<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707</id><updated>2012-01-04T18:57:32.831-08:00</updated><category term='Cacingan'/><category term='Ayam'/><category term='Anthraks'/><category term='Korisa'/><category term='Profil'/><category term='Obat Hewan'/><category term='Vaksinasi'/><category term='Biosecurity'/><category term='Kemitraan'/><category term='Penyakit Pencernaan'/><category term='Antibiotik'/><category term='Siskeswanas'/><category term='Perunggasan'/><category term='Ayam Pedaging'/><category term='Manajemen Peternakan'/><category term='Flu Burung'/><category term='Pakan Ternak'/><category term='Penyakit Pernafasan'/><category term='Kolera'/><category term='FKH'/><category term='Ayam Kerdil'/><category term='Ayam Petelur'/><category term='Drh'/><category term='Rabies'/><category term='Penyakit Parasit'/><title type='text'>Dokter Hewan</title><subtitle type='html'>Hewan Sehat Manusia Sejahtera, sebuah persembahan Drh Yonathan Rahardjo</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>112</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3765583772903003829</id><published>2011-06-08T19:14:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T19:14:45.873-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>DOKTER HEWAN FLU BURUNG TIDAK DIPERHATIKAN KESELAMATAN HIDUPNYA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/dokter-hewan-flu-burung-tidak.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOKTER HEWAN FLU BURUNG TIDAK DIPERHATIKAN KESELAMATAN HIDUPNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan pemusnahan unggas di DKI Jakarta melibatkan banyak masyarakat tak terkecuali dokter hewan. Bahkan dokter hewan adalah pelaksana penentu karena merekalah yang dulu pada pemeriksaan titer antibodi virus Avian Influenza pada unggas, sebelum diputuskan untuk dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih jelas dalam ingatan pemeriksaan dan pemusnahan ayam dan burung tahun 2005. Tahun 2007 ini, mereka pun dilibatkan lagi. Namun keikutsertaan dokter hewan menjadi terhambat karena pengalaman buruk di lapangan mereka tidak dibekali peralatan, peralatan kesehatan, obat-obatan makanan yang cukup untuk keselamatan kerja sekaligus kesehatan saat masuk kampung penduduk dan kandang ternak ayam di sektor 4 (pemeliharaan ayam di pemukiman)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan, sarung tangan hanya satu, kantung bangkai membawa sendiri, tas kresek bawa sendiri, bahkan jarum suntik untuk menyedot darah hanya satu per orang! Obat-obatan tidak tersedia, suplemen untuk mempertahankan daya tahan tubuh sama sekali tidak diberikan. Bahkan selama tiga hari di lapangan setiap hari hanya mendapat makanan satu kali itu pun hanya nasi bungkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal pekerjaan yang dilakukan untuk pemeriksaan darah adalah pekerjaan yang sangat riskan bisa menularkan virus infeksius Flu Burung! Padahal pula, para dokter hewan ini ikut berperan lantaran anjuran pemerintah (lingkup Departemen Pertanian) dan organisasi profesi dokter hewan (PDHI-Perhimpunan Dokter hewan Indonesia)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi mengenaskan dokter hewan itu sangat berbeda dengan tim kesehatan manusia di bawah Departemen Kesehatan yang menyediakan obat, peralatan dan suplemen serta konsumsi untuk kesehatan. Bahkan tim dokter umum ini ada dana operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh prinsip dari kerja profesi dokter hewan dan dokter manusia adalah sama, yaitu: melayani masyarakat, bukan untuk bisnis atau profit ekonomi! Karena jiwa sosial mereka maka seolah-olah tim dokter hewan ini tidak diperhatikan keselamatan kerja dan kesehatannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dokter hewan di lapangan, tapi juga dokter hewan peneliti di lembaga penelitian veteriner yang ada, yang setiap hari memeriksa darah dari ternak dan juga manusia yang terkait dengan penyakit flu burung. Mereka tidak diperhatikan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam menjalankan tugas, yang dilakukan bahkan sampai pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter hewan peneliti bahkan sampai positif mengidap virus H5N1 dalam tubuhnya, sampai demam-demam. Pertolongan obat-obatan dan vitamin suplemen tidak diberikan oleh instansinya. Obat Tamiflu bahkan harus diberikan oleh kolega dokter hewan yang datang dari Surabaya. Padahal dokter hewan peneliti yang bersangkutan bertempat di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter hewan peneliti itu harus memeriksa titer dan menguji darahnya sendiri dengan keahlian yang dimiliki. Mereka pun tidak mendapat dana untuk kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan kerja untuk pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter hewan lapangan dan dokter hewan peneliti itu adalah korban dari perhatian birokrasi yang tidak siap dalam menjalankan penanggulangan flu burung sampai akar-akarnya. Tak mengherankan pada program pemusnahan kali ini banyak dokter hewan yang urung diri terlibat. Bukankah dana untuk penanggulangan flu burung ini begitu berlimpah? Mengapa pemerintah tidak sanggup memperhatikan kepentingan vital ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat perbaiki dan perhatikan, jangan sampai jatuh korban dari kalangan yang masuk sangat riskan dengan penularan ini, juga demi suksesnya program pemberantasan flu burung! (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3765583772903003829?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3765583772903003829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3765583772903003829' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3765583772903003829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3765583772903003829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2011/06/dokter-hewan-flu-burung-tidak.html' title='DOKTER HEWAN FLU BURUNG TIDAK DIPERHATIKAN KESELAMATAN HIDUPNYA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-6733966044427679162</id><published>2010-10-31T22:52:00.001-07:00</published><updated>2011-06-08T17:59:50.235-07:00</updated><title type='text'>KONTAK</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;MAJAS&lt;br /&gt;Bermakna dan Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Website: &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.penerbitmajas.com/"&gt;http://www.penerbitmajas.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:penerbitmajas@yahoo.com"&gt;penerbitmajas@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Alamat:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Toko Dewi Sri&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Jl. Raya Plaosan 61 Babat&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Lamongan 62271&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Telepon: 0322 457383, &lt;/span&gt;0815  9306584, &lt;span style="font-size: 100%;"&gt;085852985854&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; Cara Pemesanan/ Pembelian &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Isi Formulir ini : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Nama:  ...........................................................................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Alamat:  ........................................................................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Nomor telepon/HP:  ....................................................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Email: ..........................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Pesan: buku/ majalah/ produk lain (pilih pesanan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Nama Produk:  ...............................................................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Jumlah: .... eksemplar/ buah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Untuk Langganan majalah: .... bulan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;Jumlah Uang:  ........................................................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kirim  formulir ke Penerbit Majas:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Email: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:penerbitmajas@yahoo.com"&gt;penerbitmajas@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kontak via  telepon: 0322 457383,&lt;br /&gt;Atau telepon/SMS 0815 930 6584, &lt;span style="font-size: 100%;"&gt;085852985854&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pembayaran:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Transfer ke rekening  kami&lt;br /&gt;(yang akan kami informasikan setelah Anda pastikan pesan  produk kami) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Informasikan transfer Anda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;dengan SMS ke HP 0815  9306584,&lt;br /&gt;atau HP 08585 2985854,&lt;br /&gt;atau kontak 0322 457383,&lt;br /&gt;atau  email&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="mailto:penerbitmajas@yahoo.com"&gt;penerbitmajas@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dicek di  Rekening lalu &lt;b&gt;tunggu konfirmasi dan kiriman produk  kami&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-6733966044427679162?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/6733966044427679162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=6733966044427679162' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/6733966044427679162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/6733966044427679162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2010/10/kontak.html' title='KONTAK'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3082168499968670522</id><published>2009-01-21T00:12:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:07:38.358-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rabies'/><title type='text'>BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/bali-bebas-rabies-tinggal-kenangan.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Bali yang merupakan kawasan pariwisata berkelas dunia yang sejak zaman penjajahan kolonial Belanda dinyatakan sebagai daerah bebas rabies sekarang tinggal kenangan. Kini kita hanya dapat membaca catatan sejarah berdasar Hondsdolhed Ordonantie (staatblad 1926, No. 451 yunto Stbl 1926 No. 452) yang menyatakan bahwa beberapa wilayah karesidenan dan pulau di Hindia Belanda (Indonesia) pada masa itu bebas rabies termasuk di antaranya wilayah Karesidenan Bali. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Banjar Giri Darma, Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali gempar. Ungasan dinyatakan status siaga menyusul temuan dua warga yang dikategorikan sebagai suspect rabies. Pasalnya, hingga saat itu Bali belum pernah dinyatakan sebagai daerah tertular rabies.&lt;br /&gt;Dinas Kesehatan Pusat sudah terjun ke Bali. Didapati, ada empat warga yang tergigit anjing kampung, Mohamad Oktav Rahmana Putra (3 tahun), Linda (4), Ketut Wirata, Kadek Artana (21), semua tewas. Tetapi, jarak gigitan dengan tewas masih simpangsiur. Hanya saja, Ketut Wirata digigit bulan September dan meninggal 23 Nopember 2008. Apakah kasus ini akibat rabies?&lt;br /&gt;Dari hasil pemeriksaan medis saat itu, ada dugaan sementara Wirata terkena radang otak. Saat itu menunggu hasil pemeriksaan PCR. Masih dalam pemeriksaan lebih lanjut dan masih menyamakan persepsi. Yang pasti 27 Nopember mulai dilakukan depopulasi anjing tak bertuan di daerah Ungasan. Bahkan, anjing milik Made Cawi, Banjar Sari Karya, Ungasan yang habis menggigit sudah diisolasi dalam kandang.&lt;br /&gt;Menurut Drh. I Dewa Ngurah Dharma, M.Sc, Ph.D, 26 Nopember sore Balai Besar Veteriner Denpasar mendapat spesimen anjing yang baru mati dan dari hasil pemeriksaan jaringan melalui pengecatan Seller untuk melihat Negri bodies hasilnya negatip. Spesimen lain telah dikirimkan ke Maros yang sudah sering memeriksa spesimen rabies.&lt;br /&gt;Begitu juga menurut pendapat Drh Soegiarto, M.Sc., Ph.D Kepala BB Veteriner Denpasar yang ditemui di rumah dinasnya, menyatakan BB Veteriner Denpasar telah mendapatkan spesimen dari Dinas Peternakan Badung berupa otak segar dua ekor anjing yang sudah mati maupun yang sudah pernah menggigit dan saat ini sedang dikerjakan di laboratorium. Hasil pemeriksaan dikirim ke Dinas Peternakan Badung.&lt;br /&gt;Dari hasil informasi berbagai sumber, beberapa tahun ini ada sekitar 60-70 kasus orang digigit anjing, tetapi jarang yang mau berobat ke Puskesmas maupun dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pemeriksaan PCR, FAT maupun imunohistokimia pada kasus-kasus di atas, akhirnya Bali pun benar-benar dinyatakan positip sebagai daerah tertular rabies. “Pulau Bali dinyatakan berstatus wabah rabies,” pernyataan status wabah itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 1637/2008, yang ditandatangani Menteri Pertanian Anton Apriyantono pada 1 Desember 2008.&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Tjeppy D Soedjana pada 5/12 di Jakarta, mengungkapkan, wabah rabies di Pulau Bali ini yang pertama dalam sejarah. Selama ini Pulau Dewata bebas penyakit rabies. Penetapan wabah rabies tersebut dikeluarkan setelah melalui kajian gejala klinis, yang tampak pada anjing sebagai hewan penular rabies (HPR) ataupun manusia sebagai korban gigitan.&lt;br /&gt;Dituturkan Tjeppy, penetapan wabah mengacu pada epidemiologi penyakit dan hasil pengujian laboratorium terhadap spesimen otak anjing liar ataupun anjing piaraan yang menggigit masyarakat. Uji laboratorium spesimen dilakukan di Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Denpasar, Bali dan dikonfirmasi pada BB-Vet Maros, Sulawesi Selatan 28 November 2008.&lt;br /&gt;Penyakit rabies di Bali terungkap setelah ada empat orang dari tiga desa di Bali digigit anjing dalam periode September-November 2008. Dari empat orang itu, dua positif tertular rabies, sedangkan dua orang lain memiliki riwayat digigit anjing. Tiga desa yang dimaksud adalah Desa Ungasan di Kecamatan Kuta Selatan serta Desa Kedonganan dan Jimbaran di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.&lt;br /&gt;Tjeppy menyatakan, karena Kabupaten Badung tak memiliki batas alam bagi terisolasinya anjing rabies dan agar penyakit rabies tidak menyebar ke wilayah di luar Pulau Bali, status wabah rabies ditetapkan di seluruh Pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pertanian, Gubernur Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 88/2008 tentang Penutupan Sementara Pemasukan atau Pengeluaran Anjing, Kucing, Kera, atau Hewan Sebangsanya dari dan ke Provinsi Bali per 1 Desember 2008. Pulau Bali juga dinyatakan sebagai kawasan karantina.&lt;br /&gt;Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Turni Rusli menambahkan, berdasarkan standar operasional prosedur (SOP), apabila ditemukan ada satu kasus penyakit hewan menular pada daerah yang sebelumnya berstatus bebas, wabah harus segera dinyatakan. ”Pemerintah berharap dalam waktu tiga bulan wabah rabies dapat dikendalikan,” katanya.&lt;br /&gt;Tjeppy menyatakan, hingga 4 Desember tercatat 110 ekor anjing divaksinasi untuk mengantisipasi penularan rabies dan 196 ekor anjing yang tertular rabies, anjing liar, atau yang diliarkan dieliminasi atau dimusnahkan.&lt;br /&gt;Secara terpisah, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan, Depkes sudah menyediakan vaksin rabies sebanyak 400 dosis untuk masyarakat di Kabupaten Badung, Bali. Hingga 27 November tercatat telah ditemukan 74 kasus gigitan. Rabies, lanjut Menkes, merupakan penyakit menular yang berbahaya dan bisa menimbulkan kematian. Oleh karena itu, Depkes telah menerjunkan tim kesehatan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebaskan dalam Tiga Bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Pertanian (Deptan) pun mengharapkan dalam tiga bulan wabah rabies yang menyerang provinsi Bali bisa dikendalikan setelah dilakukan berbagai upaya penanggulangan. Dirjen Peternakan Deptan Tjeppy D Soedjana mengatakan, berbagai langkah yang telah dilakukan untuk mengantisipasi wabah rabies yang saat ini tengah merebak di Bali yakni vaksinasi massal terhadap anjing peliharaan dan melakukan pendataan terhadap populasi dan pemilik anjing serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Bagi anjing-anjing liar yang berkeliaran tidak ada yang memelihara akan di musnahkan dengan cara memberikan vaksin yang mematikan (racun) dengan melalui pembiusan. "Untuk itu, Deptan menyiapkan vaksin rabies sebanyak 50 ribu dosis untuk menanggulangi merebaknya wabah penyakit tersebut di provinsi Bali," kata Tjeppy.&lt;br /&gt;Dari jumlah tersebut sebanyak 20 ribu dosis diantara telah dikirimkan sedangkan 30 ribu sisanya sebagai cadangan. "Pengiriman vaksin tersebut sebagai langkah awal pemerintah untuk penanggulangan rabies di propinsi Bali," tambah Dirjen.&lt;br /&gt;Selain itu Deptan telah membentuk Tim Penyidik yang terdiri dari unsur Ditjen Peternakan, Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, Dinas Peternakan Provinsi Bali dan Kabupaten Badung untuk mengetahui asal usul wabah rabies tersebut mengingat Pulau Bali sebelumnya merupakan daerah bebas rabies.&lt;br /&gt;"Dengan dilaksanakannya tindakan-tindakan tersebut diharapkan dalam tiga bulan wabah rabies ini dapat terkendali," ucap Dirjen Peternakan seraya menambahkan, akan dilakukan kegiatan surveilans serologis dan epidemiologis untuk meraih status bebas kembali Pulau Dewata dari Rabies.&lt;br /&gt;Menurut dia, sebanyak delapan desa di Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung, Bali dinyatakan telah terjadi wabah rabies yang menyerang hewan anjing. Penetapan tersebut, tambahnya, berdasarkan gejala klinis yang tampak, baik pada hewan penular rabies khususnya anjing maupun pada korban manusia, epidemiologi penyakit serta hasil pengujian secara laboratories pada Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.&lt;br /&gt;Selain itu juga dari dikonfirmasi ulang pada BBVet Maros tanggal 28 November 2008 terhadap warga masyarakat di Desa Ungasan, Kadonganan dan Jimbaran Kecamatan Kuta dan Kuta Selatan Kabupaten Badung. Tjeppy mengungkapkan, dari 20 ribu ekor populasi anjing di Bali hingga saat ini sebanyak 110 ekor anjing telah menjalani vaksinasi rabies sementara 196 ekor telah dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liputan Khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, di tengah upaya pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Sehat 2010, penanganan penyakit, terutama penyakit pada hewan yang dapat menular ke manusia (zoonosis) ternyata masih banyak menemui kendala.&lt;br /&gt;Adanya penyakit Rabies di Bali yang semuala daerah bebas Rabies adalah salah satu bukti nyata lemahnya sistem kesehatan di Indonesia. Khususnya sistem kesehatan hewan nasional (siskeswannas). &lt;br /&gt;Bali yang merupakan kawasan pariwisata berkelas dunia yang sejak zaman penjajahan kolonial Belanda dinyatakan sebagai daerah bebas rabies sekarang tinggal kenangan. Kini kita hanya dapat membaca catatan sejarah berdasar Hondsdolhed Ordonantie (staatblad 1926, No. 451 yunto Stbl 1926 No. 452) yang menyatakan bahwa beberapa wilayah karesidenan dan pulau di Hindia Belanda (Indonesia) pada masa itu bebas rabies termasuk di antaranya wilayah Karesidenan Bali.&lt;br /&gt;Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus yaitu Lyssa virus dari famili Rhabdo viridae yang bersifat zoonosis dengan angka kematian (case fatality rate) mencapai 100%, sehingga rabies dikenal sebagai penyakit yang hampir selalu mematikan (almost always fatal) bila telah timbul gejala klinis, baik pada hewan maupun manusia.&lt;br /&gt;Lebih jauh tentang seluk-beluk Rabies di Bali ini dapat Anda baca pada Liputan Khusus Infovet Januari 2009 sebagai langkah berikut sekaligus langkah awal kewaspadaan kita di tahun 2009. (Mas Djoko R/Dps/Kps/Ant/YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3082168499968670522?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3082168499968670522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3082168499968670522' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3082168499968670522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3082168499968670522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/bali-bebas-rabies-tinggal-kenangan.html' title='BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-4005972958924605384</id><published>2009-01-20T22:59:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:07:58.480-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siskeswanas'/><title type='text'>SISI INTERNAL SISKESWANAS DAN PERDAGANGAN BEBAS</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/sisi-internal-siskeswanas-dan.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;SISI INTERNAL SISKESWANAS DAN PERDAGANGAN BEBAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Semua kekuatan mestinya dimulai dari sisi internal. Bila sisi internal kuat, sisi eksternal akan dapat disikapi atau menyikapi. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai situasi peternakan dan dunia kehewanan tanah air terkait pro-kontra impor daging sapi Brazil rawan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), merebaknya penyakit Rabies pada anjing dan menyerang manusia di Bali dan beberapa daerah lain merupakan rantai panjang dari potret pengelolaan SISKESWANAS (Sistem Kesehatan Hewan Nasional).&lt;br /&gt;Siskeswanas ini pula yang sangat berpengaruh pada penyiapan komoditi peternakan menuju era bebas ASEAN-China 2010. Artinya, dalam perdagangan bebas komoditi peternakan ini, telah dikenal bukan semata-mata pada produknya, tapi merupakan ketahanan nasional Indonesia yang memerlukan pengendalian penyakit khususnya penyakit yang terkait dengan higienes pangan.&lt;br /&gt;Masalah kesehatan hewan merupakan masalah penting pada lalu lintas perdagangan dan transportasi antar negara selain berbagai problematika baik dari segi dagang, aturan perpajakan. Satu-satunya pengawasan kesehatan hewan yang dapat dikendalikan adalah ketentuan SANITARY-PHYTOSANITARY yang memberikan kewenangan kepada suatu negara demi keamanan hayati untuk melindungi wilayahnya dari ancaman penularan penyakit dari luar baik dari hewan dan masyarakat manusia.&lt;br /&gt;Rupanya hal inilah yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah sehingga wacana daging Brazil yang rawan PMK dan Pengakit Sapi Gila (BSE) dikemukakan bahkan sudah direncanakan. Padahal resiko dari penyakit ini dan akibatnya sudah dirasakan sebelum Indonesia sanggup membebaskan diri dari PMK pada 1990an setelah upaya keras dan menghabiskan energi dan dana selama 100 tahun. Sama halnya dengan tercemarnya Bali dengan Penyakit Rabies padahal sebelumnya berstatus pulau bebas Rabies!&lt;br /&gt;Kita untuk kesekian kali selalu diingatkan bahwa kebijakan dalam kesehatan hewan ini harus benar-benar dapat mengawal dan melindungi potensi sumber daya hayati dalam negeri maupun keamanan di masyarakat dan mampu mencipta kondisi untuk bisa bersaing pada produk peternakan yang akan diekspor. Landasan hukumnya sudah jelas: UU No 6/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dasar hukum untuk kesehatan masyarakat terkait hewan dan produk asal hewan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner.&lt;br /&gt;Kaitannya dengan KELEMBAGAAN saat ini, terjadi suatu kesimpang siuran dalam penentu kebijakan berkenaan dengan produksi terhadap asal hewan yang berkaitan dengan penyakit. Saat terjadinya wabah Penyakit Sapi Gila di benua lain, beberapa institusi di Indonesia seperti Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag), serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), masing-masing mengeluarkan peraturan sendiri-sendiri yang saling tumpang tindah, padahal masalahnya sama, menjaga keamanan hayati di tanah air dari resiko masuknya kasus BSE ini.&lt;br /&gt;Bahkan antara Dirjen di Departemen Pertanian sendiri, pada saat itu Dirjen Peternakan dengan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian pun punya kebijakan yang berbeda. Padahal kalau mengacu pada permasalahan mendasarnya, hal ini terkait dengan siapa yang punya otoritas tentang penyakit hewan, yang berarti tentang OTORITAS VETERINER.&lt;br /&gt;Mestinya kita punya wadah yang punya fungsi otoritas veteriner, punya lingkup ketahanan yang tidak di bawah departemen tertentu. Lembaga di dalam pemerintah yang memiliki otoritas di seluruh wilayah negara itu untuk melaksanakan tindakan sanitari dan proses sertifikasi veteriner internasional yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) serta melakukan supervisi atau audit penerapannya. Dalam kelembagaan selama ini ini kita punya kelemahan dalam menghadapi penyakit dari luar (Exotic Disease) karena belum adanya lembaga nasional yang merupakan laboratorium rujukan ini.&lt;br /&gt;Perlu ke depannya menunjuk laboratorium tertentu yang berkompeten untuk penyidikan veteriner. Kaitannya dengan sumber daya manusia, perlu program yang berkaitan dengan profesi veteriner, baik di lapangan, kelembagaan laboratorium, maupun karantina.&lt;br /&gt;Bagaimanapun instansi veteriner dan peternakan merupakan institusi yang butuh sentuhan manajemen yang profesional. Upaya untuk meningkatkan standar manajemen kelembagaan adalah upaya yang patut dilakukan oleh setiap institusi peternakan/kesehatan hewan untuk menjadikan peternakan lebih produktif dan efisien.&lt;br /&gt;Kelembagaan penelitian, Indonesia mempunyai banyak lembaga penelitian yang layak menjadi rujukan regional dan internasional, setidaknya di kawasan Asia Pasifik. Sebutlah BBPMSOH (Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan), dan Balai Besar Penelitian Veteriner (BBalitvet) Bogor yang menjadi rujukan penelitian veteriner nasional.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan, mempertahankan, atau bahkan (kalau misalnya diintrospeksi ternyata belum menjapai standar yang dimaksud) mengembalikan kualifikasi itu; setiap lembaga yang ada di Fakultas, Balai Besar Pengujian dan Penyidikan Veteriner (BBPPV), bahkan perusahaan swasta pun patut memikul tanggungjawab itu.&lt;br /&gt;Perdagangan bebas menuntut adanya produk peternakan yang berkualitas dan berdaya saing. KARANTINA yang menjadi tanggungjawab dokter hewan meliputi hewan itu sendiri maupun produk asal hewan, serta sarana produksi peternakan seperti pakan, obat-obatan, dan peralatan.&lt;br /&gt;Pengalaman dunia peternakan Indonesia yang sangat menyedihkan di dunia karantina, selain masuknya Rabies di Bali adalah masuknya Avian Influenza (AI) alias Flu Burung yang tak lepas dari kegagalan karantina melakukan fungsinya secara ketat. Frekuensi arus lalu lintas barang dan orang dalam konteks perdagangan antar negara tidak mengenal batas-batas antar negara.&lt;br /&gt;Fungsi dan peranan karantina menjadi sangat strategis dan penting dalam melakukan upaya-upaya perlindungan dan penyelamatan serta pengamanan sumberdaya alam hayati ke dalam suatu kesisteman menyangkut hal-hal untuk memajukan, mengawasi, melindungi dan mempertahankan usaha-usaha agribisnis khususnya produk-produk hewan ternak yang menjamin keamanan, mutu, kesehatan dan keutuhan mulai dari hulu sampai ke hilir, bahkan sampai ke pemasaran tingkat nasional/domestik dan internasional.&lt;br /&gt;Mudah mengatakan, ingat untuk penerapannya diurai hal rinci soal surat kelengkapan dan prosedur tindakan karantina di tempat-tempat tertentu, yang kita sering kedodoran karena berbagai alasan. Faktor internal dan eksternal Karantina sangat berperan di sini. Secara filosofis, semua kekuatan mestinya dimulai dari sisi internal. Di sini jelas, internal karantina, dan secara skala nasional: sisi internal Siskeswanas kita sendiri!&lt;br /&gt;Dalam sisi internal ini, kita tidak boleh melupakan STANDARISASI produk-produk peternakan yang diperdagangkan, baik dengan pemberlakuan wajib terap SNI misalnya persyaratan mutu yang merupakan konsekuensi logis akan tuntutan pasar bebas.&lt;br /&gt;Target akhir yang ingin dicapai di balik pemberlakuan Wajib SNI adalah adanya keinginan yang kuat untuk mendapatkan bahan baku yang memiliki kualitas setara atau minimal mendekati dengan kualitas internasional yang diijinkan atau direkomendasikan dapat diterima dalam bahan makanan asal hewan, berdasar Codex Alimentarius Commision.&lt;br /&gt;Keberhasilan beberapa produsen obat hewan Indonesia menembus pasar ekspor di luar negeri termasuk sampai ke China, negara-negara Asia Tenggara, Uni Emirat Arab dan Sri Lanka merupakan bukti standarisasi yang ketat adalah senjata kuat untuk menjawab perdagangan bebas. Bisa terjadi karena produksi obat hewan telah diterapkan sesuai dengan perundangan yang teruji secara nasional dan internasional, sehingga mutu obat yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai tujuan penggunaannya.&lt;br /&gt;CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik) disusun sehingga keseluruhan aspek produksi dan pengendalian mutu yang dimulai dari perencanaan, rancangan, bahan baku, proses produksi, sarana produksi, sumberdaya manusia, pengawasan mutu dan dokumentasinya dapat dikendalikan sesuai dengan ketentuan sehingga mutu produk yang dihasilkan dapat selalu terjamin.&lt;br /&gt;Di sisi internal terkait era perdagangan bebas kita patut menambahkan: INOVASI produk yang merupakan salah satu keunggulan di jaman yang selalu mengikuti selera lebih tinggi di mana selera global saling berpengaruh di berbagai belahan bumi. Apapun bentuknya di bidang peternakan maupun produksi peternakan. Bahkan untuk produk yang kelihatannya sederhana, tapi sangat bergengsi, seperti jelly egg.&lt;br /&gt;Keunggulan dan keuletan produsen produk-produk peternakanlah yang membuat produk diterima di pasar berbagai negara di luar negeri, seperti produk susu asal Indonesia berupa susu full cream, susu rendah lemak dan susu tanpa lemak merek tertentu. Peran Hongkong yang lebih menjadi pembeli produk asal hewan, misal daging putih/daging ayam dari negara produsen sekitarnya lalu dijual lagi ke negara-negara lain, mengisyarakatkan bahwa perdagangan peternakan ASEAN-China tak kan lepas dari negara-negara maju lain yang juga menerapkan kesejahteraan hewan ini.&lt;br /&gt;Indonesia pun mengadopsi berbagai konsep internasional dalam cakupan terbatas, misalnya memperhatikan kesejahteraan hewan di RPH dan atau RPA dan karantina di mana pada tahun-tahun mendatang akan menjadi isu menarik.&lt;br /&gt;Secara filosofis, sekali lagi, semua kekuatan mestinya dimulai dari sisi internal. Bila sisi internal kuat, sisi eksternal akan dapat disikapi atau menyikapi. (Yonathan Rahardjo)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-4005972958924605384?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/4005972958924605384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=4005972958924605384' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4005972958924605384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4005972958924605384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/sisi-internal-siskeswanas-dan.html' title='SISI INTERNAL SISKESWANAS DAN PERDAGANGAN BEBAS'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-8729279301628705082</id><published>2009-01-20T22:57:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:08:18.907-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>PARA PEMERAN BISNIS SUKSES</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/para-pemeran-bisnis-sukses.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h3&gt;PARA PEMERAN BISNIS SUKSES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Profil-profil mereka adalah profil-profil para pemimpin, eksekutif perusahaan yang membawa perusahaan maju, berkembang, besar dan eksis dalam sektor kesehatan hewan atau tepatnya bisnis obat hewan. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang itu Infovet berhadapan dengan Drh Arief Hidayat dan mendialogkan nilai-nilai yang sedang berkembang. Lebih tepat disebut sebagai wawancara, di mana Technical Department PT Mensana Aneka Satwa ini menceritakan kisahnya hingga sampai pada posisi sekarang yang merupakan buah-buah dari kerja baiknya di perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;Mendengar uraian pengetahuan Drh Arief tentang bidang yang dikelolanya kini cukup untuk mengatakan bahwa ia sangat piawai untuk mengendalikan salah satu departemen di PT Mensana Aneka Satwa sebuah perusahaan yang dipercayakan Sang Pemilik Perusahaan kepadanya dan para ahli kepercayaan yang lain yaitu Ir Yuniansyah Triadi sebagai Maraketing Manager, dan Drh Wati serta Drh Etty.&lt;br /&gt;Perusahaan yang kini mempunyai 25 cabang di seluruh Indonesia menjadikan PT Mensana Aneka Satwa merupakan salah satu pelaku bisnis obat hewan yang menonjol dan disegani pada saat ini. Dengan pendelegasian pada orang-orang yang tepat, masing-masing bidang menunjukkan kemajuan yang cukup pesat sesuai ahlinya.&lt;br /&gt;Drh Arief Hidayat piwai di bidang teknis, sedang Ir Yuniansyah Triadi di bidang bisnisnya, Drh Etti Agustina Regent Sales Manager dan Drh Wati Register Officer bidang registrasi obat. Dalam kata lain, bilamana soal teknis kesehatan hewan dengan produk-produk yang dibutuhkan, Drh Arief Hidayatlah tempat peternak bertanya. Dalam hal populasi dan bisnis obat hewan dengan penyebaran produk-produk obat hewan yang dibutuhkan, Ir Yuniansyah yang akan memaparkan, demikian pula soal registrasi obat ada pada ahlinya sendiri yaitu Drh Etti dan Drh Wati.&lt;br /&gt;Perbincangan Infovet yang lain adalah dengan Drh Lukas Agus Sudibyo Direktur Marketing PT Romindo Primavetcom. Perbincangan Infovet dengan Drh Lukas yang didampingi Drh Nurvidia Machdum selaku Technical Department Manager dimulai dengan bahasan tentang awal-awal Infovet dan PT Romindo bekerja sama dan berlanjut ke perbincangan tentang situasi terkini bisnis global dan bisnis sektor peternakan dan kesehatan hewan.&lt;br /&gt;Drh Lukas mengutarakan berbagai hal terkait perkembangan bisnis obat hewan yang tentu saja integral dengan semua sektor bidang peternakan, yang kin sedang menghadapi krisis global namun bagaimanapun ternyata bisnis ini tetap kokoh berdiri yang berarti bisnis ini memang menguntungkan. Drh Lukas juga menceritakan bagaimana situasi krisis ekonomi moneter yang pernah menimpa Indonesia dan dunia pada 1998, di mana Infovet pun bertukar cerita bagiamana kondisi Majalah Infovet pada saat itu hingga tetap bertahan dan berdiri serta berkembang hingga saat ini.&lt;br /&gt;Di kantor Ceva Animal Health, Infovet menemui Direktur Utama Drh Edy Purwoko. Dialog dilakukan dengan semangat, tampak bagaimana Drh Edy mengutarakan tentang produk-produk perusahaan yang dibutuhkan oleh masyarakat dilandasi kaidah akademik dan penelitian yang kuat. Dalam Ruang Redaksi Infovet edisi 172 November 2008, penuturan Drh Edy Purwoko telah disampaikan kepada sidang pembaca.&lt;br /&gt;Di Bandung, Infovet bertemu dengan Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra Drh Gowinda Sibit yang sangat energi dan bersemangat dalam memimpin perusahaan yang secara operasional dipimpin para eksekutif, Drh Sugiyono sebagai Direktur Riset dan Pengembangan yang tergolong profesional muda dan Drh Julianto sebagai Direktur Produksi.&lt;br /&gt;Drh Gowinda Sibit yang merupakan sobat kental Drh Julianto telah bersahabat sejak mereka berkulaih di FKH Unair Surabaya. Bekerja di sebuah perusahaan obat hewan yang sama, mereka menjadi tim yang kuat dan berpengalaman menjelajah wilayah peternakan di seluruh Indonesia dengan pengalaman-pengalaman yang mengesankan. Dengan sistem pemeliharaan kebugaran melalui olah raga, Drh Erwin (panggilan akrab Drh Gowinda Sibit) sanggup melakukan disiplin kerja secara prima sampai sekarang. Dengan etos kerja tinggi, ia pun menerapkan latihan kepercayaan diri bagi karyawan PT TMC dengan penampilan berdasi di dalam kantor, yang sangat baik untuk menunjang kinerja dan personalitas.&lt;br /&gt;Di PT Sanbe Farma Animal Health Divison, juga di Bandung, Infovet ditemui Drh Sugeng Pujiono Marketing Manager dan Drh Suhardi Coordinator Produksi dan Technical Manager. Dengan ramah Drh Sugeng bercerita tentang perjalanan hidupnya sebagai dokter hewan alumnus FKH Unair dengan berbagai pengalaman yang menunjang kinerjanya sebagai peimpin PT Sanbe Farma Divisi Animal Health.&lt;br /&gt;Drh Sugeng mengambil pengalaman sangat berarti ketika ia di Surabaya memimpin bimbingan test sejak masih kuliah dan bimbingan test itu sampai sekarang masih berdiri dan terkemuka di Surabaya.&lt;br /&gt;Dengan program-program besarnya di PT Sanbe Farma, Drh Sugeng selalu menerapkan jiwa kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro, “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karya, Tut Wuri Handayani”, yang artinya sebagai pemimpin kita mesti di depan memberi teladan, di tengah mebangun kemauan, dan di belakang mendorong tim. Menurut Drh Sugeng, begitu banyak buku kepemimpinan dan kunci sukses dimilikinya sebagai koleksi, namun inti kepemimpinan tetap falsafah bernafas Jawa itu.&lt;br /&gt;Di PT Medion, Infovet berdialog dengan jajaran promosi perusahaan obat hewan di Bandung ini dipimpin Henry Jahja, IT Senior Manager. Bersama tim yaitu Novi Kartasasmita Advertising &amp;amp; Publication Assistant Manager, Athine Advertising &amp;amp; Publication Assistant Staff, dan Candrawati Sales Promotion Assistant Manager PT Medion, Henry Jahja mengutarakan dengan simpatik bagaimana program-program promosi perusahaan yang mencerminkan betapa majunya perusahaan ini.&lt;br /&gt;Profil-profil mereka adalah profil-profil para pemimpin, eksekutif perusahaan yang membawa perusahaan maju, berkembang, besar dan eksis dalam sektor kesehatan hewan atau tepatnya bisnis obat hewan. (yonathanrahardjo)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-8729279301628705082?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/8729279301628705082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=8729279301628705082' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8729279301628705082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8729279301628705082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/para-pemeran-bisnis-sukses.html' title='PARA PEMERAN BISNIS SUKSES'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-2411463672329428201</id><published>2009-01-20T21:43:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:08:43.830-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perunggasan'/><title type='text'>SEMINAR SPESIFIK PERUNGGASAN DALAM KRISIS GLOBAL</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/seminar-spesifik-perunggasan-dalam.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h3&gt;Lipsus&lt;br /&gt;SEMINAR SPESIFIK PERUNGGASAN DALAM KRISIS GLOBAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Mengingkat topik seminar kali ini yang sangat spesifik, dalam seminar ini, panitia secara khusus mengundang Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo yang akan menyampaikan materi mengenai Dampak Dalam Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Seminar Nasional Perunggasan ketiga yang diselenggarakan oleh ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) pada 7 Nopember 2007 diperoleh data poduksi DOC broiler tahun 2008 diproyeksikan 1,25 miliar ekor, naik 8,7% dibanding tahun 2007. Adapun, populasi ayam petelur diproyeksikan 104,8 juta atau naik 7,7% dibanding tahun 2007. Sedangkan, konsumsi pakan tahun 2008 diperkirakan 8,13 juta ton, naik 7% dibanding tahun 2007.&lt;br /&gt;Demikian Ketua Umum ASOHI Gani Haryanto. Seminar Nasional Tahunan Ke-4 pada 11 Desember 2008 para pembicara pun mengevaluasi data bisnis perunggasan 2008 dan memprediksi bisnis perunggasan 2009 sehingga dapat dijadikan acuan dalam menyusun rencana bisnis tahun 2009. Bagi para akademisi dan aparat pemerintah, seminar ini merupakan sumber informasi penting untuk kajian ilmiah dan kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;Seminar bertema Dampak Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia di Jakarta Design Center ini berlatar belakang, krisis Global yang dimulai dari Amerika Serikat berdampak ke hampir semua negara di dunia. Beberapa analis memprediksi, dampak bagi sektor riil baru akan terasa di Indonesia pada tahun 2009.&lt;br /&gt;Menurut Gani Haryanto, pada 2009 pula suhu politik Indonesia mulai memanas, terutama menjelang Pemilu yang akan berlangsung tanggal 5 April 2009 yang mau tidak mau harus diperhitungkan dampaknya bagi berbagai bidang bisnis, tak terkecuali bidang perunggasan. Alhasil 2009 adalah tahun yang penuh teka teki. Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana stabilitas nilai tukar rupiah sebagai dampak krisis global, bagaimana stabilitas ekonomi akibat pemilu dan pergantian kabinet, dampak krisis energi dan sejumlah masalah lainnya.&lt;br /&gt;ASOHI menyelenggarakan seminar nasional perunggasan ini secara berkesinambungan setiap tahun. Mengingkat topik seminar kali ini yang sangat spesifik, dalam seminar ini, panitia secara khusus mengundang Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo yang akan menyampaikan materi mengenai Dampak Dalam Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia.&lt;br /&gt;Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo adalah seorang pakar, praktisi bisnis sekaligus politisi berpengalaman. Beliau adalah Menteri Perumahan Rakyat (1998-1993), Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998), calon Wapres pada Pilpres 2004, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) 1999-2004, Ketua Badan Pertimbangan HKTI (2004-sekarang), Komisaris PT Bangun Tjipta Sarana (1998-sekarang) dan berbagai pengalaman lain di forum nasional maupun internasional. Pengalaman dan pemikirannya akan membuat analisanya mengenai krisis global dan suhu politik sangat bermanfaat bagi para pelaku bisnis perunggasan.&lt;br /&gt;Selain Siswono Yudho Husodo, seminar menghadirkan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Drh. Paulus Setiabudi, Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Drh. Askam Sudin, Dewan Kode Etik Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh. Lukas Agus Sudibyo, Ketua Umum Pusat Informasi Pemasaran Unggas (Pinsar) Drh. Hartono. Seminar dibuka oleh Ketua Umum ASOHI Gani Haryanto.&lt;br /&gt;Ketua Panitia Penyelenggara seminar yang juga Ketua Bidang Antar Lembaga ASOHI Drh. Suhandri mengharapkan seminar ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pelaku bisnis, peneliti maupun aparat pemerintah, karena melalui seminar ini akan diperoleh berbagai informasi tentang perkembangan bisnis perunggasan 2008 dan prediksi 2009.&lt;br /&gt;Bagi para pelaku bisnis perunggasan analisis yang disampaikan para pembicara diharapkan dapat dijadikan acuan dalam mengevaluasi bisnis 2008 dan menyusun rencana bisnis 2009. Bagi para pakar dan akademisi, seminar ini diharapkan dapat menjadi masukan penting bagi mereka dalam melakukan kajian dan penelitian lebih lanjut. Dan bagi kalangan birokrat baik dari pusat maupun daerah, seminar ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat untuk menciptakan iklim usaha yang lebih baik.&lt;br /&gt;Selain mengungkapkan perkembangan bisnis perunggasan Indonesia, diharapkan para pembicara seminar menyampaikan gagasan-gagasannya untuk perbaikan bisnis perunggasan di masa depan. Gagasan-gagasan tersebut dirangkum oleh tim perumus yang selanjutnya akan diteruskan kepada pihak yang terkait dalam waktu dekat. (Panitia/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-2411463672329428201?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/2411463672329428201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=2411463672329428201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2411463672329428201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2411463672329428201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/monitoring-varian-virus-hpai-kita.html' title='SEMINAR SPESIFIK PERUNGGASAN DALAM KRISIS GLOBAL'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-5374022877323505139</id><published>2009-01-20T21:37:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:09:08.539-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pakan Ternak'/><title type='text'>STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/jerami-padi-sebagai-pakan-ternak.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h3&gt;JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Kandungan-kandungan zat pakan dalam jerami padi inilah yang digertak kondisinya dengan enzim xilanase. Alhasil, kandungan seratnya menurun. Segangkan protein kasarnya meningkat, sehingga kandungan gizinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerami padi biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Terlebih bila musim kemarau menjerang. Sayangnya kandungan nutrisi dan kecernaannya rendah, apalagi bila dibandingkan dengan pakan hijauan. Hal ini lantaran tingginya kadar serat kasar sebagai penyusun dinding sel tanaman. Juga rendahnya kadar protein serat kasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat jerami padi mudah didapatkan sebagai alternatif pakan ternak, peternak acap mengupayakan perbaikan potensi pakan jerami padi ini. Ahli pakan ternak Mirni Lamid dari Departemen Peternakan FKH Unair Surabaya memberi jalan perbaikan ini dengan perlakuan biologi mengunakan enzim xilanase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Mirni Lamid, perlakuan biologi menggunakan enzim xilanase pada jerami padi itu selain ramah lingkungan juga mampu memperbaiki potensi pakan berserat. Proses kimianya adalah dengan mengubah struktur ligno selulosa dan lignohemiselulosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, “Akan lebih memudahkan degradasi fraksi hemiselulosa pada jerami padi secara efisien dan optimal,” kata Mirni Lamid. Dari hasil penelitiannya, penambahan enzim xilanase dengan waktu inkubasi 2 hari dapat menurunkan kandungan serat dan meningkatkan kandungan protein kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaatnya, menurut Mirni Lamid, penggunaan enzim Xilanase dapat memberi respon positif dalam peningkatan kualitas jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia tersebut. Mengapa bisa demikian, ahli pakan ternak itu menjelaskan semua berdasar penelitiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enzim Xilanase sebagaian besar dihasilkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan fungi. Kelompok enzim glikosil hidrolase mampu memecah ikatan glikosidik pada xilan dengan kecepatan lebih dari 10 pangkat 17 kali. “Oleh sebab itu, keberadaan enzim ini memegang peranan penting dalam mendegradasi limbah yang kaya hemiselulose,” kata Mirni Lamid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemiselulose merupakan polisakarida struktural sel tanaman terbanyak kedua setelah selulose. Komponen hemiselulose terpenting dari sel tanaman adalah xilan tersebut. Xilan tersusun atas rantai polixilos membentuk heteropolisakadrida bercabang yang sulit didegradasi oleh mikroba rumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian Mirni Lamid tersebut, ia melalui tahap-tahap esksplorasi enzim xilanase untuk mengetahui optimasi pH dan suhu. Kemudian uji potensi enzim xilanase dalam upaya meningkatkan kualitas jerami yang meliputi kandungan bahan kering, bahan organik, serat kasar dan protein kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan-kandungan zat pakan dalam jerami padi inilah yang digertak kondisinya dengan enzim xilanase. Alhasil, kandungan seratnya menurun. Segangkan protein kasarnya meningkat, sehingga kandungan gizinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. (YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-5374022877323505139?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/5374022877323505139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=5374022877323505139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5374022877323505139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5374022877323505139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/strain-vaksin-genetik-reverse-untuk_20.html' title='STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-7533936897016730874</id><published>2009-01-20T21:35:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:09:45.843-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Pedaging'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemitraan'/><title type='text'>Penelitian Kemitraan Broiler</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/penelitian-kemitraan-broiler.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h3&gt;Penelitian Kemitraan Broiler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Bagaimana kenyataannya sehingga, kita memperoleh gambaran adanya harapan untuk tercapainya usaha peternakan maju, ekonomis dan mandiri? ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan utama yang dihadapi peternak rakyat dalam usaha peternakan ayam pedaging adalah keterbatasan kemampuan modal untuk penyediaan agro input, khususnya pakan yang merupakan komponen terbesar (60-75%) dari total biaya produksi. Demikian Gunawan K Johar dari Institut Teknologi Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kata Gunawan, hampir seluruh kemitraan ayam ras pedaging yang terbentuk adalah merupakan anak perusahaan dari perusahaan pakan. Kemitraan yang dianggap sebagai jawaban untuk mengangkat kembali usaha peternakan rakyat dari keterpurukan akibat krisis ekonomi. Bagaimana kenyataannya sehingga, kita memperoleh gambaran adanya harapan untuk tercapainya usaha peternakan maju, ekonomis dan mandiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balikpapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan pun melakukan penelitian terhadap 2 (dua) model kemitraan yang berbeda di Balikpapan. Hasilnya ternyata, fleksibilitas pengembangan profitabilitas peternak sangat terbatas hanya pada produktivitas kegiatan budidaya yang tercermin pada nilai FCR (feed conversion ratio) dan sistem pembagian keuntungan (profit sharing) yang sangat tergantung perusahaan mitra, karena kekuatan bargaining peternak sangat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk mendapatkan bentuk kemitraan yang memadai telah dilakukan pengembangan alternatif model kemitraan dengan memasukkan aspek profitabilitas, prospek kemandirian usaha, kodeterminasi hubungan kemitraan serta kesinambungan usaha," tutur Gunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut peneliti ini, dari hasil kajian 5 (lima) model alternatif kemitraan, alternatif terbaik adalah alternatif 4 yaitu Model Kemitraan Organisasi Peternak - Perusahaan Mitra dengan kareteristik mandiri mengelola sektor Budidaya, pasca panen dan pemasaran dengan jasa kredit perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk implementasinya, tambah Gunawan, diusulkan melalui 4 (empat) tahapan yaitu: tahapan 1. yaitu perubahan sistem penggunaan FCR untuk penentuan harga; tahapan 2. yaitu perubahan sistem profit sharing; tahapan 3. yaitu peralihan dalam penanganan pasca panen dan pemasaran dari Inti kepada peternak dan tahapan 4. yaitu perubahan sistem rantai nilai agribisbisnis yang dilaksanakan peternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan dan aplikasi model ini, ujar Gunawan, "Perlu dukungan intsrumen kebijakan dan penegakannya yang lebih berpihak kepada peternak, serta keikhlasan pihak yang kuat untuk memberikan kesempatan akses yang lebih besar dalam sektor pasca panen dan pemasaran kepada peternak mitra." Demikian sumber di School of Business and Management ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magelang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Suharti dari Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada melakukan penelitian ini dilakukan terhadap enampuluh peternak ayam potong di Kabupaten Magelang, yang terdiri dari tiga puluh peternak mandiri dengan skala usaha berkisar 2500 ekor sampai dengan 15.000 ekor, dan peternak plasma dengan skala usaha berkisar 3000 ekor sampai dengan 16.000 ekor per periode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dua belas kecamatan, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung atas responden berdasarkan kuisioner yang telah ditetapkan. Selanjutnya dilakukan perhitungan analisis profit yaitu keuntungan dalam rupiah dan profitabilitas yang diukur dengan profit margin dan return on investment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel yang mempengaruhi tingkat keuntungan, profit margin dan return on investment dilakukan dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat keuntungan peternak mandiri lebih tinggi sebesar dibanding peternak plasma. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap keuntungan adalah skala usaha, total biaya, harga jual dan umur panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian rata-rata profit margin peternak mandiri lebih tinggi sebesar 19% dibanding peternak plasma sebesar 15%. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap profit margin adalah skala usaha, total biaya dan harga jual, demikian pula return on investment peternak mandiri lebih besar sebesar 42% dibanding peternak plasma sebesar 28%. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap return on investment adalah skala usaha ,investasi, dan harga jual. (SBMITB/PPSUGM/YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-7533936897016730874?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/7533936897016730874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=7533936897016730874' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/7533936897016730874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/7533936897016730874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/penelitian-kemitraan-broiler.html' title='Penelitian Kemitraan Broiler'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-8196008637421760093</id><published>2009-01-20T21:20:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:10:24.290-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Pedaging'/><title type='text'>TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/tidak-ada-ceritanya-peternak-broiler.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h3&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/tidak-ada-ceritanya-peternak-broiler.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(( Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. Misalnya cuma 2 kali periode menang, sesungguhnya hasil usahanya lebih besar daripada nilai kekalahan yang 4 periodenya. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapasitas peternakan di Indonesia tidak banyak berubah, dengan kapasitas total sama dibanding tahun-tahun lalu. Adapun perbandingan antara peternakan yang baru dengan peternakan yang berhenti lebih banyak yang berhenti. Demikian Drh Arief Hidayat Technical Department PT Mensana Aneka Satwa.&lt;br /&gt;Menurut Drh Arief, peternak yang bertahan, jumlah populasi ternaknya sudah di atas 50.000 ekor. Hal-hal yang menjadi kebutuhan utama peternakan berupa bibit, kandang dan tanah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, guna peternakan ayam petelur cukup mahal, apalagi peternakan pembibitan. Yang paling rendah permodalannya adalah peternakan broiler.&lt;br /&gt;“Itupun, orang berpikir lebih suka membeli bekas peternakan yang tidak terpakai lagi, sebagai tangan kedua. Malah, kalau bisa jangan membeli, namun lebih baik menyewa. Yang dari awal investasi, jarang, karena banyak terhambat resesi global. Yang penting bagi mereka, harga produk terjangkau,” papar Arief Hidayat.&lt;br /&gt;Dokter hewan yang banyak berpengalaman di bidang perbibitan selama 13 tahun dan di PT Primatama Karya Persada selama 7 tahun ini mengatakan cara mempertahankan eksistensi peternakan ini adalah menjaga aset-aset peternakan supaya jangan sampai hilang. Yang paling banyak pasang surut adalah usaha peternakan ayam pedaging (broiler). Para pelaku bisnis peternakan broiler rata-rata dengan menyewa kandang, bukan sebagai pemilik kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan ke Peternakan&lt;br /&gt;Dalam melayani peternak, yang dilakukan Tim PT Mensana Aneka Satwa, menurut Drh Arief antara lain kunjungan rutin dan pelatihan-pelatihan, diberlangsungkannya bulan promosi, dan lebih menekankan pada unsur pendidikan dan lebih percaya kepada diri sendiri. Sebagai contoh, kata Drh Arief, tanpa menyebut nama produk obat, peternak tetap dididik dan mengerti obat yang dimaksud.