langsung dari kandang maupun secara tidak langsung melalui pakaian, kendaraan, atau peralatan yang tercemar.

Virus influenza dapat mencemari produk-produk hasil olahan unggas seperti daging, telur, dan pupuk kotoran ayam. Salah satu bukti kuat potensi ini adalah isolasi HPAI H5N1 dari daging itik asal Cina di Korea Selatan. Kerabang telur dapat mengandung virus influenza menular yang berasal dari kontaminasi kotoran.

Demikian disampaikan G Ngurah Mahardika dari Laboratorium Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dan Wayan I Wibawan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor kepada Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia dalam Media Unggas dan Aneka Ternak baru-baru ini.

Atas ijin khusus Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Drh Djajadi Gunawan MPH kepada Infovet, pembaca dapat menikmati untuk sebuah pencerahan bersama sekaligus untuk bahan kritis hal-ihwal terkait AI. (YR)