&lt;br /&gt;Menurut Technical Service PT Medion pada 1982-1983 ini, ia merasakan pendidikan untuk disiplin bekerja di perusahaan ini dan kini ia terapkan di perusahaan yang sekarang.&lt;br /&gt;Di era kemitraan ini, pemimpin di PT Mensana Aneka Satwa yang jumlah cabangnya di Indonesia mencapai jumlah 25 cabang mengatakan memang banyak perusahaan obat hewan yang mengalami cukup hambatan untuk masuk ke peternakan yang bukan satu grup kemitraan. Namun baginya, hal ini tidak menjadi hambatan.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, sebagai mantan karyawan PT Japfa Comfeed, Drh Arief Hidayat terhitung familiar dengan para peternak yang mnenjadi anggota kemitraan perusahaan nasional ini. Malah peternak pun berkata, “Coba dari dulu ke sini,” mengungkapkan penerimaan terhadap kehadirannya sekarang dalam hal teknis kesehatan hewan PT Mensana Aneka Satwa.&lt;br /&gt;Sementara ihwal campur tangan dinas peternakan, sejauh ini Drh Arief merasakannya: tidak ada. Adapun banyak peternak yang merahasiakan akses peternakannya. Dokter hewan yang masuk FKH IPB pada 1978 ini mengatakan kelemahan-kelemahan peternakan ayam pedaging adalah masalah manajemen atau pengelolaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Ada Ceritanya Peternak Broiler Rugi&lt;br /&gt;“Peternak, rata-rata tidak begitu mempedulikan manajemen pemanas. Juga tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya ayam 3-5 tahun yang lalu berbeda dari ayam yang sekarang,” ujar angkatan 15 di FKH IPB ini. Bila pada pertumbuhan ayam umur seminggu mencapai pertumbuhan optimal, maka selanjutnya tinggal mengisi yang lain-lain.&lt;br /&gt;Dalam perhitungan keuangan kas dan investasi, menurut Drh Arief, belum banyak yang membedakan perhitungan-perhitungan penyusutan, perhitungan harga pakan dan konversi pakan, serta harga ayam pedagingnya. Sampai saat ini hal-hal semacam ini masih menjadi pola pikir peternakan.&lt;br /&gt;Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. Bila misalnya 2 kali periode kalah, maka 4 kali periodenya menang. Bila 4 kali periodenya menang, 2 kali periodenya menang. Namun, sesungguhnya, meskipun cuma 2 kali periode menang, hasil usahanya lebih bear daripada nilai kekalahan yang 4 periodenya.&lt;br /&gt;Dalam setahun tidak ada ceritanya peternakan broiler rugi. Perhitungan usaha ayam pedaging itu berbeda dengan usaha ayam petelur. Dengan investasi yang sama dengan usaha ayam pedaging, keuntungan bisnis ayam petelur adalah 10% dari untungnya broiler. Setiap tahun kita selalu mendengar keluhan peternak yang merasa rugi. Namun kalau untung sejatinya peternak tidak pernah omong. “Biasa, masalah klasik sejak jaman dulu,” kata Drh Arief.&lt;br /&gt;Untuk memasyarakatkan kepedulian kepada peternakan dan peternakan ini, Drh Arief Hidayat mengaku dengan adanya Rubrik di Infovet “Solusi Peternak Handal” yang diasuh PT Mensana Aneka Satwa, namanya menjadi banyak dikenal dan peternak lebih banyak membaca. “Infovet banyak membantu, dan peternak lebih senang terhadap materinya,” kata Drh Arief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi Peternak Ayam&lt;br /&gt;Bagi Drh Arief Hidayat, yang sangat perlu dihayati adalah filosofi peternak ayam. Bahwa sesungguhnya, pekerjaan peternakan adalah pekerjaan sehari 24 jam dan seminggu 7 hari. Dengan filosofi ini, bila kita betul suka ayam, maka kita akan berpikir seperti ayam; sehingga kita empati dengan kondisi ayam dan selalu membuat ayam nyaman di dalam kandang. Bila sudah nyaman dalam kandang maka hal-hal lain yang tidak dibutuhkan tidak akan lagi mengganggu.&lt;br /&gt;Drh Arief mempunyai pengalaman bersama seorang pimpinannya yang berpikir sangat sistematis bertanya secara perhitungan matematika mestinya ayam itu menghasilkan produksi terbaik. “Namun, mengapa kenyataannya kok lain?” tanya pimpinannya itu.&lt;br /&gt;Dokter hewan alumnus FKH IPB ini pun menjelaskan bahwa ayam merupakan makhluk hidup, ada faktor X yang tidak kita ketahui. Yang kedua adalah mengelola ayam merupakan suatu sening, bukan ilmu matematika. “Ada yang tidak bisa kita kendalikan,” Arief Hidayat mengingatkan.&lt;br /&gt;Drh Arief mengatakan soal kontribusi strain (bangsa) ayam. Dengan 7 strain yang dibeli oleh peternak broiler saat ini, menurutnya hal ini sudah tepat tepat. Masalahnya, katanya, bibit adalah tetap bibit; sedangkan strain tetaplah strain. Yang penting adalah bagaimana mengelolanya, sejak dari Grand Parent Stock yang menentukan genetik strainnya. Selanjutnya dari sini akan muncul bibit ternak yang baik-baik.&lt;br /&gt;Kontribusi pada performan atau penampilan ayamnya, biaya bibit berperan 12% dari keseluruhan performan ayam; biaya tata laksana adalah 12 persen; biaya kesehatan (obat-obatan) sebesar 6%; dan biaya pakan paling banyak yaitu sejumlah 70 persen. (YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-8196008637421760093?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/8196008637421760093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=8196008637421760093' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8196008637421760093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8196008637421760093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/tidak-ada-ceritanya-peternak-broiler.html' title='TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3553618398331340057</id><published>2009-01-20T21:19:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:11:44.987-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Petelur'/><title type='text'>SEJARAH SI GALLUS AYAM PETELUR</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/sejarah-si-gallus-ayam-petelur.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH SI GALLUS AYAM PETELUR &lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/sejarah-si-gallus-ayam-petelur.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Dengan mengingat sejarah ayam petelur kita lebih terpacu untuk mengembang produksi telur bukan hanya ayam ras tapi juga ayam kampung. Tentu saja membuat kita memperhatikan seluk beluk pemeliharaannya sekaligus mengantisipasi penyakit yang mengintai. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus bahasan Infovet edisi ini adalah penurunan produksi telur yang disebabkan oleh penyakit infeksius terutama ND, EDS dan IB. Untuk itu ada baiknya kita kembali mengenang bagaimana munculnya ayam petelur bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas mengungkap bahwa ayam petelur (Gallus sp) adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bappenas ini menyatakan, arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kata sumber yang sama, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan. Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja. Persaingan inilah menandakan maraknya peternakan ayam petelur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan uraian Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas, kita lebih terpacu untuk mengembang produksi telur bukan hanya ayam ras tapi juga ayam kampung. Tentu saja membuat kita memperhatikan seluk beluk pemeliharaannya sekaligus mengantisipasi penyakit yang mengintai. (Bappenas/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3553618398331340057?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3553618398331340057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3553618398331340057' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3553618398331340057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3553618398331340057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/sejarah-si-gallus-ayam-petelur.html' title='SEJARAH SI GALLUS AYAM PETELUR'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-1001038486872051410</id><published>2009-01-20T21:12:00.001-08:00</published><updated>2011-06-08T18:12:10.775-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Petelur'/><title type='text'>ND, EDS, IB, Pakan, Kandang dan Penurunan Produksi Telur</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/nd-eds-ib-pakan-kandang-dan-penurunan.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ND, EDS, IB, Pakan, Kandang dan Penurunan Produksi Telur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Ada keterkaitan erat antara hasil jajak pendapat ini dengan jajak pendapat Infovet pada 29 responden tentang penyakit apa yang paling menyebabkan penurunan produksi telur dengan jajak pendapat pada 26 responden tentang faktor apa yang paling banyak menyebabkan gangguan penyakit non infeksius pada peternakan. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil jajak pendapat 29 orang di website infovet.co.cc tentang penyakit apa yang paling menyebabkan penurunan produksi telur ND (24%), EDS (20%), IB (20%), Lain-lain (20%), AI (6%) dan IBD (6%)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keterkaitan erat antara hasil jajak pendapat ini dengan jajak pendapat 26 orang di website infovet.co.cc tentang faktor apa yang paling banyak menyebabkan gangguan penyakit non infeksius pada peternakan adalah Pakan (46%), Bangunan Kandang (42%), Air (30%), Pencahayaan (23%), Pemanasan (23%), Peralatan (19%), Bibit (19%) dan Tempat Pakan (15%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitan itu adalah hasil jajak pendapat yang sesuai dengan topik yang dirancang Infovet untuk edisi ini tentang penyakit ND, EDS dan IB sebagai penyebab penurunan produksi telur kejadiannya tidak bisa dilepaskan dengan faktor-faktor non infeksius pakan, perkandangan dan air, disusul faktor-faktor lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ND&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ND merupakan infeksi viral yang menyebabkan gangguan pada saraf pernapasan disebabkan disebabkan virus Paramyxo dan dikualifikasikan menjadi beberapa strain. Strain yang sangat berbahaya (Viscerotropic Velogenic Newcastle Disease/VVND) atau tipe Velogenik menyebabkan kematian bahkan hingga 100%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul tipe yang lebih ringan (Mesogenic) dengan kematian pada anak ayam mencapai 10% tapi ayam dewasa jarang mengalami kematian namun bergejala gangguan pernapasan dan saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe lemah (lentogenik) tidak menyebabkan kematian, namun produktivitas telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi jelek dengan gejala sedikit gangguan pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kita melihat penurunan produksi telur karena ND adalah disebabkan oleh tipe Mesogenik dan Lentogenik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitan antara terjangkitnya ND dengan faktor non infeksius tadi merupakan pengalaman peternak dan praktisi lapangan yang mendapati dan akhirnya punya tips pencegahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drh Riga Guntara dari PT Lito Bina Medikantara menyatakan yang harus dilakukan untuk mencegah sangat infeksius ini dengan memelihara kebersihan kandang dan sekitarnya termasuk memperhatikan kebersihan para tamu yang suka berkunjung ke kandang harus harus mendapat perhatian sebagai sumber penyebaran, sinar matahari yang cukup dan ventilasi yang baik, memisahkan ayam lain yang dicurigai dapat menularkan penyakit ini dan memberikan ransum jamu yang baik, bahkan tamu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pakan yang paling banyak menjadi penyebab penyakit non infeksius, dalam suatu kesempatan Riga pun menyatakan kepada Infovet pakan sangat perlu diperhatikan. "Meskipun tidak secara sekaligus dapat langsung membunuh ayam, manajemen pakan harus dikontrol," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Egg Drop Syndrome atau EDS disebabkan oleh virus EDS'76 dan umumnya menyerang ayam menjelang puncak produksi. Tidak tampak gejala klinis. Perubahan spesifik adalah pada telur dengan kulit yang sangat tipis, atau menyerupai telur penyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat Akibat serangan virus EDS’76 produksi telur akan berada pada titik terendah selama 1-2 minggu, baru kemudian berangsur-angsur naik kembali dan mencapai kurva normal dalam waktu 48 minggu kemudian. Produksi dapat menurun sebanyak 30-50% hanya dalam jangka 2 minggu. Dengan sanitasi, biosecurity, desinfeksi, dan vaksinasi, kasus ini dapat diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infectious Bronchitis disebabkan oleh Corona virus yang menyerang system pernapasan. Pada ayam dewasa penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi pada ayam berumur kurang dari 6 minggu dapat menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang lain menyebutkan bahwa ayam yang terserang penyakit ini dan berumur di bawah 3 minggu, kematian dapat mencapai 30-40%. Penularan dapat terjadi melalui udara, peralatan, pakaian. Virus akan hidup selama kurang 1 minggu jika tidak terdapat ternak pada area tersebut. Virus ini mudah mati karena panas atau desinfektan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber Infovet, gejala penyakit IB ini sangat sulit untuk dibedakan dengan penyakit respiratory lainnya. Pada periode layer akan didapatkan produksi telur yang sangat turun hingga mendekati nol dalam beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi masalah ini sanitasi merupakan faktor pemutus rantai penularan penyakit karena virus tersebut sangat rentan terhadap desinfektan dan panas. Pencegahan lain yang sangat umum dilakukan adalah dengan memberikan vaksinasi secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini penting karena butuh waktu sekitar 4 minggu agar ayam kembali berproduksi, bahkan beberapa diantaranya tidak akan kembali ke normal akan tetapi berukuran kecil, cangkang telur lunak, bentuk telur menjadi tidak beraturan. (bbs/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-1001038486872051410?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/1001038486872051410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=1001038486872051410' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/1001038486872051410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/1001038486872051410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/nd-eds-ib-pakan-kandang-dan-penurunan.html' title='ND, EDS, IB, Pakan, Kandang dan Penurunan Produksi Telur'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3841306020211996731</id><published>2009-01-20T21:09:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:57:43.368-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Petelur'/><title type='text'>Produksi Telur Ayam Kampung di Sisi Ayam Ras</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/produksi-telur-ayam-kampung-di-sisi.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi Telur Ayam Kampung di Sisi Ayam Ras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Jangan hanya ayam ras, ingatlah ayam kampung. Dengan kepedulian dan pengembangan teknologi seperti diungkap di awal tulisan ini maka niscaya semua bukan hanya sebatas mimpi. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produktivitas ayam buras yang optimum dapat dicapai pada kondisi thermoneutral zone, yaitu suhu lingkungan yang nyaman. Suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam buras belum diketahui, namun diperkirakan berada pada kisaran suhu 18 hingga 25 °C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam buras pada suhu lingkungan yang tinggi (25-31 °C) menunjukkan penurunan produktivitas, yaitu produksi dan berat telur yang rendah, serta pertumbuhan yang lambat&lt;br /&gt;Demikian Gunalvan dan D.T.H. Sihombing dalam Wartazoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan produksi telur pada suhu lingkungan tinggi dapat mencapai 25% bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu nyaman . Berat badan ayam buras umur 8 minggu juga berbeda, yaitu 257 g/ekor pada suhu tinggi, sedangkan pada lingkungan nyaman dapat mencapai berat 427 g/ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan produktivitas tersebut terutama disebabkan oleh penurunan jumlah konsumsi pakan, maupun perubahan kondisi fisiologis ayam. Upaya meningkatkan produktivitas ayam buras di daerah suhu lingkungan tinggi antara lain melalui seleksi dan perkawinan silang, manipulasi lingkungan mikro, perbaikan tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manipulasi kualitas pakan adalah metode yang paling murah, mudah dilakukan dan umumnya bertujuan meningkatkan jumlah konsumsi zat gizi . Metode ini berupa penambahan vitamin C, mineral phosphor atau pemberian sodium bikarbonat dalam ransum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disarankan jumlah penambahan vitamin C sebanyak 200-600 mg/kg ransum pada fase produksi telur dan sebanyak 100-200 mg/kg ransum pada fase pertumbuhan,” Gunalvan dan D.T.H. Sihombing menguatkan bahwa produksi telur ayam kampung pun sangat berpotensi memenuhi kebutuhan telur, apalagi dengan kelebihan telur ayam kampung dibanding telur ayam ras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber Infovet yang lain menyatakan, telur ayam memang merupakan jenis makanan bergizi yang sangat populer dikalangan masyarakat yang bermanfaat sebagai sumber protein hewani. Hampir semua jenis lapisan masyarakat dapat mengkonsumsi jenis makanan ini sebagai sumber protein hewani. Hal ini disebabkan telur merupakan salah satu bentuk makanan yang mudah diperoleh dan mudah pula cara pengolahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata narasumber itu, telur menjadi jenis bahan makanan yang selalu dibutuhkan dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Pada gilirannya kebutuhan telur juga akan terus meningkat. Telur dihasilkan oleh jenis hewan unggas antara lain ayam, bebek, angsa, dan jenis unggas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam merupakan jenis unggas yang paling populer dan paling banyak dikenal orang. Selain itu ayam juga termasuk hewan yang mudah diternakkan dengan modal yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan hewan besar lainnya seperti sapi, kerbau dan kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk ayam (telur dan daging) dan limbahnya diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Telur dan daging ayam yang diperlukan oleh ratusan juta manusia di dunia ini mengakibatkan tumbuhnya peternakan ayam skala kecil, menengah dan industri ayam modern hampir diseluruh dunia berkembang pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping semakin pentingnya peranan telur ayam ras dalam struktur konsumsi telur, telur ayam ras memiliki sifat permintaan yang income estic demand, bila pendapatan meningkat, maka konsumsi telur juga meningkat. Di masa yang akan datang, pendapatan per kapita per tahun akan meningkat terutama pada negara-negara yang saat ini negara yang berkembang dan sedang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian konsumsi telur juga diperkirakan akan meningkat. Dengan memanfaatkan data proyeksi penduduk tiap tahun dan proyeksi konsumsi telur per kapita pada tahun yang sama, maka diperkirakan konsumsi telur pada tahun tersebut mencapai harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, bila dilihat kecenderungan produksi telur ayam ras yang meningkat sebesar per tahun maka peluang pasar telur ayam pada tahun berikutnya akan terus meningkat. Peluang pasar ini diisi oleh telur ayam buras dan telur itik yang pangsanya masing-masing 15% dan selebihnya merupakan peluang pasar telur ayam ras. Peluang pasar ini belum termasuk pasar ekspor, baik dalam bentuk telur segar maupun powder. Tentu saja jangan lupakan ayam kampung di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya narasumber Infovet menyatakan, secara ekonomi pengembangan pengusahaan ternak ayam ras petelur di Indonesia memiliki prospek bisnis menguntungkan, karena permintaan selalu bertambah. Hal tersebut dapat berlangsung bila kondisi perekonomian berjalan normal. Lain halnya bila secara makro terjadi perubahan-perubahan secara ekonomi yang membuat berubahnya pasar yang pada gilirannya akan mempengaruhi permodalan, produksi dan pemasaran hasil ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini sekali lagi, jangan hanya ayam ras, ingatlah ayam kampung. Dengan kepedulian dan pengembangan teknologi seperti diungkap di awal tulisan ini maka niscaya semua bukan hanya sebatas mimpi. (bbs/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3841306020211996731?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3841306020211996731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3841306020211996731' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3841306020211996731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3841306020211996731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/produksi-telur-ayam-kampung-di-sisi.html' title='Produksi Telur Ayam Kampung di Sisi Ayam Ras'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-2790705246978863109</id><published>2009-01-20T21:08:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:55:03.668-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vaksinasi'/><title type='text'>Mempertimbangkan Vaksinasi Yang Banyak Sekali</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/mempertimbangkan-vaksinasi-yang-banyak.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertimbangkan Vaksinasi Yang Banyak Sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Terkait dengan topik penurunan produksi telur yang berdasar survei Infovet terutama disebabkan oleh penyakit ND, EDS dan IB, maka yang dipilih dari program itu hanya vaksinasi penyakit ND, EDS dan IB. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber di Glory Farm menyampaikan bahwa vaksinasi menurut breeder secara keseluruhan, vaksinasi yang paling banyak dilakukan adalah vaksinasi ND/IB Live. Untuk kesehatan vaksinasi ini sangat menjamin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar tulisan dr. Sauvani J Vaksinasi Standard Breeder, Glory Farm menyampaikan bahwa jika dibedah satu persatu maka akan didapatkan Vaksin ND –IB Live dilakukan dengan tetes mata pada hari pertama diikuti dengan injeksi subcutan pada hari kelima. Pengulangan berikutnya sangat sering terutama setelah umur 20 minggu, vaksinasi ini dilakukan setiap 5 minggu melalui air minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Vaksinasi Gumoro dilakukan 2 kali melalui air minum dengan selang 10 hari dan pada vaksinasi kedua dilakukan vaksinasi ND-IB Live melalui air minum pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Vaksinasi Coryza secara injeksi intramuskuler dilakukan pada minggu ke 7 dan diulang pada minggu ke 12 dan 17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas Vaksinasi Pox dan ILT diberikan pada hari yang sama dan vaksin ILT diberikan melalui air minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul Vaksinasi triple yaitu ND+IB+EDS dilakukan pada minggu ke 15 sebelum ayam  masuk ke kandang baterai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, Vaksinasi ND Kill yang dilakukan dengan injeksi intramuskuler dilakukan secara berulang dimulai pada umur 20 minggu diulang setiap 6,5 bulan (26 minggu) kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan pertanyaan segi finansial dari begitu banyaknya vaksinasi yang dilakukan dengan rentang waktu yang cukup pendek belum lagi pemberian obat-obatan lainnya? Sebuah pertanyaan yang pastut diajukan untuk kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada narasumber yang berkata hal itu sangatlah memusingkan dan tidak memungkinkan untuk melakukan semuanya walaupun vaksin ND-IB tergolong vaksin yang tidak mahal. Ada lagi yang bilang Vaksinasi Cocci tidak dilakukan mungkin mengingat pakan yang diberikan sudah mengandung koksidiostat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Anda? Sumber Glory Farm sendiri menyampaikan mempunyai program vaksinasi itu. Terkait dengan topik penurunan produksi telur yang berdasar survei Infovet terutama disebabkan oleh penyakit ND, EDS dan IB, maka yang dipilih dari program itu hanya vaksinasi penyakit ND, EDS dan IB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi ND + IB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi ND dan IB ini menurut sumber di Glory Farm adalah untuk menimbulkan kekebalan ayam terhadap infeksi ND dan IB. “Pada area peternakan kami saat ini bukan merupakan daerah yang endemis ND maupun IB, namun karena letak peternakan kami berdekatan dengan peternakan yang lain, maka sebagai antisipasinya mereka selalu melakukan vaksinasi ini. Kami melakukan vaksinasi ini dengan dua cara yaitu tetes mata dan injeksi intramuskular pada otot dada,” kata sumber tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi IB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merupakan gabungan dengan ND, sumber di Glory Farm juga melakukan vaksinasi IB dengan memberikannya pada air minum. Vaksinasi ini mereka berikan pada ayam umur 35 hari dan 13 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi ND La Sota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber di Glory Farm Vaksin menyatakan ND La Sota dilakukan pada anak ayam umur 4 hari, 28 &amp;amp; 29 hari, hari ke 56 &amp;amp; 57, minggu ke 12 dan minggu ke 16. Metode pemberian vaksinasi ND La Sota ini ada 2 macam yaitu melalui air minum dan injeksi intramuskuler pada otot dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber itu sengaja memberikan kedua metode tersebut pada hari ke 28 &amp;amp; 29 serta hari ke 56 &amp;amp; 57 hanya untuk memastikan bahwa kekebalan yang terbentuk dapat sempurna. Namun tidak menutup kemungkinan jika anda yang ingin mengadopsi program vaksinasi ini tidak memberikan vaksinasi ND metode air minum namun cukup dengan melakukan injeksi intramuskuler otot dada saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi ND + IB + EDS (Vaksinasi Triple)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber di Glorya Farm menyampaikan vaksinasi ini dilakukan tepat sebelum ayam layer masuk ke kandang baterai yaitu pada usia 16 minggu. Cara vaksinasi sama dengan injeksi intramuskuler pada dada ayam (vaksin ND + IB pada ayam usia 30 dan 50 minggu).&lt;br /&gt;(gloryfarm/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-2790705246978863109?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/2790705246978863109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=2790705246978863109' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2790705246978863109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2790705246978863109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/mempertimbangkan-vaksinasi-yang-banyak.html' title='Mempertimbangkan Vaksinasi Yang Banyak Sekali'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-8946664039432655799</id><published>2009-01-20T21:07:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:55:32.708-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>Ketika Virus ND dan EDS Diteliti Untuk Cari Virus AI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/ketika-virus-nd-dan-eds-diteliti-untuk.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Virus ND dan EDS Diteliti Untuk Cari Virus AI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Penelitian para ahli tidak semata-mata tertuju pada virus AI saja, namun juga pada virus EDS dan ND, setidaknya untuk pembanding. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian mengenai isolasi dan karakterisasi virus Highly Pathogenic Avian Influenza dari ayam asal wabah di Indonesia telah dilaksanakan di Balai Penelitian Veteriner. Wabah penyakit unggas sangat patogenik telah terjadi di Indonesia sejak bulan Agustus 2003 menyerang ayam petelur komersial, pedaging, burung puyuh, dan burung unta serta ayam buras dengan gejala klinis antara lain kebiruan pada jengger dan pial, leleran hidung dan hipersalivasi, ptechiae subkutan pada kaki dan paha, diarre dan kematian tinggi yang mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber di Balai Penelitian Pengembangan Peternakan menyebutkan penelitian oleh para peneliti Balitvet Agus Wiyono, R. Indriani, N.L.P.I. Dharmayanti, R. Damayanti, L Parede, T. Syafriati Dan Darminto ini adalah untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi agen penyebab wabah penyakit unggas. Untuk itu, dari ayam yang sedang terkena wabah penyakit unggas dikoleksi sampel berupa serum, folikel bulu, swab trakhea, dan organ berupa proventrikulus, usus, caecal tonsil, trakhea dan paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa agen penyebab wabah penyakit pada unggas di Indonesia adalah virus avian influenza subtipe H5. Hasil penelitian ini merupakan dasar bagi pelaksanaan penelitian lainnya seperti penelitian pengembangan uji serologi dan pengembangan vaksin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian para ahli tidak semata-mata tertuju pada virus AI saja, namun juga pada virus EDS dan ND, setidaknya untuk pembanding. Sampel serum diuji haemaglutination/haemaglutination inhibition (HA/HI) terhadap virus Newcastle Disease (ND) dan Egg Drop Syndrome (EDS) untuk mengetahui status kesehatan pada flok tertular. Isolasi virus penyebab wabah penyakit dilaksanakan terhadap sampel folikel bulu, swab trakhea dan organ menggunakan telur specific pathogen free (SPF) tertunas berumur 11 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh para ahli itu, virus selanjutnya dikarakterisasi dengan agar gel precipitation test menggunakan antisera referens swine influenza dan dengan uji HI menggunakan referens antisera H1 hingga H15, dan dengan pemeriksaan menggunakan mikroskop elektron. Patogenitas isolat virus diuji dengan intravenous pathogenicity index (IVPI) test dan dengan diinfeksikan pada biakan sel primer Chicken Embryo Fibroblast tanpa penambahan tripsin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Balitvet ini menunjukkan bahwa agen penyebab wabah penyakit unggas di Indonesia adalah virus avian influenza subtipe H5 berdasarkan uji serologi, isolasi dan karakterisasi virus menggunakan antisera referen swine influenza dan dengan pemeriksaan mikroskop elektron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan berdasarkan hasil karakterisasi.para peneliti Balitvet itu: Isolasi dan karakterisasi virus highly pathogenic avian influenza subtipe H5 dari ayam asal wabah di Indonesia menggunakan antisera referen H1 hingga H15 menunjukkan bahwa kemunginan besar subtipe virus avian influenza tersebut adalah H5N1. Uji patogenitas terhadap isolat virus menunjukkan bahwa virus tersebut sangat patogen pada hewan percobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil dengan penelitian AI yang dalam mencari sifat virusnya juga menggunakan virus EDS dan ND para ahli itu berpendapat langkah Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan program vaksinasi dengan menggunakan biang virus yang homolog untuk penanggulangan wabah merupakan keputusan yang tepat namun langkah tersebut harus diikuti dengan surveilen dan monitoring dinamika virus yang terprogram dan terkoordinir secara nasional. (litbangnak/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-8946664039432655799?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/8946664039432655799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=8946664039432655799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8946664039432655799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8946664039432655799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/ketika-virus-nd-dan-eds-diteliti-untuk.html' title='Ketika Virus ND dan EDS Diteliti Untuk Cari Virus AI'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-2766865480604705077</id><published>2009-01-20T21:06:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:56:48.560-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Petelur'/><title type='text'>Kenali Penyebab Turunnya Produksi Telur</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/kenali-penyebab-turunnya-produksi-telur.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenali Penyebab Turunnya Produksi Telur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab turunnya produksi telur, diharapkan peternak dapat mengambil tindakan antisipasi agar ayam telur yang dipeliharanya menghasilkan telur sesuai kurva produksi standar.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naiknya harga berbagai input produksi ayam petelur seperti misalnya pakan, bibit DOC, listrik, transport dan sebagainya telah mendorong usaha peternakan untuk berproduksi lebih efisien guna mendapatkan hasil yang optimal. Guna mencegah kerugian dan mengoptimalkan ongkos produksi tak lain produktivitas ternak harus ditingkatkan atau paling tidak dijaga jangan sampai turun produksinya.&lt;br /&gt;Pertanyaan yang sering diajukan oleh peternak adalah “Mengapa produksi telur ayam saya menurun?” Jawaban pertanyaan ini ternyata tidak semudah yang diduga. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi telur yang turun, yaitu: kualitas telur itu sendiri, mutu bibit, kecukupan nutrisi, kesehatan ayam, kondisi lingkungan, dan tatalaksana pemeliharaan.&lt;br /&gt;Agar produksi telur mencapai optimal maka harus disertai dengan konsumsi ransum yang cukup. Nafsu makan yang turun dapat menghasilkan berat telur yang rendah. Produksi telur tidak hanya bergantung pada berat badan yang tercapai saat memulai produksi telur, tetapi juga pada perkembangan saluran pencernaan dan reproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Akrab dengan Penyebabnya&lt;br /&gt;Permasalahan yang sering dialami peternak adalah produksi telur rendah atau penurunan produksi telur secara tiba-tiba. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi telur turun dan seringkali faktor-faktor tersebut terkait satu sama lain. Faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh terhadap ukuran dan kualitas telur.&lt;br /&gt;Penyebab umum menurunnya produksi telur meliputi: kurangnya lama penyinaran, nutrisi tidak cukup, penyakit, dan umur yang semakin tua dan stres.&lt;br /&gt;Kualitas ransum yang jelek, nutrisinya kurang atau tidak seimbang dengan ransum, mengandung zat racun dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Kadar protein, energi, dan kalsium sangat perlu diperhatikan. Selain itu, jika ayam tidak cukup memperoleh air minum, penurunan produksi juga terjadi.&lt;br /&gt;Kurangnya lama penyinaran tidak akan merangsang hormon reproduksi agar ayam mulai bertelur. Suhu terlalu panas akan mengurangi konsumsi nutrisi dari ransum yang diperlukan untuk pembentukan telur.&lt;br /&gt;Ventilasi yang jelek akan meningkatkan kadar amonia. Kandang terlalu padat serta umur ayam semakin tua juga mempengaruhi produksi telur. Penyakit seperti EDS, ND, IB, dll juga dapat menurunkan produksi telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama Pencahayaan&lt;br /&gt;Ayam petelur membutuhkan lama pencahayaan selama 16 jam untuk mempertahankan produksi telur, sedangkan lama pencahayaan alami dari sinar matahari biasanya berlangsung hanya selama 12 jam Jika lama pencahayaan kurang, maka produksi telur akan turun dan bahkan bisa sampai berhenti. Kekurangan lama pencahayaan seringkali menyebabkan rontok bulu dan ayam berhenti bertelur selama sekitar dua bulan. Untuk mengatasi hal ini, berikan cahaya tambahan untuk meningkatkan lama pencahayaan tetap konstan 16 jam per hari. Penambahan cahaya cukup 3 watt tiap m2 luas kandang. Penambahan cahaya dilakukan secara bertahap. Salah satu program pencahayaan adalah dengan menaikkan lama pencahayaan 1 jam tiap 2 minggu sehingga pada umur 28 minggu ayam sudah mendapat cahaya tambahan selama 4 jam semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nutrisi yang Seimbang&lt;br /&gt;Ayam telur membutuhkan ransum dengan nutnsi seimbang untuk mempertahankan produksi telur selama masa produksi. Nutrisi yang tidak tepat dapat menyebabkan ayam berhenti bertelur.&lt;br /&gt;Masalah yang sering terjadi adalah tidak tersedianya air minum yang bersih dan segar. Ayam tanpa air minum hanya selama beberapa jam dapat berhenti bertelur sampai berminggu-minggu. Oleh karena itu, sediakan tempat minum dalam jumlah cukup sehingga ayam selalu memperoleh air minum yang segar.&lt;br /&gt;Kadar energi, protein, atau kalsium yang tidak cukup juga dapat menurunkan produksi telur. Sangat penting menyediakan ransum mengandung nutrisi seimbang pada masa produksi dengan kadar protein 16-18%. Namun nutrisi dalam ransum seringkali rusak akibat penanganan dan penyimpanan yang kurang tepat. Dua jenis asam arnino penting yaitu methionine dan lysine perlu ditambahkan dalam ransum karena ransum seringkali kekurangan asam amino tersebut. Bila mutu ransum kurang baik, tambahkan premiks untuk rneningkatkan mutu ransum.&lt;br /&gt;Ayam telur dapat menghasilkan sekitar 300-325 butir telur tiap tahun sehingga membutuhkan kalsium sebanyak 20 kali jumlah kalsiurn yang ada di dalam tulangnya. Dibutuhkan 25 mg kalsium tiap menit untuk membentuk kerabang telur. Kebutuhan vitamin D perlu tercukupi agar penyerapan kalsium dan fosfor berlangsung baik. Pemberian mineral feed supplement dapat membantu memperkuat kerabang telur.&lt;br /&gt;Selain penyinaran tambahan, nutrisi dan ransum ayam masa produksi juga memerlukan vitamin tambahan. Vitamin tambahan diperlukan karena vitamin juga terbawa bersama dengan keluarnya telur dari tubuh ayam. Selain itu. akibat perubahan cuaca atau susunan ransum, ayam memerlukan vitamin tambahan untuk mencegah stres. Agar dapat mencapai tingkat produksi telur yang maksimal. Diperlukan Egg Stimulant. Egg Stimulant berguna untuk mempercepat tercapainya produksi telur yang maksimal sekaligus mempertahankan produksi telur tetap tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah Kandang&lt;br /&gt;Lelah kandang (disebut juga cage layer fatigue atau osteoporosis) sering terjadi pada ayam telur yang dipelihara dalam kandang baterai. Namun lelah kandang juga dapat terjadi pada ayam yang dipelihara dengan lantai litter akibat ketidakcukupan kalsium, fosfor dan atau vitamin D.&lt;br /&gt;Pembentukan kerabang telur membutuhkan kalsium dalam jumlah banyak, dan dipenuhi melalui penyerapan kalsium dari tulang. Normalnya, kalsium tersebut akan diganti dari kalsium dalam ransum. Namun pada saat terjadi kekurangan kalsium, fosfor, dan atau vitamin.D, penggantian kalsium ini, tidak berlangsung dengan baik. Akibatnya tulang menjadi keropos. Kondisi ini diperparah dengan perkembangan kerangka kurang optimal pada ayam telur yang dipelihara dalam kandang baterai karena kurangnya pergerakan.&lt;br /&gt;Ayam yang mengalami lelah kandang berarti kekurangan kalsium dalam tulang dan akan segera menghentikan produksinya. Gejala-gejaia lelah kandang meliputi kelumpuhan, patah tulang, bentuk tulang berubah. dan kerabang telur retak. Untuk mencegah lelah kandang, berikan vitamin dan mineral feed suplement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit&lt;br /&gt;Serangan penyakit masih dapat terjadi meskipun ayam dalam kondisi terbaik. Penurunan produksi telur seringkali merupakan salah satu gejala awal adanya serangan penyakit. Gejala lainnya dapat berupa lesu dan bulu kusam, mata berair, keluar ingus dari hidung, batuk, rontok bulu, pincang, sampai kematian. Jika peternak rnelihat seekor ayam sakit, lakukan isolasi atau pengafkiran dan amati keseluruhan populasi secara teliti. Jika curiga ada serangan penyakit, segera hubungi dokter hewan setempat agar dapat membantu memeriksa sehingga diperoleh diagnosa dan pengobatan yang akurat.&lt;br /&gt;Pada umumnya, saat ayam terkena penyakit apapun, maka produksi telur akan terganggu. Penyakit yang secara langsung dapat menyebabkan penurunan produksi telur. di antaranya adalah: EDS, ND, IB, CRD dan colibacillosis. Penyakit ND dan IB menurunkan kualitas kerabang dan bagian dalam telur. EDS menyebabkan kerabang telur sangat tipis sehingga telur mudah pecah, sedangkan ND dan IB dapat merusak saluran produksi.&lt;br /&gt;Ayam yang terserang EDS tetap tampak sehat, tidak memperlihatkan gejala sakit tetapi terdapat penurunan produksi secara drastis disertai penurunan kualitas telur. Produksi telur turun sebesar 20-40% selama 10 minggu. Untuk mencegah EDS, lakukan vaksinasi pada umur 16-18 minggu bisa dengan vaksin kombinasi.&lt;br /&gt;Penyakit ND dapat menyebabkan produksi telur turun diikuti penurunan kualitas telur, yaitu kerabang telur menjadi tipis dan kadang-kadang ditemukan telur tanpa kerabang. Produksi telur dapat mendekati produksi normal setelah 3-4 minggu, tetapi kebanyakan tidak pernah kembali normal.&lt;br /&gt;Untuk mencegah ND, lakukan vaksinasi ND secara teratur. Selama program vaksinasi, berikan vitamin selama 2 hari sebelum dan sesudah vaksinasi untuk mencegah stres.&lt;br /&gt;Penyakit utama yang menyebabkan produksi telur turun secara drastis adalah IB. Virus IB (corona virus) menyerang membran mukosa saluran pernapasan dan reproduksi. Jika menyerang ayam muda maka kerusakan saluran reproduksi akan bersifat permanen.&lt;br /&gt;Sejumlah strain virus IB juga menyebabkan gangguan pada ginjal. Akibatnya tidak hanya kualitas kerabang telur terganggu namun juga bagian dalam telur. Putih telur (albumin) menjadi seperti cairan bening (transparan). Bentuk kerabang telur menjadi tidak normal. Selain itu, warna coklat pada kerabang telur coklat akan memudar. Pada telur dapat pula ditemukan gumpalan kecil darah yang disebut blood spot. Untuk mencegahnya, lakukan vaksinasi IB pada umur 4 hari dan diulangi pada umur 19-21 hari dengan vaksin tunggal atau kombinasi. Vaksinasi selanjutnya dilakukan pada umur 8 minggu kemudian diulang tiap 3 bulan.&lt;br /&gt;Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit EDS, ND, dan IB. Hanya dengan strategi vaksinasi yang tepat dan diimbangi dengan pelaksanaan tatalaksana pemeliharaan yang benar, niscaya ketiga penyakit tersebut dapat dihindari.&lt;br /&gt;CRD dan colibacillosis merupakan penyakit yang hampir selalu ada di peternakan, Baik CRD maupun colibacillosis juga dapat mengganggu produksi telur. CRD dapat mengganggu proses pernapasan ayam sehingga suplai oksigen ke dalam tubuh ayam akan berkurang. Hal tersebut akan berpengaruh pada kesehatan dan metabolisme dan berakibat pada penurunan produksi telur. Colibacillosis dapat menginfeksi saluran telur maupun calon telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur Ayam&lt;br /&gt;Umur yang semakin tua dapat berpengaruh pada produksi telur. Pengaruh ini sangat bervariasi di antara individu ayam. Ayam dapat berproduksi secara efisien selama dua siklus masa bertelur. Setelah dua atau tiga tahun, produktivitas akan menurun. Secara umum, produksi telur paling baik selama tahun pertama, namun ayam telur yang berproduksi tinggi dapat berproduksi cukup baik selama 2-3 tahun. Kondisi ini berbeda pada setiap strain ayam. Ayam telur yang berproduksi tinggi akan bertelur selama sekitar 50-60 minggu tiap siklus masa bertelur. Di antara siklus produksi telur akan disela dengan masa istirahat yaitu rontok bulu (molting). Afkir ayam telur yang produksi telurnya sudah tidak ekonomis lagi.&lt;br /&gt;Rontok bulu adalah proses alami sebagai cara unggas memperbaharui bulunya. Selain sebagai tanda berhentinya produksi telur, rontok bulu juga dapat terjadi kapan pun terutama saat ayam mengalami stres berat. Kasus rontok bulu yang cepat pada seluruh populasi biasanya merupakan gejala bahwa telah terjadi sesuatu yang serius (misalnya: kekurangan air minum atau sangat kedinginan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stres&lt;br /&gt;Stres dapat menyebabkan turunnya produksi telur. Agar produksi telur tidak turun, berikan multivitamin selama 5 hari berturut-turut.&lt;br /&gt;Stres yang biasa terjadi meliputi:&lt;br /&gt;1. Kedinginan&lt;br /&gt;Stres yang paling sering selama musim hujan adalah kedinginan. Pastikan ayam mendapat perlindungan dari angin dan hujan selama musim hujan namun jangan sampai menutup terlalu rapat sehingga menyebabkan tingginya kadar amonia. Jika tercium bau amonia, inilah saatnya meningkatkan lubang udara di dalam kandang. Ayam tidak dapat bertahan dalam kondisi lembab dan terlalu banyak angin.&lt;br /&gt;2. Kepanasan&lt;br /&gt;Dalam cuaca panas, ayam akan lebih banyak minum dan mengurangi konsumsi ransum sehingga kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi. Kondisi ini dapat menyebabkan produksi telur turun karena kebutuhan energi dan protein harian tidak tercukupi. Dalam kondisi lingkungan panas, fisiologi tubuh ayam akan mengubah prioritasnya dari semula untuk produksi telur menjadi untuk bertahan hidup. Oleh sebab itu, saat cuaca panas perlu tambahan vitamin supaya produksi telur tidak terganggu.&lt;br /&gt;3. Penangkapan dan pemindahan&lt;br /&gt;Batasi pemindahan atau penangkapan yang tidak perlu. Populasi yang terlalu padat dapat meningkatkan kanibalisme dan akhirnya stres pada ayam.&lt;br /&gt;4. Parasit&lt;br /&gt;Jika ada parasit eksternal dan internal, berikan pengobatan yang sesuai.&lt;br /&gt;5. Ketakutan&lt;br /&gt;Batasi suara ribut orang-orang dan suara kendaraan di sekitar kandang untuk mencegah ayam ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, produksi telur yang turun dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari mutu ransum, tatalaksana pemeliharaan, sampai adanya serangan penyakit dapat menurunkan produksi telur.&lt;br /&gt;Perlindungan terbaik terhadap penyakit diawali dengan membeli DOC atau pullet yang sehat. Hindari pelihara ayam dengan umur yang tidak seragam. Kontrol terhadap lama penyinaran dan berat badan pada ayam pullet sangat menentukan permulaan produksi telur. (inf/bbs)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH KEMUNGKINAN PENYEBAB&lt;br /&gt;Produksi telur tiba-tiba turun. Stres karena bermacam-macam sebab seperti potong paruh, setelah pemberian obat cacing, penggantian ransum, setelah vaksinasi.&lt;br /&gt;Ransum bermutu jelek.&lt;br /&gt;Ayam terserang penyakit.&lt;br /&gt;Produksi dan mutu telur turun. Ayam terserang penyakit seperti EDS ‘76, IB, pullorum atau ND.&lt;br /&gt;Produksi telur turun tetapi mutu telur tidak turun. Ayam terserang penyakit AE.&lt;br /&gt;Ayam sedang dalam pergantian bulu (rontok bulu).&lt;br /&gt;Ayam stres karena berbagai hal.&lt;br /&gt;Ayam kekurangan air minum, tempat minum banyak yang kosong.&lt;br /&gt;Tempat air minum letaknya terlalu rendah atau tinggi.&lt;br /&gt;Pencahayaan tidak tepat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-2766865480604705077?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/2766865480604705077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=2766865480604705077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2766865480604705077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2766865480604705077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/kenali-penyebab-turunnya-produksi-telur.html' title='Kenali Penyebab Turunnya Produksi Telur'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-2773606533506036308</id><published>2009-01-20T21:03:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:58:11.774-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam'/><title type='text'>Jangan Lupakan Tubuh Ayam</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/jangan-lupakan-tubuh-ayam.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Lupakan Tubuh Ayam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Membahas produksi telur ayam jangan lupakan anatomi dan faali ayam, sebagai dasar bagi kita agar kuat memahami bagaimana ternak ini berproduksi dan terjaga produksinya. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka unggas ringan tetapi kuat, sesuai dengan keperluannya untuk terbang dan berjalan. Adapun tengkorak unggas kecil dengan hubungan antartulang yang kuat, berhubungan dengan atlas yaitu tulang pertama columna vertebrae (susunan luas tulang belakang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber di Universitas Terbuka, tulang-tulang pinggang dan punggung unggas saling berhubungan dengan erat, merupakan tempat melekatnya otot-otot yang digunakan untuk terbang, dan untuk menahan tekanan. Ujung pasterior tulang pubis dan ujung posterior sternum digunakan untuk memperkirakan daya bertelur pada kegiatan culling ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya menurut sumber yang sama, tulang-tulang unggas yang bersifat pneumatik berhubungan dengan sistem pernapasan. Tulang-tulang pneumatik terdapat pada humeras, tulang-tulang kepala klavicula as sternum, vertebrae lumbales dan os sacrum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Unggas mempunyai tulang-tulang meduler yang digunakan untuk menimbun kasium. Tulang-tulang meduler terdapat pada tibia, femur, pubis, tulang-tulang rusuk ulna, tulang-tulang telapak kulit dan scapula,” kata sumber di UT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pencernaan unggas sendiri, sederhana jika dibandingkan dengan ruminansi dalam arti hanya sedikit tempat tersedia bagi kehidupan mikrorganisme ynag dapat membantu pencernaan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena unggas tidak bergigi akan pengunyahan makanan tidak terjadi di mulut. Di tembolok, makanan dilunakkan dan mulai dicerna. Di perut pengunyah, makanan dipecah dan digiling. Makanan terutama dicerna dan diabsorp (diserap) oleh usus halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan vertabrata lainnya, unggas memiliki kloaka yaitu ruang pertemuan dari tiga saluran, pencernaan, urinaria dan reproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem reproduksi unggas jantan berupa testes ductus (vas) deferens, dan ogan kopulasi yang bentuknya rudimenter. Unggas tidak mempunyai penis. Sperma diproduksi di dalam testis, disalurkan ke luar tubuh melalui ductus deferens yang bermuara pada papilla. Perkawinan unggas jantan dengan unggas betina pada hakikatnya ialah mempersatukan dua kloaka untuk memungkinkan pemancaran sistem yang mengandung sperma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem reproduksi unggas betina terdiri atas ovarium dan oviduk. Ovarium yang mengandung sekitar 1.000-3.000 folikel dan di dalam folikel terdapat kuning telur (yolk). Ukuran folikel berkisar dari yang mikrokopik hingga yang sebesar yolk, tergantung pada tingkat kemasakan yolk di dalamnya. Setelah sebuah yolk diovulasikan, kemudian diterima oleh infudibulum dan melewati bagian-bagian lain dari oviduk, menjadi telur yang sempurna yang dikeluarkan melalui anus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber Infovet yang lain, kuning telur (yolk) dari ayam yang diimunisasi (divaksin) sudah sangat terkenal sebagai salah satu sumber antibodi. Produksi immunoglobulin yolk (IgY) dengan memanfaatkan kuning telur ayam sebagai pabrik biologis mempunyai beberapa keunggulan. Ayam memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap pemaparan antigen asing, sehingga sistem imun ayam sangat responsif dan persisten untuk produksi IgY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faali Ayam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sistem pencernaan unggas berfungsi mencerna dan mengabsorpsi zat-zat makanan serta mengeluarkan sisanya yang tidak dapat dicerna melalui anus, “ ungkap Sumber di Universitas Terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber UT ini, unggas tidak bergigi dan sebagai-gantinya maka makanan yang besar atau yang keras digiling di dalam perut pengunyah. Di situ makanan dipecah menjadi partikel-partikel kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pankreas menghasilkan HCl dan pepsin, sedangkan hati menghasilkan empedu. Zat-zat yang dihasilkan oleh kedua organ pencernaan tambahan ini memberikan lingkungan yang baik bagi terjadinya reaksi-reaksi pencernaan yang bersifat enzimatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerapan zat-zat makanan sebagian besar terjadi di dalam usus halus (duodenum) karena permukaan dinding usus ini diperluas oleh adanya lipatan-lipatan dan villi, zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna, tidak banyak bermanfaat bagi unggas karena mikroorganisme (bakteri) yang seharusnya membantu pemecahan bahan-bahan makanan tidak mempunyai tempat khusus, dalam sistem pencernaan unggas. Hal ini sangat berbeda dengan ruminansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air sebagai zat makanan yang berada di dalam bahan makanan tersisa, diserap kembali oleh dinding usus besar dan dimanfaatkan kembali oleh tubuh unggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya unggas betina, sistem produksi unggas jantan (termasuk ayam) dipengaruhi oleh intesitas cahaya dan kerja hormon-hormon reproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem reproduksi unggas betina melibatkan kegiatan interaksi kerja berbagai macam hormon reproduksi yang dipengaruhi oleh banyaknya cahaya yang diterima oleh kelenjar pituitari. Cahaya yang sangat kurang dapat menghentikan kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kita lebih kenal Sang Ayam Produsen Telur untuk kesehatan kita.&lt;br /&gt;(UT/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-2773606533506036308?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/2773606533506036308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=2773606533506036308' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2773606533506036308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2773606533506036308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/jangan-lupakan-tubuh-ayam.html' title='Jangan Lupakan Tubuh Ayam'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-6009076520764519145</id><published>2009-01-20T21:02:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:08:43.209-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vaksinasi'/><title type='text'>EDS dan Vaksin Lokal</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/eds-dan-vaksin-lokal.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EDS dan Vaksin Lokal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Apakah antigen EDS' 76 inaktif buatan lokal untuk uji HI dapat digunakan dalam membedakan antara ayam yang mempunyai antibodi EDS' 76 atau tidak? ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan produksi telur merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi oleh peternak ayam pembibit maupun petelur. Di antara sekian banyak faktor yang dapat menyebabkan penurunan produksi telur adalah penyakit Egg Drop Syndrome'76 (EDS'76).&lt;br /&gt;Sumber di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga Surabaya menyatakan uji hambatan hemaglutinasi (Hemagglutination Inhibition, HI) merupakan salah satu cara pemeriksaan serologis yang sering dilakukan, karena mudah dan praktis serta mempunyai nilai keakuratan yang tinggi.&lt;br /&gt;Hanya saja, kata Drh Nanik Sianita Widjaja dalam penelitiannya, yang menjadi kendala, antigen EDS'76 untuk uji HI, tetapi baru dalam taraf membandingkan titer hemaglutinasi (HA) dan stabilitasnya setelah penyimpanan pada suhu 4 derajat C.&lt;br /&gt;Menurutnya permasalahannya sekarang adalah apakah antigen EDS' 76 inaktif buatan lokal untuk uji HI dapat digunakan dalam membedakan antara ayam yang mempunyai antibodi EDS' 76 atau tidak?&lt;br /&gt;Lalu, berapa antibodi dalam serum ayam yang divaksin EDS'76 inaktif atau diinfeksi virus EDS'76 masih dapat dideteksi dengan uji HI menggunakan antigen EDS'76 inaktif buatan lokal?&lt;br /&gt;Kemudian, apakah ada perbedaan hasil antara antigen EDS'76 inaktif buatan lokal dan antigen EDS' 76 aktif bila digunakan untuk mengukur titer antibodi EDS'76 pada serum ayam dengan uji HI?&lt;br /&gt;Dari hasil penelitiannya, Drh Nanik Sianita Widjaja menyatakan kesimpulan antigen EDS'76 inaktif dapat digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi EDS'76. Tetapi, tidak dapat digunakan untuk membedakan antara antibodi akibat vaksinasi atau terinfeksi virus EDS' 76.&lt;br /&gt;Maka, kata Nanik Sianita, “Perlu dipikirkan kemungkinan membuat antigen EDS' 76 yang dapat membedakan antara antibodi akibat vaksinasi ataukah terinfeksi virus EDS' 76.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksin Lokal&lt;br /&gt;Penelitian vaksin hewan termasuk vaksin EDS’76 untuk ayam ini di Indonesia memang telah banyak dilakukan oleh perguruan tinggi, lembaga penelitian departemen dan nondepartemen, serta produsenvaksin hewan baik milik pemerintah maupun swasta.&lt;br /&gt;Adapun, lembaga penelitian pemerintah yang punya wewenang untuk menghasilkan vaksin adalah Balai Balai PenelitianVeteriner (Balitvet) sebagai lembaga penelitian penyakit hewan tertua di Indonesia.&lt;br /&gt;Beberapa vaksin lokal ini mempunyai efektivitas yang lebih baik, antara lain vaksin IBD aktif intermediate isolat lokal.Vaksin ini dikembangkan dari isolat virus IBD lokal yang ganas yang mewabah di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Galur virus lokal ini mempunyai karakteristik molekuler yang berbeda dengan virus vaksin IBD yang diimpor, di mana vaksin impor tersebut tidak dapat melindungi wabah IBD di Indonesia&lt;br /&gt;Vaksin IBD lokal dikembangkan oleh Dr Drh Lies Parede dari Bbalitvet berbagai uji coba dan dapat melindungiserangan wabah IBD di Indonesia. Dr Drh Darminto Kepala BaBalitvet juga telah mengembang-kan vaksin IB inaktif untuk ayam yangmempunyai keunggulan komparatifdibanding vaksin IB inaktif impor, karenaberasal dari isolat virus lokal yang berbedadengan virus vaksin.&lt;br /&gt;Badan Tenaga Nuklir Nasional(BATAN) juga telah berhasil menelitivaksin ayam coccidia melalui proses radiasi. Beberapa perguruan tinggi sepertiInstitut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga mempunyai pengalaman dalam menelitidan memproduksi vaksin hewan dalamskala terbatas terutama vaksin ND.&lt;br /&gt;Perguruan tinggi sebenarnyamempunyai potensi yang besar untukberperan sebagai produsen vaksin, tetapi dibatasi oleh masalah dana, sarana dan prasarana serta peraturan perundangan. Prof Dr Drh Masdoeki Partadiredja almarhum jauh hari mengemukakan bahwa status otonomi beberapa perguruan tinggi membuka peluang bagi perguruan tinggiuntuk mendirikan badan usaha yang bergerak dalam bidang produksi vaksin dan bahan biologis veteriner lainnya.&lt;br /&gt;Sekarang telah terbukti, FKH-IPB berhasil membentuk perusahaan terbatas yang memproduksi vaksin avian influenza (AI). Dengan demikian, semakin kuat keberadaan para peneliti kita dalam menguji dan mengambangkan vaksin dalam negeri. Penelitian-penelitian semacam di awal tulisan ini menjadi sangat berarti. (FKHUnair/Bbalitvet/YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-6009076520764519145?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/6009076520764519145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=6009076520764519145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/6009076520764519145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/6009076520764519145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/eds-dan-vaksin-lokal.html' title='EDS dan Vaksin Lokal'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-4238850987665119596</id><published>2009-01-20T21:01:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:56:24.298-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Petelur'/><title type='text'>Diagnosalah Penurunan Produksi Telur</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/diagnosalah-penurunan-produksi-telur.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosalah Penurunan Produksi Telur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Untuk mendiagnosa kasus-kasus itu beberapa kasus infeksius, diagnosa menurut sumber Disnak Sumatera Barat Infovet urutkan berdasar peringkat berdasar hasil survei Infovet yaitu: ND, EDS, IB, disusul Lain-lain selain AI dan IBD. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar hasil jajak pendapat Infovet terhadap 29 responden tentang penyakit yang paling menyebabkan penurunan produksi telur adalah: ND (24%), EDS (20%), IB (20%), Lain-lain (20%), AI (6%) dan IBD (6%), Infovet menyusun tiap penyakit ini terkait kasus penurunan produksi menjadi trend saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber peternakan di Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat faktor penting yang mempengaruhi penurunan produksi telur adalah strain ayam layer modern yang mengalami seleksi genetika untuk mencapai penampilan produksi yang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam layer dengan karakter dan genetik yang baru ini, kata Drh Asrul Anwar, “Sangat peka terhadap penurunan produksi telur baik akibat kegagalan manajemen, fluktuasi nutrisi pakan, maupun kasus penyakit. Pola penurunan produksi berbeda baik segi intensitas / keparahan kasus, kompleksitas, dan frekuensi kasus. Agar produksi dapat kembali mencapai standard, diperlukan diagnosa lebih teliti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, Drh Asrul Anwar menyarankan para peternak harus memelihara lingkungan, menjalankan manajemen yang baik dan memberikan pakan yang berkualitas agar ayam mencapai potensi genetiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drh Asrul Anwar menyatakan di lapangan penyebab penurunan produksi bervariasi. Ada 2 kelompok besar, kasus infeksius dan non infeksius. Kasus Infeksius terdiri atas Virus: AI, ND, IB, ILT, EDS; lalu Bakteri: Coryza, E. Coli, Pasteurella, Pseudomonas, Clostridium, Mycoplasma; kemudian Parasit: Leucocytozoon sp, Helminthiasis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendiagnosa kasus-kasus itu beberapa kasus infeksius perlu diketahui manifestasi klinisnya. Diagnosa menurut Drh Asrul Anwar itu Infovet urutkan berdasar peringkat berdasar hasil survei Infovet yaitu: ND, EDS, IB, disusul Lain-lain selain AI dan IBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ND&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Drh Asrul Anwar Kasus Newcastle Diseases atau ND dapat menyebabkan penurunan poduksi tergantung pada status kekebalan tubuh ayam. Penurunan produksi pada kasus ini cepat tetapi kenaikan kembali produksi lambat. Pada telur dari ayam penderita ND, variasi warna kerabangnya lebih kecil dari IB, yakni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus EDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Egg Drop Syndrome atau EDS menurut Drh Asrul Anwar umumnya menyerang ayam menjelang puncak produksi. Tidak tampak gejala klinis. Perubahan spesifik adalah pada telur dengan kulit yang sangat tipis, atau menyerupai telur penyu. Produksi dapat menurun sebanyak 30-50% hanya dalam jangka 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Produksi telur akan berada pada titik terendah selama 1-2 minggu, baru kemudian berangsur-angsur naik kembali dan mencapai kurva normal dalam waktu 48 minggu kemudian. Pengujian patologi anatomis dapat dijumpai oedema pada uterus,” kata Drh Asrul Anwar pada sumber Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus IB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya kasus Infectious Bronchitis atau IB, dituturkan Drh Asrul Anwar, “Umumnya pada 4-6 minggu sebelum puncak produksi atau 4-6 minggu setelah puncak produksi. Bobot rata-rata telur umumnya menurun sebanyak 5 - 15% pada 2-3 minggu sebelum jumlah telur mengalami penurunan dan prosentase penurunan sangat beragam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Asrul Anwar, pada ayam yang tidak divaksin, produksi telur dapat turun sebanyak 50 – 70% dari awal hanya dalam waktu 1 minggu. Berada pada level terendah selama 1-2 minggu, kemudian kembali meningkat mendekati kurva standar dala waktu 6-8 minggu, tetapi tidak pernah mencapai puncak kurva normal. Kegagalan ini akibat adanya kerusakan permanen pada ovarium dan oviduct.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Drh Asrul Anwar menuturkan, pada ayam yang telah divaksin tatapi tidak cukup terproteksi. Penurunan produksi dapat terjadi sebesar 30% dari awal kasus dalam waktu 1 minggu. Level terendah bertahan selama 1 minggu pula dan berangsur-angsur meningkat dalam 4-6 minggu, namun tidak dapat kembali ke kurva awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada ayam dengan tantangan tertinggi, ungkapnya, terjadi penurunan produksi sebesar 10% dalam jangka 1 minggu dan berada di level terendah selama 1 minggu, selanjutnya akan meningkat dalam 1 minggu kemudian. Jika diamati telur dariayam yang terserang kasus ini akan berwarna pucat dengan variasi warna hingga 7 macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telur yang mengalami depigmentasi ini sebanyak 20% dan 10% diantaranya mempunyai bentuk kerabang yang tidak normal.salah satu perubahan spesifik adalah bentuk albumin yang cair pada 10% telur dengan kerabang yang tidak normal dan dijumpai gumpalan kecil darah yang dikenal dengan blood spot,” ujar dokter hewan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Mg atau Ms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Drh Asrul Anwar, kasus Mycoplasma gallisepticum (Mg) mengganggu jumlah telur yang diproduksi serta dapat menyebabkan kurva produksi seperti mata gergaji atau jigsaw phenomenon, umumnya menyerang ayam pada tiga titik kritis yaitu pada saat produksi 5%, 75% atau satu bulan setelah puncak produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kualitas kerabang menurun dengan warna yang lebih pucat. Di samping itu ditemukan adanya sandy egg yaitu bintik-bintikmaterial kerabang yang menyerupai pasir di ujung tumpul permukaan kulit telur sebanyak lebih 1%,” ujar Asrul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diungkap, gejala Klinis berupa gangguan pernafasan akibat Mycoplasma gallisepticum (Mg) pada ayam produksi seringkali tidak jelas. Pada pengujian patologi anatomis dapat ditemukan kabut atau perkejuan pada kantong hawa, pada Mycoplasma synoviae(Ms) diikuti oleh enteritis yang tidak spesifik, hepatomegali (perbesaran hati), splenomegali (pembengkakan limpa) dan sinovitis (peradangan pada persendian lebih dar 2 tulang) hingga kelumpuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, uji laboratorium dapat dilakukan dengan Rapid Serum Test untuk mengetahui IgM yang menjadi petunjuk dari infeksi akut. IgM ini dapat terdeteksi pertama kali 5-7 hari setelah infeksi terjadi. (disnaksumbar/ Infovet/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-4238850987665119596?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/4238850987665119596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=4238850987665119596' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4238850987665119596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4238850987665119596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/diagnosalah-penurunan-produksi-telur.html' title='Diagnosalah Penurunan Produksi Telur'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3911026555174633822</id><published>2009-01-20T20:55:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:56:00.396-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Petelur'/><title type='text'>AMATILAH SI TELUR AYAM</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/amatilah-si-telur-ayam.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMATILAH SI TELUR AYAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Telur ayam sering kita makan, apa sebetulnya bagian-bagian yang ada dalam si telur itu?  ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertelur merupakan cara alamiah ayam untuk memperbanyak keturunannya. Ayam betina rata-rata dapat menghasilkan sebutir telur setiap pagi,dan jumlah telur yang sudah dibuahi dapat mencapai 15 butir. Ayam betina akan mengerami telurnya setelah telur terakhir keluar dari badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telur akan menetas setelah dierami oleh ayam betina selama 21 hari. Semakin baik kualitas telur, semakin besar prosentase penetasannya. Baiknya kualitas telur itu sendiriditentukan oleh pakan ayam betina semasa proses bertelur, dan bahkan jauh sebelum masa bertelur,” kata sumber di Universitas Kristen Petra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, kata sumber universitas itu, pakan dan perawatan ayam betina amat menentukan kualitas telurnya. Semakin baik pakan dan perawatannya, semakin baik pula mutu telurnya. Bagi peternak ayam, membeli telur dan menetaskannya sendiri merupakan cara yang paling murah dalam menambah jumlah ayamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain untuk menambah jumlah ayam adalah dengan membeli DOC (day old chick) yaitu ayam yang baru berusia beberapa hari atau dengan membeli ayam muda yang berusia kurang dari setahun. Membeli anakan jelas lebih mahal daripada menetaskan telur, dan membeli ayam muda lebih mahal lagi dibandingkan dengan membeli anakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semuanya sangat bergantung pada kebutuhan dan ketersediaan danapeternak itu sendiri,” kata sumber di Universitas Kristen Petra itu menuturkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Telur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sumber yang sama, kuning telur dibentuk dalam tubuh oleh sistem perkembangbiakan ayam betina sewaktu sedang birahi dan siap untuk dikawini ayam jantan yang sedang dalam ‘peranakan’, sekelompok kuning telur yang bentuknya seperti sekelompok buah anggur ini dimasuki oleh sel telur betina (ovum), tepat berada di tengah-tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, agar terjadi pembuahan dibutuhkan seljantan (sperma) yang kuat yang dapat menerobos masuk ke dalam kuning telur sehingga dapat bersatu dengan ovum. Pembuahan terjadi di bagian atas‘peranakan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses selanjutnya adalah dilapisinya kuning telur ini oleh lapisan yangterbuat dari zat fosfoprotein (vitellin), yang berfungsi sebagai bagian pengaman pertama pada pembuahan. Pada saat ini dibentuk pula semacam tambang penyimbang, yang biasa disebut chalaza, agar kuning telur dapat tepat berada di tengah-tengah lapisan putih telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambang ini berada tepat di bagian ujung atas dan ujung bawah bulatan kuning telur.Kuning telur lalu turun ke bagian tengah ‘peranakan’. Di sini dua kali lagikuning telur dilapisi zat putih telur yang berfungsi sebagai penahan guncangan.Setelah itu, kuning dan putih telur turun ke bagian bawah ’peranakan’ untuk dilapisi dengan kulit ari dan zat kapur yang terlihat sebagai kulit telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada proses akhir ini, kulit ari akan membentuk kantung udara, zat kapur akan semakinmengeras, dan keluar melalui dubur ayam betina. Kantung udara itu sendiri berisi udara yang berhasil menerobos masuk ke dalam telur melewati ribuan pori-poriyang terdapat di kulit telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara di kantung ini digunakan embrio untuk bernafas.Seluruh proses ini terjadi dalam waktu 24-26 jam. Itulah sebabnya, ayambetina (sebagus apa pun kualitasnya) hanya dapat bertelur sebutir setiap pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi TelurTelur pada umumnya memiliki berat sekitar 50-57 gram per butirnya, yangterdiri dari 11% bagian kulit telur, 58% bagian putih telur, dan 31% bagian kuningtelur. Komposisi zat yang tergantung di dalam setiap telur dapat dihitung bahwa kandungan protein yang terdapatpada setiap butir telur adalah sekitar 7 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sumber di Universitas Kristen Petra itu mengungkap, lemak yang terdapat pada telur terdiri dari lemak tidak jenuh dan lemak jenuh dengan perbandingan 2 : 1. OleicAcid adalah komposisi utama lemak tidak jenuh, dan lemak ini tidak berpengaruhterhadap kolesterol darah manusia. (UKP/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3911026555174633822?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3911026555174633822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3911026555174633822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3911026555174633822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3911026555174633822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/amatilah-si-telur-ayam.html' title='AMATILAH SI TELUR AYAM'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-1827124808591154738</id><published>2009-01-20T20:51:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:59:33.771-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Petelur'/><title type='text'>21 HARI AYAM BERTELUR</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2009/01/21-hari-ayam-bertelur.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 HARI AYAM BERTELUR&lt;br /&gt;(( Ikutilah hari demi hari ayam kita bertelur. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa pengeraman selama 21 hari merupakan masa yang sangat kritis untuk menentukan kelahiran seekor anak ayam. Embrio di dalam telur ini tumbuhsecara luar biasa setiap harinya sampai akhirnya menetas menjadi anak ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, sumber di Universitas Kristen Petra menyampaikan perkembangan embrio selama 21 hari pengeraman sampai akhirnya jadi anak ayam yang mungil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke-1 sejumlah proses pembentukan sel permulaan mulai terjadi. Sel permulaanuntuk sistem pencernaan mulai terbentuk pada jam ke-18. pada jam-jamberikutnya, secara berturut-turut sampai dengan jam ke-24, mulai jugaterbentuk sel permulaan untuk jaringan otak, sel permulaan untuk jaringantulang belakang, formasi hubungan antara jaringan otak dan jaringan syaraf,formasi bagian kepala, sel permulaan untuk darah, dan formasi awal syarafmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke-2 embrio mulai bergeser ke sisi kiri, dan saluran darah mulai terlihat padabagian kuning telur. Perkembangan sel dari jam ke-25 sampai jam ke-48secara berurutan adalah pembentukan formasi pembuluh darah halus danjantung, seluruh jaringan otak mulai terbentuk, selaput cairan mulai terlihat,dan mulai juga terbentuk formasi tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada hari ke-3 dimulainya pembentukan formasi hidung, sayap, kaki, dan jaringanpernafasan. Pada masa ini, selaput cairan juga sudah menutup seluruh bagianembrio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pada hari ke-4 sel permulaan untuk lidah mulai terbentuk. Pada masa ini, embrio terpisahseluruhnya dari kuning telur dan berputar ke kiri. Sementara itu, jaringansaluran pernafasan terlihat mulai menembus selaput cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada hari ke-5 saluran pencernaan dan tembolok mulai terbentuk. Pada masa ini terbentukpula jaringan reproduksi. Karenanya sudah mulai dapat juga ditentukan jeniskelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas hari ke-6 pembentukan paruh dimulai. Begitu juga dengan kaki dan sayap. Selain itu,embrio mulai melakukan gerakan-gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya hari ke-7, ke-8, dan ke-9 jari kaki dan sayap terlihat mulai terbentuk. Selain itu, perut mulai menonjol karena jeroannya mulai berkembang. Pembentukan bulu juga dimulai. Pada masa-masa ini, embrio sudah seperti burung, dan mulutnya terlihat mulaimembuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hari ke-10 dan ke-11 paruh mulai mengeras, jari-jari kaki sudah mulai sepenuhnya terpisah, danpori-pori kulit tubuh mulai tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hari ke-12Jari-jari kaki sudah terbentuk sepenuhnya dan bulu pertama mulai muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-13 dan ke-14 sisik dan kuku jari kaki mulai terbentuk. Tubuh pun sudah sepenuhnyaditumbuhi bulu. Pada hari ke-14, embrio berputar sehingga kepalanya tepatberada di bagian tumpulnya telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-15 jaringan usus mulai terbentuk di dalam badan embrio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu hari ke-16 dan ke-17 sisik kaki, kuku, dan paruh semakin mengeras. Tubuh embrio sudahsepenuhnya tertutupi bulu yang tumbuh. Putih telur sudah tidak ada lagi, dankuning telur meningkat fungsinya sebagai bahan makanan yang sangat pentingbagi embrio. Selain itu, paruh sudah mengarah ke rongga kantung udara, selaput cairan mulai berkurang, dan embrio mulai melakukan persiapan untukbernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hari ke-18 dan ke-19 pertumbuhan embrio sudah mendekati sempurna. Kuning telur mulai masukke dalam rongga perut melalui saluran tali pusat. Embrio juga semakin besarsehingga sudah memenuhi seluruh rongga telur kecuali rongga kantung udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala hari ke-20 kuning telur sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuh embrio. Embrio yanghampir menjadi anak ayam ini menembus selaput cairan, dan mulai bernafasmenggunakan udara di kantung udara. Saluran pernafasan mulai berfungsi danbekerja sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hari ke-21Anak ayam menembus lapisan kulit telur dan menetas. (UKP/YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-1827124808591154738?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/1827124808591154738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=1827124808591154738' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/1827124808591154738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/1827124808591154738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/21-hari-ayam-bertelur.html' title='21 HARI AYAM BERTELUR'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-2024922989224258622</id><published>2009-01-19T01:07:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:57:16.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="widget-item-control"&gt;&lt;span class="item-control blog-admin"&gt;&lt;a class="quickedit" href="http://www.blogger.com/rearrange?blogID=108272210623478992&amp;amp;widgetType=Label&amp;amp;widgetId=Label1&amp;amp;action=editWidget" onclick="'return" target="configLabel1" title="Edit"&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt;     &lt;br /&gt;&lt;div id="main-wrapper"&gt;&lt;div class="main section" id="main"&gt;&lt;div class="widget Blog" id="Blog1"&gt;&lt;div class="blog-posts hfeed"&gt;&lt;div class="post hentry"&gt;&lt;a href="" name="5227518320476096122"&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2008/08/strain-vaksin-genetik-reverse-untuk.html"&gt;Infovet Edisi 169 Agustus 2008&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Mengapa menggunakan teknologi genetik reverse untuk jenis bibit vaksin masa depan? ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara historis strain lapangan virus LPAI dengan sub tipe yang cocok HA ditumbuhkan pada telur ayam berembrio atau perusahaan yang memenuhi kaidah BSL2; memberikan proteksi yang luas terhadap tantangan virus LPAI dan HPAI; mempunyai potensi keamanan yang rendah untuk infeksi manusia dan konsekuensi yang rendah dengan pengaruh lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kekinian strain virus benih HPAI di antaranya strain Legok tahun 2003 dan strain Rusia tahun 2005; membutuhkan fasilitas penyimpanan biologik yang tinggi di mana resiko keamanan ditingkatkan dan kesalahan dapat dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genetik yang berubah dan kekayaan antigenik yang berbeda dari virus antara lain virus AI tipe H5 mengalami perubahan HA yang merupakan versi Eurasian dan variasi genetik didalam kelompok; virus H5N1 Eurasia/Afrika bukanlah sebuah virus tunggal tetapi masih satu garis dalam famili virus; sejak 1996 telah dibentuk secara genetik berdasar pada isolasi geografis dan infeksi spesies kedalam 10 garis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian disampaikan dalam pertemuan perkembangan dari Proyek OFFLU (OIE/FAO Animal Influenza Network) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan FAO/OIE belum lama ini di Jakarta oleh Frank Wong, Anna Axel, Pater Daniels dari AAHL, Geelong, Indi Dharmayanti dari Bbalitvet Bogor, Johannes Oritomo, Dr Andeena dari JAPFA Comfeed, Bhudipa Choudhury dari OOFLU dan Mia Kim dari FAO Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan subtipe proteksi HA dengan vaksin AI menunjukkan bahwa khususnya pada tahun 2006 vaksin virus AI yang inaktif digunakan pada ayam melawan HPAI subtype H5N1 bermanfaat untuk mencegah ayam sakit dan mencegah kematian; lalu menurunkan replikasi dan perluasan virus dari sistem pernapasan dan saluran usus. Sifat vaksin HPAI tipe H5N1 melawan virus yang sama ini merupakan satu keunikan yang dapat diidentifikasi secara lengkap resisten terhadap vaksin-vaksin dengan strain tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut memberi penekanan bahwa kebutuhan untuk mendapatkan strain varian yang dimodifikasi dan aplikasi untuk jenis strain masa depan. Jalan keluar dari berbagai permasalahan tersebut, dibutuhkan vaksin yang secara antigenik lebih baik dan cocok untuk hemaglutinin, secara periodik meningkatkan strain vaksin yang cocok dengan virus lapangan yang cukup mendominasi; diperlukan penggunaan teknologi yang lebih baru seperti genetik reverse untuk strain AI atau teknologi rekombinan untuk vaksin diperantarai virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksin AI genetik versi ulang tersebut menggunakan 8 atau 12 sistem plasmid untuk memproduksi virus dengan subtipe HA dan NA yang spesifik; menggunakan genetik internal yang mengijinkan pertumbuhan yang tinggi pada telur ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa depan konsep yang dibutuhkan untuk perijinan dan penggunaan vektor virus adalah virus cacar unggas rekombinan atau strain vaksin penyakit ND; kebutuhan yang dapat diletakkan ulang untuk virus AI yang genetik terkini HA nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan OIE tentang manual uji diagnostik dan vaksin untuk ternak menyatakan setiap subtype hanya virus AI yang karakterisasinya baik dari tingkat keganasan rendah dianjurkan dari pengujian internasional dan nasional dapat digunakan untuk benih utama yang stabil guna vaksin yang di inaktifkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan di atas disebabkan oleh karena beberapa alasan yaitu lebih aman untuk bekerja dengan lingkungan LPAI dan ketelitian kerja; manipulasi dari virus HPAI diijinkan hanya pada fasilitas yang ditemukan pemenuhan persyaratan lebih tinggi untuk penyimpanan dan keamanan contohnya divalidasi untuk agen infeksi secara lebih tinggi; umumnya virus LPAI adalah kurang ganas pada embrio sehingga pertumbuhannya lebih baik dan mengijinkan produksi titer tinggi dari virus aktif secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa isu yang berkembang antara lain apakah PT. Shigetta IPB merupakan pemilik paten eksklusif untuk H5N1 genetik reverse? Lalu, tentang lisensi untuk medimmune berupa royalti atau biaya per dosis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, vaksin genetik reverse mempunyai tingkat keamanan yang lebih tinggi, keampuhan atau kecocokan, lapangan produksi yang lebih tinggi dan peningkatan yang lebih mudah. Tetapi, soal royalti, paten, dan lisensi butuh untuk dipertimbangkan. (YR/Fj) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-2024922989224258622?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/2024922989224258622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=2024922989224258622' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2024922989224258622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2024922989224258622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/strain-vaksin-genetik-reverse-untuk.html' title='STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-2768196507250484585</id><published>2009-01-19T01:05:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:15:02.066-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>EFEKTIFKAN BIAYA VAKSINASI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2008/08/efektifkan-biaya-vaksinasi.html"&gt;Fokus Infovet Edisi 169 Agustus 2008&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EFEKTIFKAN BIAYA VAKSINASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Hasil sementara untuk Indonesia mengindikasi suatu biaya vaksinasi untuk unggas adalah antara 0,08 sampai 0,14 dolar Amerika tergantung pada sistem produksi. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ongkos vaksinasi dalam peternakan memerlukan kekuatan sumberdaya yang menggunakannya yang mana merupakan subyek sosio ekonomi peternakan itu sendiri. Efektivasi suatu biaya dari strategi vaksinasi yang dianjurkan memerlukan sebuah kombinasi dari ilmu penyebaran penyakit dan ilmu ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alokasi dari sumber daya menjadi lebih kritis jika sumber daya masyarakat untuk pengendalian HPAI dan pencegahan menurun. Analisa Efektivasi biaya dapat menuntun proses alokasi sumberdaya. Demikian disampaikan Jonathan Rushton seorang ahli ekonomi sosial dari FAO di Roma pada pertemuan perkembangan dari Proyek OFFLU (OIE/FAO Animal Influenza Network) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan FAO/OIE belum lama ini di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur dan hasil keluaran dari model biaya meliputi kertas kerja input data seperti: populasi unggas, target vaksinasi, dan sektor yang terpisah. Intinya biaya merupakan total biaya yang dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel, biaya per vaksinasi unggas dan perkiraan dari pembagian biaya antara sektor publik dan sektor privat. Hasil sementara untuk Indonesia mengindikasi suatu biaya vaksinasi untuk unggas adalah antara 0,08 sampai 0,14 dolar Amerika tergantung pada sistem produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur model dan hasil keluaran populasi unggas merupakan suatu hal yang dinamis dan berbeda antara setiap model populasi dalam kandang input data meliputi: ukuran kandang yang asli, angka kematian dan rata-rata yang diafkir, umur saat panen dan produksi telur, strategi vaksinasi, dan keampuhan vaksinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi yang dihasilkan meliputi: produksi unggas dan telur baik itu penjualan dan konsumsi rumah sendiri, ukuran kandang dengan penyesuaian pada musim, aplikasi dosis vaksin, dan jumlah unggas yang diproteksi perhari untuk seluruh kandang dan kategori umur unggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber data yang mungkin meliputi struktur dasar dari sektor unggas Indonesia diantaranya laporan terkini dari nilai yang dihasilkan, informasi pada sektor komersial dan kerja yang terprofilkan; sedangkan biaya vaksinasi meliputi proyek penelitian yang dijalankan, kerjasama Indonesia dan Belanda, dan sektor privat seperti Japfa Comfeed dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya langkah yang akan datang meliputi aksi yang lebih kuat melibatkan banyak pihak dengan penggunaan data sekunder, opini Ahli dan pembetulan model yang dihasilkan. (YR/Fj)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-2768196507250484585?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/2768196507250484585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=2768196507250484585' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2768196507250484585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2768196507250484585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/efektifkan-biaya-vaksinasi.html' title='EFEKTIFKAN BIAYA VAKSINASI'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-6095576484022449633</id><published>2009-01-19T01:03:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:09:05.197-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>Ketika Ditemukan Kasus Flu Burung pada Manusia Pertama di Bali</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/09/ketika-ditemukan-kasus-flu-burung-pada.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ditemukan Kasus Flu Burung pada Manusia Pertama di Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((Departemen Kesehatan mengkonfirmasi bahwa telah terjadi kasus flu burung pada manusia di Bali. Ini merupakan kasus pertama pada manusia yang terkonfirmasi di Bali. Kita pun kilas balik sejarah dan konsep ketahanan tubuh ayam. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Dusun Dangin Tukad Aya, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Ni Luh Putu Sri Widiantari, 29 tahun, yang positif terinfeksi virus H5N1 penyebab flu burung, meninggal dunia, Minggu (12/8), setelah dirawat di RS Sanglah. Kasus tersebut merupakan yang pertama di Bali. Demikian disampaikan Bayu Krisnamurthi, Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) kepada Infovet saat jumpa pers di Jakarta, Senin (13/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami memahami kebutuhan masyarakat baik dari dalam maupun luar negeri mengenai kasus suspek ini. Sebuah tim sudah berada dilapangan dimana para pakar dari FAO dan WHO sedang menyelidiki kasus ini,” jelas Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pantauan Infovet, hingga Selasa (14/8), empat anggota Tim Depkes dan seorang investigator Konsultan WHO mengambil sampel darah sembilan orang terdekat korban, seperti suami, nenek, kakek almarhumah. Sampel hendak diuji di laboratorium Depkes di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus itu disorot Depkes dan WHO karena penderita meninggal dan sebelumnya, Dian (5), yang merupakan anak korban, juga meninggal dunia. “Ini jadi pertanyaan, apakah anak korban juga terduga virus H5N1. Kami belum bisa menyimpulkan apakah virus ini mulai menular antarmanusia. Ini perlu penelitian lebih serius,” kata Kepala Sub- dinas Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Dinas Kesehatan Bali I Ketut Subrata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, Dian meninggal pada 3 Agustus, di saat yang sama, Widiantari menderita gejala sakit. Berdasarkan keterangan RSUD Negara, Dian meninggal akibat infeksi paru-paru. Sementara seorang anak perempuan berumur 2 tahun 9 bulan dari dusun yang sama juga sedang dibawah pengawasan. Sampel dari anak ini sudah dikirim ke Jakarta untuk diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga berita ini diturunkan, kasus penularan flu burung pada manusia di Indonesia telah menyerang 103 penderita, 82 di antaranya meninggal dunia. Angka kematian manusia akibat terinfeksi flu burung 79,6 persen. Kabupaten Jembrana sudah ditetapkan sebagai wilayah kejadian luar biasa flu burung. Ratusan unggas dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya keberadaan virus AI telah terdeteksi di area tersebut sejak bulan sebelumnya dan sejak 19 Juli 2007 telah dilakukan pemusnahan terbatas di daerah tersebut serta pemusnahan lanjutan telah mulai dilakukan sejak beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Kecewa pada Bupati Jembrana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditempat terpisah, Gubernur Bali Dewa Beratha mengaku kecewa terhadap Bupati Jembrana, dan menganggap kasus tersebut sebagai sebuah kecolongan. Oleh karena itu, Gubernur meminta Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan Bali dan Jembrana memantau aktivitas di sekitar rumah korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widiantari mulai menderita sakit pada 3 Agustus lalu dengan gejala panas, batuk berdahak, dan menggigil. Pada 6 Agustus, ia berobat ke petugas kesehatan, lalu ke dokter. Ia sempat dirawat di RSU Daerah Negara sebelum dirujuk ke RS Sanglah dengan diagnosis pneumonia berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderita dirawat di RS Sanglah pada 10 Agustus dengan panas 40 derajat Celsius. Tetangga Widiantari, PN (2 tahun 9 bulan) juga diduga terinfeksi H5N1 dan dirawat di RS Sanglah sejak Minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Beratha juga memerintahkan agar seluruh unggas yang berada pada radius satu kilometer dari rumah korban dimusnahkan dan seluruh warga diperiksa kesehatannya. Ini untuk memastikan tidak adanya penularan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, Bupati Jembrana Gede Winasa mengelak bahwa kasus flu burung tersebut sebuah kecolongan. “Kami tidak ingin menuduh atau menjadikan siapa pun kambing hitam. Kami prihatin dengan kasus ini,” katanya. Ia menegaskan, biaya untuk pemberantasan flu burung pasca kasus Widiantari tidak terbatas. Bupati juga menyantuni keluarga korban sebesar Rp 5 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sukabumi, Jawa Barat, Wakil Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Tri Satya Putri N mengimbau pemerintah agar tidak melihat kembali merebaknya flu burung pada unggas sebagai hal biasa. Hal itu dia sampaikan karena flu burung kembali menyerang unggas di peternakan-peternakan dan menyebabkan kematian massal. Tri Satya menilai, penanganan pemerintah masih lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Ironis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu juga menambahkan, petugas kesehatan dari dalam dan luar negeri juga memonitor lalu lintas semua jenis hewan dari dan ke daerah sekitar kasus dideteksi. Semua unggas dalam radius 1 kilometer dari lokasi disembelih dalam minggu ini. Bersama dengan UNICEF, kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di daerah sekitar juga segera dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya bersama tim ahli dari Komnas FBPI segera bertolak ke Bali untuk melihat langsung langkah-langkah yang dilakukan untuk mengendalikan penyebaran pada unggas. “Dengan kejadian ini wisatawan diminta untuk tidak panik, tetapi mereka juga harus mengetahui informasi yang ada. Kasus pada manusia di Jakarta telah bisa dikendalikan dan kontrol ketat juga sedang diberlakukan di Bali,” jelas Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Bayu juga memaparkan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko tertular virus flu burung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jangan sentuh unggas yang sakit atau mati. Jika telanjur, cepat-cepat cuci tangan pakai sabun dan laporkan ke kepala desa.&lt;br /&gt;2. Cuci pakai sabun tangan dan juga peralatan masak Anda sebelum makan atau memasak. Masak ayam dan telur ayam sampai matang.&lt;br /&gt;3. Pisahkan unggas dari manusia. Dan juga pisahkan unggas baru dari unggas lama selama 2 minggu.&lt;br /&gt;4. Periksakan ke puskesmas jika mengalami gejala flu dan demam setelah berdekatan dengan unggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pemandangan ironis adalah saat ini Bali telah ditetapkan sebagai wilayah dengan prioritas pertama dalam penanggulangan virus Avian Influenza oleh Departemen Pertanian. Sementara di saat yang sama terjadi kasus kematian akibat Flu Burung pertama di Pulau Dewata ini yang bisa jadi bisa memukul sektor pariwisata yang menjadi andalan devisa pendapatan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilas Balik ke Tahun 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flu Burung yang makan korban manusia di Bali belum lama ini tersebut secara teoritis memang bisa terjadi, bila sebelumnya sudah diketahui ada Avian Influenza ketika pada 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah pun pada 2004 sudah menyampaikan perkembangan wabah penyakit unggas menular (avian influenza) penyebarannya termasuk di Bali, meski pada saat itu hasil uji serologi dari Departemen Kesehatan terhadap peternak di Bali menunjukkan hasil reaksi negatif terhadap avian influenza/flu burung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat 2004 itu, Virus flu burung yang menjangkiti Indonesia termasuk Bali membuat semua pihak ekstra waspada. Sebab tak hanya unggas yang bisa kena virus ini. Manusia pun bisa kena. Hanya saja penularannya lewat unggas yang sudah terkena virus ini. Jembrana pun sempat dikagetkan dengan pemberitaan ribuan unggas mati karena flu burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tersiarnya kabar adanya virus flu burung sampai berita ribuan unggas di Jembrana mati pada 2004 itu, pemantauan terhadap peternak makin intensif. Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan melalui Bidang Peternakan turun ke lapangan. Data yang mereka temukan, tidak ada kematian ternak hingga ribuan ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang mati jumlahnya tak sampai ribuan. Peternakan yang sudah mereka sasar adalah Mitra Abadi Farm (20 ribu ayam petelur), Suwina, peternak di Sebual (3500 ayam petelur), Tantra peternak di Melaya (7000 ayam petelur) dan Adi Adnyana peternak di Negara (2000 ayam petelur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantisipasi lebih mewabahnya flu burung Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Jembrana mengeluarkan surat edaran no 524.3/140/Nak/PKL/2004 ini tentang wabah penyakit unggas. Surat edaran tersebut menekankan lima hal, yakni semua peternak unggas harus melaporkan tiap ada penyakit dan menutup lokasi peternakan yang sudah tertular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tidak memberdayakan unggas yang sakit dari peternakan yang sudah tertular, melakukan pemusnahan unggas yang sakit dan mati dengan cara dibakar atau ditanam, terakhir melakukan sanitasi (desinfeksi) terhadap unggas, kandang dan alat ternak lainnya dengan venol, Na/K, dan hipo klorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain surat edaran, para peternak juga dihimbau melakukan mencegahan di kandang masing-masing. Peternakan terbesar yang ada di Jembrana, Mitra Abadi Farm sampai melakukan isolasi kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hal ini kami lakukan agar mereka yang ke luar masuk diperhatikan dan mengurangi penyebaran virus. Kami pun akan membelikan masker untuk tujuh karyawan yang bertugas di kandang,'' papar I Ketut Sudiasa, pemiliki kandang yang terletak di banjar Kebon, kelurahan Baler Bale Agung, Negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2004 itu, Kabid Peternakan IGN Sandjaja menambahkan, isolasi kandang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran virus, seandainya kandang sudah terjangkit virus. ''Mereka yang masuk kandang wajib memakai masker dan melakukan cuci hama,'' tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dilakukan karena penyebaran virus melalui kontak alat dengan manusia, melalui angin dan makanan. Obat untuk virus ini belum ditemukan, yang ada adalah vaksin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gumboro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Januari 2004, Pihak Dinas Kesehatan Propinsi Bali bersama Dinas Kesehatan Jembrana dan Bid Peternakan pun sudah melakukan pemantauan di lokasi peternakan milik Sudiasa. Apa yang dilakukan ini untuk mengetahui apakah ada masyarakat sekitar lokasi kandang ayam terkena imbas virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat itu belum ditemukan adanya orang yang terkena virus flu burung di Jembrana. Komisi B DPRD Jembrana bersama Bid Peternakan direncanakan turun lagi ke lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kekhawatiran terjangkitnya flu burung juga menghantui para peternak. ''Saya yang tiap hari bergelut dengan ayam juga khawatir. Kalau ada pekerjaan lain saya mau kerja yang lain saja,'' ujar Ketut Winarsa, salah seorang pengelola peternakan ayam pedaging di Banjar Dangin Berawah, Perancak, Negara januari 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan kandang ayam yang dimiliki Putu Budiastra ini sedang kosong. Mereka baru saja panen dan belum tahu apakah akan melanjutkan usaha ini sehubungan dengan adanya virus flu burung. ''Melanjutkan atau tidak terserah bos saja. Kalau ternak ayam lagi, ya saya kerja kalau nggak ya nggak apa-apa,'' ujar Winarsa yang didampingi istrinya, Ni Wayan Sutarmi yang sampai 2004 sudah tiga tahun mengelola peternakan ayam milik Budiastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang adik Sudiasa pun mengakui ada kekhawatiran virus flu burung ini. Walaupun sudah disemprot desinfektan, rasa khawatir juga masih ada. Soal ayam-ayam yang mati, Sudiasa dan Winarsa mengakui ada yang mati, namun jumlahnya tidak sampai ribuan. ''Tiap hari paling-paling ada tiga ekor yang mati. Itu pun langsung kami bakar di dapur khusus,'' papar Sudiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Winarsa mengatakan dari 5000 ekor ayam pedaging, yang mati dalam waktu 36 hari itu sekitar 300-400 ekor. ''Matinya ayam itu tidak bersamaan, penyebabnya juga bukan virus flu burung tetapi gumboro,'' tandasnya. Soal kebersihan kandang pun dia akui sudah dilakukan dengan baik. Tiap dua hari kandang dibersihkan dan kotoran pun sudah ada yang memesan untuk dijadikan pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneguhan oleh FKH Universitas Udayana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2004 itu pun terjadi peneguhan tentang adanya kasus AI di Bali. Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana sudah mengisolasi virus Avian Influenza (AI) pada ayam kampung di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang ditemukan tim ahli FKH Unud tersebut terjadi pada ayam kampung milik seorang peternak di Desa Kerobokan, Kota Madya Denpasar yang pada tanggal 16 Juni 2004 yang menunjukkan gejala tidak mau makan dan minum, bulu kusam, lemah, pucat, inkoordinasi dan kepala menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tim dari FKH Unud itu adalah GNK Mahardika, M Sibang, M Suamba, KA Adnyana, NMS Dewi, KA Meidiyanti, dan YA Paulus. Pada kasus yang dilaporkan Jurnal Veteriner FKH Universitas Udayana itu, bedah bangkai ditemukan perdarahan titik atau menyebar di bawah kulit, trakhea dan paru-paru, proventrikulus dan seka tonsil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, suspensi material paru-paru, seka-tonsil, dan otak ayam contoh diinjeksikan pada ruang alantois telur ayam bertunas umur 10 hari. Sekitar 20 jam paska injeksi semua embryo telah mati dan mengalami perdarahan seluruh tubuh serta membrannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber yang sama menyatakan, aktivitas hemaglutinasi dapat dideteksi dari cairan alantois dengan uji haemaglutinasi (haemagglutination assay/ HA). Aktivitas tersebut dapat dihambat oleh antibodi standar terhadap AI tetapi tidak dapat oleh antibodi terhadap ND dengan menggunakan teknik hambatan hemaglutinasi (haemaglutination inhibition/HI) yang baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil tersebut menunjukkan bahwa agen yang terlibat adalah virus AI. Pengujian dari agen tersebut untuk dijadikan sebagai bibit untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, 3 (tiga) tahun setelah tahun 2004 itu, kini kita mendapati kenyataan berbeda dengan penyebaran virus Avian Influenza, menurut berita Komnas Pengendalian Flu Burung itu, telah menyerang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berbagai wacana tentang AI di Bali pun kembali bermunculan. Namun hendaknya semua tidak berhenti cuma sampai pada wacana semata. Menjadi tugas kita untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh virus yang penuh liku-liku ihwal penguasaan konsep tentang ketahanan tubuh ayam ini. (wan/YR/berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-6095576484022449633?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/6095576484022449633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=6095576484022449633' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/6095576484022449633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/6095576484022449633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/ketika-ditemukan-kasus-flu-burung-pada.html' title='Ketika Ditemukan Kasus Flu Burung pada Manusia Pertama di Bali'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-5126401727874814754</id><published>2009-01-19T01:00:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:59:06.173-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>Sekali Lagi: DIAGNOSA YANG TEPAT</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/09/sekali-lagi-diagnosa-yang-tepat.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali Lagi: DIAGNOSA YANG TEPAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber Infovet bersaksi, masalah kemunculan flu burung di mana-mana, secara diagnostik tidaklah lagi sama seperti gejala-gejala flu burung di awal kasus ini pada tahun 2003-2004. Maka, ketrampilan dan keahlian mendiagnosa dengan diagnosa perbandingan dengan penyakit lain sangatlah penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian terungkap pada diskusi Infovet, ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) dan UPPAI (Unit Pengendalian Penyakit Avian Influenza) di Ruang Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penyakit baru menjadi masalah buat peternak kalau menimbulkan kerugian ekonomi. Kalau tidak, bisa diatasi sendiri diam-diam tidak usah ribut," kata Dr Drh Lies Parede dari BBalitvet Bogor dan Drh Hernomoadi Huminto MS dari Laboratorium Patologi FKH IPB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah bila ada flok wabah ayam, menurut Dr Lies dan Drh Hernomoadi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Secara diagnosa harus dilihat bedah bangkai yang mengarahkan apakah organ yang dominan terserang.&lt;br /&gt;2) Ditambah dengan pemeriksaan histopatologi, kerusakan menunjukan agen primer penyebab.&lt;br /&gt;3) Ditambah serologi atau isolasi, mengarah pengobatan atau pencegahan.&lt;br /&gt;4) Pencegahan diarahkan untuk ayam periode (siklus) berikut: misalnya biosekuriti, program vaksinasi, monitoring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gumboro dan ND&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Gumboro kadang dapat disamarkan oleh ND, namun menurut Drh Brigitta Etik W Technical Service PT Medion, pada kejadian ND yang berlanjut terjadi diare putih kehijauan dan adanya gejala syaraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AI dan ND&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut narasumber Infovet dalam diskusi dengan UPPAI tersebut, kalau dulu tortikolis selalu identik dengan ND, sekarang Avian Influenza pun bisa mempunyai gejala ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menurut ahli penyakit viral dan patolog Dr Lies Parede dan Drh Hernomoadi MS, gejala ND berbeda dengan AI menurut kacamata patolog maupun virolog. Tortikolis milik ND ganas, Pial biru ungu milik AI ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, "Kalau infeksi campuran: ikuti langkah-langkah tadi," saran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AI dan Gumboro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali menurut narasumber Infovet dalam diskusi dengan UPPAI, bila ada penyakit gumboro yang menyerang, kasus Avian Influenza pun lebih berbahaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Drh Rahaju Ernawati dari Laboratorium Virologi FKH Unair Surabaya mengungkap bahwa Gumboro menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar karena angka morbiditas mendekati 100% dan angka mortalitas 20 - 30%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penyakit IBD pada dasa warga terakhir menular hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 1991 penyakit mewabah hampir melumpuhkan seluruh peternakan ayam di Indonesia," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah diagnosa yang sangat terkait dengan pengetahuan kondisi tubuh ayam yang kekebalannya bisa turun ini tentu saja sangat perlu dipahami. Penyakit infeksius bursal (IBD) atau penyakit Gumboro merupakan penyakit viral akut pada ayam yang menyerang organ sistem kekebalan terutama bursa fabrisius sehingga bersifat imunosupresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendiagnosa penyakit Gumboro, Drh Brigitta Etik W Technical Service PT Medion menjelaskan dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih tinggi akurasinya, di antaranya adalah pendekatan epidemiologis, klinis patologis, isolasi dan identifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara epidemiologis, penyakit ini susah dibedakan dengan jenis penyakit viral lainnya, karena penampakan dari penyakit ini hampir sama yakni kecenderungan mewabah dan menyerang berbagai jenis ayam terutama ayam dari golongan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membantu peneguhannya, alumni FKH UGM 1986 ini menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan gejala klinis, sehingga diagnosa penyakit dapat diarahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ditambahkan Etik, untuk tindakan isolasi dapat dilakukan secara in vitro dan in vivo dengan menggunakan media biakan sel dan biakan pada telur ayam yang berembrio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, untuk identifikasi virus Gumboro dapat dilakukan dengan berbagai uji dengan menggunakan mikroskop elektron (EM), diantara uji tersebut adalah Agar Gel Precipitation (AGP), Flourescence Antibody Technique (FAT), Immunopetoxidase, ELISA dan banyak lagi uji lainnya yang dapat membantu peneguhan kasus Gumboro dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih jelas dalam ingatan kejadian tahun 2006, sedikitnya 500 ekor ayam mati secara mendadak di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Kematian unggas di lokasi peternakan rakyat itu, diduga terkena penyakit gumboro atau flu burung. Akibatnya, puluhan peternak menjadi panik dalam dua hari terakhir, karena sebelumnya ayam mereka masih sehat, namun tiba-tiba mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ayam yang mati itu terpaksa dikuburkan massal dalam satu lubang sementara yang masih sehat, ada yang segera disembelih,” ungkap salah seorang warga Bontomarannu Rusli Kadir kepada wartawan, Juni 2006 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, ayam yang mati tersebut umumnya ayam bukan ras (buras) alias ayam kampung. Karena itu, banyak peternak meyakini kalau ayamnya itu mati bukan karena flu burung, melainkan hanya penyakit unggas biasa yang menyerang ayamnya pada saat memasuki musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan hal tersebut, lanjut Rusli, pihaknya bersama Dinas Peternakan setempat sudah mengirim sampel ayam yang mati ke laboratorium peternakan yang ada di Kabupaten Maros dan ternyata hasilnya memang Gumboro, bukan Flu Burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami sangat khawatir jangan sampai flu burung menyerang unggas di Bontomarannu. Tetapi bila diperhatikan gejalanya, kelihatannya sama dengan peristiwa di Bontonompo beberapa waktu lalu dan hasil laboratoriumnya ternyata positif penyakit gumboro,’’ ujar alumnus Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa yang Tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diagnosa yang tepat maka terbuktikan penyakit apa yang menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman serupa juga dialami Dinas Peternakan Kabupaten Blitar mengindikasikan, puluhan ayam yang mati mendadak di Kelurahan Dandong Srengat pada 2006, akibat serangan penyakit gangguan pernafasan pada unggas yang hampir mirip Flu Burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu diungkapkan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Blitar, Drh. Hermanto Zubaidi, MM, puluhan ayam yang mati mendadak di Kelurahan Dandong Srengat, sementara diindikasikan akibat serangan penyakit gangguan pernafasan pada unggas antara lain Snot atau Coriza, Infectious Laryngo Tracheitis, dan Chronic Respiratory Disease (CRD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri yang ditunjukan serupa dengan tanda-tanda yang muncul pada Flu Burung, yakni kepala membiru dan bengkak atau disebut Sianosis. Dugaan ini muncul setelah Dinas Peternakan beberapa kali melakukan uji laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil sample darah ayam yang diduga terjangkit Flu Burung, tidak menunjukkan adanya titer antibodi. Dengan gamblang Hermanto menjelaskan, ketika unggas terinfeksi Avian Influensa secara alami dalam darahnya akan membentuk antibodi (kekebalan tubuh), jika antibodi tidak ditemukan maka unggas tidak terinfeksi Flu Burung. (YR, Daman Suska, berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-5126401727874814754?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/5126401727874814754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=5126401727874814754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5126401727874814754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5126401727874814754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/sekali-lagi-diagnosa-yang-tepat.html' title='Sekali Lagi: DIAGNOSA YANG TEPAT'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-2618773654518724604</id><published>2009-01-19T00:54:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:58:39.558-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>VAKSINASI, REAKSINYA DAN NUKLIR Untuk Ketahanan Tubuh Ternak</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/09/vaksinasi-reaksinya-dan-nuklir-untuk.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VAKSINASI, REAKSINYA DAN NUKLIR Untuk Ketahanan Tubuh Ternak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lazim dikenal masyarakat peternakan, agar ayam memiliki daya kebal sehingga terlindung dari serangan penyakit telah dilakukan usaha untuk mengatasi masalah penyakit dengan melakukan vaksinasi pada ayam, baik menggunakan vaksin aktif atau inaktif (killed).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses vaksinasi adalah dengan memasukkan agen penyakit yang telah dilemahkan dengan tujuan untuk merangsang pembentukan daya tahan atau kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit tertentu dan aman untuk tidak menimbulkan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian Gatut Wahyudi selaku Technical Service CP. Prima, Semarang dalam terbitan oleh Divisi Agro Feed Business Charoen Pokphand guna pelayanan oleh Customer Technical &amp;amp; Development Departement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Reaksi Post Vaksinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Reaksi yang merugikan terkadang kita jumpai sebagai akibat dari pembentukan respon kekebalan pada tubuh ayam. Reaksi yang ditimbulkan dapat berupa reaksi lokal maupun umum,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, reaksi lokal adalah seperti mata berair, bengkak pada daerah muka, ayam menggosokkan mata pada punggungnya, menggoyang-goyangkan kepalanya atau terjadinya kerusakan jaringan pada daerah bekasinjeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, gejala umum biasanya terjadi demam dan penurunan produksi. Pemberian vaksin ” killed bacterial” dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada bekas injeksi sebagai akibat dari reaksi adjuvant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatut Wahyudi menjelaskan, pembengkakan pada daerah periorbital sering kita jumpai sebagai akibat pemberian killed vaksin coryza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Encephalitis dan encephalopathy sering kita jumpai sebagai akibat dari reaksi setelah pemberian vaksin ND (R2B) dengan menunjukkan tanda-tanda yang khas seperti torticollis, tremors dan paralysis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Reaksi post-vaksin ini dapat terlihat pada hari kedua sampai enam hari setelah pemberian vaksin aktif seperti ND, IB atau IBD,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, lanjutnya, reaksi post-vaksin yang paling utama adalah munculnya penyakit gangguan pernafasan ringan dengan gejala batuk, bersin dan ngorok yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: Reaksi vaksin yang terlalu kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, adanya “rolling reaction” sebagai akibat dari pelaksanaan dan waktu vaksinasi yang kurang tepat, telah terjadi infeksi pada ayam yang tidak memiliki kekebalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Reaksi ini berjalan sangat lambat dan terus-menerus,” tegas Gatut Wahyudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun melanjutkan, vaksin aktif seperti ND dan IB akan menimbulkan kekebalan setelah terjadinya reaksi pada sistim pernafasan. Tanpa timbulnya reaksi pernafasan tersebut kekebalan tidak akan terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya seberapa parah reaksi pernafasan terjadi setelah pelaksanaan vaksinasi tergantung pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Level zat kebal induk. DOC dengan kekebalan induk rendah reaksi post-vaksin akan semakin jelas, tetapi akan memberikan reaksi yang positip untuk membentuk kekebalan aktif.&lt;br /&gt;- Strain vaksin. Semakin kuat strain vaksin yang digunakan, reaksi yang ditimbulkan semakin kuat.&lt;br /&gt;- Umur. Pada umumnya ayam muda akan memberikan reaksi yang lebih kuat.&lt;br /&gt;- Dosis vaksin. Pemberian dosis yang tinggi reaksi semakin jelas.&lt;br /&gt;- Aplikasi vaksin. Vaksin lewat air minum dan tetes mata reaksi yang ditimbulkan lebih lemah dibandingkan cara spray.&lt;br /&gt;- Terjadinya infeksi E coli dan Mycoplasma gallisepticum.&lt;br /&gt;- Kelembaban udara yang terlalu rendah.&lt;br /&gt;- Adanya faktor immunosupresi. Faktor stres akan memberikan reaksi yang lebih hebat.&lt;br /&gt;- Level immune yang rendah sebagai akibat jarak vaksin aktif yang terlalu jauh.&lt;br /&gt;- Pelaksanaan vaksin yang ceroboh, sehingga ada beberapa ayam yang tidak tervaksin.&lt;br /&gt;- Pelaksanaan vaksin aktif pada flok dengan banyak umur.&lt;br /&gt;- Level amonia dan debu yangtinggi.&lt;br /&gt;- Populasi kandang terlalu padat&lt;br /&gt;- Kualitas liiter yang jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatut wahyudi pun menuturkan berdasar penelitian yang dilakukan oleh Dr Avinsh Dhawale dari Diamond Hatcheries India, untuk mencari hubungan antara reaksi post-vaksin terhadap produksi ayam breeder, dapat disimpulkan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perlunya mengetahui lebih dahulu level antibodi sebelum melakukan revaksinasi&lt;br /&gt;- Vaksin aktif dan inaktif hendaknya diberikan secara terpisah&lt;br /&gt;- Perlunya pemberian antibiotik jika terjadi infeksi mycoplasma&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan faktor apa saja yang dapat menimbulkan reaksi post-vaksinasi, kerugian yang ditimbulkannya dapat dikurangi serendah mungkin.&lt;br /&gt;Gatut Wahyudi pun memberi tips beberapa tindakan untuk mengurangi reaksi post-vaksin, yaitu:&lt;br /&gt;- Lakukan sterilisasi pada alat injeksi&lt;br /&gt;- Jangan melakukan vaksin pada ayam yang menunjukkan gejala klinis,lemah atau dalam kondisi stres.&lt;br /&gt;- Gunakan vaksin yang berkualitas baik&lt;br /&gt;- Pilih DOC yang berkualitas baik.&lt;br /&gt;- Kontrol populasi mycoplasma dengan menggunakan program dan preparat antibiotik.&lt;br /&gt;- Lakukan penyimpanan vaksin secara benar&lt;br /&gt;- Hindari kontaminsai oleh agen penyakit lainnya&lt;br /&gt;- Perhatikan tanggal kadaluarsa vaksin dan diluentnya.&lt;br /&gt;- Gunakan vaksin IBD strain hot hanya pada daerah yang rawan outbreakIBD.&lt;br /&gt;- Pilih strain vaksin yang tepat (mild vaksin).&lt;br /&gt;- Perhatikan petunjuk pelaksanaan yang ada pada setiap kemasan&lt;br /&gt;- Lakukan program biosecurity&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuklir untuk Ketahanan Tubuh Ternak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurut Irawan Sugoro selaku Pusat Penelitian dan Pengembangan Isotop dan Radioisotop (P3TIR Badan Tenaga Nuklir Nasional) pada sebuah sumber informasi P3TIR BATAN, definisi vaksin adalah suatu suspensi mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit tetapi telah dimodifikasi dengan cara mematikan atau menatenuasi sehingga tidak akan menimbulkan penyakit dan dapat merangsang pembentukan kekebalan/antibodi bila diinokulasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan vaksinasi ini, Irawan Sugoro mengungkapkan, BATAN sudah melakukan pemanfaatan teknik nuklir radiasi yang dilakukan di bidang peternakan terutama di sub bidang kesehatan ternak, yaitu untuk melemahkan patogenisitas penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus dan cacing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Litbang pemanfaatan radiasi telah menghasilkan radiovaksin, reagen diagnostik, dan pengawetan,“ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, radiovaksin adalah teknik pembuatan vaksin dengan cara iradiasi. Pembuatan radiovaksin memiliki keunggulan dibandingkan dengan cara konvensional, yaitu mempercepat proses pembuatan vaksin dengan memperpendek waktu pasasel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Selain itu, radiovaksin yang diproduksi memiliki kualitas yang sama dengan vaksin buatan secara konvensional,“ tambah Irawan Sugoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, sumber radiasi yang digunakan untuk pembuatan radiovaksin adalah sinar gama yang digunakan untuk menurunkan infektivitas, virulensi, dan patogenitas agen penyakit, tetapi diharapkan mampu merangsang timbulnya kekebalan pada tubuh terhadap infeksi penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hasil penelitian yang telah menjadi produk adalah vaksin koksivet untuk penyakit Coccidiosis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh protozoa Emeria Sp pada usus yang mengakibatkan berak darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ookista generasi 1 diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis optimum 125 Gy dan diinokulasikan ke ayam sehingga diperoleh ookista generasi II yang lemah sifat infektivitas dan patogenitasnya. Selanjutnya, ookista dari generasi II tersebutlah yang dijadikan vaksin. Vaksin ini diinokulasikan ke ayam berumur 7-10 hari sehingga ayam memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada ternak besar, penelitian yang dilakukan saat ini adalah upaya pengembangan vaksin terhadap penyakit ternak, seperti brucellosis dan mastitis. Selain penelitian radiovaksin penyakit ternak yang berasal dari mikroorganisme, dilakukan pula penelitian radiovaksin penyakit ternak yang berasal dari cacing, seperti Coccidiosis, Fasciolosis, dan Haemonchosis. (Infovet/ berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-2618773654518724604?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/2618773654518724604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=2618773654518724604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2618773654518724604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2618773654518724604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/vaksinasi-reaksinya-dan-nuklir-untuk.html' title='VAKSINASI, REAKSINYA DAN NUKLIR Untuk Ketahanan Tubuh Ternak'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-4783731642744727150</id><published>2009-01-19T00:52:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:54:41.251-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>SECUIL IHWAL GEN UNTUK KETAHANAN TERNAK BEBAS AI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/09/secuil-ihwal-gen-untuk-ketahanan-ternak.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SECUIL IHWAL GEN UNTUK KETAHANAN TERNAK BEBAS AI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sumber di Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tentang budidaya peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dituturkan, ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber di Menegristek itu, persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul. Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam. Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya. Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung. Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan inilah menandakan maraknya peternakan ayam petelur. Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya kemampuan genetis (gen)-nya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika,“ tegas sumber Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tentang budidaya peternakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genetis Tahan AI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Cahyo Budiman SPt, Peneliti dan Dosen di Fakultas Peternakan IPB Bogor Jawa Barat, sejatinya karakteristik suatu individu tidak lepas dari pengaruh gen, sang pengendali sifat yang selalu diturunkan dari tetua ke anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seperti halnya teori probabilitas dalam statistika, maka sejatinya setiap individu punya dua pilihan untuk memiliki suatu karakteristik tertentu : Ya dan tidak,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kekebalan terhadap penyakit, maka ada dua pilihan bagi sang individu, yaitu: dia kebal terhadap penyakit tersebut (peluang pertama) atau tidak kebal (peluang kedua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber yang dapat dipercaya, Cahyo Budiman mengatakan, ”Karakteristik ini (sekali lagi) dikendalikan oleh gen dalam tubuh individu tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menyoroti, dalam kasus penyakit flu, ada fenomena menarik dari serangkaian penelitian terdahulu mengenai karakteristik individu terhadap penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, penelitian menunjukkan bahwa kekebalan terhadap penyakit influenza dikendalikan oleh suatu gen yang disebut dengan gen Mx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pertama kali fenomena ini saya dengar ketika mengikuti seminar Prof. Yoshizae Meada, seorang guru besar dari Kagoshima University, Jepang. Beliau intens meneliti mengenai karakteristik genetik pada berbagai ayam lokal di wilayah Asia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diuraikan, gen ini akan mengkode dua kemungkinan karakter ayam (kebal dan tidak kebal) melalui dua alelnya, yakni Mx+ dan Mx-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Mx+ akan menyebabkan sang individu mampu meproduksi protein Mx. Protein ini pada tahap selanjutnya berperan dalam pemblokiran replikasi virus AI dalam nukleus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, katanya, sang virus akan ‘mandul’ alias tidak mampu berkembang biak. Sebaliknya, keberadaan alel Mx- akan tidak akan mampu memproduksi protein Mx, sehingga virus AI dalam sel akan tetap berkembang biak dan melakukan aktivitas yang merusak sistem tubuh sang ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Inilah yang menjadi penyebab ambruknya ribuan ayam akibat penyakit AI,” kata Cahyo Budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menuturkan, meski di awal keberadaan gen Mx ini dideteksi pada mencit, akan tetapi penelitian-penelitian berikutnya menunjukkan bahwa hampir semua organisme memiliki gen tersebut, termasuk yeast. Tentu saja dengan frekuensi gen yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelompok unggas, gen ini pertama kali ditemukan di kelompok itik. Dimungkinkan karena frekuensinya yang tinggi, maka tidak heran banyak sekali itik yang tahan terhadap serangan virus AI ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian selanjutnya, gen ini juga ditemukan pada kelompok ayam. Hasil penelitian Prof. Maeda di berbagai negara Asia menguatkan hal tersebut. Dan ini merupakan titik cerah bagi mimpi kita untuk menciptakan ayam ‘kebal’ tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, keberadaan gen Mx dalam ayam dimungkinkan dalam dua kondisi, yakni dengan alel Mx+ dan Mx-. Kehadiran Mx- akan menyebabkan ayam rentan terhadap serangan virus AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Mx+ akan membuat ayam resisten terhadap penyakit tersebut. Dari sini, maka strategi pengembangan ayam yang kebal terhadap flu burung bisa dilakukan dengan menseleksi ayam yang memiliki Mx+.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dengan mengembangkan bibit ayam dalam kondisi Mx+ homozigot baik jantan maupun betina, maka dipastikan keturunannya pun akan berada dalam kondisi yang sama. Disinilah generasi ayam kampung kita yang kebal terhadap penyakit flu burung mulai terbentuk,” tutur Cahyo Budiman. (Infovet/ berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-4783731642744727150?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/4783731642744727150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=4783731642744727150' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4783731642744727150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4783731642744727150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/secuil-ihwal-gen-untuk-ketahanan-ternak.html' title='SECUIL IHWAL GEN UNTUK KETAHANAN TERNAK BEBAS AI'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3037734980533964639</id><published>2009-01-19T00:46:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:11:21.834-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>AI di DKI JAKARTA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/09/ai-di-dki-jakarta.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AI di DKI JAKARTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provinsi DKI Jakarta yang merupakan barometer dan sebagai daerah contoh dalam penanggulangan Al telah melakukan tindakan-tindakan pencegahan yang lebih awal sehingga hal ini telah diikuti oleh propinsi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejauh mana Peraturan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 15 Tahun 2007 sudah dilaksanakan, dan apa kendala-kendala yang ditemui dalam pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan AI di lapangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Peternakan, Perikanan &amp;amp; Kelautan Provinsi DKI Jakarta Drh Edy Setiarto MS menyampaikan bahwa kendala-kendala pelaksanaan Peraturan Gubernur adalah Relatif tidak ada halangan karena sebagian besar masyarakat sadar bahwa PERGUB tersebut adalah untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, katanya, dari aspek pelaku usaha TPA dan TpnA muncul kerisauan-kerisauan&lt;br /&gt;diantaranya tentang kelangsungan usaha dan tenaga kerja. “Untuk pemotongan yang ada di pasar tradisional dan ataupun pemotongan di pemukiman akan ditata lagi secara bertahap,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang didapat Infovet dari sumber di Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian itu mengungkap bahwa PERGUB tersebut pada tanggal 19 April 2007 telah ditetapkan oleh DPRD Propinsi DKIJakarta sebagai PERDA No. 4 tahun 2007 tentang Pengendalian Pemeliharaan dan Peredaran Unggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Drh Edy Setiarto, rencana telah dituangkan dalam Rancangan (disempurnakan) Peraturan Daerah (PERDA) yang mengamanatkan bahwa semua tempat-tempat penampungan (TPnA) dan pemotongan unggas pangan (TPA) akan direlokasi ke lokasi yang ditetapkan oleh Gubernur secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 3 tahun.&lt;br /&gt;Rencana lokasi untuk relokasi TPA dan TPnA ada beberapa, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). TPA Rawa Kepiting, lokasi di Jalan Rawa Kepiting - Kawasan Industri-Pulo Gadung dengan luas keseluruhan 2 ha, termasuk kawasan peruntukan fasilitas khusus (fasus) dan fasilitas umum (fasum) serta sudah dibangun kandang penampungan dan pemotongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). RPA Cakung, lokasi di Jalan Penggilingan Cakung Jakarta Timur, dengan luas untuk TPnA 1 ha, dan untukTPAseluas1.600m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). RPA Pulo Gadung, lokasi Jalan Palad Kawasan RPH - Pulo Gadung Jakarta dengan luas keseluruhan 1,5 ha, khusus untuk penampungan Et pemotongan ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). TPA PT. Kartika Eka Darma, lokasi di Jalan Swadarma No. 69 Kelurahan Srengseng Kec. Kembangan Jakarta Barat dengan luasTPA 1,2 ha. RPA ini milik masyarakat yang kita coba kembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) TPnA Kelompok Arela, lokasi di Jalan Penghulu Rt 012/01 No. 99A Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dengan luas lahan keseluruhan 1 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, katanya, “Pemerintah tidak membatasi hanya pada lima lokasi tersebut diatas. Kepada masyarakat yang ingin membangun RPA dan TPnA dapat mengajukan izin pembangunan sesuai dengan peraturan Pemerintah yang berlaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan yang akan diberlakukan untuk 6 (enam) bulan ke depan adalah pemerintah DKI akan menutup pemotongan dan penampungan yang ada di Jakarta Pusat sebanyak 17 penampungan dengan batas waktu sampai dengan pertengahan bulan Oktober. Demikian diungkap Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia dalam Media Budidaya Ternak Non Ruminansia Unggas dan Aneka Ternak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tanggal 15 Oktober tidak diperbolehkan lagi pemotongan dan penampungan terutama di daerah padat penduduk atau yang ada kasus positif AI atau kemudian ada kasus AI pada manusia atau ada komplain/pengaduan dari masyarakat. Sejalan dengan keadaan ini maka merupakan suatu moment yang sangat penting untuk membenahi penataan perunggasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya isu Avian Influenza, sebagian besar peternak unggas dan industri perunggasan di DKI Jakarta mengalami kerugian yang cukup besar, bahkan ada yang sampai gulung tikar. Maka keluar Peraturan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 15 Tahun 2007 Tentang Pengendalian Pemeliharaan dan Peredaran Unggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada prinsipnya pengaturan pengendalian pemeliharan dan peredaran unggas yang dilakukan di DKI Jakarta adalah untuk mencegah semakin berkembangnya dan memutus mata rantai penyebaran penyakit flu burung,” kata Edy Setiarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keadaan peternakan di perkotaan sudah tidak layak lagi di pemukiman dan tidak sesuai dengan standar ibukota, di mana masyarakat hidup tidak berdampingan dengan unggas. Penataan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang sehat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relokasi juga dilakukan untuk menjaga jarak antara peternakan unggas dengan orang yang tidak berkepentingan dengan unggas. Namun demikian pemeliharan di pemukiman tidak dilarang sepanjang dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu dengan jarak 25 m dari pemukiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diungkap Edy, Pengaturan PERDA ada dua pendekatan yaitu unggas pangan adalah untuk dikonsumsi seperti ayam, itik, entok, angsa, merpati potong, dan burung puyuh, diatur dengan peraturan perizinan. Kemudian unggas non pangan seperti unggas kesayangan adalah ayam kate, ayam pelung, ayam bangkok, ayam bekisar, ayam cemani, merpati pos, merpati balap, burung berkicau dan burung hias lainnya, diatur dengan sertifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia uraikan, pengaturan untuk unggas pangan ada dua yaitu kegiatan budidaya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu berjarak 25 m dari pemukiman sedang untuk pemotongan sesuai dengan relokasi yang sudah ditetapkan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, sertifikasi hanya berlaku selama 6 bulan dan untuk selanjutnya harus diperbaharui. Sertifikasi diberikan kepada pemilik unggas kesayangan apabila pemiliknya memenuhi persyaratan antara lain setiap unggas kesayangan dikandangkan, kandang dibersihkan setiaphari, dan kandang didesinfeksi setiap 3 (tiga) hari lalu vaksinasi. Juga disarankan agar diberi pakan yang baik dan vitamin secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi kerugian peternak adalah bahwa jauh-jauh hari kita sudah melakukan kampanye memakan ayam (mengkonsumsi daging ayam secara baik). Dengan adanya upaya-upaya tersebut jadi hampir tidak ada penurunan permintaan konsumen akan daging ayam,” kata Edy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, katanya, relokasi pasar unggas kesayangan akan diatur kemudian karena harus dipikirkan kendala kesulitan pemasaran. Saat ini yang dilakukan adalah penekanan pada persyaratan sanitasi (biosecurity). Gubernur juga akan segera menetapkan tentang persyaratan teknis penataan unggas kesayangan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, khusus untuk unggas kesayangan adalah dengan pendekatan pemberian sertifikat kepada pemilik unggas kesayangan, dan apabila petugas datang untuk memproses sertifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Drh Edy Setiarto, sebenarnya sudah banyak aturan dori tahun-tahun sebelumnya yang Man ditetapkan tetapi masih lemah dalam penegakan hukumnya dan dalam pemeriksaan ternyata tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku maka hewan kesayangan tersebut ditiadakan tanpa kompensasi. Sedang untuk masyarakat yang tidak memenuhi persyaratan peraturan yang berlaku dalam budidaya ayamnya harus ditiadakan/dipotong dan atau dapat dikonsumsi dengan cara pengolahan yang benar dan kandangnya dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam jangka panjang PEMDA perlu mengupayakan adanya standar hygiene untuk pemotongan hewan kemudian perlu persyaratan lokasi yang cukup luas untuk mempertahankan hygiene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk ke depan tuntutan masyarakat terhadap hygiene sudah semakin tinggi. Masyarakat perunggasan didorong bisa menyesuaikan tuntutan masyarakat tersebut diantaranya ikut berperan dalam kegiatan penataan perunggasan yang dilakukan 6- Riwayal Pekerjaan : PEMDA,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk masyarakat umum, secara tidak langsung konsumen dapat mengajari produsen dengan membeli ayam yang baik pada kios yang disediakan dan mempunyai label halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masyarakat harus terus waspada, jangan membeli sembarangan seperti membeli ayam dengan harga murah, karena harga ayam sudah standar dan selalu dilakukan pengawasan,” tegas Drh Edy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurutnya, untuk mendorong timbulnya industri yang menghasilkan peralatan pendingin (kendaraan, tempat penyimpanan, tempat pajangan dll) yang sangat diperlukan dalam perubahan sistim tataniaga yang diinginkan dan kegiatan itu sepenuhnya dilakukan oleh pelaku usaha. (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3037734980533964639?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3037734980533964639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3037734980533964639' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3037734980533964639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3037734980533964639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/ai-di-dki-jakarta.html' title='AI di DKI JAKARTA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-7445120823996324598</id><published>2009-01-19T00:42:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:12:09.490-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>SELEKSI BENIH VIRUS AI UNTUK VAKSINASI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://virology.cornell.edu/images/Schat-avian-flu.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://virology.cornell.edu/images/Schat-avian-flu.jpg" style="float: right; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Infovet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELEKSI BENIH VIRUS AI UNTUK VAKSINASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asalah lain dalam strategi vaksinasi adalah penentuan seed virus yang digunakan sebagai bibit vaksin yang baku. Virus influenza merupakan virus yang secara antigenik sangat labil sehingga penentuan seed vaksin menjadi masalah yang pelik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus Avian Influenza yang sangat palogen (highly pathogenic avian influenza virus/HPAI) subtipe H5N1, telah menyebabkan sampar ayam pada unggas di berbagai neqara di Asis seperfi Vietnam, Thailand, Cina, Jepang, Korea Selatan, Kamboja, Laos, dan Indonesia sejak akhir 2003 sampai sekarang (WHO 2005). Ratusan juta ayam dan itik telah dimusnahkan untuk menghentikan laju penyebarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping menyebabkan kerugian ekonomi yang besar dan ancaman pada ketahanan pangan, virus HPAI ini juga telah terbukti dapat melompati barier spesies unggas-manusia dan dapat menjadi ancaman pandemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, pencegahan infeksi pada unggas sangat penting. Strategi yang umum dilakukan untuk pengendalian Al pada unggas adalah pemusnahan unggas yang tertular dalam radius tertentu (stamping out/preemptive culling), biosekuriti, dan vaksinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai sediaan vaksin Al untuk unggas telah banyak dicoba. Akan tetapi sediaan yang umum untuk penggunaan komersial adalah vaksin virus inaktif dalam adjuvant minyak. Vaksin jenis ini telah terbukti dapat melindungi unggas dari gejala klinis dan kematian, tetapi tidak menekan eksresi virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ini menimbulkan keraguan tentang daya-guna vaksinasi dalam mencegah penyebaran antar hewan. Penuiaran yang tak kasat mata ini meningkatkan risiko wabah baru dan membawa ancaman pada kesehatan masyarakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi masalah tersebut diusulkan untuk menerapkan strategi vaksinasi dengan sentinel dan teknologi DIVA yang membedakan antibodi akibal vaksinasi dengan infeksi alam. Mengingat masalah dalam aplikasi strategi diatas, jalan keluar terbaik adalah pengembangan vaksin yang mencegah transmisi virus dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksin yang mendekati kondisi ideal tersebut telah dikembangkan untuk virus AI subtipe H7N7. Vaksin untuk subtipe H5N1 yang mempunyai potensi menekan ekskresi virus secara sempurna belum pernah dilaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lain dalam strategi vaksinasi adalah penentuan seed virus yang digunakan sebagai bibit vaksin yang baku. Virus influenza merupakan virus yang secara antigenik sangat labil sehingga penentuan seed vaksin menjadi masalah yang pelik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan virus Al dan dampaknya pada penentuan seed vaksin diulas G Ngurah Mahardika dari Laboratorium Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dan Wayan I Wibawan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor kepada Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia dalam Media Unggas dan Aneka Ternak baru-baru ini. Atas ijin khusus Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Drh Djajadi Gunawan MPH kepada Infovet pembaca dapat menikmati untuk sebuah pencerahan bersama sekaligus untuk dikritisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencegahan, Pengendalian, dan Eradikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit AI termasuk penyakit yang harus dimonitor dan dilaporkan. Kata kunci untuk tindakan pemusnahan (eradikasi) adalah diagnosis akurat dan segera. Kunci yang kedua untuk keberhasilan pencegahan, pengendalian, dan eradikasi adalah pengendalian harus dilakukan serentak dan seragam. Tanpa hal seperti ini, banyaknya hewan dan burung liar akan membuat Virus AI ganas lestari dan endemik di suatu wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemusnahan unggas yang tertular dan yang kontak dengannya dalam radius tertentu merupakan strategi yang paling efektif. Strategi ini meliputi penentuan zona karantina, pembatasan lalu lintas unggas dan produk-produknya serta manusia, repopulasi peternakan setelah tindakan pembersihan dan daerah yang bersangkutan memang bebas Virus AI HPAI.&lt;br /&gt;Gelombang wabah H5N1 antara Juli sampai September 2004, diperkirakan terjadi karena pembersihan yang tidak memadai, pengujian yang tidak mencukupi, dan repopulasi yang terlalu dini. Jika wabah tidak meluas, dan virus belum endemik pada ternak unggas dan burung liar, strategi ini dapat berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi ini telah terbukti berhasil di berbagai negara, seperti Amerika Serikat pada wabah H5N2 di Pennsylvania tahun 1980-an dan Jepang untuk H5N1 pada awal 2004.&lt;br /&gt;Jika penyebaran suatu Virus AI HPAI pada ternak sudah demikian luas atau penyakit sudah menjadi endemik pada ternak dan burung liar, stamping out mustahil dilakukan. Strategi alternatif adalah stamping out plus vaksinasi. Strategi ini diadopsi oleh Cina dan Indonesia sejak 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi ini banyak ditentang, seperti pengalaman Meksiko dalam mengendalikan wabah HPAI H5N2 tahun 1990-an. Walaupun kasus wabah tidak dilaporkan kembali setelah penerapan strategi tersebut, sumber virus tetap bersirkulasi dan telah terbukti kembali mengganas di Amerika Tengah dan Amerika Serikat tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program vaksinasi yang diterapkan di suatu negara membuat produk perunggasan negara tersebut tidak boleh diekspor. Thailand, yang juga tertular HPAI H5N1, masih menggolongkan tindakan vaksinasi sebagai ilegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen penentang vaksinasi antara lain: vaksinasi tidak mendorong peternak untuk meningkatkan isolasi dan biosekuriti. Lalu vaksinasi dapat berhasil mencegah penyakit klinis akan tetapi tidak mencegah eksresi virus pada ayam yang divaksin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penggunaan vaksin dilaporkan memicu munculnya varian akibat mutasi; penggunaan vaksin menyebabkan virus menjadi endemik seperti terjadi di Meksiko dan Amerika Tengah, dan mungkin sedang berlangsung di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu penggunaan vaksin mempengaruhi perdagangan dan menyembunyikan virus menular yang masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi tampaknya memang telah menjadi pilihan Indonesia. Vaksinasi hendaknya disertai dengan strategi untuk memantau virus ganas yang mungkin masih beredar di kandang atau wilayah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kebijakan vaksinasi mestinya disertai penyediaan dan pelaksanaan prosedur pemantauan virus yang pathogen pada ternakyang divaksin. Jika vaksin homolog digunakan, kelompok unggas sentinel yang sengaja tidak divaksin tersedia di sekitar kandang yang divaksin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas virus ganas dapat dipantau dari kelompok hewan ini. Penerapan vaksin heterolog digolongkan sebagai vaksin DIVA, singkatan dari "Differentiating Infection from Vaccinated Animal", membedakan hewan yang terinfeksi alami dengan hewan yang divaksinasi. Antibodi terhadap NA selain subtipe yang tersedia dalam vaksin menjadi indikator aktivitas virus ganas alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Virus AI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun publikasi tentang genotipe virus Al H5N1 asal Indonesia belum banyak dipublikasi, data yang telah tersedia menunjukkan bahwa virus tersebut telah berevolusi dan kian menyebar di Indonesia melalui perantara lalu lintas unggas dan produk perunggasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reassortment genetik dan peran burung liar migratori belum teridentifikasi. Seperti yang diduga, materi genetika virus Al H5N1 terus mengalami perubahan melalui mutasi (genetic drift) terutama pada segmen ke-4 yanj menyandi protein HA. Sequence gen I dari mayoritas virus H5N1 yan bersirkulasi pada burung selama 3 tahul terakhir telah terpisah menjadi duf 'phylogenetic clades' yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grup 1 bersirkulasi Kamboja, Thailand dan Vietnam. Grup4 beredar di China dan Indonesia 2003-2004, yang kemudian menyebar ke Timur Tengah, Eropa, dan Afrika padal tahun 2005-2006. Grup ini juga telatif berkembang menjadi 6 sub-grup, tiga diantaranya mempunyai daerah penyebaran geografis yang berbeda dan merupakan agen penyebab kasus-kasus infeksi pada manusia di Indonesia, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua virus Indonesia yang dianalisis berada dalam satu klaster yang mengindikasikan introduksi virus awal yang sama. Analisis lebih lanjut menunjukkan virus H5N1 Indonesia membentuk tiga sub-l kelompok genetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sub-kelompok Al ditemukan di Jawa, Sulawesi Selatan, danl Timor Barat. Sub-kelompok B terisolasil dari Jawa, Bali, Flores dan Timor Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sub-kelompok C berasal dari isolat Jawa dan Sumatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari informasi tersebut tampak bahwa semua sub-kelompok ditemukan di Jawa, sementara daerah tertular lain umumnya mempunyai satu sub-kelompok saja. Hubungan ini mengindikasikan introduksi virus Al H5N1 di Indonesia yang pertama terjadi di Pulau Jawa yang kemudian menyebar ke pulau-pulau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa perkembangan genetik virus Al H5N1 asal Indonesia tampaknya lebih kompleks dari postulasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon filogenetik virus Al H5N1 isolat asal hewan dan manusia di Indonesia dengan mengikutsertakan isolat-isolat terakhir, termasuk isolat virus asal babi di Bali (data belum dipublikasikan) seperti ditampilkan pada Gambar menerangkan bahwa pembagian sub-kelompok A, B, dan C tampaknya belum mencakup semua isolat asal Indonesia. Beberapa isolat berada di luar sub-kelompok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk Bali, ketiga sub-kelompok yang diisolasi di Jawa tampaknya juga menyebar di pulau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan tersebut mempengaruhi struktur antigenik virus Al yang menyebar di Asia, termasuk Indonesia. Kajian yang dilaporkan menunjukkan bahwa virus-virus asal Indonesia tidak bereaksi dengan antibodi terhadap representatif virus asal Vietnam, demikian juga sebaliknya, namun masih menunjukkan reaksi silang dengan virus asal Hong Kong dan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, variasi antigenik juga tampak sekali diantara virus-virus asal Indonesia. Variasi antigenik tersebut bahkan ditunjukkan dengan titer antibodi terhadap virus-virus dari masing-masing subkelompok sampai empat log.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan tersebut juga mempunyai implikasi yang besar dalam pemilahan seed vaksin yang hendak digunakan di suatu wilayah. Idealnya, vaksin yang digunakan mestinya mempunyai homologi genetik dan antigenik yang mendekati sempurna dengan virus yang beredar di wilayah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk wilayah yang mempunyai virus yang berasal dari satu sub-kelompok, vaksin yang digunakan idealnya mengandung antigen dari masing-masing sub-kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan seed vaksin yang tidak sesuai dapat menurunkan protektivitas vaksin. Kasus-kasus kegagalan vaksinasi mungkin akan semakin sering terjadi. Kalaupun unggas yang divaksin tetap tidak menunjukkan gejala klinis yang nyata, penurunan produksi dan tingginya beban virus pada lingkungan dapat menjadi konsekuensi logis pada penggunaan seed vaksin yang tidak sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian risiko kerugian ekonomi dan kesehatan masyarakat akan tetaptinggi.&lt;br /&gt;Di samping itu, penggunaan vaksin ditenggarai dapat memicu munculnya varian akibat mutasi dan vaksinasi menyembunyikan virus menular dapat menjadi ancaman baru. Dari survei virologi dan epidemiologi intensif di Cina Selatan, dilaporkan kemunculan dan dominasi virus Fujian-like sejak akhir 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus ini menggantikan secara bertahap klaster virus yang sebelumnya beredar dan telah menyebabkan infeksi pada manusia di Cina belum lama ini. Disamping itu, virus Fujian-like ternyata telah tersebar di Hong Kong, Laos, Malaysia, dan Thailand. Dominasi virus ini diduga difasilitasi program vaksinasi massal yang dilakukan di Cina. Hal serupa perlu dimonitor di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun publikasi tentang genotipe virus Al H5N1 asal Indonesia belum banyak dipublikasi, data yang telah tersedia menunjukkan bahwa virus tersebut telah berevolusi dan kian menyebar di Indonesia melalui perantara lalu lintas unggas dan produk perunggasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan sifat-sifat virus influenza, materi genetika virus Al H5N1 terus mengalami perubahan melalui mutasi (genetic drift) terutama pada segmen ke-4 yang menyandi protein HA. Semua virus Indonesia secara genetik berada dalam satu klaster yang mengindikasikan berawal dari introduksi virus awal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis lebih lanjut menunjukkan bahawa virus H5N1 Indonesia membentuk tiga sub-kelompok genetik dengan daerah sebaran geografis tertentu, kecuali di Pulau Jawa dan Bali yang mempunyai representatif ketiga kelompok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan tersebut mempengaruhi struktur antigenik virus Al yang menyebar di Asia, termasuk Indonesia. Virus-virus asal Indonesia tidak bereaksi dengan antibodi terhadap representatif virus asal Vietnam, demikian juga sebaliknya, namun masih menunjukkan reaksi silang dengan virus asal Hong Kong dan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, variasi antigenik juga tampak sekali, walaupun masih menunjukkan reaksi silang diantara virus-virus asal Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, vaksin yang digunakan mestinya mempunyai homologi genetik dan antigenikyang mendekati sempurna dengan virus yang beredar di wilayah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal menggunakan vaksin yang heterolog yang materi genetik H5-nya tidak berasal dari Indonesia, vaksin yang bersangkutan sebaiknya diuji tantang dengan representatif ketiga sub-kelompok virus yang beredar di Indonesia dan dipilah vaksin yang menunjukkan protektivitas klinis dan penekanan ekskresi virus seminimum mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu uraian tulisan ini sangat bermanfaat untuk melacak keberadaan virus AI sekaligus bbit untuk vaksin di tanah air dalam menfatasi kemelut yang rasanya kalangan peternakan relatif sudah semakin lihai untuk menangani. Meski ada masalah di sana-sini, bukankah itu sebuah kewajaran dalam proses untuk menjadi lebih baik dalam menangani? Kiranya begitu. (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-7445120823996324598?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/7445120823996324598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=7445120823996324598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/7445120823996324598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/7445120823996324598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/seleksi-benih-virus-ai-untuk-vaksinasi.html' title='SELEKSI BENIH VIRUS AI UNTUK VAKSINASI'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-4062520831300116642</id><published>2009-01-19T00:38:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:12:48.496-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>MENGINGAT VIRUS INFLUENZA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_EvfG1XnN8wU/RtiqR6PDl-I/AAAAAAAAAFg/rzeEupzv1fQ/s1600-h/untuk+website.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5105017402291361762" src="http://1.bp.blogspot.com/_EvfG1XnN8wU/RtiqR6PDl-I/AAAAAAAAAFg/rzeEupzv1fQ/s320/untuk+website.jpg" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/08/blog-post.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGINGAT VIRUS INFLUENZA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur virus influenza A mirip sangat mirip satu dengan lainnya. Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus influenza adalah virus dengan genom asam ribo-nukleat (RNA) serat tunggal dan berpolaritas negatif yang terpisah dalam 8 dari Familia. Virus-virus dari keiuarga ini dikelompokkan menjadi klas A, B dan C berdasarkan, perbedaan antigenik protein nukleoprotein dan matriks protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua Virus AI diklasifikasikan dalam tipe A. Pembagian sub-tipe lebih lanjut didasarkan pada struktur antigen dua glikoprotein permukaan virus, yaitu hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini 16 macam HA dan 9 NA telah diidentifikasi pada virus influenza A. Derajat homologi dari susunan asam amino HA antar subtipe adalah kurang dari 70 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur virus influenza A mirip sangat mirip satu dengan lainnya. Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua protein yang menentukan patogenitas dan kekebalan suatu virus influenza, serta sangat mudah mengalami mutasi, yaitu HA dan NA, membentuk penjuluran khas di permukaan partikel virus dengan panjang sekitar 16 nm. Kedua protein ini adalah glikoprotein yang vital bagibiologi virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HA berperan dalam memulai infeksi pada sel dengan menempel pada reseptor sialiloligosakarida pada permukaan sel. HA juga menginduksi antibodi penetral yang penting dalam pencegahan infeksi. Derajat kemudahan pemecahan protein ini dan tersedianya enzim protease yang sesuai menentukan virulensi Virus AI dan tropisme jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan NA adalah suatu enzim sialidase yang menghambat agrerasi virion dengan menghilangkan asam sialat sel. Antibodi terhadap NA juga berperan dalam perlindungan hewan terhadap infeksi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein virus influenza lain tampaknya juga sangat berperan dalam patogenitas strain. Protein-protein tersebut adalah M1, M2, IMP, tiga enzim polymerase RNA kompleks (PB1, PB2, dan PA) dan IMS2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein IMS1 yang hanya terdapat pada sel terinfeksi dan tidak diintegrasikan dalam partikel virus yang berfungsi menekan fungsi interferon hewan/manusia. Fungsi ini juga vital dalam patogenesis virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal menginduksi kekebalan yang protektif, protein-protein ini tampaknya juga tidak dapat diabaikan. Jika protein permukaan, yaitu HA dan NA berperan sebagai antigen penetralisai dengan menginduksi kekebalan humoral yang mencegah penetrasi virus pada jaringan, protein yang lain berperan dalam menginduksi kekebalan berperantara sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein yang banyak diulas dengan kapasitas seperti itu adalah nukleoprotein (NP) dan matriks (M1). Karena protein-protein ini secara genetik relatif stabil, maka, jika kekebalan humoral menginduksi kekebalan terhadap virus yang homolog, CMI protektif terhadap virus yang heterolog. Hal yang sama tampaknya berlaku untuk infeksi virus Al H5N.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur antigen virus influenza berubah secara bertahap oleh karena mutasi dan rekombinasi atau secara drastis karena reassortment. Mutasi terjadi karena enzim RNA-polimerase virus tidak mempunyai kemampuan memperbaiki kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dari inang, cekaman imunologis pada HA dan NA dikatakan sebagai "motor" penggerak terjadinya hanyutan antigenik. Kajian tentang HA pada strain virus influenza manusia H3 menunjukkan bahwa mutasi pada satu posisi saja dapat mengubah struktur glikoprotein tersebut yang menyebabkan terjadinya variasi antigenik yang signifikan. Mutasi ini merupakan proses yang berlangsung setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat perubahan antigenik yang signifikan pada stud: tentang virus H9N2 yang diisolasi setiap tahunsejak 1997 sampai 2003 dan H5N1 sejak tahun yang sama sampai 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanyutan antigenik dapat terjadi karena rekombinasi. Fenomena ini terjadi bila RNA virus influenza terpotong dan disisipipotongan RNAasing yang berasal dari sel. Meskipun peristiwa ini relatif jarang dilaporkan pada Virus AI, tetapi kecenderungannya meningkat akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lompatan antigenik terjadi karena transmisi langsung virus non-manusia ke manusia atau reassortment genetik dari dua virus influenza yang berbeda setelah menginfeksi satu sel yang sama. Secara teoritis, 256 kombinasi RNA dapat terbentuk dari tukar-menukar 8 segmen genom virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reassortment genetik sudah sering dilaporkan di alam maupun laboratorium. Di samping itu, infeksi campuran sering terjadi di alam yang dapat menyebabkan terjadim reassortment genetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model reassortment klasil yang dikembangkan 200 babi berperan sebagai wahana pencampuran. Basis model tersebut adalah spesifisitas strain terhadap reseptor pada permukaan sel Virus influenza avian dapat menginfeksi sel yang mempunyai reseptor berbeda dengan influenza manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua macam reseptor ini terdapat pada trakeal babi. Jika dua virus influenza unggas dan manusia atau mamalia menginfeksi satu sel yang sama pada sel tersebut, maka progeni virus dapat merupakan kombinasi 8 segmen virus unggas dan 8 segmen virus manusia atau mamalia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme lain yang memungkinkan virus influenza unggas dapat bereplikasi secara efisien pada manusia adalah adaptasi untuk berikatan dengan reseptor dalam tubuh babi. Dengan kata lain, Virus AI asal unggas berevolusi sedemikian rupa sehingga dapat mengenali reseptor mamalia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ini telah terbukti dengan meyakinkan dari studi tentang virus H5N1 dan H9N2 yang menyebabkan wabah di Hong Kong, masing-masing tahun 1997 dan 1999. Protein HA dari kedua virus tersebut dapat berikatan dengan reseptor unggas dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa depan, teori spesifisitas reseptor untuk virus avian dan mamalia tampaknya akan mengalami pergeseran yang signifikan. Juga berhasil dibuktikan kedua reseptor tersebut terdapat pada sel-sel epitel pernafasan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasinya memang berbeda. Reseptor a2,6 terdapat pada sel-sel yang tidak bercilia, sementara reseptor a2,3 terdapat pada sel-sel yang bercilia. Temuan ini akan dapat menjelaskan kemungkinan penularan langsung dari unggas kepada manusia tanpa hewan perantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kasus wabah, peran babi sering sulit ditelusuri. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa HPAI H5N1 merupakan produk reassortant virus-virus yang secara alarm bersirkulasi pada puyuh, angsa, dan itik liar dari Cina. Diduga reassortment terjadi pada burung puyuh di pasar burung atau pasar hewan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai jenis hewan dan burung diletakkan dalam kandang-kandang saling berdekatan atau bahkan bercampur di tempat tersebut, sehingga peluang untuk saling tukar menukar virus influenza terjadi dengan mudah. Juga berhasil ditunjukkan perubahan molekul HA sudah menyebabkan adaptasi dan peningkatan kemampuan suatu virus H9 asal itik untuk menginfeksi burung puyuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat pula dibuktikan bahwa burung puyuh menyediakan lingkungan yang memungkinkan suatu virus asal mamatia, yaitu influenza babi H3N2, dapat mengalami reassortment dan menghasilkan vius influenza yang berpotensi menyebabkan pandemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena reassortment telah dapat dibuktikan di alam. Contoh yang paling baru adalah perbandingan susunan RNA semua gen virus influenza Hong Kong-H5N1/1997 dengan dalam kandang yang berdekatan turut membantu kesinambungan virus influenza. Manajemen seperti itu memungkinkan sebagai tempat evolusi virus influenza yang cepat dan lestari. Hal ini telah dibuktikan pada kasus virus Al H5NI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus influenza dikeluarkan oleh unggas terinfeksi dalam jumlah yang besar bersama kotoran, leleran, dan udara pernafasan. Karena sifat-sifat virus yang labil dalam udara terbuka, penularan melalui udara pernafasan dapat terjadi melalui kontak yang sangat dekat. Penularan melalui kotoran dan leleran lebih besar peluangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus influenza dapat bertahan lebih lama dalam material organik seperti dalam kotoran, darah ayam, atau leleran dan dapat menulari manusia atau hewan lain secara langsung dari kandang maupun secara tidak langsung melalui pakaian, kendaraan, atau peralatan yang tercemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus influenza dapat mencemari produk-produk hasil olahan unggas seperti daging, telur, dan pupuk kotoran ayam. Salah satu bukti kuat potensi ini adalah isolasi HPAI H5N1 dari daging itik asal Cina di Korea Selatan. Kerabang telur dapat mengandung virus influenza menular yang berasal dari kontaminasi kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian disampaikan G Ngurah Mahardika dari Laboratorium Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dan Wayan I Wibawan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor kepada Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia dalam Media Unggas dan Aneka Ternak baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas ijin khusus Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Drh Djajadi Gunawan MPH kepada Infovet, pembaca dapat menikmati untuk sebuah pencerahan bersama sekaligus untuk bahan kritis hal-ihwal terkait AI. (YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-4062520831300116642?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/4062520831300116642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=4062520831300116642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4062520831300116642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4062520831300116642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/mengingat-virus-influenza.html' title='MENGINGAT VIRUS INFLUENZA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_EvfG1XnN8wU/RtiqR6PDl-I/AAAAAAAAAFg/rzeEupzv1fQ/s72-c/untuk+website.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3895690908191676970</id><published>2009-01-19T00:33:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:17:06.590-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>BEBERAPA KAJIAN DAN AKSI (Yang Tetap) MENDESAK</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/08/blog-post_31.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA KAJIAN DAN AKSI (Yang Tetap) MENDESAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pengalaman kita alami selama empat (4) tahun bersama AI. Kita membutuhkan kejernihan berpikir untuk tetap melangkah. Laporan berikut kiranya menjadi alat penerang dalam langkah kita yang penuh warna dalam menanggulangi AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu sudah jelas bagi pembaca Infovet, tentang Virus Influenza, burung (terutama burung perairan yang bermigrasi) merupakan sumber alami virus influenza "Tipe A".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus Tipe A memiliki sifat berubah secara tetap. Perubahan ini biasanya terjadi secara bertahap. Terkadang, meskipun jarang, virus Tipe A mengalami perubahan besar secara cepat.&lt;br /&gt;Jika hal ini terjadi, kemungkinan tubuh manusia tidak mampu melindungi dirinya dari pengaruh virus yang baru ini. Virus jenis ini akan menjadi jenis pandemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H5N1 (virus Flu Burung saat ini) telah membuat para ilmuwan khawatir karena: cepat menyebar pada kelompok unggas rumah tangga; manusia dapat terjangkiti virus jenis ini dari unggas yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka kematian akibat hal ini sangat tinggi. Para ilmuwan khawatir bahwa virus ini dapat berubah sedemikan rupa sehingga semakin mudah menyebar ke dan antarmanusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus H5N1 itu sendiri tidak bersifat Pandemic Strain. Virus ini bisa menjadi atau sarna sekali tidak menjadi Pandemic Strain. Kita tidak tahu bagaiamana virus ini bisa berubah dari wantu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan dapat membuat vaksin untuk melawan flu burung, namun kita tidak tahu sejauh mana keampuhan vaksin ini jika virus tersebut berubah menjadi Pandemic Strain.&lt;br /&gt;Semua negara saling bergantung untuk membantu mengawasi perubahan virus Flu Burung yang dapat menunjukkan perubahan virus tersebut menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hal-hal Pokok untuk wartawan yang Meliput Masalah Flu Burung (dan Kesehatan Umum), sesuai dengan disampaikan oleh Dan Rutz dari Centers for Disease Control and Prevention dalam workshop di Jakarta baru-baru ini, di mana Infovet termasuk salah satu hadirin yang diundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Epidemiologi Kuantitatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu lain di Yogyakarta, Prof Dr Drh Bambang Sumiarto SU MSc dalam pidato pengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM belum lama ini mengungkapkan, kajian epidemiologi kuantitatif telah dilakukan oleh Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD dari FKH UGM pada tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kajian kasus-kontrol AI pada unggas memberikan indikasi bahwa peranan biosekuriti memiliki pengaruh yang amat kecil terhadap kejadian AI. Hal ini disebabkan karena sangat sedikit peternakan unggas menerapkan biosekuriti yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pengaruh lingkungan, terutama burung liar dan hewan pengerat sangat berperanan terhadap kejadian AI. Demikian juga, lalu lintas manusia di peternakan komersial sektor tiga (peternakan unggas dengan biosekuriti tidak ketat dan sistem terbuka) berpengaruh terhadap AI pada unggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil analisis juga menunjukkan peranan sektor tiga di beberapa kabupaten pada spesies unggas sebagai sumber infeksi AI di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Charles dengan aplikasi analisis regresi logistik mengindikasikan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap infeksi AI pada unggas secara berurutan adalah peternakan komersial broiler pada sektor tiga peternakan komersial layer sektor tiga, puyuh, layer, dan entog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model tersebut memperlihatkan bahwa sebenarnya kita tidak perlu kawatir dengan ayam buras sebagai faktor penyebab AI, justru puyuh dan entog sebagai reservoir AI perlu mendapat perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis model regresi ganda dan logistik tersebul sebenarnya belum mengetahui faktor penyebab yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap kejadian penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui faktor yang berpengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap prevalensi AI di dusun, Prof Charles menganalisis data investigasi kejadian infeksi AI dengan pendekatan analisis garis edar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian memperlihatkan bahwa prevalensi AI di peternakan komersial yang berada di dusun, secara berurutan, dipengaruhi secara langsung oleh adanya AI di luar peternakan, kebersihan personal petugas kandang, dan kebersihan peralatan kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, secara tidak langsung prevalensi AI di peternakan komersial di dusun, secara berurutan, dipengaruhi oleh adanya hewan liar, program vaksinasi yang dilakukan, sistem pemeliharaan terbuka, dan menggunakan pakan campuran sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Charles juga melaporkan bahwa prevalensi AI pada peternakan non komersial di dusun secara langsung, secara berurutan, dipengaruhi oleh adanya peternakan komersial terinfeksi di dusun, asal DOC, pemakaian air berasal dari sumur terbuka, kebersihan kandang, dan menggunakan pakan campuran sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, secara tidak langsung prevalensi AI pada peternakan non komersial di dusun, secara berurutan, dipengaruhi oleh sistem pemeliharaan, kebersihan lingkungan, dan adanya hewan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi Mendesak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tetap perlu aksi mendesak untuk dilakukan adalah koordinasi dalam mengurangi kasus pada manusia, mengurangi penyebaran virus, melindungi unggas dan peternakan, meningkatkan konsumsi daging dan telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu penyadaran masayarakat dengan suatu tindakan ebrani dan cerdas misalnya biosecurity dan kampanye vaksinasi. Juga kompensasi sector 3 dan 4, vaksin yang tepat dan insentif bagi vaksinator. Tak lupa secara teknis dan inovatif perlu integrasi survey, evaluasi vaksin, kontrol prosedur standar operasional karantina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga diperlukan kisah sukses yang selalu dicatat dan dikabarkan untuk menajdi teladan bagi daerah lain. Demikian pula diperlukan dukungan berbagai kalangan masyarakat seperti BKKBN, Dharmawanita, masyarakat unggas, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian Drh Djajadi Gunawan MPH Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Ditjen Peternakan Deptan seraya menambahkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendekatan dalam penanggulangan AI/Flu Burung selama ini masih melakukan pendekatan peternakan. Mestinya harus diubah dengan pendekatan pada unsur kemasyarakatan mengingat kasus flu burung sudah masuk pada sektor 4 di mana di sini terdapat pada rumah pemukiman penduduk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep perubahan strategi yang ditawarkan Drh Djajadi Gunawan MPH dapat dilihat dalam table “Perubahan Strategi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanggulangan Flu Burung yang selama ini penuh dengan saling menyalahkan antara pihak-pihak yang berkepentingan, semestinya segera dihentikan, diganti dengan sikap saling mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk Resiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dan Rutz, terkait petunjuk komunikasi (resiko) tentang penyebaran wabah, sejumlah besar negara anggota WHO telah secara informal berkomitmen pada nilai-nilai Komunikasi (Risiko) tentang Penyebaran Wabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah petunjuk tersedia di situs jaringan WHO. Petunjuk-petunjuk ini dibuat berdasarkan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi pemerintah tentang hal-hal darurat berkenaan dengan kesehatan masyarakat harus akurat sehingga dapat membangun dan menjaga kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi harus dikeluarkan segera. Pengumuman yang tepat waktu sangat penting bagi sebuah masyarakat yang terinformasi secara penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transparansi mensyaratkan para pejabat untuk berterus terang mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan publik, terutama tentang keputusan atau petunjuk yang memiliki efek pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat juga harus mau mendengarkan. Komunikasi Dua-Arah menunjukkan adanya rasa hormat terhadap publik serta membantu memastikan bahwa publik memperoleh informasi yang mereka inginkan dan perlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip ini hanya akan efektif apabila para pejabat senior bersedia mematuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewenangan Media Kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Dan Rutz melanjutkan, reporter bidang kesehatan mempunyai hak dan tanggung jawab besar yang ada di tangan mereka. Karena berita tentang kesehatan berdampak pada nyawa seseorang, wartawan harus berhati-hati untuk tidak memberi informasi yang salah atau menakut-nakuti masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan dapat membantu menyelamatkan nyawa seseorang dari serangan Flu Burung termasuk memasukkan petunjuk-petunjuk dasar dalam tulisan: Melaporkan unggas sakit kepada pihak berwenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, memisahkan unggas sakit dari yang sehat, dan memisahkan jenis spesies satu dari yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, masak unggas hingga benar-benar matang—sampai daging tidak lagi berwarna merah muda dan tidak ada lagi cairan yang keluar.&lt;br /&gt;Lantas, Mencuci tangan sesering mungkin, khususnya setelah menangani atau mengurusi unggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme bidang kesehatan yang bertanggung jawab akan mendapat perhatian: Masyarakat akan menghargai media cetak/radio yang menjalankan pekerjaan mereka secara serius. Pembuat berita akan memberi imbalan kepada wartawan terbaik dengan menyediakan waktu dan akses lebih banyak kepada wartawan tersebut.&lt;br /&gt;Beberapa persoalan saling terkait menjadi suatu benang merah, dan kita akan tetap melangkah dengan optimis dan pikiran cerah. (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3895690908191676970?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3895690908191676970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3895690908191676970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3895690908191676970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3895690908191676970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/beberapa-kajian-dan-aksi-yang-tetap.html' title='BEBERAPA KAJIAN DAN AKSI (Yang Tetap) MENDESAK'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-417667436358731814</id><published>2009-01-19T00:18:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:15:31.596-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>GAGAH HADAPI AI JUGA DENGAN VAKSINASI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/gagah-hadapi-ai-juga-dengan-vaksinasi.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAGAH HADAPI AI JUGA DENGAN VAKSINASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Aspek di hulu dan hilir membuat kita terus berpikir, kita akan tetap tegar menghadapi apapun yang terjadi. Vaksinasi menjadi salah satu senjata andalan. Tentu saja dengan berbagai senjata lain: di antaranya biosecurity ketat yang terbukti sukses membebaskan sektor 1, 2 dan banyak sektor 3 dari kasus AI. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi penanggulangan Avian Influenza menurut OIE (Organisasi Kesehatan hewan Dunia) adalah stamping out, tanpa vaksinasi ataupun dengan vaksinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi baru kriteria bebas AI menurut OIE adalah jika melakukan stamping out bebas AI dapat dinyatakan setelah 3 bulan dari kasus terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hanya melakukan vaksinasi tanpa stamping out, bebas AI dapat dinyatakan setelah 1 tahun dari kasus terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek penting penanggulangan AI pada hewan dan manusia di sisi hulu adalah menekan pencemaran virus AI di lapangan dengan mengendalikan kasus AI pada unggas atau hewan lain. Lalu mencegah penularan AIV dari unggas/hewan ke manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi hilir, aspek pentingnya adalah mencegah perluasan kasus flu burung pada manusia dengan tujuan penting mencegah terjadinya penularan antar manusia (pandemi influenza).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang muncul pada vaksinasi adalah vaksinasi mungkin tidak dapat mencegah timbulnya infeksi AIV. Unggas yang divaksinasi dan kontak dengan virus AI lapang dapat membebaskan sejumlah virus AI (Viral Shedding) jika biosecurity longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah berikutnya, vaksinasi AI akan menekan jumlah AIV yang mencemari lingkungan, dan dapat bertindak sebagai sumber infeksi untuk unggas dan mungkin juga manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluar dari masalah tersebut, peternakan yang terinfeksi AIV harus diidentifikasi dan ditanggulangi secara tepat. Vaksin AI pun harus memenuhi kriteria kualitas tinggi, homolog dengan virus AI lapang yaitu subtipe H atau subtipe H dan N.&lt;br /&gt;Aplikasi vaksinasi pun harus tepat. Dan jangan lupakan, monitoring dan evaluasi terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat vaksinasi ini adalah menekan kerugian akibat AI menekan mortalitas dan gangguan gangguan produksi. Vaksinasi pun menekan penyebaran virus AI (viral shedding) dan selanjutnya menekan kejadian AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi juga meningkatkan ketahanan terhadap tantangan virus AI lapang. Dan jangan lupa,vaksinasi menekan jumlah ayam yang peka terhadap infeksi virus AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi terhadap AI adalah vaksinasi harus merupakan bagian dari suatu sistem penanggulangan AI secara terpadu. Vaksinasi ini harus selalu disertai oleh biosecurity ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya perlu monitoring dan evaluasi terus-menerus menyangkut tingkat keamanan vaksin. Baik itu dengan sistem sentinel dan atau uji DIVA maupun uji laboratorik lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monitoring dan evaluasi pun menyangkut tingkat perlindungan vaksin, dan kemungkinan mutasi virus AI asal lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi pun, perlu ada strategi keluar sesuai perkembangan kasus. (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-417667436358731814?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/417667436358731814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=417667436358731814' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/417667436358731814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/417667436358731814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/gagah-hadapi-ai-juga-dengan-vaksinasi.html' title='GAGAH HADAPI AI JUGA DENGAN VAKSINASI'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-4045911906058273666</id><published>2009-01-19T00:13:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:20:15.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>SEJARAH DAN SIKAP MENGHADAPI PEMBIAKAN KASUS AI DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/sejarah-dan-sikap-menghadapi-pembiakan.html"&gt;SEJARAH DAN SIKAP MENGHADAPI PEMBIAKAN KASUS AI DI INDONESIA&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;(( Sejarah AI – Flu Burung di Indonesia dimulai tahun 2003.Kini, 4 tahun kemudian, kita mesti lebih sigap dan bijak. Apa yang mesti kita lakukan? ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Agustus 2003 Avian Influenza (HPAI) di Indonesia pertama kali dijumpai pada peternakan ayam komersial. Agen penyebabnya adalah virus influenza tipe A, sub tipe H5N1, yang tergolong Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Bagaimana AI pertama kali masuk ke Indonesia masih diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pakar perunggasan Prof Drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD seraya menuturkan, letupan AI menyebar dengan cepat ke berbagai wilayah di Jawa, kemudian meluas ke Sumatera Selatan, Bali, dan daerah lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pada Juli 2005, dijumpai kasus Flu Burung pertama pada manusia.&lt;br /&gt;Pada tahun 2006, AI telah endemik di 30 propinsi (218 kabupaten/kota) dari 33 propinsi di Indonesia. Juga tersdapat kasus baru di Irian Jaya Barat dan Papua. Gejala klinik dan perubahan patologik seringkali tidak menciri untuk HPAI. Untuk itu perlu metode diagnostik yang akurat, cepat, dan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan terakhir kasus AI pada ayam/unggas selama tahun 2006, hampir tidak pernah ditemukan pada peternakan ayam ras di sektor 1 dan 2. Juga sangat rendah pada peternakan ayam ras di sektor 3, khususnya peternakan dengan biosecurity longgar dan tidak divaksinasi terhadap AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di sektor 4, AI endemik pada ayam buras, itik, entog, dan burung puyuh sehingga dapat bertindak sebagai reservoir (silent host) virus AI. Sebagian besar kasus flu burung pada manusia dihubungkan dengan unggas yang dipelihara di sektor 4 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkembangan terakhir pada tahun 2007 akibat kematian pada manusia bertambah, memaksa kalangan peternakan untuk melaksanakan prioritas penanggulangan AI tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas itu, dituturkan Charles, adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• sosialisasi untuk meningkatkan kepedulian peternak, industri, pemegang kebijakan, dan masyarakat umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• restrukturisasi sistem pemeliharaan unggas, industri/usaha perunggasan, perdagangan, dan system distribusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• vaksinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• monitoring dan surveilans&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• perbaikan infrastruktur veteriner dan organisasi veteriner di tingkat pusat sampai&lt;br /&gt;daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• riset dan pengembangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• kerjasama internasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dasar pertimbangan pemusnahan unggas non komersial di wilayah padat penduduk dengan kasus flu burung tinggi, adalah berdasar fakta bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• unggas peliharaan di pekarangan sebagai reservoir AI. Walaupun sebetulnya, sumber penularan AIV pada unggas sektor 4 belum diketahui pasti, masih berdasar asumsi penularan melalui berbagai cara (lihat artikel terkait).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kasus flu burung lebih banyak ditemukan pada orang yang erat dengan unggas sektor 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kasus flu burung tidak berhubungan langsung dengan unggas komersial sektor 1, 2 dan mungkin 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pemusnahan adalah memutus mata rantai penularan AIV dari unggas ke manusia.&lt;br /&gt;Akhirnya, Prof Charles menyarankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pemusnahan unggas komersial hendaknya terbatas di daerah padat pemukiman dengan kasus flu burung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Daerah lain perlu sosialisasi sistem pemeliharaan unggas yang benar untuk menekan resiko penularan AIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Strategi penanggulangan harus dilakukan secara terpadu dengan mengacu pada 9 strategi penanggulangan AI. (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-4045911906058273666?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/4045911906058273666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=4045911906058273666' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4045911906058273666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4045911906058273666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/sejarah-dan-sikap-menghadapi-pembiakan.html' title='SEJARAH DAN SIKAP MENGHADAPI PEMBIAKAN KASUS AI DI INDONESIA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-5867990955771063579</id><published>2009-01-19T00:09:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T18:11:22.730-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>KEMBALI KETATKAN 9 STRATEGI PENGENDALIAN AI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/kembali-ketatkan-9-strategi.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMBALI KETATKAN 9 STRATEGI PENGENDALIAN AI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan (9) strategi pengendalian avian influenza yang dilakukan Departemen Pertanian sebetulnya berjasa besar pada pengendalian flu burung. Demikian Prof Drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD Dekan FKH UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun sekarang dijumpai kasus banyak pada sektor 4 yaitu di pemukiman penduduk, tidak mengurangi makna pengendalian yang sudah dilakukan di sektor 1, 2 dan 3 (peternakan komersial skala besar yang menerapkan biosecurity ketat, komersial skala menengah yang menerapkan biosecurity agak ketat, komersial kecil yang menerapkan biosecurity longgar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Charles memaparkan, perkembangan terakhir kasus AI pada ayam/unggas selama tahun 2006, hampir tidak pernah ditemukan kasusnya di sektor 1 dan 2 yang menerapkan biosecurity sangat ketat. Kejadiannya juga sangat rendah pada peternakan ayam ras di sektor 3, khususnya peternakan dengan biosecurity longgar dan tidak divaksinasi terhadap AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di sektor 4, lanjutnya, di daerah pemukiman penduduk yang memelihara ayam di kandang-kandang dekat rumah, kasus endemik terjadi pada ayam buras, itik, entog, dan burung puyuh. Sehingga, ternak-ternak ini dapat bertindak sebagai reservoir atau induk semang yang tak menunjukkan gejala penyakit virus AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unggas (ayam buras, broiler, layer, layer afkir, itik, entog, burung puyuh) yang dijual di pasar tradisional dapat bertindak sebagai reservoir AIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar kasus flu burung pada manusia dihubungkan dengan unggas yang dipelihara di sektor 4 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian kasus di sektor 4 ini memang tidak bisa dipisahkan sama sekali dari kejadian kasus di sektor 1, 2 dan 3. Hal ini terkait dengan faktor-faktor yang berperan dalam penularan virus AI antar wilayah yaitu: lalulintas unggas dan produk asal unggas, transportasi kotoran ayam, mobilitas orang, kendaraan, bahan, peralatan, pasar becek, dan unggas/burung liar yang bermigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, ketika 9 strategi pengendalian AI di peternakan itu berhasil, artinya tidak ada kasus, kemudian peternak menjadi lalai bahkan cenderung ugal-ugalan mengabaikan ketatnya biosecurity dan vaksinasi. Alasannya macam-macam di antaranya harganya sangat mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan munculnya kasus Flu Burung pada manusia dan ternak di sektor 4, yang dirunut tak lepas dari kejadian di sektor 1, 2, dan 3 yang mulai lalai dan ditularkan melalui jalur penularan tadi, maka peternakan di skala 1, 2, 3 mesti diingatkan untuk jangan sekali-sekali melonggarkan program sesuai 9 strategi yang dulu diterapkan secara ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan (9) strategi pengendalian avian influenza oleh Deptan RI itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Meningkatkan biosecurity pada semua aspek manajemen&lt;br /&gt;2. Depopulasi secara selektif kelompok ayam/unggas yang terinfeksi virus AI.&lt;br /&gt;3. Stamping out kelompok ayam/unggas pada daerah infeksi baru.&lt;br /&gt;4. Vaksinasi terhadap AI&lt;br /&gt;5. Kontrol lalu lintas unggas, produk asal unggas, dan produk sampingannya.&lt;br /&gt;6. Surveilans dan penelusuran kembali&lt;br /&gt;7. Mengembangkan penyadaran masyarakat&lt;br /&gt;8. Restocking&lt;br /&gt;9. Monitoring dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pakar penyakit unggas ini, manfaat 9 strategi ini di sisi hulu adalah menekan pencemaran virus AI di lapangan, yaitu mengendalikan kasus AI pada unggas atau hewan lainnya serta mencegah penularan AIV dari unggas/hewan ke manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manfaat di sisi hilir adalah mencegah kasus flu burung pada manusia yaitu mencegah terjadinya penularan antar manusaia (Pandemi influenza). (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-5867990955771063579?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/5867990955771063579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=5867990955771063579' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5867990955771063579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5867990955771063579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/kembali-ketatkan-9-strategi.html' title='KEMBALI KETATKAN 9 STRATEGI PENGENDALIAN AI'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-6942058628962490376</id><published>2009-01-19T00:04:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:15:57.337-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>LEBIH KENAL H5N1 DAN PENULARANNYA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/lebih-kenal-h5n1-dan-penularannya.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEBIH KENAL H5N1 DAN PENULARANNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Ia bergenus Virus Influenza tipe A. Yang diketahui adalah penularan terjadi secara horizontal Sedangkan penularan secara vertikal: tidak terbukti! ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kenal penyebab Avian Influenza di Indonesia adalah H5N1. Sebenarnya itu adalah subtipe. Kita perlu mengenal lebih dalam. Untuk gampang mengingat, agen penyebab Avian Influenza itu adalah genus Virus Influenza tipe A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita tinggal menyebut penggolongan berdasar famili yaitu Orthomyxoviridae. Sedang sifat-sifatnya yang lain adalah ss RNA, Negative sense, terdiri dari 8 segmen, bersifat helical, beramplop, dan berdiameter 80-120 nanometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa virus AI subtipe H5N1 sangat penting, itu karena bersifat fatal untuk unggas, manusia dan mamalia lain. Kemudian menimbulkan suatu panzootik AI di Asia, kecuali Pakistan, dan banyak negara di Eropa serta Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus ini berpotensi untuk menular ke manusia di mana sampai sekarang belum ada vaksin influenza H5N1 untuk manusia. Sedangkan obat antiviral berharga mahal dan persediaannya terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal penting lagi soal virus ini adalah kekuatiran akan terjadinya pandemi influenza global sehubungan dengan kemampuan virus AI H5N1 untuk mengalami evolusi, adaptasi, dan reasorsi pada berbagai hospes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut mempunyai dampak yang besar pada berbagai bidang ekonomik, ketahanan dan keamanan pangan, kesehatan masayarakat, sosial budaya, politik, psikologik.&lt;br /&gt;Virus H5N1 bersifat enzootik pada burung liar dan dapat ditemukan pada unggas air liar yang kelihatannya sehat dan dapat menyebarkan virus AI melalui feses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik biologis virus AI yang mendukung kemampuannya untuk menimbulkan penyakit pada unggas dan manusia adalah komposisi virus AI sangat labil, yaitu mudah mengalami mutasi sementara virulensi dan patogenitasnya sangat bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reseptor virus AI pada berbagai sel hewan antara lain babi, puyuh, ayam mempunyai asam sialat dan galaktosa. Virus ini sangat mudah menular dengan pola penularan sulit diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status Terkini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status terkini virus AI di Indonesia, walaupun sudah terjadi perubahan (dinamika) pada virus AI isolat 2006, perubahan ini belum menimbulkan perubahan pada struktur antigenik virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus AI tahun 2006 masih tergolong subtipe H5N1, dengan sifat HPAI (Highly Pathogenic AI). Ketika pada Juli 2005 virus AI sudah mampu untuk menginfeksi manusia, masih terus dipertanyakan sebetulnya apanya yang berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber virus avian influenza sendiri adalah ayam sakit, melalui leleran tubuh (hidung, mulut dan mata) serta feses, unggas lain yang tertular virus AI yaitu burung puyuh, itik, angsa, burung peliharaan, burung liar, mungkin hewan lain seperti babi, manusia yang pernah kontak dengan virus AI, peralatan yang tercemar virus AI, dan alat transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Penularan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai lokasi yang dapat merupakan sumber virus AI adalah peternakan ayam/unggas komersial, unggas peliharaan di pekarangan rumah (sektor 4), berbagai fasilitas umum pasar ayam/unggas, pasar burung, taman burung, tempat penampungan ayam, tempat pemotongan ayam, dan perkebunan yang menggunakan kotoran ayam sebagai pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang berperan dalam penularan virus AI antar wilayah adalah lalulintas unggas dan produk asal unggas,transportasi kotoran ayam,mobilitas orang, kenaraan, bahan, peralatan, dan unggas/burung liar yang bermigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penularan virus AI sendiri sebenarnya tidak diketahui secara pasti, apakah itu unggas liar yang bermigrasi, lalu lintas unggas/produk asal unggas, atau kotoran ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diketahui adalah penularan terjadi secara horizontal yaitu melalui udara yang tercemar virus AI atau kontak dekat lewat pernafasan, atau melalui kotoran/bahan yang tercemar virus AI (lewat mulut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penularan secara vertikal disampaikan pakar AI Prof Drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD melengkapi uraian di atas: Tidak terbukti! (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-6942058628962490376?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/6942058628962490376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=6942058628962490376' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/6942058628962490376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/6942058628962490376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/lebih-kenal-h5n1-dan-penularannya.html' title='LEBIH KENAL H5N1 DAN PENULARANNYA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-7143875589050797897</id><published>2009-01-18T23:57:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:14:16.687-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>DOKTER HEWAN FLU BURUNG TIDAK DIPERHATIKAN KESELAMATAN HIDUPNYA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/dokter-hewan-flu-burung-tidak.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOKTER HEWAN FLU BURUNG TIDAK DIPERHATIKAN KESELAMATAN HIDUPNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan pemusnahan unggas di DKI Jakarta melibatkan banyak masyarakat tak terkecuali dokter hewan. Bahkan dokter hewan adalah pelaksana penentu karena merekalah yang dulu pada pemeriksaan titer antibodi virus Avian Influenza pada unggas, sebelum diputuskan untuk dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih jelas dalam ingatan pemeriksaan dan pemusnahan ayam dan burung tahun 2005. Tahun 2007 ini, mereka pun dilibatkan lagi. Namun keikutsertaan dokter hewan menjadi terhambat karena pengalaman buruk di lapangan mereka tidak dibekali peralatan, peralatan kesehatan, obat-obatan makanan yang cukup untuk keselamatan kerja sekaligus kesehatan saat masuk kampung penduduk dan kandang ternak ayam di sektor 4 (pemeliharaan ayam di pemukiman)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan, sarung tangan hanya satu, kantung bangkai membawa sendiri, tas kresek bawa sendiri, bahkan jarum suntik untuk menyedot darah hanya satu per orang! Obat-obatan tidak tersedia, suplemen untuk mempertahankan daya tahan tubuh sama sekali tidak diberikan. Bahkan selama tiga hari di lapangan setiap hari hanya mendapat makanan satu kali itu pun hanya nasi bungkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal pekerjaan yang dilakukan untuk pemeriksaan darah adalah pekerjaan yang sangat riskan bisa menularkan virus infeksius Flu Burung! Padahal pula, para dokter hewan ini ikut berperan lantaran anjuran pemerintah (lingkup Departemen Pertanian) dan organisasi profesi dokter hewan (PDHI-Perhimpunan Dokter hewan Indonesia)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi mengenaskan dokter hewan itu sangat berbeda dengan tim kesehatan manusia di bawah Departemen Kesehatan yang menyediakan obat, peralatan dan suplemen serta konsumsi untuk kesehatan. Bahkan tim dokter umum ini ada dana operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh prinsip dari kerja profesi dokter hewan dan dokter manusia adalah sama, yaitu: melayani masyarakat, bukan untuk bisnis atau profit ekonomi! Karena jiwa sosial mereka maka seolah-olah tim dokter hewan ini tidak diperhatikan keselamatan kerja dan kesehatannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dokter hewan di lapangan, tapi juga dokter hewan peneliti di lembaga penelitian veteriner yang ada, yang setiap hari memeriksa darah dari ternak dan juga manusia yang terkait dengan penyakit flu burung. Mereka tidak diperhatikan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam menjalankan tugas, yang dilakukan bahkan sampai pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter hewan peneliti bahkan sampai positif mengidap virus H5N1 dalam tubuhnya, sampai demam-demam. Pertolongan obat-obatan dan vitamin suplemen tidak diberikan oleh instansinya. Obat Tamiflu bahkan harus diberikan oleh kolega dokter hewan yang datang dari Surabaya. Padahal dokter hewan peneliti yang bersangkutan bertempat di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter hewan peneliti itu harus memeriksa titer dan menguji darahnya sendiri dengan keahlian yang dimiliki. Mereka pun tidak mendapat dana untuk kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan kerja untuk pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter hewan lapangan dan dokter hewan peneliti itu adalah korban dari perhatian birokrasi yang tidak siap dalam menjalankan penanggulangan flu burung sampai akar-akarnya. Tak mengherankan pada program pemusnahan kali ini banyak dokter hewan yang urung diri terlibat. Bukankah dana untuk penanggulangan flu burung ini begitu berlimpah? Mengapa pemerintah tidak sanggup memperhatikan kepentingan vital ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat perbaiki dan perhatikan, jangan sampai jatuh korban dari kalangan yang masuk sangat riskan dengan penularan ini, juga demi suksesnya program pemberantasan flu burung! (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-7143875589050797897?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/7143875589050797897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=7143875589050797897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/7143875589050797897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/7143875589050797897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/dokter-hewan-flu-burung-tidak.html' title='DOKTER HEWAN FLU BURUNG TIDAK DIPERHATIKAN KESELAMATAN HIDUPNYA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3225060983605000892</id><published>2009-01-18T23:52:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:19:51.176-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>ADAKAH PERAN KUCING DAN BABI PADA PENYEBARAN AI?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/adakah-peran-kucing-dan-babi-pada.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAKAH PERAN KUCING DAN BABI PADA PENYEBARAN AI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Tidak semudah kata orang soal peran kucing, babi dan lalat dalam penyebaran AI. Tetaplah tenang, hati-hati, jaga diri dengan biosecurity dan teruslah belajar. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberitaan media massa soal peran kucing, babi dan lalat dalam penyebaran AI/Flu Burung ke manusia, dianggap banyak kalangan dapat membingungkan masyarakat. Sebenarnya hal ini bagaimana? Kepala Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor, Dr Drh Darminto menjelaskan, berdasar penelitian di Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, katanya, kucing resisten terhadap infeksi oleh virus influenza A. Tapi, peka terhadap infeksi virus influenza H5N1. Kucing yang diinfeksi secara buatan dengan diberi pakan karkas ayam terinfeksi virus AI H5N1 memperlihatkan gejala sakit: suhu badan tinggi, gejala pernafasan parah dan berakhir dengan kematian.&lt;br /&gt;Kemudian, virus AI H5N1 dari kucing sakit dapat menular ke kucing lain yang sehat dan juga kepada macan (harimau). Di Indonesia banyak dideteksi/diisolasi virus AI dari kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, menurut Darminto, hal ini masih perlu dipelajari lebih lanjut tentang peran kucing dalam epidemiologi AI (H5N1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian di Thailand, lanjut Dr Darminto, babi bisa diinfeksi secara buatan dengan virus AI (H5N1). Hasilnya tidak ada gejala klinis, kecuali peningkatan suhu badan ringan.Virus AI H5N1 ini dapat diisolasi ulang dari swab nasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, virus AI H5N1 dari babi ini tidak menular ke babi lain, atau unggas yang sekandang. Dengan demikian babi ini tidak penting dalam epidemiologi (penyebaran) AI. Khususnya di Indonesia, karena sangat sedikit masyarakat yang memelihara babi. Meskipun demikian, di Indonesia, banyak dideteksi/diisolasi virus AI (H5N1) dari ternak babi di Tangerang, Jawa Tengah dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Darminto, virus yang dapat ditularkan oleh serangga dikelompokkan dalam Famili Arboviridae, genus Arbovirus. Contohnya adalah virus penyebab JE, EE, BEF, Blue Tongue, RVF, DHF dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus tersebut mampu menginfeksi serangga dan berkembang biak pada serangga tanpa menimbulkan sakit. Adapun, serangga memiliki Reseptor terhadap virus-virus itu.&lt;br /&gt;Virus AI masuk dalam golongan Orthomyxovirus, tidak disebarkan melalui serangga, termasuk lalat. “Lalat tidak punya reseptor terhadap virus AI,” tegas Darminto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian virus AI tidak dapat berkembang biak dalam tubuh lalat. Yang didengang-dengungkan orang lalat dapat menyebarkan AI, bukanlah virus tersebut tumbuh dalam hidup lalat alalu menular. Kemungkinan besar, menurut Darminto, hanya bersifat mekanis. Artinya hanya cemaran unggas yang mengandung virus AI yang dipindahkan oleh lalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya pula, tidak semudah kata orang soal peran kucing, babi dan lalat dalam penyebaran AI. Jadi, tetap tenang, hati-hati serta jaga dirilah dengan biosecurity. Kita pun wajib terus belajar untuk pengetahuan yang lebih lanjut. (YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3225060983605000892?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3225060983605000892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3225060983605000892' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3225060983605000892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3225060983605000892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/adakah-peran-kucing-dan-babi-pada.html' title='ADAKAH PERAN KUCING DAN BABI PADA PENYEBARAN AI?'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-8074172993878941620</id><published>2009-01-18T23:46:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:16:44.075-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pakan Ternak'/><title type='text'>HUJAN, MIKOTOKSIN DAN FLU BURUNG</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/hujan-mikotoksin-dan-flu-burung.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN, MIKOTOKSIN DAN FLU BURUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hujan tiba, lebih-lebih pada musim penghujan, dengan kelembaban pada iklim kita yang sangat ekstrim perubahan cuacanya dari waktu ke waktu, sebagai kalangan yang bergelut dengan alam dan peternakan tentu kita sangat mafhum apa yang bakal terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun kita adalah makhluk hidup yang harus terus menyeimbangkan diri kondisi internal tubuh kita dengan lingkungan dan segala perubahannya. Tanpa keseimbangan ini, terlebih bila kita bersikap sembrono terhadap segala macam faktor penentu kesehatan, dapat diprediksi masalah penyakit bakal menimpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyiapkan diri kita siapkan segala ‘perlengkapan senjata’ yang ada. Bahkan analisa berdasar yang sudah terjadi menjadi pegangan untuk membuat prakiraan yang bakal terjadi sehingga segenap perlengkapan senjata itu berlaku secara sempurna.&lt;br /&gt;Peternak sudah sangat terbiasa dengan kemungkinan menjamurnya mikotoksin di musim penghujan, maka Infovet mengangkat hal ini. Sangat berfaedah bagi peternak, itu berdasar pengakuan banyak peternak. Menampilkan berbagai tulisan ini adalah tugas kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun penyakit bukanlah pemain single kejuaraan badminton, mereka sukanya lebih dari main beregu, yaitu: Main keroyokan! Maka tulisan tentang mengeroyoknya penyakit pernafasan dan pencernaan pun kami nagkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat bersamaan, dunia perunggasan kembali ditimpa musibah Tsunami kedua bagi peternakan unggas, hanya karena kasus kematian manusia di sektor 4 (pemeliharaan ternak di pemukiman penduduk) bertambah memposisikan Indonesia menjadi negara dengan kasus Flu Burung tertinggi di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal peternakan komersial sungguh-sungguh sudah lega dalam tahun terakhir tidak ada alias negatif kasus AI di peternakan khususnya sektor 1 dan 2 (peternakan komersial besar dengan biosecurity sangat ketat dan peternakan menengah dengan biosecurity cukup ketat). Sedangkan di sektor 3 meski terjadi sedikit, nyaris tak terdengar keluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebetulnya terjadi? Kasus AI dan Flu Burung di sektor 4 membuat peternak di sektor 1, 2, dan 3 mesti ikut introspeksi dan lebih waspada, berperang melawan opini masyarakat luas, melawan kebijakan pemusnahan unggas, sekaligus melawan berbagai penyakit lain dengan pengelolaan peternakan sebaik-baiknya dan bersahabat denagn alam lingkungan agar tidak menyatroni peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di musim penghujan kali ini, sajian Infovet menjadi sangat kaya, dan kita memberi judul yang sungguhlah akrab dengan kalangan peternakan: HUJAN, MIKOTOKSIN DAN FLU BURUNG. (Yonathan Rahardjo) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-8074172993878941620?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/8074172993878941620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=8074172993878941620' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8074172993878941620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8074172993878941620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/hujan-mikotoksin-dan-flu-burung.html' title='HUJAN, MIKOTOKSIN DAN FLU BURUNG'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3796028222950363119</id><published>2009-01-18T23:39:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:18:26.870-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>AI TERBARU TERUS MEMBURU DAN DIBURU</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_EvfG1XnN8wU/RnudoSoiZqI/AAAAAAAAABI/e0BBf3pMKP4/s1600-h/Layer+AI+02.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078826320312559266" src="http://1.bp.blogspot.com/_EvfG1XnN8wU/RnudoSoiZqI/AAAAAAAAABI/e0BBf3pMKP4/s320/Layer+AI+02.jpg" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.wordpress.com/2007/05/21/ai-terbaru-terus-memburu-dan-diburu/" rel="bookmark"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AI TERBARU TERUS MEMBURU DAN DIBURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul AI gejala baru? Infovet melakukan investigasi serentah pada peternak, praktisi dan ahli di berbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya? Anda akan dibawa pada suatu fenomena baru kasus AI tahun 2007, yang punya gambaran realitas berbeda (baca: ada perkembangan) dengan kasus AI tahun 2003-2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam Potong Tidak Terbebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya para pedagang ayam potong tidak tahu apa yang terjadi dibalik kematian lebih dari 80% jumlah ayam yang baru diangkut dari kandang milik peternak. Namun oleh karena kejadian itu terus berulang maka, akhirnya terkuak juga tabir itu. Tidak lain kasus itu adalah manifestasi semakin nyata kasus wabah penyakit Avian Influenza (AI) pada ayam potong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui bahwa kasus penyakit yang sempat menggegerkan industri perunggasan domestik itu meski sudah memasuki tahun ke lima, selama ini lebih banyak menerjang ayam petelur. Sangat sedikit kejadiannya bahkan tidak setiap daerah dijumpai kasus penyakit itu pada ayam potong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa waktu yang lalu para peternak ayam potong masih bisa membusungkan dada bahwa AI hanya menyerang ayam yang umur produksinya tua seperti ayam petelur contohnya. Dan ayam potong diasumsikan terbebas dari sergapan penyakit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini dengan semakin merebaknya kasus AI pada ayam potong, seolah menjadi lengkaplah sudah penderitaan pelaku dunia perunggasan nasional. Hantaman bertalu-talu seperti rendahnya harga jual hasil produksi yang berlangusung cukup lama itu, bahkan menurut catatan Infovet selama lebih ari 6 minggu di mana harga jual ayam besar sempat menyentuh setengahnya dari biaya titik impas. Selain itu di pihak lain juga terjadi daya serap pasar yang terus melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Drh Wakhid N dari PT Vaksindo Satwa Nusantara yang memberikan informasi tentang merebaknya penyakit AI pada ayam potong kepada Infovet. Informasi yang sama juga disampaikan oleh Ir Danang Purwantoro dari PT Biotek Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus kepada Infovet Wakhid mengungkapkan bahwa kasus ini menjadi masalah serius yang harus diupayakan pemecahannya secara bersama seluruh stake holder, seperti peternak, pemerintah ataupun produsen vaksin dan obat-obatan hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya ini sangat mendesak dan penting agar kasus itu tidak semakin meluluh-lantakan industri perunggasan nasional yang saat ini mendekati jurang kehancuran. Hal ini akan diperparah dengan ancaman akan masuknya produk unggas dari negeri manca yang seolah sudah tancap gas siap start masuk ke bumi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon Peternak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut diceritakan oleh Wakhid bahwa banyak peternak juga pedagang ayam potong mengeluhkan wabah penyakit itu, yang nota bene selama ini disikapi oleh peternak ayam potong dengan dingin. Di Jogjakarta dan Jawa Tengah sendiri kasus penyakit itu pada ayam potong relatif belum menjadi masalah, namun di daerah lain sudah menjadi teror yang sangat menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teror yang menakutkan itu dapat diambil contoh kasus yang faktual terjadi belum lama ini di kawasan Botabek. Seperti diutarakan oleh Danang pernah terjadi peternak ayam potong dengan populasi 60.000 ekor yang berumur 11 hari nekad mengambil keputusan menumpas total populasi oleh karena kandang-kandang di sekitarnya sudah terserang penyakit AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen pemilik dari pada menderita kerugian yang lebih besar, di kemudian hari alias pada saat bertambah umur, maka langkah yang sengaja merugikan diri sendiri itu jauh lebih ringan. Memang langkah itu menurut pandangan pada umumnya adalah sebuah langkah ”gila” tetapi justru rasional menurut si pelaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus tersebut memang membuat jantung pelaku usaha budidaya perunggasan berdetak tak karuan. Oleh karena itu kebersamaan antar pemangku usaha itu menjadi sangat penting sekali.Investigasi Infovet ke lapangan di Jogjakarta kasus penyakit itu sampai saat tulisan ini dibuat memang belum ditemukan. Namun ternyata di Jawa Tengah, khususnya di Purwokerto kasus itu sudah pernah ditemukan meski frekuensinya baru 4 kali dengan populasi yang relatif sangat kecil yaitu total populasi 4.500 ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir Agus W alias “Suwingi” seorang petugas lapangan yang banyak membimbing para peternak mengungkapkan hal itu. Memang umumnya kasus itu banyak terjadi di kawasan pantai selatan sekitar Gombong dan terjadi pada peternak mikro dengan populasi 1500 ekor per periode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan yang di Botabek yang terkuak karena komplain dari pedagang ayam, justru peternak dan Agus yang pertama kali menduga hal itu oleh karena penyakit AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wong ayam-ayam itu seminggu saat mau dipanen masih segar bugar dan nafsu makan biasa saja koq 2 hari kemudian langsung mati mendadak dengan total kematian mencapai 60% dari total populasi 1000-1500 ekor. Lha saya menduga hal itu mungkin karena ND saja. Namun kemudian ada sejawat Dokter Hewan yang ternyata mendiagnosa kasus penyakit itu tidak lain adalah AI,” ujarnya Agus dengan logat medok Banyumas kepada Infovet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan informasi yang demikian memang semua pihak patut waspada sekaligus prihatin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala Klinik Berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Pebruari 2007, tim Drh Agus Damar Kristiyanto Kepala Seksi Penjualan PT Romindo Primavetcom di Tangerang menjumpai kasus AI pada ayam broiler di Baleraja, dengan kematian 70 persen, dijumpai pada ayam umur 15 hari, 23 hari, dan saat panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi biosecurity peternakan di tempat itu cenderung ketat, namun ayam tidak divaksin. Khawatir kondisi itu terulang, peternak beramai-ramai menjual dan membagi-bagi ayamnya. Namun kondisi masing-masing peternakan, tidaklah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmahnya, peternak yang tidak pernah memakai vaksin AI pada ayam pegading mau mencobanya. Pada anak ayam umur 1 atau 4 hari, dosis yang dipakai adalah ½ dosis untuk ayam petelur. Kemudian setelah ditest antibodinya pada umur 27 tahun, tidak menunjukkan kena AI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Drh Damar, kasus AI semacam itu saat itu belum muncul di Jakarta, diketahui tidak ada antibodinya. Namun perlu terus untuk dipantau.&lt;br /&gt;Sedangkan di Jawa Timur, Drh Prabadasanta Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia menuturkan menemui AI yang tergolong baru dengan kecenderungan berbeda dengan AI yang telah dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus AI yang ditemui Maret 2007 suhu tubuh ayam rata-rata sangat tinggi.Panasnya tubuh ayam dapat dibandingkan dengan kasus gumboro di mana suhu tubuh panas panas. Kasus AI di Madiun dan Magetan Jawa Timur ini juga menyerang 2500 milik seorang peternak yang membuatnya sangat kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatannya AI pun punya generasi baru, tidak kalah sama Nissan (merek mobil) yang punya generasi baru,” Drh Praba mengambil perumpamaan. Menurutnya, tampaknya virus sudah mengganggu pusat pengaturan suhu tubuh, sehingga suhu tubuh panas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jari tangan dimasukkan kloaka hingga tuba fallopii untuk memeriksa telur, nyenggol daging di sekitar ginjal, jari tangan seperti dislomot (terkena bara panas) api. Telur. Daerah tuba fallopii sangat panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam demam bersuhu lebih panas dari kasus-kasus terdahulu. Jenis antigennya membuat orang penasaran untuk mengetahui secara pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih H5N1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat serangannya, ayam kampung banyak yang mati. Pertama kali menemukan kasusnya, tim Drh Praba melakukan kroscek, hasilnya memang cenderung ada ciri baru, tapi tipe virusnya masih H5N1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun virus H5 N1 ini menyerang ke organ tubuh yang beda. Sifatnya pun masih HPAI (tipe ganas/Highly Phatogenic Avian Influenza) bukan LPAI (Lowly hatogenic Avian Influenza/ AI tipe tidak ganas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini mulai kelihatan di beberapa tempat. Pada kasus yang terjadi di Magetan, pada kandang yang terserang, ternyata dalam satu kandang terdapat ayam yang campur-campur jenisnya, ada ayam ras yang bercampur ayam kampung dan lain-lain. Belum ada kasus pada orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas tubuh yang sangat tinggi pada ayam ini, menurut Drh Praba merupakan manifestasi dari atresia ovari. Ayam yang dulu belum pernah divaksin, belum nampak gejala. Namun setelah ayam divaksin, ada serangan baru, maka terjadi tarik-menarik kekuatan antara antigen dan antibodi secara luar biasa sehingga suhu tubuh meningkat drastis lantaran syaraf pusat di hipofisa terganggu. Akibatnya pengontrol suhu tubuh pun turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD, gejala itu muncul seiring perkembangan AI di mana ayam yang sudah vaksin AI dan diberlakukan biosecurity secara ketat. Dalam tubuh ayam antibodi virus ditekan terus, sehingga antibodi membentuk sistem perlawanan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekan FKH UGM ini mengungkapkan, kasus ini berbeda dengan kasus tahun 2003-2004 yang kondisinya sama. Variasi. Pada kasus yang sekarang, mungkin terjadi variasi susunan genetik virus. Misalnya susunan asam amino 1-3, walau tipe virus ini masih HPAI. Akibatnya gejala klinis dan patologi klinis berbeda dengan yang terjadi pada kasus 2003-2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus 2003-2004 gejalanya khas, dan tidak terjadi pada ayam broiler. Kasus pada ayam layer fase pertumbuhan dan remaja (pullet) pun tidak ada. Namun terjadi kematian tingan pada ayam layer yang menyebabkan penurunan produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang sekarang, secara patologi memang tidak ada gejala. Namun gejala klinis pada ayam petelur terjadi perdarahan di ovarium. Adapun pemeriksaan secara klinis dan patologi klinis, serologis titer AB tidak seragam. Umumnya broiler yang tidak divaksinasi, begitu ada kontak dengan virus lapang, serangan susah dielakkan. Kematian pun tak dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, gejala perdarahan yang ekstensif tidak dijumpai pada ayam petelur dan ayam pedaging. Biosecurity mulai kendor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus AI pada ayam layer peternakan komersial, membuat peternak sangat tegang. Kematianayam meningkat. Antigen virus itu diperiksa di laboratorium FKH UGM, tipe virusnya masih HPAI H5N1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasusnya ternyata tidak hanya terjadi pada ayam layer, tapi juga pada ayam broiler dan ayam buras pada peternakan rakyat. Walaupun tipe virus juga H5N1, susahnya gejala klinis dan patologi klinisnya tidak spesifik seperti kasus AI pada tahun 2003 dan 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan Molekular Serang Otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya variasi gejala dan patologi ayam pada kasus 2007 ini, menurut Prof Charles karena ada pergerakan dinamika molekularnya. Ada perubahan variasi 1-2 asam amino. 1-2 isolat dicurigai telah mengalami perubahan ini. Untuk penelitian ini diperlukan standar emasnya, standar penelitian terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof Charles, penelitian terhadap kasus demi kasus, terutama tererhadap faktor selular dan bioselular virus, tidak bisa dengan pola dan cara seperti yang telah dilakukan, begitu sajak terus-menerus. Perlu diteliti lebih dalam terhadap gen H dan N-nya, protein-protein lain, reseptor-reseptornya dan lain-lain yang sejauh ini belum dilakukan mengingat terbatasnya dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penelitian lebih canggih memang diperlukan kerjasama dengan berbagai institusi yang lebih maju, misalnya Biologi Molekular Balitbangkes dan dibutuhkan praklarsa ahli-ahli biologi. Juga dibutuhkan program yang lebih maju dan penelitian-penelitian canggih lain mengingat isolat-isolat bahan hewan di Indonesia jumlahnya banyak sekali. Kita pun tidak bisa menekuni dan mengelola bidang ini secara sepotong-sepotong seperti yang terjadi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Drh CA Nidom MS dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya menuturkan kasus AI bergaya baru itu dalam analisanya sudah menyerang otak. Toksin atau racun dari virus itu sudah mengganggu termoregulator sekitar otak. Akibatnya suhu tubuh yang ditimbulkan sangat tinggi dan dengan sendirinya mengganggu metabolisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr Nidom, ada dua kemungkinan yang terjadi pada kondisi ayam, yaitu ayam itu dapat bertahan atau tidak dapat bertahan. Bila ayam dapat bertahan, produksinya akan turun. Sedangkan ayam yang tidak bertahan akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Nidom saat ini sedang meneliti biomulekular dari virus tersebut, sesuai dengan kepakarannya di FKH Unair. Sementara ini mendeteksi ada hal aneh dengan perubahan itu. Saat ini tahap penelitian di laboratoriumnya, preparat virus masih ditanam pada telur, dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk mendapatkan hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sementara kita tunggu penelitian pakar bimolekular yang kini menjabat Wakil Dekan III FKH Unair ini. Untuk kali ini kita tahu kecurigaannya, dengan menyerangnya virus ke otak/susunan syaraf pusat, kemungkinan dapat terjadi perubahan protein dan DNA dari virus sehingga dapat menembus barier syaraf di otak, menganggu termoregulator dan muncullah panas tinggi itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Drh Lies Parede MSc PhD, untuk pemeriksaan laboratorium itu, yang pertama kali dibutuhkan adalah data klinis dan histori-nya dari peternakan yang bersangkutan. Pihaknya (Balai Besar Penelitian Veteriner/Bbalitvet Bogor) juga mencari informasi dari daerah Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila AI Gaya Baru itu terjadi, katanya, “Wah, bencana apa lagi yang menimpa Indonesia yah?” Ini hanya peringatan agar kita lebih waspada dan terus waspada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Biosecurity&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya kasus-kasus yang mengejutkan itu, menurut Prof Charles Ranggatabbu karena biosecurity mulai kendor. Terjadi perbedaan yang nyata antara layer yang divaksinasi dan biosecurity ketat dengan biosecurity yang jebol sekaligus tidak dilakukan vaksinasi. Pada kondisi yang terakhir, kematian meningkat sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus dengan tipe virus yang sama-sama HPAI ini, Prof Charles menekankan penanggulangan dan pengendaliannya dengan 9 Strategi Pengendalian AI yang sudah dikenal dan ditetapkan oleh pemerintah. “Tetap kerjakan 9 strategi pendendalian AI itu,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuka ingatan, 9 strategi itu adalah:1. Peningkatan Biosecurity2. Vaksinasi3. Depopulasi (pemusnahan terbatas) di daerah tertular4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian lalulintas unggas,produkunggas dan limbah peternakan unggas5. Surveilans dan penelusuran6. Pengisian kandang kembali7. Stamping-out (pemusnahan menyeluruh) di daerah tertular baru8. Peningkatan kesadaran masyarakat9. Monitoring dan evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Charles mengingatkan bila ada kasus janganlah gegabah. Lalu jangan menjual hidup-hidup yang ayam terserang AI. Kotoran ayam yang sudah disimpan 1 minggu, harus dikeluarkan. Juga ketatkan kontrol lalu lintas. “Biosecurity adalah andalan. Tanpa itu ayam akan kena AI lagi,” tekan Charles. (Untung Satriyo, Yonathan Rahardjo)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3796028222950363119?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3796028222950363119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3796028222950363119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3796028222950363119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3796028222950363119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/ai-terbaru-terus-memburu-dan-diburu.html' title='AI TERBARU TERUS MEMBURU DAN DIBURU'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_EvfG1XnN8wU/RnudoSoiZqI/AAAAAAAAABI/e0BBf3pMKP4/s72-c/Layer+AI+02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3990353011568342705</id><published>2009-01-18T23:36:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:21:11.012-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>STATUS PALING MUTAKHIR PENYAKIT PERNAFASAN AVIAN INFLUENZA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/status-paling-mutakhir-penyakit.html"&gt;Infovet&lt;/a&gt;&lt;span class="widget-item-control"&gt;&lt;span class="item-control blog-admin"&gt;&lt;a class="quickedit" href="http://www.blogger.com/rearrange?blogID=108272210623478992&amp;amp;widgetType=Label&amp;amp;widgetId=Label1&amp;amp;action=editWidget" onclick="'return" target="configLabel1" title="Edit"&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt;     &lt;br /&gt;&lt;div id="main-wrapper"&gt;&lt;div class="main section" id="main"&gt;&lt;div class="widget Blog" id="Blog1"&gt;&lt;div class="blog-posts hfeed"&gt;&lt;div class="post hentry"&gt;&lt;a href="" name="53355979027251560"&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div align="justify"&gt;STATUS PALING MUTAKHIR PENYAKIT PERNAFASAN AVIAN INFLUENZA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan penyakit pernafasan Avian Influenza sejak 2003 sampai 2007, sejauh ini menampakkan gejala yang mencengangkan. Penyakit seperti tidak ada hentinya terus membuat kalangan peternakan dan masyarakat umum, Indonesia dan dunia, terus berusaha keras menghadapinya dengan gagah berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar internasional vaksinasi flu burung (avian influenza/AI) pun diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian bekerja sama dengan Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), Senin hingga Selasa (11-12) Juni di Jakarta.&lt;br /&gt;Ditambah dengan beberapa komentar oleh beberapa tokoh di luar seminar internasional itu, pembaca mendapatkan gambaran paling mutakhir tentang status penyakit pernafan paling mutakhir ini. Tentu sangat bermanfaat untuk menghadapinya dengan penuh keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Ir Anton Apriyantono MS&lt;br /&gt;Menteri Pertanian&lt;br /&gt;“Wabah HPAI yang merebak di Indonesia mulai pertengahan tahun 2003 telah menyebar cepat ke berbagai daerah di Indonesia. Awal tahun 2004 Indonesia pemerintah memutuskan untuk memilih vaksinasi massal terutama pada sektor 4 (backyard) sebagai salah satu upaya pengendalian penyakit.&lt;br /&gt;Pertimbangannya, Pulau Jawa merupakan lokasi sentra perunggasan (60%) dan wabah penyakit AI pada awal tahun 2004 telah menyebar ke seluruh propinsi di Pulau Jawa sehingga tidak mungkin dilakukan tindakan pemusnahan secara total terhadap seluruh unggas atau ‘stamping out’. Vaksin yang digunakan pada saat itu adalah vaksin produksi dalam negeri dengan menggunakan biang/bibit vaksin (seed) berasal dari isolat virus lokal subtipe H5N1.&lt;br /&gt;Tujuan utama dilakukannya vaksinasi adalah untuk memberikan kekebalan pada unggas, melindungi unggas dari gejala klinis AI, mencegah dan menekan kematian unggas dan menekan pengeluaran virus (virus shedding) di lingkungan.&lt;br /&gt;Meskipun demikian vaksinasi massal bukan satu-satunya cara pengendalian AI, karena harus disertai dengan tindakan peningkatan biosekuriti, depopulasi terbatas, surveilans, pengawasan lalulintas unggas dan produk serta bahan-bahan lainnya.&lt;br /&gt;Sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh FAO dan OIE vahwa vaksinasi terhadap HPAI dilakukan dengan menggunakan seed vaksin yang berasal dari low pathogenic avian influenza (LPAI) virus.&lt;br /&gt;Berdasarkan rekomendasi tersebut dan didukung oleh penelitian-penelitian terbatas yang dilakukan oleh beberapa ahli maka pemerintah Indonesia mengubah kebijakan vaksinasinya dengan menggunakan vaksin yang berasal dari LPAI virus.&lt;br /&gt;Meskipun demikian pemerintah Indonesia akan terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penggunaan vaksin tersebut.&lt;br /&gt;Pada awalnya OIE tidak merekomendasikan vaksinasi sebagai salah satu upaya pengendalian dan pemberantasan penyakit Ainamun dalam perkembangannya OIE/FAI/WHO akhirnya merekomendasikan vaksinasi sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan atau memberantas HPAI dengan persyaratan-persyaratan tertentu.&lt;br /&gt;Bahkan Konferensi Internasional tentang Vaksinasi AI di Verona, Italia pada Maret 2007 merekomendasikan bahwa vaksinasi unggas yang dikombinasikan dengan upaya pengendalian lainnya merupakan tindakan penting untuk memerangi virus H5N1.&lt;br /&gt;Konferensi juga merekomendasikan bahwa di negara-negara endemik di mana tindakan pengendalian lainnya tidak dapat dilakukan dengan optimum. Maka vaksinasi pada unggas merupakan upaya pengendalian yang tepat terhadap AI dengan syarat menggunakan vaksin berkualitas sesuai standar OIE dan tersedianya infrastruktur yang baik untuk menjamin pengiriman vaksin secara cepat dan aman.&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan vaksinasi di Indonesia, vaksinasi massal pada unggas sektor 4 tidak berjalan sesuai yang diharapkan karena adanya kendala keterbatasan jumlah vaksin, peralatan dan fasilitas, tenaga vaksinator dan dana operasional.&lt;br /&gt;Oleh karena itu sejak tahun 2006 vaksinasi ditargetkan (targeted vaccination) hanya dilaksanakan di daerah yang berisiko tinggi di 11 propinsi (seluruh propinsi di P. Jawa, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir Mathur Riady MA&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Peternakan&lt;br /&gt;“Sejak akhir tahun 2003 wabah Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) melanda beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia. Wabah ini disebabkan oleh virus influenza tipe A subtipe H5N1 yang sangat mengancam kesehatan unggas dan manusia diseluruh dunia.&lt;br /&gt;Sejak pertama kali ditemukan, HPAI telah menjadi endemis di seluruh daerah pedesaan di Indonesia. Meskipun upaya eradikasi dan vaksinasi telah dilakukan namun wabah masih terus bermunculan berupa letupan-letupan kasus yang muncul sporadis.&lt;br /&gt;Sedikitnya 300 juta unggas kampung hidup berdampingan dengan dengan 248 juta warga Indonesia di negara yang luasnya seperlima AS.&lt;br /&gt;Indonesia menjadi salah satu negara dengan populasi penduduk terpadat di dunia dengan beragam kebudayaan mencakup budaya beternak untuk pangan, budidaya, hiburan, dan upacara keagamaan. Kondisi ini memungkinkan banyak manusia terpapar virus AI setiap hari.&lt;br /&gt;Untuk mengontrol penyakit ini, salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah program vaksinasi di wilayah berisiko tinggi (targeted vaccination). Sebelumnya upaya ini mendapat tentangan dari berbagai negara di dunia khususnya negara maju. Namun Indonesia tetap kukuh pada jalan yang diambilnya karena langkah depopulasi massal tidak mungkin dilakukan karena membutuhkan biaya besar.&lt;br /&gt;Kini meskipun program vaksinasi telah menjadi rekomendasi badan dunia urusan penyakit hewan atau lebih dikenal Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), kita semua tahu bahwa upaya vaksinasi tak kan berhasil menghilangkan virus AI dari negara kepulauan Indonesia ini bila tidak didukung dengan tindakan yang lain, seperti penerapan biosekuriti, surveilans dan penataan pemasaran unggas.&lt;br /&gt;Lebih parahnya, bila tindakan vaksinasi ini gagal akan menimbulkan infeksi ulangan yang menjadikan AI menjadi endemis.&lt;br /&gt;Sesuai rekomendasi Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan OIE, Indonesia menggunakan bibit vaksin yang berasal dari low pathogenic avian influenza virus. Pemerintah Indonesia terus memantau dan mengevaluasi penggunaan vaksin itu.&lt;br /&gt;Untuk mencegah terjadi wabah kembali, upaya harus difokuskan pada peningkatan dan penerapan pengetahuan dasar tentang prosedur biosekuriti yang ketat. Pengetatan biosekuriti berguna untuk menunjang program vaksinasi yang telah dilakukan, untuk mendeteksi kasus lebih awal dan mendepopulasi unggas yang terinfeksi dan berisiko tinggi agar kerugian lebih besar dapat diminimalisir.&lt;br /&gt;Program pengendalian AI harus dikoordinasikan dengan Campaign Management Unit (CMU) atau Unit Pengendalian dan Penanggulangan Avian Influenza (UPPAI-Deptan) untuk menentukan wilayah, tata laksana, monitoring, program restocking, dan tindakan sanitasi untuk flok yang terinfeksi.&lt;br /&gt;Program ini harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan informasi serta didukung oleh sistem laboratorium yang terakreditasi.&lt;br /&gt;Seminar Internasional Vaksinasi AI terselenggara berkat kerjasama Departemen Pertanian dengan Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).&lt;br /&gt;Tujuan seminar ini untuk menyamakan pengetahuan dasar tentang pelaksanaan program vaksinasi dan mengevaluasi program yang telah dijalankan sebelumnya. Seminar ini juga menjadi sarana diskusi untuk menemukan strategi pelaksanaan vaksinasi yang terbaik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Drh Sofjan Sudardjat MS&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Peternakan&lt;br /&gt;Periode 1999-2005&lt;br /&gt;“Satu-satunya jalan untuk menanggulangi penyakit AI adalah dengan vaksinasi dan biosecurity. Pembunuhan atau pemberantasan ayam bukanlah tindakan yang utama, namun merupakan tindakan pelengkap.&lt;br /&gt;Sebagai dokter hewan yang merupakan intelek veteriner, mesti sanggup menggunakan ilmu epidemiologi yang secara intelek menggunakan intelegensi mengaitkan analisa-analisa sebelum mengambil keputusan.&lt;br /&gt;Menurut OIE dan FAO pun, hewan harus dilindungi, musuh utamanya berupa penyakit penyebab kesusahan-lah yang harus diberantas, bukan hewannya. Buat apa ada vaksin dan obat bila sedikit-sedikit ternak dibunuh, diberantas.&lt;br /&gt;Cari dasar epidemiologinya, cari vaksinasi yang paling sesuai dan harus bagus. Antigen virusnya harus lokal, virus lokal, yang sekarang virus lokal adalah H5N1. Apa alasannya kok menggunakan virus lain seperti H5N2?&lt;br /&gt;Ada yang bilang H5N1 kalau mutasi bisa ganas, bukankah bukan hanya H5N1 saja, H5N2 pun kalau mutasi juga bisa ganas. Jadi yang paling tepat untuk vaksinasi, tetap virus lokal yaitu H5N1.&lt;br /&gt;Jangan samakan kondisi Indonesia dengan kondisi luar negeri untuk dengan mudah mengikuti cara mereka dengan penerapan virus strain lain untuk vaksinasi. Di Amerika dan Jepang saja kekebalan silang yang timbul dengan menggunakan virus strain lain cuma rendah (60-70 persen), yang berhasil dengan kekebalan silang pun tidak semua (hanya 80-90 persen).&lt;br /&gt;Ada yang bilang dasar kebijakan antigen heterolog supaya prinsip DIVA bisa dipakai. Namun harus diingat itu kalau kondisi Indonesia ada seperti di luar negeri. Peternakan di luar negeri terisolir, tidak ada ayam buras yang berkeliaran, sedangkan di Indonesia campur baur.&lt;br /&gt;Bagaimana bisa menilai hasil vaksinasi dan kekebalan secara alami? Dibedakannya hasil vaksinasi ini hanya dapat dengan test. Tapi buat apa test dilakukan di peternakan-peternakan Indonesia itu?&lt;br /&gt;Test harganya sangat mahal, yang penting vaksinasi. Untuk itulah gunakan sistem informasi geografis, suatu tindakan penanggulangan penyakit harus disesuaikan dengan kondisi wilayah geografis dan alamnya, serta kondisi manusia dengan lingkungan sosialnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drh Musny Suatmodjo&lt;br /&gt;Direktur Kesehatan Hewan Ditjennak&lt;br /&gt;“Kematian unggas yang disebabkan oleh AI H5N1 sejak awal terjadi wabah pada tahun 2003 hingga sekarang dilaporkan cenderung menurun setelah upaya vaksinasi dilakukan.&lt;br /&gt;Yang patut menjadi catatan disini adalah perubahan keganasan virus AI yang ada di lapangan. Sebagai contoh kini ditemukan infeksi virus AI pada unggas di peternakan sektor 4 namun tidak ditemukan kematian.&lt;br /&gt;Untuk pengadaan vaksin dalam rangka vaksinasi massal tahun 2006, baru terealisasi bulan November dan Desember tahun lalu dengan jumlah lebih kurang 50 juta dosis. Itu pun baru pertengahan tahun 2007 ini terdisribusi semua.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk tahun anggaran tahun 2007 ini baru dimulai pengadaan vaksin sejumlah 60 juta dosis yang kemungkinan realisasinya juga akan mundur dari jadwal yang ditentukan semula.&lt;br /&gt;Jumlah vaksin tersebut memang tidak sebanding dengan kebutuhan populasi unggas yang ada di Pulau Jawa atau untuk 11 propinsi yang dikategorikan high risk. Sehingga strategi vaksinasi yang dilakukan difokuskan untuk daerah yang tertular dan sekitarnya (targeted vaccination) dengan metode ring vaksinasi.&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa populasi ayam kampung di sektor 4 saja mencapai 285 juta ekor di seluruh Indonesia itu belum termasuk populasi itik/entog yang jumlahnya mencapai 34 juta ekor.&lt;br /&gt;Sedangkan populasi ayam di sektor 1 hingga 4 untuk ayam ras petelur/layer adalah 98 juta ekor dan broiler mencapai 864,2 juta ekor menurut Statistik Peternakan tahun 2005.&lt;br /&gt;Pemerintah saat ini tengah mengalokasikan dana Rp 300 per dosis yang ditanggung oleh pemerintah Propinsi dan Kabupaten/kota. Sementara pemerintah hanya menyediakan bantuan dalam bentuk vaksin.&lt;br /&gt;Total vaksin yang tersedia untuk tahun 2007 sebanyak 60 juta dosis persediaan Deptan ditambah bantuan dari Cina sebanyak 33 juta dosis dan Bank Dunia sebanyak 5 juta dosis vaksin, sehingga total tersedia 98 juta dosis vaksin AI.&lt;br /&gt;Target dari seminar internasional vaksinasi AI ini, menentukan vaksin jenis apa yang akan digunakan untuk upaya eradikasi AI ke depan. Apakah nanti akan menggunakan strain vaksin LPAI atau HPAI. Apakah homolog atau heterolog. Atau apakah dari HPAI yang dilemahkan atau direkayasa dengan teknologi reverse genetik.&lt;br /&gt;Semua tergantung hasil keputusan para pakar dari OIE, FAO, WHO dan dari Indonesia nantinya.&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa saat ini Indonesia menggunakan 3 jenis strain vaksin yaitu H5N1, H5N9, dan H5N2. Latar belakang dipilih ketiga jenis vaksin itu karena vaksin H5N9 dan H5N2 telah digunakan untuk sektor 1 hingga 3 untuk mengendalikan AI sejak tahun 2004, sementara sektor 4 menggunakan vaksin H5N1 karena harganya murah, cepat dan mudah didapat.&lt;br /&gt;Penggunaan vaksin H5N1 sendiri akan mulai dihentikan sejak Oktober 2007 nanti sesuai dengan rekomendasi OIE, namun terlepas itu semua kita masih menunggu rekomendasi dari hasil seminar ini nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu Krishnamurti&lt;br /&gt;Komnas FBPI&lt;br /&gt;“Di Indonesia vaksinasi adalah kebijakan paling realistis untuk menangani AI H5N1 Indonesia. Kebijakan vaksinasi ini dahulu sempat ditentang oleh hampir seluruh negara di dunia, namun keadaannya kini terbalik justru dunia mendukung upaya vaksinasi yang dipilih Indonesia.&lt;br /&gt;Meskipun hasilnya belum optimal namun bila dibandingkan dengan negara yang memilih stamping out menyeluruh sebagai solusi atas wabah AI kini mereka malah terus mengalami wabah kembali seperti yang terjadi di Thailand, Vietnam dan Jepang. Artinya virus AI H5N1 tetap bercokol di negara mereka dan tak mau hilang.&lt;br /&gt;Pada seminar ini berkumpul ahli-ahli terbaik dari seluruh dunia. Dari pertemuan diharapkan dibahas secara objektif apakah masih relevan menjadikan seed virus dari strain LPAI sebagai rekomendasi pelaksanaan vaksinasi.&lt;br /&gt;Sementara di Indonesia hingga saat belum ditemukan virus AI H5N1 yang berpatogenisitas rendah (LPAI). Akibatnya dari rekomendasi itu kita ‘dipaksa’ untuk menggunakan vaksin dari subtipe virus lain (heterolog) seperti H5N9 dan H5N2 yang juga bermanfaat untuk prinsip DIVA (differentiating from vaccinated animals) yaitu membedakan unggas yang terinfeksi virus lapang atau virus vaksin dari titer antibodinya.&lt;br /&gt;Semua ahli pun menyadari bahwa vaksin yang paling optimal adalah vaksin yang berasal dari virus itu sendiri. Namun alasan kuat dipilihnya vaksin dari virus LPAI adalah karena faktor keamanan bagi manusianya itu sendiri, yaitu mulai dari proses produksi vaksin hingga aplikasinya ke ternak unggas.&lt;br /&gt;Dengan digunakannnya vaksin dari strain LPAI terbukti mampu mengurangi risiko manusia maupun unggas untuk tertular virus AI yang berasal dari vaksin karena patogenisitasnya yang rendah. Meskipun kekebalan protektif yang dihasilkan tidak sampai seratus persen bila dibandingkan dengan vaksin yang memiliki homologi sama dengan virus lapang yang ada.&lt;br /&gt;Telah mejadi kenyataan bahwa kesulitan paling besar adalah aplikasi vaksinasi di sektor 4. Petugas harus bersusah payah untuk menangkap unggas sebelum divaksinasi karena tidak dikandangkan.&lt;br /&gt;Sementara untuk kondisi di manusianya diketahui bahwa jumlah kasus baru penularan flu burung ke manusia dilaporkan menurun namun case fatality rate-nya meningkat.&lt;br /&gt;Dua hal ini harus dicermati betul, karena menunjukkan bahwa manusia semakin tahan terhadap virus flu burung, tetapi sekali tertular maka peluang hidupnya semakin kecil.&lt;br /&gt;Hingga saat ini tidak ada bukti lain terserangnya manusia selain akibat infeksi flu burung dari unggas. Memang ada dugaan penularan dari anjing dan kucing namun hal ini tidak pernah terbukti.”&lt;br /&gt;Dr John Weaver&lt;br /&gt;FAO&lt;br /&gt;“Telah terjadi kegagalan vaksinasi yang penyebabnya harus diselidiki lebih lanjut. Kegagalan tersebut kemungkinan bisa disebabkan strain vaksin yang tidak sama dengan strain virus yang ada di lapangan.&lt;br /&gt;Bisa juga terjadi karena kualitas vaksin yang jelek, atau sarana penyimpanan dan cara vaksinasi yang salah. Rendahnya jangkauan vaksinasi (coverage) yang dilakukan juga bisa menjadi pemicu kerap munculnya kembali letupan di beberapa daerah di Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Christianne JM Bruschke&lt;br /&gt;OIE (Office Internationale de Epizootica)&lt;br /&gt;“Sebagai satu-satunya badan dunia yang berwenang mengurusi kesehatan hewan, OIE menerima banyak permintaan dari negara-negara anggotanya untuk memberi masukan dalam menentukan kebijakan penanggulangan AI.&lt;br /&gt;Apakah mereka akan menggunakan metode vaksinasi atau tidak, kalau ya bagaimana program vaksinasinya.&lt;br /&gt;Untuk alasan ini OIE telah bekerjasama dengan FAO, membuat panduan dalam vaksinasi AI. Dalam panduan itu dijelaskan sebelum memilih vaksinasi sebagai upaya eradikasi sebaiknya mempertimbangkan situasi epidemiologis negara tersebut, faktor sosio-ekonomi, dan struktur industri perunggasan yang telah terbentuk.&lt;br /&gt;Latar belakang inilah yang dijadikan dasar pertimbangan program vaksinasi yang akan dipilih, meliputi penentuan strain vaskin, kebutuhan sarana pendukung dan implementasinya di lapangan. Lebih jauh, latar belakang ini menyediakan informasi monitoring untuk memantau sirkulasi virus.&lt;br /&gt;OIE juga telah membuat panduan umum prinsip dalam produksi vaksin dan panduan spesifik untuk produksi vaksin AI yang tercantum dalam OIE Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals.&lt;br /&gt;Hambatan dalam pengendalian AI di beberapa negara di dunia dan mungkin terjadi di Indonesia adalah lemahnya pelayanan kesehatan hewan nasional, lemahnya kapasitas dokter hewan dan paramedis di lapangan, terbatasnya kemampuan mengontrol lalulintas ternak.&lt;br /&gt;Kesulitan dalam menerapkan biosekuriti, stamping out dan vaksinasi juga menjadi penghambat, serta rendahnya kemampuan kapasitas dan kapabilitas laboratorium diagnostik juga kesenjangan pemahaman terhadap masalah AI.&lt;br /&gt;Dilaporkan pula dari akhir 2006 hingga Juni 2007 telah terjadi kasus baru dan kasus ulangan. Negara yang dilaporkan kembali terjadi wabah AI adalah Korea, Vietnam, Thailand, Jepang, Hongaria, Turki, Pakistan, Laos, Rusia, Kuwait dan Malaysia. Sementara kasus baru muncul di beberapa negara diantaranya adalah UK, Bangladesh, Ghana, dan Saudi Arabia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr David E Swayne&lt;br /&gt;Laboratorium Riset AI USDA&lt;br /&gt;“Virus flu burung atau H5N1 bukan virus tunggal, melainkan keluarga yang terdiri atas tiga keturunan dan sejumlah subketurunan. Virus AI beranak pinak dengan jenis berbeda karena mengalami mutasi akibat kekebalan alami unggas serta tekanan vaksin.&lt;br /&gt;Vaksinasi sendiri dipilih karena terbukti mampu menurunkan gejala klinis dan mengurangi kerugian ekonomis yang lebih besar.&lt;br /&gt;Rendahnya titer antibodi vaksinasi dilapangan dibanding dengan titer di laboratoeium disebabkan karena jeleknya kualitas vaksin, tidak baiknya kondisi penyimpanan dan penanganan vaksin, dosis vaksin yang dikurangi, tehnik vaksinasi yang salah, infeksi penyakit imunosupresif yang lain, coverage vaksinasi tidak mencapai 100% dari seluruh populasi, dan tingginya tantangan dari virus lapang.&lt;br /&gt;Infeksi sub klinis (silent infection) bisa terjadi akibat salahnya pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan.&lt;br /&gt;Untuk terus menyesuaikan strain genetik vaksin yang digunakan dengan virus AI lapangan, bisa dilakukan dengan penerapan bioteknologi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Charles Rangga Tabbu&lt;br /&gt;Dekan FKH UGM&lt;br /&gt;“Dalam pelaksanaan vaksinasi untuk mengatasi AI, vaksinasi terkadang tidak melindungi sepenuhnya dari infeksi. Terlebih virus shedding dari hasil vaksinasi bisa menimbulkan wabah kedua yang tidak terlihat berupa penurunan produktivitas bila tingkat biosekuriti yang diterapkan lemah.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, vaksin yang digunakan sebaiknya yang berkualitas tinggi, memiliki homologi antigen yang baik dan diberikan secara benar.&lt;br /&gt;Untuk jenis vaksin yang digunakan bisa bermacam tipe. Ada yang menggunakan vaksin killed/inaktif dengan pengemulsi minyak. Ada pula yang menggunakan vaksin rekombinan seperti di beberapa negara.&lt;br /&gt;Bisa juga menggunakan vaksin reverse genetic yang disebut sebagai “vaksin masa depan untuk AI”. Yang umum menggunakan vaksin yang homolog (sama subtipe HA dan NA-nya) atau heterolog (berbeda subtipe NA-nya) dengan virus lapang.&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian FKH UGM pada 560 ekor puyuh menggunakan 4 jenis vaksin yaitu H5N1, H5N9 dan 2 vaksin H5N2 dengan merk yang berbeda. Didapat kesimpulan jenis vaksin yang digunakan menimbulkan respon yang bervariasi seperti tingkat kematian dan produksi telur. Namun vaksinasi diakui mampu mengurangi shedding virus dilapangan.&lt;br /&gt;Namun entah bagaimana, dari hasil penelitian terlihat bahwa vaksin H5N9 memberikan respon yang paling baik dan signifikan. Berupa rendahnya tingkat kematian dan tetap tingginya produksi telur bila dibanding vaksin jenis lainnya.&lt;br /&gt;Hal inilah yang menjadi perdebatan sengit para pakar yang hadir saat itu, karena mereka juga mengaku melakukan studi yang sama namun hasil yang ditunjukan jauh berbeda. Apakah ini karena spesiesnya atau memang karena vaksinnya, semua masih abu-abu.&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua saya merekomendasikan dari hasil penelitian yang didanai Deptan itu vaksinasi AI terhadap puyuh tetap harus dilakukan setidaknya 3 kali. Dimulai saar umur 3 minggu, dan dilanjutkan dengan booster pada umur 6-7 minggu dan 10-12 minggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Drh Wayan Teguh Wibawan&lt;br /&gt;Wakil Dekan FKH IPB&lt;br /&gt;“Sebagian pakar dari Indonesia tak sependapat dengan Dr Swayne yang menyatakan dari penelitiannya bahwa 11 vaksin yang digunakan di Indonesia tidak ada yang memberikan kekebalan cukup baik terhadap virus AI asal Jawa Barat.&lt;br /&gt;Sementara penelitian itu hanya menggunakan satu virus untuk menantangnya dan kita tahu di Indonesia terdapat lebih satu famili virus AI H5N1, sehingga hasilnya dirasa kurang representatif disamping berarti upaya vaksinasi yang dilakukan pemerintah selama dinilai gagal dan percuma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gani Haryanto&lt;br /&gt;Ketua Umum ASOHI&lt;br /&gt;“Kami menyambut baik dengan diadakannya seminar ini. Dalam seminar ini menjadi wadah para ahli flu burung menungkan hasil riset dan perkembangan teknologi yang hasilnya nanti bisa menjadi masukan kepada Pemerintah Indonesia dalam menentukan kebijakan vaksinasi AI selanjutnya.&lt;br /&gt;Bagi pelaku bisnis obat hewan, berubahnya kebijakan vaksinasi yang mungkin nanti terjadi tidak ada masalah. Kami tinggal mengikuti apa yang menjadi ketentuan pemerintah. Bahkan kami sangat mendukung seminar ini dengan menghadirkan perwakilan 14 orang anggota ASOHI untuk berpartisipasi.&lt;br /&gt;Harapan kami sebagai Ketua ASOHI, hasil seminar dari pendapat expert bidang teknis AI ini diharapkan dapat menjadi pegangan dalam menyelesaikan masalah AI di Indonesia. Diperoleh kejelasan vaksin jenis apa yang cocok, metode apa yang digunakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don P Utoyo&lt;br /&gt;Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI)&lt;br /&gt;“Hampir seluruh ayam petelur yang populasinya kini mencapai 80-90 juta ekor telah divaksinasi. Terutama untuk peternakan di sektor 1 hingga 3.&lt;br /&gt;Ada beberapa peternak yang menerapkan vaksinasi pada ayam broiler. Ada yang dengan setengah dosis atau seperempat dosis sekadar untuk booster. Pertanyaannya perlukah broiler divaksinasi?&lt;br /&gt;Hal ini terus menjadi polemik karena umur broiler yang relatif pendek vaksinasi dimungkinkan menjadi hal yang mubazir terkait dengan lamanya waktu untuk titer antibodi untuk naik.&lt;br /&gt;Setidaknya dibutuhkan waktu 40 hari untuk antibodi bisa menimbulkan kekebalan optimal terhadap AI, sementara broiler dipotong rata-rata umur 35 hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yance&lt;br /&gt;Sido Agung Farm&lt;br /&gt;Krian Sidoarjo&lt;br /&gt;“Peternakan ayam petelur saya tidak pernah terserang penyakit AI. Kuncinya pada kepadatan kandang, jarak peternakan saya sangat jauh dari peternakan lain. Bahkan di wilayah ini, satu-satunya yang beternak ayam ras adalah saya sendiri.&lt;br /&gt;Mungkin virusnya sudah mati dalam perjalanan karena jarak tempuh yang sangat jauh. Sehingga begitu ada pengunjung masuk peternakan tidak berpengaruh apa-apa.&lt;br /&gt;Namun begitu saya tetap melakukan vajksinasi AI, pertama pada saat ayam berumur 8 minggu (2 bulan) dan kedua saat ayam berumur 13-14 minggu. Vaksinasi AI itu masih menggunakan vaksin H5N1, di mana virusnya umum dan merupakan strain lapangan.&lt;br /&gt;Tentang pelaksanaan vaksinasi pada ayam-ayam kampung di sekitar peternakan saya, pernah ada bantuan dari pemerintah pada saat kasus AI mewabah pada tahun 2003.&lt;br /&gt;Namun setelah itu terhenti dan baru pada tahun 2006 dinas peternakan memberi gratis lagi. Selanjutnya pada 2007 awal hingga pertengahan tidak ada lagi.&lt;br /&gt;Tampaknya pemerintah dalam tindakan vaksinasi tergantung dana, proyek dan kebutuhan. Sehingga, soal jenis vaksin pun terkesan simpang siur, bahkan ada yang dengan jenis virus H5N9 meski jarang saya jumpai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawan&lt;br /&gt;Bambu Kuning Farm&lt;br /&gt;“Peternakan kami sangat cocok menggunakan vaksin homolog lokal H5N1 dan tidak setuju dihentikan produksinya oleh pemerintah. Ia mengakui mulai dari akhir tahun 2003 saat wabah pertama muncul, setelah divaksin AI H5N1 tak pernah sekalipun wabah itu muncul di farmnya.&lt;br /&gt;Namun sayang hingga berita ini diturunkan (2 minggu setelah seminar) keputusan berupa rekomendasi kepada pemerintah Indonesia masih belum juga diberikan oleh pihak penyelenggara dengan alasan masih dibutuhkan banyak masukan dari berbagai pihak.&lt;br /&gt;Sehingga tak hanya kami yang kecewa namun pelaku bisnis peternakan dan obat hewan terpaksa harus menahan napas menunggu keputusan dari pemerintah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Askam Sudin&lt;br /&gt;Charoen Pokphand Indonesia&lt;br /&gt;“Bila hasil penelitian Dr Swayne bahwa 11 vaksin yang digunakan di Indonesia tidak ada yang memberikan kekebalan cukup baik terhadap virus AI asal Jawa Barat digunakan, digunakan berarti dari 11 vaksin yang ada di Indonesia tidak ada satupun yang mampu memberikan kekebalan optimal terhadap AI artinya vaksinasi yang dilakukan sia-sia.&lt;br /&gt;Dan lagi apakah hasil penelitian ini telah disesuaikan dengan kondisi di lapangan, karena dari hasil penelitiannya sendiri berkata lain. Hal serupa juga disampaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Teguh Prayitno&lt;br /&gt;Vice President PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk&lt;br /&gt;“Upaya mengendalikan HPAI sejak Februari 2004 dengan culling dan depopulasi selektif dinilai gagal. Hal ini lebih disebabkan karena lemahnya infrastruktur pelayanan kesehatan hewan, lambatnya pelaporan dan cepatnya mobilitas unggas komersial, eggtray, limbah perunggasan.&lt;br /&gt;Pemerintah melaporkan bahwa legalisasi dan penggunaan vaksin H5 inaktif mampu menurunkan kasus AI tahun 2004. Namun, wabah HPAI musiman di peternakan ayam sektor 1 hingga 4 di musim hujan 2005 dan 2006 masih terus terjadi. Ini menunjukkan bahwa karakter virus AI telah menjadi endemis di lapangan, masih lemahnya penerapan biosekuriti, dan rendahnya kontrol lalulintas unggas.&lt;br /&gt;Selain itu munculnya kembali wabah AI tak lepas dari dugaan rendahnya kekebalan protektif dari vaksin yang digunakan serta kualitas vaksin dan jangkauan luasan vaksinasi.&lt;br /&gt;Klasifikasi sistem produksi yang diberikan oleh FAO yaitu peternakan sektor 1 - 4 tidak bisa digunakan karena beragamnya sistem produksi dan beragamnya tingkat penerapan biosekuriti.&lt;br /&gt;Upaya vaksinasi AI yang baik diperkirakan hanya 80-100% dilakukan peternakan breeding dan layer komersial. Dari pengalaman breeding dan layer komersial, vaksin H5N1 yang memberikan perlindungan suboptimal sejauh masih rendah, namun unggas tetap mengeluarkan shedding virus. Akibatnya infeksi kembali akibat HPAI mungkin sekali terjadi karena virus tetap ada di lingkungan.&lt;br /&gt;Untuk broiler komersial yang mewakili populasi paling besar dan paling “mobile” dari semua unggas di Indonesia, tidak bisa diterapkan upaya vaksinasi karena efektifnya vaksin AI H5 pada tipe ayam berumur pendek. Vaksinasi dadakan yang dilakukan setelah wabah terjadi juga terbukti tidak efektif, karena replikasi dan shedding virus AI tak bisa dihentikan.&lt;br /&gt;Lebih jauh, ada ketidaksesuaian sistem produksi industri perunggasan dengan rantai pasar tradisional unggas hidup yang menyebabkan risiko tetap bertahannya virus AI di lingkungan. Poin kritis itu adalah adanya pengepul ayam dan usaha pemotongan tradisional.&lt;br /&gt;Belajar hidup bersama H5N1 di Indonesia berarti menjaga H5N1 jauh dari rantai makanan. Caranya adalah dengan memusnahkan H5N1 dari unggas yang rentan tertular dengan vaksinasi yang efektif, penguatan biosekurit, depopulasi selektif untuk unggas yang terinfeksi, pengendalian lalulintas unggas, dan merestrukturisasi sistem pemasarannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Dedi Rifuliadi&lt;br /&gt;PT Vaksindo Satwa Nusantara&lt;br /&gt;“Bila hasil penelitian Dr Swayne bahwa 11 vaksin yang digunakan di Indonesia tidak ada yang memberikan kekebalan cukup baik terhadap virus AI asal Jawa Barat digunakan, berarti dari 11 vaksin yang ada di Indonesia tidak ada satupun yang mampu memberikan kekebalan optimal terhadap AI artinya vaksinasi yang dilakukan sia-sia.&lt;br /&gt;Dan lagi apakah hasil penelitian ini telah disesuaikan dengan kondisi di lapangan, karena dari hasil penelitiannya sendiri berkata lain.&lt;br /&gt;Vaksin yang terbaik sekalipun yang ada di dunia digunakan di Indonesia, kalau coverage-nya hanya 20-30% tetap tidak akan bisa menyelesaikan masalah AI di Indonesia.&lt;br /&gt;Jadi intinya lebih ditekankan pada kondisi riil di lapangan dan berdasarkan pengakuan user dalam hal ini peternak dan pembibit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H Nur Asikin SH MH&lt;br /&gt;PT Paeco Agung Surabaya&lt;br /&gt;“Meski tidak menjumpai kasus AI yang terang-terangan kelihatan saat ini, di Blitar, Tulungagung dan Sekitarnya di Jawa Timur, bukan berarti AI tidak ada. Kasus bisa muncul berawal dari penyakit-penyakit lain, lalu AI pun menyerang. Jalan terbaik adalah program vaksinasi yang teratur dan biosecurity.&lt;br /&gt;Waktu pemberian vaksin AI pada masing-masing peternak berbeda-beda. Kalau beberapa peternakan pada ayam umur 36 hari untuk vaksinasi pertama, vaksinasi kedua pada saat ayam umur 112 hari. Biasanya digabung vaksin killed yang lain seperti ND, IB dan EDS, sebab peternak selalu cari vaksinasi killed yang praktis bisa sekali digunakan.” (Wawan Kurniawan, Yonathan Rahardjo)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3990353011568342705?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3990353011568342705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3990353011568342705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3990353011568342705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3990353011568342705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/status-paling-mutakhir-penyakit.html' title='STATUS PALING MUTAKHIR PENYAKIT PERNAFASAN AVIAN INFLUENZA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-5031820329877023364</id><published>2009-01-18T23:25:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:20:42.493-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>AI, SIAPA TAKUT?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/ai-siapa-takut.html"&gt;Majalah Infovet Mei 2005 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AI, SIAPA TAKUT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((Yang harus dilakukan adalah jelas, tempatkan semua pada porsinya masing-masing. Biosecurity harus tetap jalan terus, maka dalam Fokus kali ini dibahas masalah penanganan peternakan yang bisa dijadikan teladan. Vaksinasi harus tetap jalan. Pemusnahan secara terbatas juga harus tetap jalan. Penelitian terhadap virus dan karaker virus AI harus tetap dilakoni. Pemerintah, swasta, pengusaha, peneliti, peternak, media massa dan masyarakat tidak bisa tidak haruslah mengembalikan posisi dan perannya pada porsinya masing-masing. Saling mengoreksi adalah keharusan, namun masing-masing tetap pada jalurnya masing-masing, menjaga independensi setiap kerja dan kebijakannya. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu-waktu genting, seperti jarum-jarum jam yang tak henti berdetak dan memutar secara pasti, terjadi peristiwa-peristiwa yang sebetulnya bisa dibilang biasa saja kalau menyikapinya secara arif. Tapi menjadi begitu menggelisahkan bila kita kurang berpikir dingin dan tidak mempunyai pandangan bahwa sebetulnya kasus Avian Influenza gelombang ke dua adalah suatu hal yang pasti akan terjadi. Sehingga selayaknya bangsa Indonesia tidak akan kebakaran jenggot menghadapinya, belajar dari pengalaman wabah Avian Influenza gelombang satu yang seolah meruntuhkan langit peternakan bumi tercinta, namun kita berhasil mengatasinya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini Menteri Pertanian mengumumkan bahwa daerah jawa barat dan sulawesi selatan tertutup pintu keluar untuk transportasi ternak ayam dan produknya, lantaran di daerah itu dianggap merebak wabah Flu Burung yang membahayakan ternak dan manusia. Kontan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan menghadapi dilema, satu sisi atasannya langsung yang menyatakan, sementara sebetulnya bidang itu kewenangannya untuk membuat kebijakan sebelum dinyatakan ke publik setelah koordinasi dengan Mentan. Sedang Dirjennak sendiri, terhadap kasus Flu Burung gelombang ke dua ini pada dasarnya sikapnya berbeda dengan kebijakan Mentan.&lt;br /&gt;Masyarakat peternakan umumnya juga menyesalkan pengumuman Mentan itu, Dirjen sesuai dengan otoritas dan tanggungjawabnya untuk membangun peternakan Indonesia tampak dari kebijakan-kebijakannya upayanya agar kepentingan peternakan haruslah diselamatkan. Hal yang sangat bisa dimengerti lantaran putaran uang yang begitu besar di bidang peternakan dalam pembangunan peernakan ini, menyangkut hajat hidup banyak sekali masyarakat peternakan dari hulu ke hilir bahkan sampai pada masa-masa pasca produksi setelah produk-produk itu siap saji dan disantap masayarakat untuk kehidupan dan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembang berbagai komentar dan sikap bahwa sebetulnya menutup pintu keluar masuk transportasi antar wilayah bukanlah tindakan yang tepat, karena belum tentu kasus Avian Influenza itu serjadi secara serempak, disinyalir kasus tahun ini berbeda dengan tahun 2003-2004 yang sudah menjadi wabah yang menakutkan. Kasus AI sekarang lebih terkendali, petanya tampak lebih tenang, karena tindakan-tindakan peternak, praktisi kesehatan hewan, pemerintah, dalam mengatasi kasus dengan biosecurity, vaksinasi dan pemusnahan secara terbatas dengan segala kekurangannya cukup memberikan pengaruh positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi permasalahan dan dipermasalahkan pada dasarnya adalah tindakan-tindakan penanggulangan yang praktis masih bolong sana-sini, dan dipertanyakan efektivitasnya. Soal kompensasi dana pemusnahan wabah tahun lalu yang masih dipenuhi tanda tanya. Soal tipikal pemusnahan ayam yang terserang yang paling cocok bagi kondisi peternakan Indonesia, pemusnahan total ataukah pemusnahan terbatas sesuai kebijakan pemerintah dalam tahap-tahap penanggulangan yang digariskan tahun lalu. Soal vaksinasi yang tampaknya saat ini sudah kelihatan manfaatnya, tapi peternak masih saja dihantui kenyataan pada peternakan-peternakan tertentu wabah Avian Influnza masih juga merampas ayam-ayamnya. Ditambah soal eforia kebebasan dan kekuasaan daerah-daerah yang merayakan tendesi sifat raja kecil di daerah masing-masing yang mencetak kebijakan-kebijakan penanganan kasus Avia Influenza teritorial yang saling bertabrakan dengan kebijakan teritori lain bahkan kebijakan pemerintah pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul bola panas lagi ketika penyakit Flu Burung memasuki ranah kehidupan manusia, yang justru hal inilah yang membuat penyakit ini menjadi begitu mengkhawatirkan keberadaannya. Karakterisasi virus menurut beberapa praktisi belum dilakukan secara sempurna, bahkan uji karakterisasi yang sesungguhnya pun belum berhasil dilakukan oleh lembaga yang punya otoritas di bidang penelitian veteriner. Pengujian untuk menentukan jenis virus baru pada tahap terbatas. Sementara kegelisahan berubahnya virus atau munculnya virus dari subtipe baru selalu dikhawatirkan menjadi lebih ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penularan virus ke manusia senantiasa menjadi hantu kematian. Hiburan paling segar adalah sejauh ini dinyatakan pemerintah tidak ada seorang pun manusia Indonesia yang terserang penyakit virus ganas ini. Hiburan kedua adalah tindakan-tindakan penanggulangan seperti yang diurai terdahulu. Hiburan ketiga adalah setiap daging ayam yang dikonsumsi dengan pengolahan yang benar terlebih dulu, dijamin seratus persen aman! Penularan memang lebih memlalui sekret pernapasan dan pencernaan burung/ayam yang terserang, bukan melalui cara konsumsi dengan pengolahan sehat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak diketahui bahwa penularan ke manusia hanyalah bisa melalui ternak lain, babi, yang di dalam perkembangan virus dalam tubuhnya bisa merubah sifat virus yang semula hanya bisa menyerang unggas menjadi bisa menyerang mamalia, terutama manusia, sangat dimaklumi bahwa itulah hiburan paling segar di Indonesia, karena sampai suatu titik masa kabar virus Flu Burung menyerang babi belumlah pernah dijumpai. Sampai hari Jumat tanggal 8 bulan April 2005, seorang proklamator wabah Avian Influenza di Indonesia 2004 kembali memproklamasikan temuannya yang terkini: seratus ekor babi sudah kedapatan di dalam tubuhnya virus Avian Influenza H5N1, virus ganas AI yang dikenal di Indonesia seperti halnya China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksana bom yang meledak lagi. Pemerintah dan sebagian masyarakat peternakan yang mengibarkan bendera kepentingan peternakan adalah nomor satu kembali mengibarkan panji-panji, pernyataan flu burung sudah menyerang babi tidaklah benar, kata lainnya belum ada babi yang terserang kasus Avian Influenza. Dengan sendirinya terjadilah pertentangan pendapat yang begitu keras terhadap pernyataan yang dimuat di surat kabar nasional yang juga pertama kali membongkar gundukan misteri Flu Burung gelombang satu pada 25 Januari 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pertanyaan yang menyangsikan kesahihan pernyataan AI pada babi bermunculan di sana-sini. Antara muatan kajian ilmiah, kepentingan ekonomi, bisnis, dan kekuasaan saling bertabrakan, saling tawur. Bahkan antar pejabat pemerintah yang secara jenjang kebijaksanaan sama-sama punya otoritas di bidang kesehatan hewan dan peternakan pun terjadi perpecahan pendapat, yang mengarah kepada perseteruan idealisme peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal secara nalar semua sudah jelas, terdapatnya virus Avian Influenza pada tubuh babi sangatlah mungkin, tapi perlu diingat derajad kasusnya, apakah sudah menyebabkan penyakit atau belum, ataukah hanya sekedar nangkring di tubuh ternak itu. Apapun patut diwaspadai dan tinggal menunggu waktu perkembangannya. Kalaupun pernyataan itu ditolak, harus jelas alasan-alasan ilmiah penolakannya. Kalau tidak ada, maka apa arti penelitian itu. Kalau ya, kembali kepada muara hubungan masyarakat yang secara bijak bisa menjelaskan kepada masyarakat peternakan dan masyarakat umum, tanpa harus menutup-nutupi kenyataan yang ada, karena apapun yang ditutupi pastilah suatu saat tersingkap juga, atau baunya tercium juga, karena kebenaran tidaklah pernah berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah menghadapi carut-marut ini kita harus bertanya rumput yang bergoyang? Tidak. Yang harus dilakukan adalah jelas, tempatkan semua pada porsinya masing-masing. Biosecurity harus tetap jalan terus, maka dalam Fokus kali ini dibahas masalah penanganan peternakan yang bisa dijadikan teladan. Vaksinasi harus tetap jalan. Pemusnahan secara terbatas juga harus tetap jalan. Penelitian terhadap virus dan karaker virus AI harus tetap dilakoni. Pemerintah, swasta, pengusaha, peneliti, peternak, media massa dan masyarakat tidak bisa tidak haruslah mengembalikan posisi dan perannya pada porsinya masing-masing. Saling mengoreksi adalah keharusan, namun masing-masing tetap pada jalurnya masing-masing, menjaga independensi setiap kerja dan kebijakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan masyarakat adalah tindakan yang pasti dibutuhkan. Pengumuman adalah bukti kejujuran kepada masyarakat, asal dilambari tindakan-tindakan yang pada tempatnya tidaklah perlu dibesar-besarkan kekhawatiran terhadap nasib peternakan. Peternakan adalah bidang yang besar, menjadi besar pun tidak perlu terlalu menjadikannya lebih besar lebih daripada kewajarannya dan mencipta ketimpangan pada kehidupan yang lebih besar. Menjaga keseimbangan, siapa takut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencegah lebih baik dari mengobati, namun bukankah kita sendiri yang membuat Indonesia yang bebas AI menjadi diakrabi? Kalau ini sudah terjadi, apapun bisa terjadi, haruskah ditutup-tutupi? Bahkan penyakit AIDS pun kini sudah mulai ada perlawanannya, apalagi AI. Dengan segala resiko dan konsekuensinya, mari kita hadapi AI. Namun kita tahu pasti, sekuat hati jangan diulang lagi setiap kebodohan yang sudah terjadi. (Yonathan Rahardjo) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-5031820329877023364?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/5031820329877023364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=5031820329877023364' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5031820329877023364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5031820329877023364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/ai-siapa-takut.html' title='AI, SIAPA TAKUT?'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-2773714780564750288</id><published>2009-01-18T23:16:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:17:41.345-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>"FLU BURUNG: KITA TIDAK PERLU TAKUT!”</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/flu-burung-kita-tidak-perlu-takut.html"&gt;Infovet Mei 2005&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"FLU BURUNG: KITA TIDAK PERLU TAKUT!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( Kecil kemungkinan terinfeksi dari daging dan telur selama kita tidak mengkonsumsi daging atau telur burung dalam kondisi mentah. Peluang terjadinya infeksi pada peternak sendiri sebenarnya juga bisa ditekan sekecil mungkin melalui pemusnahan segera burung yang terinfeksi, sterilisasi kandang dengan disinfektan seperti formalin dan iodine, pembatasan orang orang yang masuk kandang, dan lain-lain. ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WABAH flu burung (avian flu) kembali mewabah di Indonesia. Wabah besar penyakit yang disebabkan oleh virus avian influenza (AI) ini, sebelumnya terjadi di kawasan Asia pada akhir 2003 sampai awal 2004 dan telah mengakibatkan matinya jutaan ternak unggas di kawasan ini. Selain itu juga dilaporkan adanya 35 kasus pada manusia, di mana 23 di antaranya meninggal. Hasil analisa menunjukkan bahwa virus yang menjadi penyebabnya adalah jenis H5N1. Munculnya kembali H5N1 ini telah meresahkan masyarakat karena ini membuktikan bahwa virus masih bersirkulasi di sekitar kita.&lt;br /&gt;Demikian Dr Andi Utama dari Puslit Biotelnologi-LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada Diskusi Panel “Flu Burung: Kita Tidak Perlu Takut!” yang diselenggarakan di PDII LIPI di Jakarta, Kamis 14 April 2005. Dalam pemaparannya Dr Andi mengambil judul: Mengenal Lebih Jauh Virus Flu Burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus Influenza dan AI&lt;br /&gt;Diuraikan Dr Andi, Virus influenza diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu A, B, dan C. Diantara ke-3 tipe ini, yang sering menimbulkan wabah, baik pada burung maupun manusia adalah tipe A. Tipe ini dibagi lagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan protein hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N), dua protein yang muncul di permukaan virus (spike protein), sehingga penamaannya menjadi HxNx (contohnya, H5N1).&lt;br /&gt;“Adapun protein H terdiri dari 15 subtipe (H 1 - H 15), sedangkan protein N terdiri dari 9 subtipe (N 1 - N9). Protein H berfungsi sebagai antigen yang mengindus antibodi. Selain itu, protein ini juga menentukan tingkat patogen virus influenza. Seperti contoh, virus tipe H5 dan H7, mempunyai tingkat patogen yang tinggi terhadap ayam temak. Protein N, selain berfungsi sebagai antigen dan juga berfungsi untuk pelepasan virus dari dalam sel (budding), serta penentu tingkat patogen,” urai Andi.&lt;br /&gt;Selanjutnya ia mengatakan, Virus AI adalah virus infuenza yang lebih khusus menginfeksi burung, tidak manusia dan hewan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena virus influenza biasanya host-specific, artinya virus jenis tertentu hanya spesifik terhadap inang (host) tertentu. Seperti contoh H5N 1 dan H9N2 adalah virus AI, sementara H 1 N 1 adalah virus influenza manusia.&lt;br /&gt;“Host-specific ini ditentukan oleh struktur reseptor yang berbeda antara keduanya. Walaupun demikian, terkadang virus AI juga bisa menginfeksi beberapa makhluk hidup lainnya seperti babi, kuda, ikan paus, dan lain-lain,” papar Andi, seraya melanjutkan. Bahkan seperti halnya H5N 1 dan H9N2, virus AI tiba-tiba bisa menginfeksi manusia. Perubahan ini terjadi karena virus influenza selalu berevolusi, yaitu merubah diri melalui antigenic drift dan antigenic shift.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antigenic Drift dan Antigenic Shift&lt;br /&gt;Alumnus universitas terkemuka di Jepang ini memapaparkan Virus influenza yang memiliki RNA sebagai genomnya, adalah virus yang mudah berubah. Virus influenza sering mengalami mutasi secara terus menerus pada antigennya. Mutasi ini dinamakan antigenic drift. Lebih dari itu virus influenza bisa melakukan perubahan pada protein, terutama protein H dan N, sehingga melahirkan virus subtipe baru.&lt;br /&gt;“Seperti contoh,” katanya, “Subtipe H5N1 bisa menjadi subtipe H5N2 atau H4Nl. Proses ini dinamakan antigenic shift. Baik antigenic drift maupun antigenic shift ini melahirkan virus dengan karakter baru, sehingga bisa menginfeksi berbagai makhluk hidup dan bisa melarikan diri dari sistim kekebalan tubuh.&lt;br /&gt;Dengan cara ini, virus Al yang tadinya hanya bisa menginfeksi burung berubah menjadi virus yang mampu menginfeksi manusia.”&lt;br /&gt;Walaupun demikian, menurut Andi sampai saat ini belum diketahui mekanismenya. Salah satu hipotesa saat ini adalah virus Al tidak bisa langsung menginfeksi manusia, tetapi terlebih dahulu beradaptasi pada babi atau kuda yang berfungsi sebagai inang intermediet (intermediate host). Hal ini berdasarkan fakta bahwa baik virus yang menginfeksi manusia maupun yang menginfeksi burung, keduanya bisa menginfeksi babi dan kuda ini. Diduga bahwa antigenic shift terjadi dalam tubuh babi. Selain itu juga ada bukti bahwa transmisi virus influenza dari babi ke manusia atau sebaliknya bisa terjadi.&lt;br /&gt;Menurut ilmuwan yang masih belia ini, tingginya peluang terjadinya antigenic shift ini juga disebabkan oleh struktur genom virus influenza itu sendiri, yang terdiri dari 8 segmen gen yang terpisah. Jika seseorang atau hewan terinfeksi oleh virus dengan tipe yang berbeda, akan terbuka peluang untuk terjadinya penukaran segmen gen terebut. Misalnya, jika babi terinfeksi oleh virus influenza manusia dan virus Al pada waktu yang bersamaan, akan ada kemungkinan terjadinya penukaran segmen gen sehingga tercipta virus jenis baru, misalnya sebagian besar gennya dari virus influenza manusia, sementara H dan N-nya berasal dari Al.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat Anti-Influenza&lt;br /&gt;Dalam diskusi panel yang dihadiri berbagai kalangan di tempat strategis di ibukota Indonesia Raya itu, Dr Andi menjelaskan, obat merupakan alternatif penanggulangan infeksi influenza pada manusia. Saat ini ada dua jenis obat antivirus. Pertama adalah ion channel (M2) blocker, seperti amantadine dan rimantadine. Obat ini memblok aktivitas ion channel dari influenza virus A, tidak influenza virus B.&lt;br /&gt;“Akibatnya, aliran ion hidrogen akan terblokir sehingga virus tidak bisa melakukan proses perkembangbiakan. Obat yang kedua adalah neurimidase (NA) inhibitor, seperti zanamivir dan oseltamivir. Karena protein NA berfungsi pada proses pelepasan virus setelah berkembangbiak di dalam sel, NA inhibitor ini membuat virus tidak bisa keluar dari sel. Akibatnya, virus akan teragregasi di permukaan sel dan tidak bisa pindah ke sel lain,” urai Andi Utama.&lt;br /&gt;Sayang sekali, sesalnya, obat ion channel blocker memicu munculnya virus yang resisten. Bahkan virus ini patogen dan bisa menular kepada orang yang dekat dengan pasien. Munculnya virus yang resisten ini disebabkan karena terjadinya mutasi pada protein M2. Sementara itu, obat NA inhibitor efektif terhadap virus influenza A dan B. Obat ini hampir tidak memicu munculnya virus yang resisten. Kalaupun muncul virus yang resisten jumlahnya tidak lebih dari 1%. Hanya saja zanamivir dan oseltamivir ini lebih mahal dibandingkan dengan amantadine dan rimantadine.&lt;br /&gt;“Obat antivirus seperti ini sangat bermanfaat untuk penanganan jangka pendek, terutama pada saat munculnya virus baru. Hal ini disebabkan karena obat antivirus tidak spesifik, sehingga diharapkan bisa efektif. Beberapa studi awal juga menunjukan bahwa zanamivir dan oseltamivir bisa memproteksi mencit dari serangan virus H5Nl. Walaupun amantadine dan rimantadine tidak menunjukan efek yang positif, terapi dengan menggunakan kombinasi antara ion channel blocker dan NA inhibitor diharapkan akan lebih efektif,” tegas ilmuwan muda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksin&lt;br /&gt;Lebih lanjut ilmuwan brilian itu mengutarakan, jika obat berfungsi untuk penanggulangan jangka pendek, untuk penanggulangan jangka panjang diperlukan vaksin. Hal ini disebabkan karena vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap serangan flu burung, baik terhadap burung maupun manusia. Namun selama ini pengembangan vaksin H5Nl menemukan beberapa kendala.&lt;br /&gt;Kendala pertama, ujarnya, disebabkan karena H5N1 adalah virus yang sangat virulen, produksi vaksin memerlukan fasilitas dengan tingkat sekuriti yang tinggi. Kendala yang kedua adalah sulitnya untuk mendapatkannya dalam jumlah yang banyak. Hal ini disebabkan karena virus H5N1 sangat virulen, pengembangbiakannya pada telur untuk produksi-vaksin juga memberikan dampak negatif terhadap telur. Tetapi teknologi reverse-genetic memberikan solusi terhadap masalah ini. Teknologi ini memungkinkan kita untuk bisa memodifikasi gen yang kita inginkan. Seperti contoh, kita bisa memutasikan gen yang menentukan virulensi sehinga didapatkan H5N1 yang non-virulen, yang bisa digunakan untuk produksi vaksin.&lt;br /&gt;Berikutnya Dr Andi menyambung, Jika vaksin dari satu subtipe (katakana H5N1) tidak tersedia, vaksin dari virus yang satu tipe masih bisa digunakan. Hal ini karena vaksin dari satu tipe. Misalnya H5Nx terbukti efektif, walaupun tidak sempuma. Vaksin dari H5N2 misalnya, terbukti efektif terhadap serangan H5N 1 pada burung. Namun, vaksin dari virus yang berbeda ini hanya bisa menekan timbulnya gejala penyakit, tidak menghilangkan virus yang dimaksud dari dalam tubuh. Karena itu vaksin yang benar-benar efektif adalah vaksin yang sesuai dengan virus yang menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Perlu Takut&lt;br /&gt;Dalam diskusi yang seru dengan berbagai pertanyaan hadirin dari berbagai instansi itu, Dr Andi mengungkapkan, selama wabah flu burung ini masyarakat enggan mengkonsumsi daging dan telur ayam, karena takut akan terinfeksi. Perlu diketahui bahwa virus H5N1 mati dengan pemanasan 56. selama 3 jam atau 60. selama 30 menit. Artinya, kecil kemungkinan terinfeksi dari daging dan telur selama kita tidak mengkonsumsi daging atau telur burung dalam kondisi mentah. Virus influenza relatif stabil pada suhu rendah, sehingga wabah influenza di negara yang bermusim biasanya terjadi pada musim dingin. Sementara negara kita adalah negara tropis, sehingga virus influenza termasuk H5N 1 tidak akan bisa bertahan lama di lingkungan. Hal ini juga akan memperkecil penyebaran virus ini dibandingkan dengan negara yang bersuhu dingin.&lt;br /&gt;Fakta lain, tegasnya, adalah infeksi virus ini hanya terbatas pada peternak, yang mempunyai kontak langsung dengan ternak, tidak pada masyarakat banyak. Kita perlu khawatir terhadap penyebaran wabah virus ini ke komunitas yang lebih luas jika virus Al H5N1 ini bisa menular dari manusia ke manusia (human-to-human transmission), seperti halnya virus influenza manusia. Tapi sampai saat ini belum ada bukti yang menujukan terjadinya hal itu, sehingga tidak terjadi wabah pada suatu komunitas.&lt;br /&gt;Akhirnya, Andi mengungkap, peluang terjadinya infeksi pada peternak sendiri sebenarnya juga bisa ditekan sekecil mungkin melalui pemusnahan segera burung yang terinfeksi, sterilisasi kandang dengan disinfektan seperti formalin dan iodine, pembatasan orang orang yang masuk kandang, dan lain-lain. Tindakan ini lebih dikenal dengan biosecurity. Selain itu, vaksinasi ternak juga dilaksanakan untuk pencegahan penyebaran wabah flu burung ini. (Infovet) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-2773714780564750288?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/2773714780564750288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=2773714780564750288' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2773714780564750288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/2773714780564750288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/flu-burung-kita-tidak-perlu-takut.html' title='&quot;FLU BURUNG: KITA TIDAK PERLU TAKUT!”'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-5434810789997813264</id><published>2009-01-18T17:38:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:18:02.591-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>Pasar Membaik, Flu Burung, Obat dan Retribusi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/pasar-membaik-flu-burung-obat-dan.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Membaik, Flu Burung, Obat dan Retribusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SULAWESI TENGAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang masuk semester II 2006 tepatnya pada bulan Mei 2006, situasi peternakan ayam ras Sulawesi Tengah mulai menunjukkan gairah lagi setelah selama 2 tahun tidak ada suplai DOC akibat kebijakan Pemerintah Daerah yang melarang memasukkan DOC dari Hatchery yang berada di wilayah tertular AI.&lt;br /&gt;Populasi mendekati kembali ke semula, layer sekitar 500.000 ekor (semula 600.000 ekor), broiler 250.000 ekor per bulan (semula 300.000 ekor).&lt;br /&gt;Namun, “Situasi itu tidak berlangsung lama, karena memasuki bulan Agustus 2006, kota Palu tepatnya di kecamatan Palu Barat, dinyatakan terjangkit virus AI yang terjadi pada beberapa ekor ayam kampung (buras),” kata ASOHI Daerah Sulawesi Tengah yang diketuai Drh Fajar Santosa belum lama ini.&lt;br /&gt;Kejadian tersebut tentu saja langsung mempengaruhi bisnis, penjualan ayam potong maupun telur lesu dan berlangsung sekitar 2 bulan.&lt;br /&gt;“Kami bersyukur, serangan virus AI tidak berlangsung lama, berkat pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa melalui kerja sama segenap unsur masyarakat peternak ayam ras yang tergabung dalam wadah Asosiasi Pengusaha Perunggasan Sulawesi Tengah, termasuk di dalamnya pengurus dan anggota ASOHI provinsi Sulawesi Tengah dan didukung oleh instansi terkait,” papar Pengurus ASOHI Daerah Sulawesi Tengah.&lt;br /&gt;Pada akhir tahun 2006 sampai dengan semester 1 tahun 2007 situasi pasar sudah kondusif, harga-harga pronak bagus, ada keseimbangan dengan harga-harga sapronak. Meskipun, harga jagung sempat melonjak sampai dengan harga lebih dari Rp 2000.&lt;br /&gt;Namun memasuki semester dua tahun 2007, mulai bulan Juli ada penyesuaian harga dari sektor pakan maupun obat-obatan, bahkan untuk pakan bulan Agustus ada penyesuaian lagi.&lt;br /&gt;Hal ini tentu saja akan mempengaruhi lagi benefit yang diterima para peternak yang pada akhirnya kalau tidak diimbangi dengan harga pronak akan berakibat pada perkembangan usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flu Burung&lt;br /&gt;Begitulah, permasalahan utama yang Sulawesi Tengah rasakan: “Selama periode tahun 2004 – 2007 adalah Pemberitaan Issue-issue Flu Burung di media massa. Dampak pemberitaan yang tidak proposional langsung mempengaruhi bisnis dan kebijakan pemerintah yang menghambat perkembangan usaha,” kata Pengurus ASOHI Sulawesi Tengah itu.&lt;br /&gt;Untuk itu ASOHI Sulawesi tengah senantiasa menjalin hubungan yang harmonis dan konsisten dengan Asosiasi Pengusaha Perunggasan se Sulawesi Tengah, baik dibidang informasi bisnis maupun manajemen peternakan (khususnya dalam mencegah dan mengendalikan wabah AI), dengan instansi terkait seperti Dinas Peternakan dan Karantina Hewan.&lt;br /&gt;Mereka pun merasa perlu menindak lanjuti kerja sama dengan instansi terkait maupun dengan Asosiasi Pengusaha Perunggasan se Sulawesi Tengah dalam berbagai bidang, khususnya dalam pengendalian AI di kota Palu dengan target bebas pada tahun 2008.&lt;br /&gt;Bagi mereka, penanganan kasus Flu Burung menuntut keseriusan dan tindakan yang berkelanjutan (konsisten) dari semua pihak yang berkepentingan, terutama instansi terkait, baik dari jajaran Departemen Pertanian yang membawahi Dinas Peternakan maupun Departemen Kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi Bisnis Obat&lt;br /&gt;Sampai saat ini obat yang beredar di wilayah Sulawesi Tengah adalah produk-produk dari PT Medion, PT UTD (Univetama Dinamika), PT Romindo Primavetcom, PT Usfa, PT Eka Farma, PT Sanbe, PT Vetindo, PT IMA (Indovetraco Makmur Abadi).&lt;br /&gt;Pada umumnya peternak khususnya ayam ras (layer maupun broiler) sudah sangat sadar dalam penggunaan obat, vaksin guna menjaga kesehatan maupun produktivitasnya.&lt;br /&gt;Obat-obatan untuk hewan besar pun penggunaannya mulai disadari para peternak, penyediaan melalui Dinas atau depo-depo obat hewan / Pet Shop.&lt;br /&gt;Bersama Dinas Peternakan Kota Palu membahas Perda Bidang Peternakan, termasuk didalamnya masalah Peredaran Obat Hewan. “Dengan telah diedarkannya Perda Bidang Peternakan, maka ASOHI Daerah Sulawesi Tengah akan konsisten mengawal Perda tersebut, terumata berkaitan dengan Perijinan Depo-depo Obat Hewan maupun Pemegang tender pengadaan Obat Hewan,” janji Pengurus ASOHI Sulteng.&lt;br /&gt;Secara internal, anggota ASOHI Sulteng senantiasa memantau dan saling menginformasikan antar anggota jika ditemukan obat/vaksin dan sediaan farmasetik lainnya yang tidak terdaftar pada Dirjen Peternakan.&lt;br /&gt;Diungkap, “Rekanan pengadaan obat untuk kebutuhan Dinas belum tertata dengan baik. Pada umumnya hanya penunjukkan langsung pada perseorangan yang tentu saja tidak memiliki Ijin peredaran obat hewan,” kata mereka.&lt;br /&gt;Sarannya, “Perlu dilakukan pressure yang berkelanjutan dari ASOHI Pusat kepada Dinas Peternakan Provinsi agar menertibkan para pelaku rekanan pengadaan obat yang tidak berijin,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retribusi&lt;br /&gt;Yang menjadi beban lainnya, pungutan atau retribusi yang dikenakan kepada peternak oleh semua instansi yang membidangi sektor peternakan baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota, dan karantina hewan (dari daerah penerima maupun dari pengirim).&lt;br /&gt;Solusi dan saran Pengurus ASOHI Sulteng: “Pungutan atas dasar Perda sebaiknya ditiadakan, karena pada dasarnya pengusaha sudah menjalankan kewajibannya yaitu membayar Pajak.” (ASOHI/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-5434810789997813264?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/5434810789997813264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=5434810789997813264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5434810789997813264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5434810789997813264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/pasar-membaik-flu-burung-obat-dan.html' title='Pasar Membaik, Flu Burung, Obat dan Retribusi'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-8715957935075608124</id><published>2009-01-18T17:37:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:16:14.805-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>Flu Burung, Hewan Besar dan Obat Hewan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/flu-burung-hewan-besar-dan-obat-hewan.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flu Burung, Hewan Besar dan Obat Hewan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RIAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia peternakan khususnya dunia perunggasan di Propinsi Riau pada tahun 2006 sampai awal 2007 mengalami hal yang sama dengan propinsi lain di Indonesia yaitu adanya kasus Avian Influenza. AI di propinsi Riau sangat meresahkan semua lapisan masyarakat sehingga menyebabkan harga daging ayam dan telur turun drastis.&lt;br /&gt;“Hal ini menyebabkan bisnis perunggasan sedikit menjadi lesu, tetapi kelesuan ini tidak menyebabkan perusahaan peternakan yang melakukan pola kemitraan menjadi mundur. Perusahaan kemitraan baik nasional maupun kemitraan lokal tetap bertahan, tetapi mengurangi jumlah populasinya,” kata Pengurus ASOHI Daerah Riau yang dipimpin Drh Zalpidal, belum lama ini.&lt;br /&gt;Menurut Pengurus ASOHI Daerah Riau itu, situasi suram bisnis perunggasan hanya berlangsung sampai dengan bulan Maret 2007. Mulai April 2007 bisnis perunggasan bergairah kembali, karena sejak April 2007 harga Pronak mengalami perobahan yang menguntungkan, sehingga dunia perunggasan lebih bergairah kembali.&lt;br /&gt;“Berkembangnya bisnis perunggasan yang disebabkan membaiknya harga pronak ternyata tetap menghadapi beberapa kendala, antara lain naiknya harga pakan dan DOC serta akhir-akhir ini juga terjadi kelangkaan DOC,” kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peternakan Hewan Besar&lt;br /&gt;Adapun Peternakan hewan besar berkembang dengan baik, karena Pemerintah Propinsi Riau mempunyai Program pengembangan sapi potong untuk menjadikan Propinsi Riau menjadi salah satu daerah penghasil daging sapi di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Program pemerintah ini juga diikuti oleh perubahan swasta yang ingin mengembangkan industri sapi potong di Riau. Hal ini terlihat dengan berdirinya perusahaan peternakan sapi potong di propinsi Riau antara lain PT Riau Farm dan PT Tri Bakti Sarimas. Sasaran dari perusahaan ini adalah selain untuk kebutuhan lokal juga untuk ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis Obat Hewan&lt;br /&gt;Berdasarkan perkembangan dan pertumbuhan dunia peternakan tersebut baik perunggasan maupun ternak hewan besar maka bisnis obat hewan di propinsi Riau juga mengalami peningkatan. Bisnis obat hewan ini diperkirakan akan terus meningkat mengingat propinsi Riau secara geografis terletak di tengah Pulau Sumatera dan juga mempunyai jarak tempuh yang relatif singkat dengan negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura.&lt;br /&gt;Masyarakat obat hewan yang tergabung dalam ASOHI Daerah Riau pun bekerjasama dengan Dinas Peternakan melaksanakan Temu Usaha Obat Hewan dan Pengawasan Obat Hewan se Propinsi Riau. Pemantauan terhadap adanya obat hewan ilegal selalu dilakukan. “Sampai saat ini kita bersyukur obat hewan ilegal tidak ada beredar di Propinsi Riau,” kata pengurus ASOHI Daerah Riau.&lt;br /&gt;“Program pemerintah daerah yang sangat mendukung dunia peternakan agar Riau menjadi daerah penghasil daging dan telur di masa yang akan datang merupakan suatu harapan bagi ASOHI untuk berkembangnya bisnis obat hewan di propinsi Riau. Hal ini akan tetap memicu adanya pihak yang ingin memasukkan obat hewan ke Riau secara ilegal dengan harga yang murah,” Pengurus ASOHI Daerah Riau menuturkan kemungkinan-kemungkinan yang tetap bisa terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;Bagi masyarakat obat hewan yang tergabung dalam ASOHI Riau, secara internal petunjuk baku dari ASOHI Pusat tentang cara menangani jika ditemukan adanya obat hewan ilegal dan aturan-aturan tentang perizinn Depo obat hewan sangat bermanfaat.&lt;br /&gt;Perkembangan dan pertumbuhan bisnis peternakan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk tumbuh dan berkembangnya bisnis obat hewan. Oleh sebab ini, maka ASOHI senantiasa harus berupaya dan berperan aktif mengatasi kendala yang jadi penghambat perkambangan bisnis peternakan tersebut.&lt;br /&gt;Masyarakat peternakan dan kesehatan Riau pun telah melakukan audensi dengan Dinas Peternakan. Mereka memberikan masukan kepada Dinas Peternakan Propinsi untuk persiapan adanya Peraturan Daerah tentang Tata Ruang Daerah Peternakan. (YR/berbagai sumber) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-8715957935075608124?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/8715957935075608124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=8715957935075608124' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8715957935075608124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8715957935075608124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/flu-burung-hewan-besar-dan-obat-hewan.html' title='Flu Burung, Hewan Besar dan Obat Hewan'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-1453251649261442517</id><published>2009-01-18T17:36:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:52:05.865-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Pedaging'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obat Hewan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam Petelur'/><title type='text'>Broiler, Layer, Bisnis Obat dan OTT</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/broiler-layer-bisnis-obat-dan-ott.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Broiler, Layer, Bisnis Obat dan OTT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALIMANTAN TIMUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak akhir Desember 2006 sampai dengan Maret 2007 kondisi perunggasan di Kalimantan Timur sangat tidak bagus, bahkan harga hasil produksi broiler sempat menyentuh harga terendah Rp. 3500/kg hidup.&lt;br /&gt;“Padahal BEP nya sudah mencapai Rp 9000/kg. Perhitungan ini dengan harga DOC Rp 3500 ditambah pakan Rp 3400/kg,” kata Drh Sumarsongko, Ketua ASOHI Daerah Kalimantan Timur belum lama ini.&lt;br /&gt;Sampai Agustus 2007, harga broiler sudah mencapai Rp. 9500. Bahkan pada bulan Juli sempat mencapai harga tertinggi yaitu Rp 11.500/kg hidup. Adapun untuk harga telur relatif stabil berkisar antara Rp 570–625 per butir.&lt;br /&gt;Kalimantan Timur pada Agustus, bisa menghasilkan 55.000 s/d 62.000 ekor broiler per hari yang lebih dari 80% sudah dikuasai oleh grup integrator perusahaan besar.&lt;br /&gt;“Adapun populasi ayam petelur kurang lebih hanya 700.000 ekor,” tutur Sumarsongko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Bisnis Obat Hewan&lt;br /&gt;Dengan adanya situasi perunggasan seperti tersebut itu, Drh Sumarsongko menjelaskan obat hewan yang tidak mempunyai grup integrator mengalami kelesuan yang signifikan.&lt;br /&gt;“Lain halnya dengan perusahaan obat hewan yang mempunyai grup kemitraan besar, untuk melayani intern saja kami rasa sudah lebih dari cukup untuk target omzet mereka,” katanya.&lt;br /&gt;Menurutnya, adanya kondisi ini menimbulkan persaingan bisnis semakin tidak sehat, seperti jor-joran bonus, diskon, CN, bonus gelap, sleeping komisi dan lain-lain. Walaupun, hal tersebut adalah hak masing-masing perusahaan, namun demikian kondisi ini menurut kami sudah merupakan hal yang tidak wajar.&lt;br /&gt;Belum lagi diperparah dengan beredarnya beberapa OTT yang dipakai oleh beberapa grup kemitraan, sehingga semakin mempersulit bagi perusahaan obat hewan yang di luar grup kemitraan.&lt;br /&gt;Adapun dengan adanya perubahan sistem dari jaman Poultry Shop ke jaman Kemitraan/Integrator, maka baik langsung maupun tidak langsung sangat mempengaruhi kondisi bisnis obat hewan, mengingat sebelumnya yang banyak berbisnis adalah Poultry Shop. Dengan hilangnya Poultry Shop maka implikasinya terhadap kegiatan pebisnis obat hewan dan pabrikan obat hewan sangat besar sekali.&lt;br /&gt;Kegiatan bidang peternakan dan kesehatan di daerah ini antara lain di Expo Peternakan dan Produk Ikutannya serta sarana Pendukungnya di lapangan Milono Samarinda dalam rangka Bulan Bhakti Peternakan dan Kesehatan Hewan Agustus/September 2006. Pada acara tersebut diadakan juga vaksinasi gratis untuk Rabies dan AI&lt;br /&gt;Kantor Peternakan Kota Samarinda dan Panitia Porwanas pun mengadakan kampanye Aman makan Ayam dan Telur bertempat di Tepian Mahakam dan stadion Madya Samarinda. ASOHI Kaltim bekerjasama dengan Media Kaltim Post, menyediakan ayam goreng gratis pada saat acara jalan santai sehat keluarga sejahtera. Ada pula promosi pakan Samsung Grup di Hotel Grand Victoria Samarinda. Ada pula kontes ternak se Kaltim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OTT&lt;br /&gt;Beberapa hal yang dijumpai di lapangan bisnis obat hewan antara lain masih ada beredar beberapa obat hewan non registrasi/OTT, beredar vitamin/ obat yang dibilang organik non registrasi.&lt;br /&gt;Untuk itu Pengurus ASOHI Daerah Kaltim menyatakan perlu tindakan yang betul-betul kongkrit bagi perusahaan yang masih mengedarkan OTT/ non registrasi.&lt;br /&gt;“Setiap kemasan obat perlu tercantum indikasi, komposisi, cara pemakaian, nomor registrasi dan masa kadaluarsa. Diperlukan aturan main yang jelas tentang Persaingan yang sehat. Dan, petugas dari kantor Pusat Perusahaan Obat Hewan kalaupun mau menetap dan meninggalkan daerah dengan etika yang baik, sosialisasi dari pusatnya perlu ditingkatkan,” papar Drh Sumarsongko.&lt;br /&gt;Menurutnya, ASOHI sudah waktunya memberikan konsep pembangunan peternakan yang berkesinambungan, padat karya dan tangguh, khususnya yang menyangkut obat hewan, sehingga UMKM hidup kembali. (ASOHI/YR) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-1453251649261442517?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/1453251649261442517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=1453251649261442517' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/1453251649261442517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/1453251649261442517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/broiler-layer-bisnis-obat-dan-ott.html' title='Broiler, Layer, Bisnis Obat dan OTT'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-4217912257134941463</id><published>2009-01-18T17:34:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:43:31.956-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obat Hewan'/><title type='text'>Obat Hewan, Otoda dan RPH Unggas</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/obat-hewan-otoda-dan-rph-unggas.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat Hewan, Otoda dan RPH Unggas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMATERA BARAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Propinsi Sumatera Barat berpotensi sekali dalam mengembangkan Ternak besar seperti (sapi dan kerbau) dan ternak unggas terutama ayam petelur dan ayam potong. Sapi yang sangat pesat perkembangannya adalah sapi potong jenis Simental, sedangkan sapi perah hanya diminati oleh masyarakat di sekitar Kota Padang Panjang.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/obat-hewan-otoda-dan-rph-unggas.html"&gt;&lt;/a&gt; Adapun unggas terpusat di Kabupaten lima puluh kota baik petelur maupun pedaging. Kebutuhan propinsi tetangga seperti Riau, Riau Kepulauan, dan Jambi, Bengkulu terhadap Telur dan daging ayam dipasok dari Kabupaten Lima Puluh Kota.&lt;br /&gt;Demikian tutur Ketua Bidang Organisasi ASOHI Daerah Sumatera Barat Drh Dodi Mulyadi, belum lama ini. Seraya, menambahkan sejalan dengan kemajuan peternakan maka secara paralel akan meningkatkan kebutuhan atas obat-obat hewan.&lt;br /&gt;Dituturkan Dodi Mulyadi, bisnis obat hewan di Sumbar banyak didominasi oleh obat unggas. Karena, ayam telah berkembang sangat pesat sekali di tengah-tengah usaha swasta bibit, pakan dan obat-obatan.&lt;br /&gt;Tidak kurang 8 distributor obat hewan yang beroperasi di Sumatera Barat. Adapun, obat hewan untuk ternak besar 90 persen adalah kebutuhan instansi pemerintah melalui anggaran APBN dan APBD baik propinsi maupun Kabupaten dan Kota se Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;118 Perusahaan Obat Hewan&lt;br /&gt;Dodi menguraikan, 118 perusahaan (Distributor, Depo dan Toko) mempunyai Izin usaha obat hewan dari Dinas Peternakan Propinsi dan Kabupaten/Kota se Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Untuk pengawasan obat hewan, secara wewenang pengawasan dan penindakan ada pada Dinas Instansi Pemerintah. Sehingga, ASOHI akan menginformasikan kepada pemerintah jika terjadi pelanggaran aturan peredaran obat hewan dan obat hewan ilegal.&lt;br /&gt;Di sisi internal, ASOHI memberikan pembinaan kepada pengusaha obat hewan. Dengan jalan: menyampaikan daftar obat hewan yang telah terdaftar dan teregistrasi kepada Dinas yang membidangi Peternakan. Juga, dalam menyusun kebutuhan daerah dan menyampaikan distributor yang telah menjadi anggota ASOHI Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Adapun, otonomi daerah menjadikan masing-masing daerah membuat kebijakan yang sering tidak memperhatikan aturan perundang-undangan teknis, seperti tender pengadaan obat hewan. Untuk itu, “Harus ada penegasan dari Menteri Pertanian kepada pemda dan dinas di daerah dalam memberlakukan peraturan mengenai obat hewan,” kata Pengurus ASOHI Daerah Sumatera Barat itu.&lt;br /&gt;Flu Burung dan RPU&lt;br /&gt;Untuk menunjang kembang tumbuhnya bidang peternakan dan kesehatan hewan, diselenggarakan seminar dan rapat-rapat dan berbagai kerjasama dengan Pemda Propinsi dan Kabupaten/Kota se Sumatera Barat. Seminar dan rapat yang paling intens, adalah tentang Penanggulangan Flu Burung.&lt;br /&gt;Dalam upaya pengendalian dan penanggulangan penyakit Avian Influenza di Sumatera Barat pun telah dilakukan secara intensif terhadap sumber penularannya guna memutus mata rantai penyebaran penyakit Flu Burung antar unggas maupun dari unggas ke manusia.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, “Harus dilakukan penataan tempat penampungan unggas dan pemotongan unggas,” kata sumber di Dinas Peternakan Daerah Propinsi Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Untuk maksud tersebut perlu ditempuh langkah-langkah pembinaan, bimbingan dan pengawasan terhadap pola pemeliharaan unggas di pemukiman dan penanganan pasca panen yang berkaitan dengan Kesehatan Masyarakat Veteriner. Khususnya, penataan tempat penampungan unggas dan tempat pemotongan unggas serta Rumah Pemotongan Unggas.&lt;br /&gt;Berdasarkan pertimbangan itu, Gubernur Sumatera Barat mengeluarkan Instruksi Nomor: 02/INST/GSB/2007 Instruksi Gubernur tentang Keharusan Memiliki Rumah Pemotongan Unggas sampai dengan Tahun 2010 dan Penataan Perunggasan di Kabupaten/Kota se Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Guna kepedulian sosial, masyarakat obat hewan pun melaksanakan bakti sosial dalam membantu korban gemba bumi pada bulan Maret 2007 di Sumatera Barat. Sumbangan dikumpulkan secara spontan dari Pengusaha obat hewan dan Peternak serta Poultri Shop yang ada di Padang, Payakumbuh, Padang Pariaman dan Bukittinggi. (ASOHI/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-4217912257134941463?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/4217912257134941463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=4217912257134941463' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4217912257134941463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4217912257134941463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/obat-hewan-otoda-dan-rph-unggas.html' title='Obat Hewan, Otoda dan RPH Unggas'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-5392563212476579125</id><published>2009-01-18T17:33:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:51:36.437-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obat Hewan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flu Burung'/><title type='text'>OBAT, VAKSIN DAN PUSLIT FLU BURUNG UNAIR</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/obat-vaksin-dan-puslit-flu-burung-unair.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OBAT, VAKSIN DAN PUSLIT FLU BURUNG UNAIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seampuh apapun suatu obat, bagaimanapun tindakan pengobatan bukanlah hal utama yang harus menjadi perhatian dalam kesatuan manajemen kesehatan hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/obat-vaksin-dan-puslit-flu-burung-unair.html"&gt;&lt;/a&gt;Pengobatan memang penting , namun sebatas sebagai tindakan setelah suatu penyakit menyerang. Atau, pada suatu peternakan telah begitu jelek kondisi biosecurity-nya, sehingga diasumsikan bibit penyakit sudah ada dan masuk dalam tubuh ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan sebagai suatu kesatuan manajemen kesehatan hewan, yang paling utama dan pertama harus diperhatikan adalah biosecurity sebagai tindakan pencegahan. Sementara vaksinasi sebagai pencegahan secara biologis pun hanya dapat membantu dari dalam tubuh ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa dalam Rapat Koordinasi Nasional II ASOHI di Jakarta belum lama ini, dr drh Mangkoe Sitepu mengatakan, “Ternak sudah divaksin, mengapa bisa tetap sakit? Sebab, vaksin itu mencegah penyakit, bukan mengobati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun terkait penyakit flu burung yang masih jadi isu utama sejauh ini, vaksin flu burung yang selama ini digunakan sebagai pencegahan pun belum dapat diandalkan seratus persen. Jika para peneliti mampu menemukan model penularan, model pencegahan terhadap virus mematikan tersebut juga dapat disusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian Dr Drh Choirul Anwar Nidom MS dari Universitas Airlangga yang mendasari langkah strategis Unair Surabaya ini bersiap menjadi pusat penelitian flu burung tingkat internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek itu merupakan salah satu tindak lanjut kesepahaman antara Unair dengan Kobe University, Jepang, pada Mei lalu. Unair akan menerima bantuan dari pemerintah Jepang senilai Rp 100 miliar untuk pembangunan fasilitas penelitian. Salah satunya berupa peralatan laboratorium Biosafety Level-3 (BSL-3) senilai Rp 15 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, kami sedang menyiapkan peresmian yang dijadwalkan pada akhir bulan depan. Peralatannya dikirim langsung dari Jepang,” kata Dr Choirul Anwar Nidom selaku Ketua Proyek kerja sama dari Unair belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain BSL-3, Unair akan mendapat mesin pengurai data DNA virus flu burung dan mesin penentu jumlah virus yang menginfeksi korban. Piranti itu, akan memberikan tingkat keamanan bagi para peneliti maupun lingkungannya. Selain bantuan alat, para peneliti Jepang dari Kobe University dan Tokyo University akan membantu para peneliti Unair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua peneliti dari Negeri Sakura tersebut sudah datang ke Unair untuk mempersiapkan penelitian. Kedua belah pihak berharap, pusat penelitian itu mampu menemukan model penularan flu burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat penelitian yang terfokus pada flu burung itu merupakan yang pertama di Indonesia. Unair berniat membagikan pengetahuan tersebut kepada mereka yang membutuhkan. “Siapa pun boleh menjadikan pusat penelitian ini sebagai rujukan. Tapi, kami akan berkonsentrasi pada south to south collaboration dahulu,” kata Nidom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara selatan yang dimaksud Nidom adalah negara-negara Afrika hingga Amerika Latin. Unair bersama Jepang akan berkonsentrasi memecahkan masalah atau penelitian mengenai flu burung di negara-negara tersebut. (YR/ berbagai sumber) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-5392563212476579125?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/5392563212476579125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=5392563212476579125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5392563212476579125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5392563212476579125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/obat-vaksin-dan-puslit-flu-burung-unair.html' title='OBAT, VAKSIN DAN PUSLIT FLU BURUNG UNAIR'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-831581774837592527</id><published>2009-01-18T17:32:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:42:56.527-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obat Hewan'/><title type='text'>OBAT HEWAN DAN OTONOMI DAERAH</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/obat-hewan-dan-otonomi-daerah.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OBAT HEWAN DAN OTONOMI DAERAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak permasalahan obat hewan (OH) terkait dengan otonomi daerah yang dipertanyakan kalangan obat hewan dari berbagai daerah di seluruh tanah air. Suharyanto SH dari Biro Hukum Dan Humas Departemen Pertanian pun menguraikan terkait hal ini dalam Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan Hotel Menara Peninsula Jakarta 5-6 September 2006.&lt;br /&gt;Hukum positif tentang Otonomi Daerah adalah Undang-Undang 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan.&lt;br /&gt;Diuraikan Suharyanto SH, Undang-Undang 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah berisi tentang Otonomi Daerah, Daerah Otonom (daerah), Desentralisasi, Dekonsentrasi dan Tugas pembantuan.&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota&lt;br /&gt;Urusan pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah dan urusan pemerintahan yang dibagai bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan.&lt;br /&gt;Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan adalah semua urusan pemerintahan diluar urusan politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama, terdiri atas 31 urusan pemerintahan diantaranya Pertanian dan ketahanan pangan.&lt;br /&gt;Obat-obat yang khusus untuk pemakaian kedokteran hewan (ad asum veterinarium) diatur oleh Departemen Pertanian.&lt;br /&gt;Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 Pasal 23 menyebutkan “Pemerintah menyediakan obat-obatan dalam jumlah yang cukup serta mengatur dan mengawasi pembuatan, persediaan, peredaran, serta pemakaiannya, mengadakan penyelidikan-penyeledikan ilmiah bahan-bahan obat-obatan hewani”&lt;br /&gt;Berdasar Undang-Undang tersebut maka ada pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/ kota mempunyai wewenang terpisah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah (Pusat)&lt;br /&gt;Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Pertanian mempunyai wewenang dalam: Penetapan kebijakan OH; Penerbitan sertifikat CPOHB; Penetapan Standar mutu OH; Pengawasan produksi dan peredaran OH di tingkat produsen dan importir; Penetapan pedoman produksi, peredaran dan penggunaan OH: Pengujian mutu dan sertifikasi OH; Pendaftaran OH; dan Pemberian Izin Usaha OH sebagai produsen dan importir;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Daerah Provinsi&lt;br /&gt;Pemerintah Provinsi mempunyai wewenang dalam Penerapan kebijakan OH wilayah provinsi; Pemetaan identifikasi dan inventarisasi kebutuhan OH wilayah provinsi; Penerapan dan pengawasan standar mutu OH wilayah provinsi; Pembinaan dan pengawasan peredaran OH di tingkat distributor; Pemberian Izin Usaha Obat Hewan sebagai distributor wilayah Provinsi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota&lt;br /&gt;Adapun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota mempunyai wewenang dalam penerapan kebijakan OH wilayah kab/kota; Identifikasi dan inventarisasi kebutuhan OH wilayah kab/kotai; Penerapan standar mutu OH wilayah kab/kota; Pengawasan peredaran dan penggunnaan OH.&lt;br /&gt;Lalu, Pengawasan peredaran dan penggunaan OH tingkat depo, toko, kios dan pengecer OH wilayah kabupaten/kota; Bimbingan pemakaian OH di tingkat peternak; Bimbingan peredaran OH tingkat depo, toko, kios dan pengecer obat hewan wilayah kabupaten/kota.&lt;br /&gt;Juga, Pemeriksaan, pengadaan, penyimpanan, pemakaian dan peredaran OH wilayah kabupaten/kota; Pelaksanaan pemeriksaan penanggung jawab wilayah kabupaten/kota; Bimbingan penyimpanan dan pemakaian OH.&lt;br /&gt;Selanjutnya, Pelaksanaan penerbitan perizinan bidang OH wilayah kabupaten/kota; Pelaksanaan penerbitan penyimpanan mutu dan perubahan bentuk OH wilayah kabupaten/kota; Bimbingan pelaksanaan pemeriksaan bahan produk asal hewan dari residu OH (daging, telur dan susu) wilayah kabupaten/kota.&lt;br /&gt;Kemudian, Bimbingan pemakaian, penyimpanan, penggunaan sediaan vaksin, sera dan bahan diagnostik biologis untuk hewan wilayah kabupaten/kota; Bimbingan pelaksanaan pemeriksaan sediaan premik wilayah kabupaten/kota; Bimbingan pelaksanaan pendaftaran OH tradisional/pabrikan wilayah kabupaten/kota; Bimbingan kelembagaan/Asosiasi bidang OH (ASOHI) wilayah kabupaten/kota.&lt;br /&gt;Dan, Pemberian izin usaha obat hewan di tingkat depo, toko, kios dan pengecer obat hewan, poultry shop dan pest shop wulayah kab/kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan OH Sampai Pengawasan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 1992 tentang Obat Hewan, terdiri dari 8 Bab dengan 23 pasal, mengatur pembuatan, penyediaan, peredaran, pendaftaran, pengujian mutu, perizinan dan pengawasan obat hewan.&lt;br /&gt;Berdasar perundangan itu, wewenang pengawas obat hewan adalah menghentikan sementara kegiatan pembuatan obat hewan; melarang peredaran obat hewan; menarik obat hewan dari peredaran; dan menghentikan pemakaian obat hewan yang tidak sesuai dengan ketentuan.&lt;br /&gt;Guna tindak lanjut pengawasan, bila ditemukan penyimpangan dalam perizinan, pengawas memberikan teguran tertulis 2 kali berturut-turut selang waktu 2 bulan dengan tembusan kepada Direjen Bina Produksi Peternakan, Kadisnak Propinsi dan Kadisnak Kabupaten/Kota, dan apabila tidak dipenuhi pengawas obat hewan melaporkan kepada pemberi izin untuk memenuhi ketentuan perizinan, mencabut izin atau menutup usahanya.&lt;br /&gt;Bila ditemukan penyimpangan cara pembuatan hewan, sarana dan tempat penyimpanan, pemakaian dan atau mutu, maka Pengawas obat hewan dapat menghentikan sementara pembuatan, penyediaan, peredaran dan pemakaian obat hewan, paling lama 15 hari, dan melaporkan kepada Dirjen Peternakan dengan tembusan Kadisnak Kabu/Kota, Propinsi.&lt;br /&gt;Jika dalam waktu 15 hari, Dirjen Peternakan belum mengambil keputusan, Pengawas Obat Hewan dapat memperpanjang penghentian sementara paling lama 15 hari.&lt;br /&gt;Dirjen Nak paling lama dalam waktu 30 hari sejak diterimanya laporan harus telah mengambil keputusan, berupa pencabutan penghentian sementara dan menyatakan kegiatan pembuatan, penyediaan, peredaran dan pemakaian obat hewan dapat dilanjutkan. Atau, menghentikan kegiatan pembuatan, penyediaan, malarang dan memerintahkan penarikan dari peredaran serta melarang dan menghentikan pemakaian obat hewan yang dilaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan Konsumen&lt;br /&gt;Suharyanto SH pun menguraikan, terkait dengan otonomi daerah, dibentuklah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) di Kabupaten/Kota untuk menyelesaikan sengketa konsumen di luar pengadilan. Keanggotaan BPSK terdiri dari unsur konsumen, dan pelaku usaha yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang perdagangan.&lt;br /&gt;Tugas dan Wewenang BPSK, meliputi: melaksanakan penanganan dan penyelesaian konsumen dengan cara mediasi atau arbritrase atau konsiliasi; memberikan konsultasi perlindungan konsumen; melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausul baku;&lt;br /&gt;Peraturan perundang-undangan di bidang obat hewan sangat terkait dengan pertauran perundang-undangan di bidang perlindungan konsumen, karena obat hewan termasuk pengertian barang,&lt;br /&gt;Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) berwenang menjatuhkan sanksi admnistratif terhadap berbagai pelaku usaha dengan kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;Yang tidak memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan dalam jangka waktu 7 hari setelah tanggal transaksi,&lt;br /&gt;Lalu, pelaku usaha yang tidak bertanggungjawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut, tidak menyediakan suku cadang, dan tidak memenuhi jaminan atau garansi yang diepakati atau diperjanjikan, berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah).&lt;br /&gt;Juga, pelaku usaha yang memproduksi barang atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan, tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam hitungan seperti pada label, tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan, dan jumlah dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya, tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut, tidak sesuai dengan mutu, tingkatan komposisi, proses pengolahan, gaya, metode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut.&lt;br /&gt;Di samping sanksi pidana dapat dijatuhkan hukuman tambahan berupa perampasan barang tertentu; pengumuman keputusan hakim; pembayaran ganti rugi; perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian konsumen;. kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau pencabutan izin usaha.&lt;br /&gt;Bagiamana prakteknya? Apapun yang terjadi di lapangan, kita punya dasar untuk berbuat sesuai koridor hukum. Itulah bekal kita untuk tetap optimis menyikapi permasalahan obat hewan di lapangan. Kiranya begitu, bukan? (YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-831581774837592527?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/831581774837592527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=831581774837592527' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/831581774837592527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/831581774837592527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/obat-hewan-dan-otonomi-daerah.html' title='OBAT HEWAN DAN OTONOMI DAERAH'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-1055458015794269423</id><published>2009-01-18T17:30:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:25:12.919-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obat Hewan'/><title type='text'>OBAT HEWAN DAN KARANTINA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/obat-hewan-dan-karantina.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OBAT HEWAN DAN KARANTINA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya telur ilegal dari Malaysia ke Pulau Batam sangat mengkuatirkan para peternak di Sumatera Utara mengingat pada priode Mei-Juni negara tetangga Malaysia kembali mengalami Out Break sehingga dikuatirkan membawa dampak yang sangat serius bagi provinsi Sumatera Utara. Masyarakat peternakan dan kesehatan hewan Sumut pun melaksanakan kunjungan ke Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bekerja sama dengan Karantina (Desember 2006) setempat.&lt;br /&gt;Sementara itu disampaikan oleh Ismaeni Pengurus ASOHI Daerah Sumatera Selatan belum lama ini, dalam menghadapi penularan virus Avian Influenza pada unggas, masyarakat peternakan dan kesehatan hewan di antaranya ASOHI Sumsel bekerjasama dengan Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Selatan melakukan sosialisasi penanganan AI. Dilakukan kunjungan ke peternakan rakyat disertai penyuluhan/informasi bagaimana beternak yang baik.&lt;br /&gt;Informasi yang disampaikan lebih fokus kepada management kesehatan ternak unggas, termasuk himbauan kepada peternak unggas agar memberikan laporan secara rutin mengenai kondisi kesehatan ternak. Penularan AI tersebut pun sangat terkait dengan lalu lintas ternak dan karantinanya.&lt;br /&gt;Seminar “Lalulintas Ternak dan Sediaan Biologik” pun diselenggarakan pada 2006 oleh Balai Karantina Hewan dengan mengundang ASOHI Sumsel sebagai pembicara. Adapun vaksinasi ND pun dilakukan untuk peternak rakyat (buras) di desa Talang Ilir Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Kegiatan dilakukan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan diakhiri dengan pelaksanaan vaksinasi ayam buras milik peternak rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan Karantina&lt;br /&gt;Begitulah, tindakan karantina sangat penting terkait lalu lintas biologik produk terkait hewan. Drh Agus Sunanto dari Pusat Karantina Hewan Badan Karantina Pertanian pun menyampaikan dasar-dasar hukum dari tindakan karantina hewan di Indonesia pada Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan yang diselenggarakan ASOHI di Jakarta 5-6 September 2007.&lt;br /&gt;Dasar Hukum itu antara lain Undang-undang RI Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Karantina Ikan, Karantina Tumbuhan, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan, PP 49/ 2002 juncto PP 7/ 2003 tentang perubahan atas tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak (PNBP).&lt;br /&gt;Lalu, Permentan No. 62/Permentan/ 0T.140/12/2006 tentang pengawasan dan tindakan karantina terhadap pemasukan bahan patogen dan atau obat hewan golongan sediaan biologik dan ketentuan lain terkait lalu lintas hewan.&lt;br /&gt;Indonesia sendiri mempunyai Unit Pelaksana Teknis Karantina Hewan antara lain 2 Balai Besar Karantina Hewan (Soekarno Hatta dan Tanjung Perak, 8 BKH Kelas I, 4 BKH Kelas Ii, 5 Stasiun Kelas I, 20 Stasiun Kelas Ii, 1 Karantina Hewan Otorita Batam, 265 Wilker di Seluruh Indonesia, dan 595 Exit/Entri Point Di Indonesia&lt;br /&gt;Menurut perundangan tersebut, untuk pengawasan, bahan patogen dan/atau bahan biologik dari luar negeri dapat dilakukan oleh badan usaha. Pemasukan bahan patogen dan/atau bahan biologik hanya dapat dilakukan apabila penyakitnya telah ada di Indonesia.&lt;br /&gt;Badan usaha yang akan memasukan bahan patogen dan/atau bahan biologik dari luar negeri harus memiliki Surat Persetujuan Pemasukan (SPP) yang diterbitkan oleh Menteri.&lt;br /&gt;Untuk pemasukan bahan biologik selain memiliki SPP juga harus memiliki nomor pendaftaran obat hewan. Badan usaha yang akan memasukan bahan biologik untuk kepentingan penelitian, pengujian diagnostik atau pendidikan terlebih dahulu harus mendapat izin dari Menteri.&lt;br /&gt;Tindakan Karantina yang diberlakukan adalah, Bahan patogen dan/atau bahan biologik yang dimasukkan harus dilengkapi surat keterangan asal yang diterbitkan oleh produsen, tempat pengumpulan atau pengolahan dari negara asalnya; dilengkapi SPP; melalui tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan; dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina ditempat pemasukan; dilakukan metode pengamanan untuk menjamin bahan patogen dan/atau bahan biologik tidak menyebarkan HPHK serta mencegah terjadinya kerusakan, kebocoran dan kontaminasi.&lt;br /&gt;Tempat-tempat pemasukan bahan patogen dan/atau bahan biologik dari luar negeri yaitu: Bandar Udara Soekarno-Hatta Cengkareng, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Bandar Udara Juanda, Pelabuhan Tajung Perak, Surabaya.&lt;br /&gt;Setiap pemasukan bahan patogen dan/atau bahan biologik dilakukan tindakan karantina berupa pemeriksaan yaitu pemeriksaan keabsahan, kebenaran dan kecocokan antara dokumen yang menyertainya dengan kemasan bahan patogen dan/atau bahan biologik yang tercantum dalam Air Way Bill atau Bill of Lading.&lt;br /&gt;Hasil pemeriksaan yang telah memenuhi syarat dan tidak meragukan, diterbitkan sertifikat pelepasan karantina oleh petugas karantina setempat. Apabila hasil pemeriksaan ditemukan adanya ketidaksesuaian atau diragukan kebenaran dan keabsahannya atau terdapat kerusakan kemasan, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik isi kemasan koli atau palet secara sampling.&lt;br /&gt;Apabila hasil pemeriksaan fisik tidak ditemukan penyimpangan, diterbitkan sertifikat pelepasan. Apabila hasil pemeriksaan fisik ditemukan penyimpangan, dilakukan penolakan atau pemusnahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;Apabila hasil pemeriksaan dokumen ditemukan adanya ketidaksesuaian atau diragukan kebenaran dan keabsahannya atau penyimpangan petugas karantina paling lambat dalam jangka waktu 2 x 24 jam harus melaporkan kepada Kepala Badan Karantina Pertanian melalui Kepala Unit Pelaksana Teknis Karantina Hewan setempat.&lt;br /&gt;Untuk memperoleh sertifikat pelepasan atau surat keterangan pengeluaran pemilik/kuasa pemilik wajib membayar jasa tindakan karantina berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2002 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Pertanian, juncto Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2004.&lt;br /&gt;Pemasukan obat hewan dalam bentuk sediaan farmasetik dan premiks sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 1992 tentang Obat Hewan tidak dikenakan tindakan karantina, karena tidak termasuk sebagai media pembawa HPHK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASOHI dan Karantina&lt;br /&gt;Tindakan Karantina terhadap obat hewan hanya dilakukan pada Sediaan Biologik. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian No 62 tahun 2006 yang merupakan hasil diskusi yang berkesinambungan antara ASOHI dengan Pusat Karantina Hewan dan Direktur Kesehatan Hewan.&lt;br /&gt;Untuk mengawal pelaksanaan Permentan ini ASOHI membentuk team karantina ASOHI yang dipimpin oleh Ir Teddy Candinegara. Team karantina ASOHI melakukan sosialisasi pada anggota melalui Program Temu Anggota ASOHI. Kerja team terus berlanjut bersama Pusat Karantina Hewan untuk menyiapkan rancangan Petunjuk Pelaksanaan teknis yang sejiwa dengan Permentan tersebut.&lt;br /&gt;Kegiatan penting mengenai tindakan karantina di antaranya yang dilakukan oleh ASOHI antara lain Sosialisasi Permentan Tindak Karantina, 18 Desember 2006. Pertemuan ini diadakan dalam sosialisasi permentan tersebut kepada pihak yang berkepentingan khususnya ASOHI. Pertemuan menghasilkan kesepakatan bahwa ASOHI dan karantina akan membentuk tim pamantau berlakunya Permentan ini agar berjalan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku.&lt;br /&gt;Yang lainnya antara lain Pembentukan Tim Pemantau Pelaksanaan Permentan, Pertemuan Forum Komunikasi Pengguna Jasa Karantina Hewan, Surat ASOHI Perihal Implementasi Permentan, 10 April 2007.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian No. 62/Permentan/OT.140/12/2006 tentang Pengawasan dan Tindakan Karantina terhadap Pemasukan Bahan Patogen dan/atau Obat Hewan Golongan Sediaan Biologik serta Penyusunan Juklak Tindakan Karantina Hewan terhadap Sediaan Biologik dan Bahan Patologik, 23 Juni 2007 diselenggarakan rapat penyusunan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) tindakan karantina terhadap sediaan biologik dan bahan patogen&lt;br /&gt;Ketua Tim Karantina ASOHI Ir. Teddy Candinegara hadir pada acara yang dihadiri Kepala Pusat Karantina Hewan, Kepala Balai Besar Karantina Hewan, BBPMSOH, Eselon III Karantina Hewan, UPT Karantina Hewan dan Undangan lain. (ASOHI/YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-1055458015794269423?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/1055458015794269423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=1055458015794269423' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/1055458015794269423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/1055458015794269423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/obat-hewan-dan-karantina.html' title='OBAT HEWAN DAN KARANTINA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-4842731626150327922</id><published>2009-01-18T17:29:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:33:55.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obat Hewan'/><title type='text'>MENGUJI MUTU OBAT HEWAN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/11/menguji-mutu-obat-hewan.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGUJI MUTU OBAT HEWAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Gunungsindur, Bogor dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP ) tahun 2007 adalah sebesar Rp 9,1 M. Tahun 2006 sebesar Rp 19,1 M (Pergantian alat 9M). Tahun 2005 sebesar Rp 6,8 M. Tahun 2004 sebesar Rp 5,0 M. Dan, tahun 2003 adalah sebesar Rp 4,5 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa rencana anggaran tahun 2008? Rp 11,9 M (sekali lagi: Rencana). Demikian diungkap Drh H Agus Heriyanto MPhil Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Gunungsindur, Bogor, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drh Agus Heriyanto pun menguraikan rencana kerja 2007–2009 Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Gunungsindur, Bogor? Di antaranya pemantapan pengujian mutu berupa audit internal dan akreditasi ISO-17025 2005 dan perbaikan sarana /prasarana pengujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pengembangan dan penataan SDM melalui pelatihan dan pendidikan dan pengembangan teknik pengujian dan pelayanan berupa kerjasama kelembagaan antar instansi, swasta dan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, pengembangan lababoratorium biotek pengujian untuk penyakit eksotik dan lintas batas serta dan pengembangan kerjasama nassional dan internasional obat hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepentingan pembaca untuk mengetahui hal tersebut adalah mengingat Laboratorium Pengujian Mutu Dan Sertifikasi Obat Hewan di Gunungsindur Bogor merupakan lembaga pemerintah (baca: negara) yang dibentuk dalam rangka pengawasan mutu obat hewan berdasar berdasar SK Mentan NO 328/KPTS/TH.260/4/1985. Sekaligus untuk mengetahui secara pasti bahwa obat hewan yang beredar merupakan obat yang terjamin mutunya karena memang dibuat dan diuji secara ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar perundangan tersebut, obat hewan yang akan diedarkan harus telah lulus pengujian mutu yang dilakukan dalam rangka pengujian. Lalu, obat hewan yang telah terdaftar dapat diuji kembali mutunya setiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ ada tata syarat dan tata cara pengujian dalam rangka pendaftaran obat hewan yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian mutu obat hewan ini dilakukan berdasarkan standar mutu yang ditetapkan pemerintah. Adapun pengujian mutu obat hewan dilakukan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Menteri yaitu BBPMSOH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang biaya yang diperlukan untuk pendaftaran dan pengujian mutu obat hewan dibebankan kepada pemilik obat hewan dan besarnya ditetapkan oleh menteri. Tata cara pemungutan dan besarnya biaya pendaftaran ditetapkan oleh Menteri Pertanian setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. Biaya pendaftaran merupakan pendapatan negara dan harus disetor ke kas negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SK Mentan tersebut merupakan penjabaran dari Peraturan Pemerintah RI No 78 Th 1992 Tentang Obat Hewan Bab IV. Pendaftaran dan Pengujian Mutu Obat Hewan Pasal 12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga pelaksanaan dari PP No 15 Tahun 1977 dan PP No 7 Tahun 2004, Menteri mengadakan pengawasan atas pelaksanaan tindakan-tindakan penolakan, pencegahan, pemberantasan dan pengobatan penyakit hewan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu hukum yang lebih tinggi adalah Undang-Undang Negara Republik Indonesia, tepatnya UU No 6/1967 di mana dinyatakan pengobatan penyakit hewan meliputi usaha-usaha pengawasan dan pemeriksaan hewan, penyediaan obat obatan dan imun-sera oleh pemerintah dan swasta, baik dari dalam maupun luar negeri, serta urusan-urusan pemakaian obat obatan dan imun-sera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, menurut Undang-Undang, pemerintah menyediakan obat-obatan dalam jumlah yang cukup serta mengatur dan mengawasi pembuatan, persediaan, peredaran serta pemakaiannya. Serta, mengadakan penyelidikan penyelidikan ilmiah bahan bahan obat obatan hewani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pokok BBPMSOH adalah melaksanakan pengujian mutu, sertifikasi, pengkajian dan pemantauan obat hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan fungsinya adalah: menguji mutu obat hewan, sertifikasi, mengkaji obat hewan, memantau obat hewan yang beredar, mengamankan hasil pengujian mutu obat hewan, mengembangkan teknik dan metode pengujian mutu, memberi pelayanan teknik kegiatan pengujian mutu dan pengkajian obat hewan, serta mengelola limbah pengujian mutu obat hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pengujian obat hewan yang dilakukan di BBPMSOH adalah pengujian biologik, pengujian farmasetik, pengujian peremix, pengujian obat alami dan obat ikan, vaksin viral, vaksin bakterial, antigen, antisera, serta antibiotika, vitamin, hormon, antipiretik, anastetika, kemoterapeutik, antihistamin, feed suplemen dan feed additive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguji sediaan biologik, dilakukan uji umum berupa fisik, kemurnian, kevakuman, sterilitas, kontaminasi (Mycoplasma, Salmonella, jamur), dan kadar air. Adapun uji khusus meliputi keamanan, inaktivasi, potensi, identitas, kandungan virus, kandungan bakteri/spora dan toksisitas abnormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pengujian sediaan farmasetik dan premiks secara umum meliputi pengujian fisik, pH, kadar air, toksisitas abnormal, sterilitas, pirogenitas. Adapun secara khusus meliputi identitas, hayati (antibiotika) dan kadar (obat umum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengujian sampel obat hewan dalam rangka sertifikasi, pengujian sampel berasal dari daerah (dinas). Atau, pengujian sample berasal dari kegiatan pemantauan pengujian sampel berasal dari kegiatan pengkajian sertifikasi obat hewan yang diterbitkan tahun 2006 dan kegiatan pengujian vaksin bakteri untuk unggas tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drh H Agus Heriyanto MPhil mengakui ada beberapa masalah yang diidentifikasi, namun tetap ada faktor kunci keberhasilan BBPMSOH. Yaitu, perluasan tugas pokok dan fungsi balai, upaya peningkatan SDM, birokrasi dan rantai perijinan diperpendek serta sederhana, meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan, meningkatkan mutu kegiatan teknis sesuai standar internasional (SNI 19-17025-2005), meningkatkan sosialisasi tentang sertifikasi dan mutu obat hewan, memantapkan Perencanaan dan Program Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, langkah upaya pengembangan dalam jangka pendek meliputi peremajaan alat-alat pengujian, pelatihan tenaga penguji teknis dan non teknis, memperbaiki sistem mutu dan lababoratorium bioteknologi, membangun jejaring dengan Unit Pelayanan Teknis dan instansi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, dalam jangka panjang, Drh Agus menyatakan Balai Besar diproyeksikan sebagai pusat pengujian dan pengawas obat hewan. Adakah semua kalangan peternakan dan kesehatan hewan merasakan manfaatnya? Rasanya, tentu. Dan semoga semakin ditingkatkan! (ASOHI/ YR)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-4842731626150327922?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/4842731626150327922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=4842731626150327922' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4842731626150327922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4842731626150327922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/menguji-mutu-obat-hewan.html' title='MENGUJI MUTU OBAT HEWAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-5820553920098824770</id><published>2009-01-18T17:24:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:07:00.446-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cacingan'/><title type='text'>Bentuk Ketiga Cacing Pita Taenia Pada Babi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/bentuk-ketiga-cacing-pita-taenia-pada.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Ketiga Cacing Pita Taenia Pada Babi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyoman Sadra Dharmawan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dalam suatu kesempatan menyatakan beberapa tahun terakhir ini, banyak laporan yang membahas kehadiran cacing pita baru, yaitu bentuk ketiga dari cacing pita Taenia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sumber di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali, peneliti itu menyatakan bentuk ketiga dari cacing pita Taenia itu awalnya disebut sebagai Taenia taiwanensis. Namun, sekarang lebih dikenal dengan Taenia Asia atau Taenia asiatica, karena hanya ditemukan di beberapa negara di Asia. Bentuk ketiga cacing pita ini digambarkan sebagai peralihan dari dua cacing pita klasik yang telah dikenal sebelumnya, Taenia solium dan Taenia saginata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber FKH Udayana itu, menurut definisi WHO (World Health Organization), cacing pita Taenia adalah parasit siklozoonosis yang dapat menular di antara hewan vertebrata dan manusia. Ada juga yang memasukkan pada kelompok cacing anthropozoonosis karena melihat fakta selain sebagai penyebar, manusia juga menjadi inang buntu (final host) dari parasit tersebuT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, dilaporkan ada bentuk ketiga dari cacing pita Taenia. Semula dikenal dengan nama Taenia taiwanensis, karena pertama kali dilaporkan di Taiwan oleh seorang pioneer P.C. Fan. Dua bentuk cacing pita sebelumnya adalah cacing pita klasik Taenia saginata atau cacing pita daging sapi dan Taenia solium atau cacing pita daging babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ketiga cacing pita baru Taenia tersebut, sekarang lebih dikenal dengan Taenia Asia atau Taenia asiatica. Disebut demikian, karena cacing pita ini hanya ditemukan di beberapa negara di Asia, seperti Taiwan, Korea, China (di beberapa propinsi), Indonesia (di Sumatera Utara), dan Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing pita ini, tampaknya merupakan bentuk peralihan dari T saginata dan T solium. Ito dan kawan-kawan menyebut sebagai kembaran dari T saginata. Sementara Bowles dan McManus cenderung memasukkan sebagai subspesies atau strain dari T saginata. Berdasarkan penelitian morfologi dan analisis genotif, parasit ini dinyatakan sebagai spesies tersendiri dan memiliki kedekatan hubungan dengan T saginata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morfologi cacing dewasa T asiatica memang sangat mirip dengan T saginata yang klasik (T saginata). Namun, memiliki perbedaan pada beberapa aspek. Perbedaan yang paling esensial adalah pada daur hidup dan lokasi berparasit bentuk sistiserkusnya pada inang antara. Secara alami, inang antara T saginata adalah sapi dan lokasi berparasit sistiserkusnya pada otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara T asiatica, inang antaranya babi, lokasi berparasit sistiserkusnya pada hati dan organ visceral lainnya. Di sisi lain T solium dapat mengakibatkan sistiserkosis pada manusia, tidak demikian halnya dengan T saginata dan T asiatica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat cacing ini merupakan temuan relatif baru, studi tentang penyebaran dan tingkat kejadiannya pada masyarakat masih sedikiT Sejauh ini, dilaporkan T asiatica dan sistiserkusnya hanya ditemukan di beberapa negara di kawasan Asia. Hal ini, ada yang menghubungkan dengan kebiasaan makan (eating habbits) masyarakat Asia, setidaknya di beberapa wilayah yang masyarakatnya gemar mengkonsumsi daging babi dan organ visceral atau jeroan yang tidak dimasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daur Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti FKH Udayana Bali itu menyatakan, daur hidup T asiatica tidak langsung, membutuhkan satu inang antara. Dari beberapa hasil penelitian eksperimental pada ternak dan manusia (sukarelawan) yang dilakukan secara terpisah-pisah, daur hidup cacing pita ini dapat dirangkaikan pada hari ke 14 pasca inokulasi, ditemukan sistiserkus muda berupa bintik-bintik kecil yang tumbuh pada hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke 21 ditemukan kista imatur yang telah memiliki rostellum dan sucker. Kait rudimenter dan adanya pergerakan aktif kista yang matur teramati pada hari ke 28.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosis terhadap adanya infeksi T asiatica dan sistiserkusnya, dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang telah umum dipakai mendeteksi Taenia. Untuk menemukan sistiserkus T asiatica dapat dilakukan dengan pengamatan visual lewat prosedur pemeriksaan kesehatan daging babi. Pemeriksaan ini dilakukan post-mortum terutama pada hati dan organ visceral lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik diagnostik yang sekarang dikembangkan dan cocok untuk mendeteksi kista T asiatica secara ante-mortum adalah pemeriksaan serologis. Uji serologis dapat memberi arti praktis dan spesifik. Dari hasil ekperimen untuk mengetahui adanya sistiserkosis pada babi dengan menggunakan ELISA, dilaporkan bahwa antibodi akan terdeteksi tiga minggu pasca infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walaupun demikian, teknik ini bukan berarti tidak memiliki kelemahan, karena pada umumnya uji serologis sering menunjukkan variasi keakuratan yang lebar,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, usaha-usaha untuk meningkatkan sensitivitas uji ELISA telah diupayakan oleh beberapa pakar, namun spesifitasnya masih tetap merupakan suatu problem tersendiri. Rendahnya spesifisitas uji serodiagnosis umumnya sering berasal dari penggunaan antigen kasar. Karena itu pemurnian antigen merupakan salah satu langkah untuk mengatasi problem tersebuT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya untuk diagnosis pada taeniasis intestinal lainnya, diagnosis pasti terhadap spesies T asiatica tergantung dari identifikasi parasitnya. Dengan cara identifikasi ini, akan diketahui sifat-sifat atau ciri khas yang biasanya ada pada proglottid, telur atau scolexnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Eom dan Rim sedikitnya ada empat ciri khas yang menonjol yang dapat digunakan sebagai indikator morfologi T asiatica, terutama bila dibandingkan dengan T saginata klasik. Keempat ciri tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) adanya rostellum pada scolex&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) adanya tonjolan pada posterior proglottid gravid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) banyaknya jumlah ranting uterus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) adanya bentukan kutil pada permukaan gelembung sistiserkusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pemeriksaan DNA merupakan teknik diagnostik yang lebih akurat dan kini banyak digunakan untuk membedakan spesies T asiatica dengan spesies Taenia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peneliti yang telah berhasil mendeteksi karakteristik T asiatica dengan menggunakan Cloned Ribosomal DNA Fragments dan melihat sekuen amplifikasi menggunakan reaksi rantai polymerase di antaranya adalah Zarlenga, Bowles dan McManus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik diagnostik molekuler dan serologis (imunodiagnosis) terhadap taeniasis dan sistiserkosis secara umum, juga dilaporkan peneliti lainnya. Teknik tersebut dapat digunakan untuk mendiagnosis T asiatica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencegahan dan Pengobatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyoman Sadra Dharmawan menyatakan, tindakan pencegahan dan pengobatan terhadap taeniasis akibat T asiatica, hampir sama dengan pencegahan dan pengobatan pada penderita T saginata klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pencegahan dapat dilakukan seperti pencegahan terhadap taeniasis akibat T saginata dan T solium. Tindakan pencegahan tersebut pada prinsipnya terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati orang yang mengandung parasit, dan mencegah kontaminasi tanah dengan feses manusia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) pemeriksaan hati dan organ visceral babi terhadap adanya sistiserkus;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) memasak hati babi bila akan dikonsumsi. Penyebaran penyakit dapat pula ditekan lewat jalur pendidikan, kontrol melalui program-program kesehatan masyarakat dan kesehatan masyarakat veteriner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terungkapnya bentuk ketiga cacing pita Taenia ini, menurut Nyoman Sadra Dharmawan sekaligus menjawab pertanyaan yang menjadi teka-teki mengenai fenomena taeniasis di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang dimaksud adalah kondisi paradoksal yang memperlihatkan dominannya kasus taeniasis di beberapa wilayah di Asia, yang diduga akibat infeksi cacing pita daging sapi (T saginata), namun terjadi pada masyarakat yang lebih suka mengkonsumsi daging babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di depan, Nyoman Sadra Dharmawan menyimpulkan pada fenomena di atas, ternyata cacing pita yang menginfeksi bukan T saginata, melainkan T asiatica. Sistiserkusnya (C. viscerotropica) berparasit pada hati babi dan morfologi cacing dewasanya memang sulit dibedakan dengan T saginata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakhiri uraian ini, peneliti mengungkapkan, bahwa kemungkinan T asiatica juga dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia, masih diperdebatkan dan dianjurkan untuk diteliti lebih lanjuT Belum ada cukup bukti yang menunjukkan T asiatica dapat berkembang dan menyebabkan sistiserkosis pada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, katanya, “Langkah yang bijak selain meningkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan, adalah melakukan penelitian untuk mengungkap keberadaan T asiatica secara lengkap dan menyeluruh.” (Infovet/ Sumber FKH Udayana)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-5820553920098824770?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/5820553920098824770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=5820553920098824770' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5820553920098824770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/5820553920098824770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/bentuk-ketiga-cacing-pita-taenia-pada.html' title='Bentuk Ketiga Cacing Pita Taenia Pada Babi'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3548825671508407634</id><published>2009-01-18T17:22:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:10:10.875-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cacingan'/><title type='text'>Kasus Cacingan Pada Ruminansia Sapi, Kambing, Domba dan Rusa</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/kasus-cacingan-pada-ruminansia-sapi.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Cacingan Pada Ruminansia Sapi, Kambing, Domba dan Rusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuimin peternak sapi Bali dengan sistem gaduhan di Kelurahan Lembah Damai Kecamatan Rumbai Pesisir Kota Pekanbaru menyatakan, sejauh ini belum ditemukan sapi dengan pertumbuhan yang lambat meskipun makanan yang diberikan cukup kandungan gizi dan jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Konsep beternak itu sebenarnya adalah pemeliharaan ternak sesuai dengan habitat ternak itu sendiri,” papar Tuimin. Artinya adalah: pemeliharaan ternak dengan sepenuh hati. Ternak juga membutuhkan lingkungan yang sehat, pakan yang cukup dan perhatian penuh dari si pemeliharanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kondisi ini diadopsi oleh peternak, “Saya yakin takkan ditemui lagi kasus kematian ternak mati akibat penyakit,” pungkas Bendahara Kelompok Petani Kecil (KPK) Kalui ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, dengan perlakuan yang baik itu, apa saja jenis penyakit cacing yang sebetulnya berpotensi menyerang namun ternyata (mungkin) tidak menyerang sapi peternak itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Balai Informasi Pertanian Lembang (Indonesia) menyatakan tiga jenis cacing yang paling sering menyerang ternak ruminansia adalah: Fasciola gigantica, haemonchus contortus dan Neoascaria vitulorum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasciologis merupakan penyakit yang secara ekonomi menimbulkan banyak kerugian, baik penurunan berat badan dan karkas, produksi susu, gangguan reproduksi sampai pada kematian. Akibatnya pada manusia yang mengkonsumsi hati (mentah) yang berasal dari sapi, domba dan kambing terinfeksi, penelitian terhadap 3000 anak-anak di Egypt, sebanyak 3% terinfeksi dan menunjukkan gejala anemi berat. Syndrom fasciolocis ini di Libanon disebut Halzoun dan di Sudan disebut Marrera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat penyakit zoonosis ini, tidak kurang 2 juta kasus fasciolocis pada manusia mengalami peningkatan sejak tahun 1980 Dilaporkan, tingginya prevalensi penyakit ini terjadi terutama di daerah spesifik seperti di Bolivia (65-92%), Equador (24-53%), Mesir (2-17%) dan Peru (10%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian Prof Drh Kurniasih M VSc PhD dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Hewan UGM tahun yang selanjutnya menambahkan, beberapa usaha pencegahan dilakukan antara lain pemusnahan hospes intermedier (siput) dan rotasi penggembalaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meski begitu, sulit dan tidak efektif jika dilakukan di Indonesia. Karena peternak umumnya hanya memiliki sedikit hewan, 1-5 ekor dan kurangnya lahan rumput untuk penggembalaan,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Drh R Budi Cahyono dari PT Agrotech Veterindo Jaya menyatakan pada kambing kasus cacingan yang paling banyak dijumpai adalah cacing hati. Sementara pada ternak lain adalah cacing gelang. Namun kesemuanya mempunyai sama akibat: pertumbuhan ternak terganggu! Ujung-ujungnya masalah ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Cacing pada Sapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Drh Setiawan Koesdarto dan Dr Drh Sri Subekti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dan Dr Herra Studiawan dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga menyatakan, Toxocara vitulorum, merupakan cacing askarid. Stadium dewasanya banyak dijumpai pada anak sapi (pedet). Akibat dari penyakit cacingan (toxocariasis), sangat menekan produktivitas ternak, berarti menjadi beban ekonomi bagi peternak secara berkepanjangan jika tidak dilakukan pengendalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka menyitir kata Connan, yang dikutip oleh Simon dan Syahrial, pedet yang menderita toxocarosis, akan kehilangan bobot badan sebesar 16 kg pada umur 12 minggu dibanding pedet yang bebas cacingan. Selain itu infeksi toxocariasis juga bersifat zoonotik (menular ke manusia dan sebaliknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pengendaliannya menurut mereka sampai saat ini belum jelas, hal ini disebabkan belum adanya informasi tentang keadaan toxocariasis pada pedet. Tersedianya obat cacing, umumnya hanya berkhasiat terhadap stadium dewasa, kurang berkhasiat untuk stadium larva dan telur. Ternak sapi, khususnya sapi Madura sangat potensial untuk dikembangkandan peranan ternak ini bagi peternak cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini karena ternak sapi sewaktu-waktu dapat dijual bila diperlukan. Kepemilikan ternak sapi selain menghasilkan daging juga pupuk, serta kulit dan tulangnya mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam bidang industri dan kerajinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sapi Madura adalah sapi yang termasuk dalam jenis sapi potong, tetapi pertumbuhannya lambat. Sapi yang biasa hidup di lahan kering, ditinjau dari sudut kesehatan ternak, sapi Madura relatif lebih tahan terhadapkondisi lingkungan yang ada, baik kondisi kekurangan pakan maupun infeksi penyakit,” kata peneliti Universitas Airlangga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian penyakit parasit cacing khususnya cacing saluran pencernaan pernah dilaporkan Disnak Jatim. Menurut Simon dan Syahrial serta Gunawan dan Putra penyakit yang sering dijumpai pada pedet adalah gangguan parasit usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jenis parasit usus yang sering dilaporkan menyerang pedet muda adalah toxocariasis. Parasit cacing ini menimbulkan kerugian yang cukup besar, bahkan dapat mengakibatkan kematian pada pedet. Toxocariasis merupakan penyakit yang banyak ditemukan di negara tropik dengan kelembaban tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut beberapa peneliti angka prevalensi toxocariasis pada pedetdi beberapa negara/daerah adalah sebagai berikut: Myanmar sebesar 89%; India 81,6%; Nigeria 98%; Surabaya 43,29%, Garut 54,24%, Malang Selatan 76%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan penelitian, Dr Drh Setiawan Koesdarto, Dr Drh Sri Subekti dan Dr Herra Studiawan menyatakan prevalensi telur Toxocara vitulorum pada pedet sapi Madura menunjukkan perbedaan sangat nyata antara musim kemarau dan musim penghujan. Prevalensi tertinggi didapatkan pada musim penghujan, yaitu sebesar 60,8% sedangkan pada musim kemarau sebesar 25,4%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui angka prevalensi toxocariasis pada pedet di wilayah Madura dapat ditindak lanjuti dengan membuat dan melaksanakan program pengendalian dan pencegahan bagi terhadap infeksi terhadap Toxocara vitulorum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Cacingan pada Kambing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinas Peternakan Banjarbaru Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan menyatakan penyebab penyakit cacing adalah berbagai jenis cacing bulat alat pencernaan lambung dan usus. Biasanya banyak menyerang kambing muda (di bawah umur 1 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber di Dinas Peternakan Banjarbaru Kalimantan Selatan itu menyatakan, tanda-tanda ternak kambing yang diserang cacing adalah: kambing kelihatan lesu, lemah dan pucat; bulu kasar dan tidak mengkilat; kurus, pertumbuhan lambat; kadang-kadang mencret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencegahannya antara lain dapat dilakukan dengan menghindarkan kambing dari tempat yang lembab dan digenangi air dimana banyak terdapat larva cacing, serta dengan pemberian obat cacing yang teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Cacing pada Domba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Warung Informasi dan Teknologi WARINTEK yang bersifat nasional yang ditangani Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia di Bantul Yogyakarta menyampaikan bahwa semua usia domba dapat terserang penyakit cacing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya adalah cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber pada Departemen Pertanian Republik Indonesia menyatakan untuk pencegahan penyakit: sebelum dikandangkan, domba harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing Pada Rusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun I Made Dwinata dari Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan&lt;br /&gt;Universitas Udayana telah melakukan penelitian untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing nematoda pada rusa yang ditangkarkan di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber pada Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Jumlah menyatakan, sampel penelitian sebanyak 55 ekor rusa. Pemeriksaan feses rusa dilakukan dengan menggunakan metode konsentrasi apung dan untuk mengetahui intensitas infeksi menggunakan metode modifikasi Cornel Mc. Master.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Parasitologi Veteriner FKH Unud itu, didapatkan prevalensi infeksi cacing nematoda pada rusa yang ditangkarkan di Bali sebesar 78,18 % dan hanya terinfeksi oleh cacing tipe strongyl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil analisis menunjukkan perbedaan tempat penangkaran rusa berpengaruh nyata, tetapi jenis kelamin dan jenis rusa tidak berpengaruh nyata terhadap prevalensi infeksi cacing nematoda. Rata-rata total telur per gram (TTPG) tinja pada rusa didapatkan sebesar 144 ï‚± 67 butir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada tiga jenis cacing yang paling sering menyerang ternak ruminansia yaitu: Fasciola gigantica, haemonchus contortus dan Neoascaria vitulorum. Namun, jangan sepelekan jenis-jenis cacing yang lainnya, bukan? (Daman Suska, YR/ berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3548825671508407634?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3548825671508407634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3548825671508407634' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3548825671508407634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3548825671508407634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/kasus-cacingan-pada-ruminansia-sapi.html' title='Kasus Cacingan Pada Ruminansia Sapi, Kambing, Domba dan Rusa'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-7610630743651888741</id><published>2009-01-18T17:21:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:09:51.861-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cacingan'/><title type='text'>Kasus Cacingan Pada Ayam</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/kasus-cacingan-pada-ayam.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Cacingan Pada Ayam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal penyakit cacing pada ayam ini, pada ayam yang paling banyak menyerang adalah cacing pita. Terutama pada ayam petelur, karena ayam ini hidupnya lebih lama dan cacing pun membutuhkan waktu untuk siklus hidupnya. Berbeda dengan ayam pedaging yang masa peliharaannya rata-rata satu kali masa panen cuma 35 hari, sehingga untuk siklus hidup cacing juga sangat pendek apalagi untuk menyerang dan menimbulkan penyakit. Demikian Drh R Budi Cahyono dari PT Agrotech Veterindo Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parasit helmin atau cacing memang secara alami ditemukan pada berbagai jenis unggas liar dan unggas peliharaan. Beberapa spesies parasit cacing acap kali ditemukan secara kebetulan pada saat melakukan bedah bangkai pada ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan, ada dua jenis parasit cacing internal yang sering dijumpai pada unggas seperti Nematoda atau cacing gilig dari jenis Nemathelminthes dan Cestoda atau cacing pipih dari jenis Platyhelminthes. Dalam pengendaliannya, dibutuhkan identifikasi spesies yang tepat dan pengetahuan tentang siklus hidup kedua cacing tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nematoda merupakan kelompok parasit cacing yang terpenting pada unggas, hal ini terkait dengan jumlah spesiesnya dan kerusakkan yang disebabkan cacing tersebut. Kelompok Nematoda mempunyai siklus hidup langsung dan tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada siklus hidup langsung, Nematoda tidak membutuhkan inang perantara untuk menginfestasi ayam atau unggas lainnya sedang pada siklus hidup tidak langsung, Nematoda membutuhkan inang perantara untuk kelangsungan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian menurut akademisi Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau, seraya menambahkan, banyak jenis Nematoda yang dapat menyerang ayam peliharaan seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Nematoda yang menyerang saluran pencernaan adalah Capilaria, Gongylonema, Dyspharynx, Tetrameres, Ascaridia, Heterakis, Strongyloides dan Trichostrongylus. Pada bagian ini, yang perlu diwaspadai peternak adalah Capilaria, Ascaridia dan Trichostrongylus yang sering menyerang ayam yang dipelihara dengan sistem ekstensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Nematoda yang dijumpai pada saluran pernafasan adalah Syngamus yang dikenal juga dengan istilah cacing merah karena warna cacing ini merah atau cacing garpu karena cacing jantan dan betina dalam kopulasi selalu terlihat seperti hurup “Y”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Nematoda yang dapat dijumpai pada mata adalah Oxyspirura. Infeksi Oxyspirura pada ayam liar seperti ayam kampung sering dijumpai. Cacing ini dijumpai di bawah selaput niktitan, kantong konjungtiva dan saluran nasolakrimalis mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi klinis pada ayam yang terinfestasi Oxyspirura adalah oftalmia atau radang mata yang berat, gelisah dan terus menerus menggaruk mata yang terlihat basah dan memerah karena radang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian selaput niktitan terlihat membengkak, sedikit menonjol di bawah kelopak mata di bagian sudut mata dan biasanya digerakkan secara terus menerus sebagai usaha untuk mengeluarkan benda asing dari dalam mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi parah, kelopak mata terlihat bertaut dan di bawahnya dapat ditemukan material mengeju berwarna putih. Jika tidak diobati, infestasi Oxyspirura dapat menimbulkan kebutaan pada ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Askaridiasis pada Ayam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan dunia perunggasan di negara kita, memang sudah banyak menciptakan peluang bisnis. Hal ini disebabkan karena bisnis perunggasan bisa dijangkau masyarakat kalangan bawah, dapat dipelihara oleh masyarakat atau peternak dengan lahan yang cukup kecil, kapital “demand power” yang cukup kuat, menyebabkan ternak ini lebih cepat perkembangannya dibandingkan dengan perkembangan ternak lain. Demikian Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia menyatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurut mereka, para peternak tidak sedikit mengalami hambatan dan rintangan selain harga pakan yang terus naik, obat-obatan yang cukup mahal juga adanya berbagai macam penyakit yang sering menyerang ternak. Salah satu penyakit pada ayam yang sering ditemui adalah askaridiasis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit ini disebabkan oleh cacing Ascaridia galli yang menyerang usus halus bagian tengah. Cacing ini menyebabkan keradangan dibagian usus yang disebut hemorrhagic. Larva cacing ini berukuran sekitar 7mm dan dapat ditemukan diselaput lendir usus. Parasit ini juga dapat ditemukan dibagian albumen dari telur ayam yang terinfeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia itu, infeksi Ascaridia dapat disebabkan oleh Ascaridia galli, Ascaridia dissmilis, Ascaridia numidae, Ascaridia columbae, Ascaridia compar, dan Ascaridia bonase. Selain berparasit pada ayam, Ascaridia galli juga ditemukan pada itik, kalkun, burung dara, dan angsa. Cacing ini tinggal didalam usus halus, berwarna putih, bulat, tidak bersegmen dan panjangnya sekitar 6-13 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ascaridia galli merupakan suatu parasit cacing yang paling sering ditemukan pada unggas peliharaan dan menimbulkan kerugian ekonomik yang cukup tinggi. Cacing tersebut biasanya menimbulkan kerusakan yang parah selam bermigrasi pada fase jaringan dari stadium perkembangan larva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Migrasi terjadi di dalam lapisan mukosa usus dan menyebabkan pendarahan (enteritis hemoragi). Jika lesi tersebut bersifat parah, maka kinerja ayam akan menurun secara dramatis. Ayam yang terinfeksi akan mengalami gangguan proses digesti dan penyerapan nutrien sehingga dapat menghambat pertumbuhan,” tambah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, cacing Ascaridia bersifat spesifik untuk suatu spesies tertentu dan tidak ada/hanya sedikit kemungkinan terjadi infeksi silang antara jenis unggas yang satu dengan yang lainnya. Ascaridia galli berparasit pada ayam, kalkun, burung dara, itik, dan angsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaya situ situ, siklus hidup Ascaridia galli tidak butuh hospes perantara. Penularan cacing tersebut biasanya melalui pakan, air minum, litter, atau bahan lain yang tercemar oleh feses yang mengandung telur infektif. Ayam muda lebih sensitif terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh Ascaridia galii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pada umur 2-3 bulan, ayam akan membentuk kekebalan berperantara seluler terhadap cacing tersebut. Sejumlah kecil cacing Ascaridia galli yang berparasit pada ayam dewasa biasanya dapat ditolerer oleh tanpa adanya kerusakan tertentu pada usus. Infestasi 10 ekor cacing pada ayam dewasa dianggap tidak berbahaya, namun lebih dari 75 ekor akan menimbulkan masalah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, infeksi Ascaridia galli dapat menimbulkan penurunan berat badan yang berhubungan langsung dengan jumlah cacing yang terdapat didalam tubuh. Status nutrisi dari hospes juga penting karena penurunan berat badan lebih tinggi dari pada ayam yang diberi pakan dengan kadar protein tinggi dari pada ayam yang diberi pakan dengan protein lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada infeksi berat dapat terjadi penyumbatan pada usus. Ayam yang terinfeksi Ascaridia galli dalam jumlah besar akan kehilangan darah, mengalami penurunan kadar gula darah, peningkatan asam urat, atrofi timus, gangguan pertumbuhan, dan peningkatan mortilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Infeksi Ascaridia galli tidak mempengaruhi terhadap kadar protein darah, packed cell-volume (PCV) atau kadar hemoglobin. Penyakit tersebut mempunyai efek sinergistik dengan penyakit lain, misalnya koksidiosis dan Infectious bronchitis (IB). Cacing tersebut juga dapat membawa reovirus dan menularkan virus tersebut,” kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang, Ascaridia galli juga dapat ditemukan dalam telur ayam, hal ini dapat dihubungkan dengan kemampuan cacing untuk bermigrasi kedalam oviduk melalui kloaka, sehingga cacing tersebut akan terbungkus oleh kulit telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, umur ayam dan derajat keparahan infeksi memegang peranan penting dalam kekebalan terhadap cacing tersebut. Ayam yang berumur 3 bulan atau lebih menunjukan adanya resistensi terhadap infeksi Ascaridia galli. Status nutrisi ayam juga mempengaruhi pembentukan kekebalan terhadap cacing tersebut. Menurut penelitian ayam yang diberikan pakan dengan kadar vitamin A, B kompleks, kalsium, dan lisin yang tinggi akan meningkatakan resistensi terhadap Ascaridia galli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat bahwa lalat dapat bertindak sebagai vektor mekanik dari telur Ascaridia galli, maka pengendalian terbaik terhadap cacing tersebut adalah kombinasi antara pengobatan preventif dan manajemen kandang yang optimal, meliputi sanitasi/disinfeksi ketat dan pembasmian lalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, menurut Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia itu, pencegahan dan pengobatan pada pullet biasanya diberikan sekitar umur 5 minggu, kemudian diulang dengan interval 4 minggu sampai ayam mencapai umur 21 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin paham tentang penyakit cacing pada ayam, semakin kita pastikan lebih sempurnalah penanganan kesehatan terhadap sang ayam! (Daman Suska, YR/ berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-7610630743651888741?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/7610630743651888741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=7610630743651888741' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/7610630743651888741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/7610630743651888741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/kasus-cacingan-pada-ayam.html' title='Kasus Cacingan Pada Ayam'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-8032417273259761937</id><published>2009-01-18T17:20:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:09:32.858-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cacingan'/><title type='text'>Ketika Ternak (Jangan) Diserang Cacing</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/ketika-ternak-jangan-diserang-cacing.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ternak (Jangan) Diserang Cacing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah berorientasi pada pengendalian penyakit, tindakan konprehensif yang tidak semata-mata menekankan pada pengobatan untuk mengobati setelah kasus penyakit terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang ingin dikatakan Hanafiah dan Dwi Yulistiani sesuai sumber dari Balai Penelitian Ternak Litbang Peternakan dalam suatu kesempatan. Mereka pun menyampaikan hasil penelitian mereka berupa difusi inovasi teknologi pengendalian penyakit infeksi cacing saluran pencernaan secara berkesinambungan pada domba melalui pendekatan partisipatif di Desa Tegalsari, Purwakarta dan desa Pasiripis, Majalengka, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para peneliti itu, penyakit infeksi cacing pada saluran pencernaan pada domba merupakan salah satu penyakit yang menghambat produksi ternak domba terutama pada sistem pemeliharaan secara digembalakan. Cara yang lebih efektif untuk mengatasi masalah penyakit ini adalah melalui pemberdayaan dengan membekali pengetahuan peternak mengenai beberapa aspek produksi dan kesehatan ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi infeksi cacing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Balai Penelitian Ternak Litbang Peternakan itu dilakukan untuk mengetahui difusi inovasi teknologi pengendalian secara berkesnambungan penyakit infeksi cacing saluran pencernaan pada domba melalui pendekatan partisipatif di Desa Tegalsari, Kabupaten Purwakarta dan Desa Pasiripis, Majalengka. Inovasi teknologi yang diintroduksi berdasarkan problem yang ada dan dirasakan oleh peternak di kedua desa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survai dilakukan menggunakan metode wawancara dengan peternak non kooperator masing-masing 14 orang di Desa Tegalsari dan 17 orang di Desa Pasiripis. Responden diambil secara acak sederhana dengan berpedoman pada nama-nama peternak yang sudah pernah berhubungan dengan peternak kooperator. Data yang terkumpul diolah secara deskriptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil wawancara didapat hasil bahwa semua responden (100%) telah mengadopsi pengobatan cacing pada domba dan suplementasi pakan dengan hijauan legum. Dasar pertimbangan responden mengaplikasikan tersebut adalah hasil yang didapat dengan menggunakan teknologi tersebut paling meyakinkan dan mudah diaplikasikan, dapat diketahui manfaatnya dalam waktu yang relatif singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan berdasarkan informasi dari peternak (kooperator dan non kooperator) di Desa Tegalsari telah ada 24 orang dan di Desa Pasiripis sudah ada 30 orang peternak non kooperator yang sudah mengadopsi inovasi teknologi pengendalian penyakit cacing saluran pencernaan pada domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan dan Pola Hidup Cacing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus hidup cacing adalah cacing ditularkan pada waktu ternak memakan rumput atau meminum air yang terkontaminasi atau tercemar oleh ternak lain dengan telur cacing. Bisa juga cacing disebarkan dari induk ke anaknya. Cacing hidup di usus ternak dan memproduksi banyak telur. Masalah ini biasa terjadi pada musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing memang memerlukan kondisi lingkungan yang basah, artinya cacing tersebut bisa tumbuh dan berkembang biak dengan baik bila tempat hidupnya berada pada kondisi yang basah atau lembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi lingkungan yang basah atau lembab, perlu juga diwaspadai kehadiran siput air tawar yang menjadi inang perantara cacing sebelum masuk ke tubuh ternak. Lalu peternak yang bagaimana yang perlu mendapat perhatian lebih terkait jenis entoparasit dari golongan cacing ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Drh Rondang Nayati MM Kepala Sub Dinas Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Riau menyatakan, ternak ruminansia lebih rentan terpapar cacing bila dibanding dengan jenis ternak lainnya. Ternak dimaksud seperti sapi, kerbau, kambing dan domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk jenis ternak lainnya, kasus cacingan tetap bisa dijumpai. “Untuk kasus cacingan pada ternak, fokus kita memang pada ternak ruminansia terutama sapi dan kambing, karena kedua hewan ini sangat rentan dan populasinya di Riau juga cukup tinggi,” jelas alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut dikatakannya, pada peternakan rakyat dengan sistem pemeliharaan yang masih bersifat tradisional yakni dengan membiarkan ternaknya mencari pakan sendiri meskipun pada lingkungan yang disinyalir telah terkontaminasi dengan cacing akan lebih memudahkan ternak terinfestasi cacing ketimbang sapi yang dipelihara dengan sentuhan pemeliharaan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi klinik Fasioliasis tergantung dari jumlah metaserkaria yang termakan oleh penderita. Dalam jumlah besar metaserkaria menyebabkan kerusakan hati, obstruksi saluran empedu, kerusakan jaringan hati disertai fibrosis dan anemia. Frekuensi invasi metaserkaria sangat menentukan beratnya Fasioliasis. Kerusakan saluran empedu oleh migrasi metaserkaria menghambat migrasi cacing hati muda selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sumber di Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau menyatakan bahwa rumput sebagai pakan utama ternak ruminansia tetap dianggap sebagai faktor predisposisi infestasi atau adanya parasit dalam tubuh ternak. Hal ini dikaitkan dengan siklus hidup cacing sebelum masuk ke dalam tubuh ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada cacing hati misalnya, cacing dewasa hidup di dalam duktus biliferus dalam hati domba, sapi, babi dan kadang-kadang manusia. Dikatakan narasumber dari kalangan dokter hewan itu, bentuk tubuh cacing hati seperti daun dengan ukuran 30 x 2 - 12 mm dengan bentuk luarnya tertutup oleh kutikula yang resisten, merupakan modifikasi dari epidermis dan mulut disokong atau dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, cacing dewasa bergerak dengan berkontraksinya otot-otot tubuh, memendek, memanjang dan membelok, mirasidium berenang dengan silianya dan serkaria dengan ekornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing ini merupakan entoparasit yang melekat pada dinding duktus biliferus atau pada epithelium intestinum atau pada endothelium venae dengan alat penghisapnya. Makanan diperoleh dari jaringan-jaringan, sekresi dan sari-sari makanan dalam intestinum hospes dalam bentuk cair, lendir atau darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tubuh, makanan dimetabolisir dengan cairan limfe, kemudian sisa-sisa metabolisme tersebut dikeluarkan melalui selenosit. Perbanyakan cacing ini melalui auto-fertilisasi yang berlangsung pada Trematoda bersifat entoparasit, namun ada juga yang secara fertilisasi silang melalui canalis laurer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cacing hati dewasa bertelur di pembuluh empedu domba dan sapi, telur keluar melalui pembuluh empedu dan terekskresi melalui feses, kemudian telur menetas menjadi mirasidium, masuk ke dalam tubuh siput (Lymnaea sp) atau termakan oleh siput,” papar narasumber calon mahasiswa Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, lanjutnya, “Infestasi cacing hati pada sapi terjadi bila kista atau metaserkaria yang keluar dari tubuh keong menempel pada tumbuh-tumbuhan air terutama selada air (Nasturqium officinale), kemudian tumbuhan tersebut dimakan sapi, masuk ke dalam tubuh sapi tersebut dan menjadi cacing dewasa yang akan menyebabkan Fasioliasis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang harus dilakukan peternak? “Peternak harus proaktif menyikapi prilaku dan siklus hidup cacing tersebut,” jelas alumni Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta ini. Artinya, sebelum rumput diberikan kepada sapi atau ternak lainnya, rumput tersebut perlu diangin-anginkan terlebih dahulu, ini bertujuan agar Metaserkaria cacing tersebut mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Radiopoetro, suhu yang diperlukan mirasidium untuk dapat hidup adalah di atas 5-6 °C dengan suhu optimal 15-24 °C. Mirasidium harus masuk ke dalam tubuh siput dalam waktu 24-30 jam, bila tidak maka akan mati. Kemudian, telur dari jenis Fasciola gigantica menetas dalam waktu 17 hari, berkembang dalam tubuh siput selama 75-175 hari, hal ini tergantung pada suhu lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait pemberantasan cacing ini, Drh Rondang Nayati MM kembali menegaskan bahwa tetap bermula dari kemauan peternak, artinya bila peternak menginginkan ternaknya tumbuh sehat maka peternak harus memperhatikan kaidah-kaidah beternak yang baik sesuai dengan anjuran yang disampaikan oleh petugas lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Budaya hidup bersih juga dapat diterapkan seperti membersihkan lingkungan sekitar kandang, menghindari genangan air dengan cara membuat saluran air, membuang atau mengumpulkan kotoran sapi dan kotoran jenis ternak lainnya pada satu tempat, sehingga pada akhirnya, peternak meraup keuntungan bukan saja dari ternak yang dipelihara, namun keuntungan lain juga datang dari limbah ikutan seperti pupuk kandang,” pungkas mantan Kepala Laboratorium type B Dinas Peternakan Provinsi Riau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengontrol Cacing pada Ternak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drh Johan Purnama MSc dan Taufikurrahman Pua Note SPt dari SPFS (Special Programme For Food Security) FAO untuk Asia Indonesia dalam suatu kesempatan menyatakan, “Penggunaan obat anti parasit internal (cacing) dalam pemeliharaan sapi adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh peternak, karena infestasi cacing adalah suatu fenomena yang akan terus berulang secara periodik dalam siklus pemeliharaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber SPFS FAO untuk Asia Indonesia, beberapa tehnik sederhana dalam melakukan kontrol terhadap infestasi cacing pada ternak sapi dapat dilakukan dengan cara mengatur pemberian pakan dan mengatur waktu pemotongan rumput, suatu hal yang tentunya tidak dapat dilakukan bila sapi dibiarkan mencari pakan sendiri di padang rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan kompos dari kotoran sapi juga akan memutus siklus hidup parasit, karena telur cacing akan menyebar melalui kotoran sapi, sehingga bila kotoran sapi dikumpulkan dan digunakan untuk membuat kompos maka siklus hidup cacing akan terputus dengan sendirinya, karena adanya pemanasan pada proses dekomposisi kotoran sapi (34º C).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada dasarnya beban biaya medikasi untuk pemeliharaan sapi mencapai 5-10% dari total biaya (farm overhead cost), dimana lebih kurang 50 % nya digunakan untuk biaya pembelian obat anti-cacing,” ujar Johan Purnama dan Taufikurrahman Pua Note.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian lain, lanjut mereka, yang timbul adalah adanya resistensi cacing pada beberapa jenis obat, yang memaksa peternak untuk semakin meningkatkan jumlah dosis obat yang diberikan pada sapi dimana hal ini akan memberikan efek samping yang bersifat toksik pada sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Residu obat cacing yang keluar melalui tinja juga akan semakin meningkatkan kekebalan cacing terhadap obat cacing di lingkungan penggembalaan sehingga penggunaan bahan farmasi sebenarnya menimbulkan efek negatif yang cukup signifikan,” kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Tepat Bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa yang tepat pada hewan yang sudah terserang penyakit cacing, akan memberikan jalan untuk pengobatan yang tepat pula. Untuk ketepatan diagnosa, narasumber Infovet menyatakan perhatikan gejala yang tampak pada ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ternak tidak ada nafsu makan, katanya, maka periksalah dulu bagian mulut dan gigi. Periksa juga suhu (kalau tinggi, mungkin ada infeksi umum). Berikan antibiotika injeksi setiap hari selama 3 - 5 hari. “Bila bukan seperti gejala diatas setelah diperiksa, kemungkinan penyakit kronis. Hubungi dokter hewan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bila nafsu makan ternak bagus, ada kemungkinan pakan mutunya kurang baik/ busuk/ berjamur. Untuk itu narasumber Infovet menyatakan supaya peternak mengganti pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala-gejala bila ternak itu cacingan antara lain: sapi kurus dan lemah, nafsu bisa kurang, kurang darah (anaemia), lendir berwarna pucat dan sering mencret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya salah satu metoda untuk melakukan diagnosa penyakit Cacing Hati (Fasciolasis) pada sapi dan kerbau, misalnya, adalah dengan menggunakan antigen Fasciola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil salah satu contoh, narasumber Infovet menyatakan, antigen fasciola ini merupakan suspensi cacing hati dalam larutan garam faali dan ditambah merthiolate. Kemasannya antara lain vial berisi 5 ml antigen.Untuk penyimpanan, simpan pada suhu 2°-8° C (lemari es), jangan pada suhu beku. Selama peredaran antigen harus berada pada suhu 2°- 8° C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemakaian antigen fasciola ini, narasumber Infovet ini menyatakan, “Cukur bersih bulu daerah pangkal ekor dengan diameter 5 cm. Kocok antigen sampai rata sebelum dipakai. Lalu suntikkan 0,2 ml antigen intradermal ditengah tempat yang telah dicukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tunggu 15-30 menit, periksa daerah suntikan jika terjadi penebalan kulit yang mengeras (induras), ukur diameter daerah penebalan. “Hindari daerah penyuntikan dari sentuhan tangan, alkohol atau antiseptika lain sampai waktu pengukuran,” sarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hasil positif bila diameter penebalan lebih dari 15 mm. Negatif bila diameter penebalan kurang dari 15 mm. Interpretasinya, jika diameter penebalan lebih besar atau sama dengan 15 mm, maka ternak tersebut menderita penyakit Cacing Hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila sama sekali tidak terjadi penebalan atau diameter penebalan kurang dari 15 mm, ternak tersebut tidak menderita penyakit Cacing Hati,” tegas sang narasumber. (Daman Suska, YR/ berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-8032417273259761937?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/8032417273259761937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=8032417273259761937' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8032417273259761937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8032417273259761937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/ketika-ternak-jangan-diserang-cacing.html' title='Ketika Ternak (Jangan) Diserang Cacing'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-4359013642186804485</id><published>2009-01-18T17:19:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:50:57.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyakit Parasit'/><title type='text'>Penyakit Protozoa Bukan Dusta</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/penyakit-protozoa-bukan-dusta.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Protozoa Bukan Dusta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Nomor 6 Tahun 1967 (6/1967) Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 j menyatakan: penyakit hewan menular ialah penyakit hewan, yang membahayakan oleh karena secara cepat dapat menjalar dari hewan pada hewan atau pada manusia dan disebabkan oleh virus, bakteri, cacing, protozoa dan parasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ensiklopedia, protozoa mencakup banyak organisme renik heterotrof bersel tunggal populer seperti Amoeba serta Paramaecium. Namanya berasal dari dua kata bahasa Yunani: proto (awal) dan zoon (hewan), sehingga berarti "hewan pertama". Organisme ini dianggap sebagai eukaryota pertama yang bisa hidup sebagai sel tunggal di alam. Oleh karena itulah protozoa lazim disebut sebagai hewan bersel satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koksidiosis&lt;br /&gt;Penyakit karena protozoa pada ayam, yang paling dikenal adalah Koksidiosis dengan gejala utama berak darah. Peternak pun mengenal penyakit protozoa lain seperti malaria unggas dan Leucocytozoonosis.&lt;br /&gt;Koksidiosis, penyakit menyerang sistem pencernaan. yang ditimbulkan oleh Koksidia disebabkan oleh berbagai spesies genus Eimeria. Saat ini diketahui terdapat sembilan spesies Eimeria yang menyerang ternak ayam dengan enam spesies di antaranya bersifat patogenik (menimbulkan penyakit) dan menyebabkan penyakit.&lt;br /&gt;Suatu riset menyebutkan, biaya pengobatan dan pemberian aditif pakan anti-koksidiosis tidak kurang dari US $ 300 juta per tahun untuk seluruh wilayah penghasil unggas dunia. Bukankah itu harga yang teramat mahal yang harus dibayar jika peternak lalai melakukan tindakan pencegahannya?&lt;br /&gt;Infeksi berawal dari tertelannya ookista yang telah mengalami sporulasi. Ookista ini dapat ditularkan secara mekanik melalui anak kandang, peralatan kandang atau litter yang tercemar. Ayam yang telah terinfeksi Eimeria tenella dapat dikenali dari jenggernya yang kelihatan pucat, disamping kotorannya bercampur darah.&lt;br /&gt;Koksidia dapat menyerang setiap saat setelah anak ayam berumur 2 minggu. “Jangan biarkan penyakit pembunuh ini menyerang tiba-tiba. Pendarahan dan kotoran berwarna hitam adalah indikasi awal dari penyakit ini, terutama Koksidiosis jenis cekak (cecal). Anak ayam yang terinfeksi bulunya tidak mulus, aktivitasnya di bawah normal dan nafsu makan dan minumnya berkurang,” kata narasumber Infovet.&lt;br /&gt;“Jangan menunggu sampai semua ayam di kandang menunjukkan gejala yang sama baru mengambil tindakan pengobatan. Begitu kelihatan ada tanda yang mengarah pada penyakit itu, segera obati,” saran narasumber Infovet.&lt;br /&gt;Narasumber itu menguraikan, agar ayam terhindar dari berak darah, harus dilakukan langkah-langkah pencegahan seperti pengaturan sistem ventilasi udara yang baik, pengaturan kepadatan kandang yang sesuai dengan kapasitasnya dan penyediaan tempat pakan dan minum yang cukup.&lt;br /&gt;Khusus untuk pengaturan tempat air minum, sebaiknya menggunakan tempat minum nipple drinker agar tidak banyak air yang tumpah ke litter. Hal ini dapat mengurangi resiko kelembaban tinggi pada litter. “Jangan lupa berikan koksidiostat (pencegah berak darah) kimiawi dan ionoforik untuk broiler dan koksidiostat sintetik untuk induk dan pullet petelur sesuai dengan petunjuk yang ada,” tegasnya.&lt;br /&gt;Menurutnya, ventilasi yang baik dapat mencegah penyakit yang disebut Koksidiosis. Apabila penyakit ini menyerang, ayam akan banyak yang mati dan yang bertahan hidup akan cacat seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toksoplasmosis&lt;br /&gt;Protozoa lain yang terkenal di kalangan peternakan adalah Toksoplasmosis. Dikneal, Toksoplasmosis adalah penyakit yang sering dijumpai di daerah-daerah yang mempunyai kebiasaan memelihara kucing. Bila kucing memangsa tikus yang mengandung toksoplasma maka kucing ini akan dapat terinfeksi. Bila terinfeksi maka tinja kucing bisa mengandung oosist (salah satu bentuk toksoplasma yang dapat menimbulkan infeksi).&lt;br /&gt;Di usus kucing itulah parasit ini berkembang biak. Telurnya keluar bersama tinja. sekali keluar bisa jutaan. Telur toksoplasma mampu bertahan hidup setahun di tanah lembab dan panas. Jika telur tertelan manusia, di organ tubuh manusia telur berbiak lalu masuk ke jaringan otak, jantung dan otot. Disana telur akan berkembang menjadi kista.&lt;br /&gt;Toksoplasma tidak hanya menginfeksi kucing tetapi juga kelinci, anjing, babi, burung, kambing dan mamalia lainnya. Bedanya, kista toksoplasma dalam daging manusia bukan sumber penularan. Sedangkan kista di daging mamalia dan burung biasanya dimangsa anjing atau kucing. Babi, kambing, ternak dan hewan pengerat tertular toksoplasma dari memakan rumput yang tercemar tinja kucing.&lt;br /&gt;Pada tahun 2005, toksoplasma dari kucing setelah dilakukan penelitian terbukti telah menulari hewan lain terutama sapi di wilayah Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).&lt;br /&gt;Saat itu, berdasarkan penelitian Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Provinsi DIY, dari 11 ekor kucing di Kecamatan Seyegan yang diteliti ternyata tujuh ekor di antaranya positif terjangkit toksoplasma.&lt;br /&gt;Ditelitinya kucing di wilayah Seyegan itu karena di kecamatan tersebut sebelumnya banyak ditemukan sapi keguguran yang disebabkan tertular toksoplasma dari kucing, apalagi di wilayah itu terdapat banyak kucing liar.&lt;br /&gt;Kecurigaan pada kucing, karena di wilayah itu banyak kucing liar yang membuang kotoran di pagar rumput kemudian dimakan oleh sapi. Dari kondisi inilah diyakini api yang terjangkit toksoplasma akibat tertular dari kucing melalui rumput yang diyakini telah terkontaminasi toksoplasma dari kotoran kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tripanosomiasis&lt;br /&gt;Lazimnya dikenal sebagai penyakit Surra, disebabkan oleh semacam protozoa yang merupakan parasit darah yaitu Trypanosoma evansi. Penyakit Surra ini merupakan penyakit menular pada hewan dapat bersifat akut maupun kronis. Penyakit Surra Penyakit Surra biasanya terjadi secara sporadis tetapi kadang-kadang dapat juga terjadi wabah.&lt;br /&gt;Dinas Peternakan Propinsi Sumatra Barat Di Sumatera Barat melaporkan kejadian penyakit Surra ditemukan pada tahun 70-an dan pernah terjadi wabah surra pada tahun 1976 di Kab. Sawahlunto Sijunjung pada ternak kerbau dimana sebanyak 353 ekor sakit dan mati bangkai sebanyak 19 ekor.&lt;br /&gt;Setelah terjadi wabah surra tahun 1976, kasus sporadis hampir setiap tahun ada seperti di daerah-daerah kantong penyakit surra yaitu Kec. Rao Mapat Tunggul Kab. Pasaman, Kec. Rambatan Kab. Tanah Datar, Kec. Matur Kab. Agam dan Kec. Pancung Soal Kab. Pesisir Selatan.&lt;br /&gt;Semenjak tahun 1999 s/d tahun 2004 kasus penyakit surra sudah mulai menghilang kemungkinan berkaitan dengan vektor lalat penghisap darah seperti Tabanus yang hidup pada semak belukar sudah mulai berkurang populasinya, di samping itu daerah tersebut sudah terdesak dengan bangunan-bangunan.&lt;br /&gt;Terkait dengan parasit protozoa ini, pada tahun 2007 ini Guru Besar dalam bidang ilmu Parasitologi Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan Unair Prof Dr Drh H Setiawan Koesdarto MSc menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar tentang Penyakit Parasitik Pada Pengembangan Sapi Madura.&lt;br /&gt;Menurutnya, sapi Madura tak terlepas dari serangan penyakit. Salah satu diantaranya adalah penyakit parasitik, penyakit ini disebabkan oleh beberapa agen. Selama bertahun-tahun telah dilakukan beberapa kajian tentang parasitik, meliputi helmin, protozoa darah, dan vektor lalat beserta interaksinya pada sapi Madura.&lt;br /&gt;Menurut Prof Setiawan Koesdarto dalam suatu kesempatan, peluang penularan trypanosomiasis dapat terjadi jika terdapat reservoir, yaitu sapi yang terinfeksi. Mekanisme penularan dipengaruhi oleh kemampuan terbang vektor, kemampuan menyebar, serta daya tahan hidup T evansi pada vektor.&lt;br /&gt;"Lama hidup pada habitat probosis vektor maksimal 4 jam. Sedangkan pada habitat fore gut maksimal 9 jam," urai Prof Setiawan Koesdarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaplasmosis/Piroplasmosis&lt;br /&gt;Meski bukan wabah, Dinas Peternakan Propinsi Sumatra Barat pun melaporkan adanya kasus Anaplasmosis/ Piroplasmosis. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang tidak ditularkan secara kontak (non contagious) yang dapat bersifat perakut sampai kronis.&lt;br /&gt;Tanda penyakitnya, demam tinggi, anemia, ichterus tanpa hemoglobinuria, di dalam eritrosit hewan penderita terdapat agen penyakit yang bentuknya seperti ”titik“ yang disebut Anaplasma, biasanya yang patogen adalah anaplasma marginal.&lt;br /&gt;Penyakit ini lebih sering menyerang ternak sapi dan kerbau. Anaplasma maupun Piroplasma termasuk dalam golongan rikettsia yang ditularkan oleh lalat penghisap darah.&lt;br /&gt;Menurut sumber di Dinas Peternakan Propinsi setempat, di Sumatera Barat belum pernah terjadi wabah anaplasmosis maupun piroplasmosis, dari hasil pemeriksan darah (ulas darah) secara sporadis sering ditemukan, tetapi tidak menimbulkan gejala klinis. Cara penularan yang lain melalui caplak sebagai induk semang alami, memindahkan penyakit ini secara transovarial kepada caplak keturunannya.&lt;br /&gt;Caplak bertindak sebagai induk semang antara. Pada tahun 2001 hal ini pernah terjadi pada sapi impor ex Australia di BPTU Padang Mengatas dan menyebabkan kematian ternak hampir 15 ekor.&lt;br /&gt;Dispet Sumbar bersaksi, lantaran obat untuk parasit darah harganya cukup mahal di samping itu jarang ada di pasaran, relatif sulit untuk memberantas anaplasma maupun piroplasma dalam darah hewan, kemungkinan dengan menghilangkan caplak dari lingkungan ternak dapat mengurangi penularan dari penyakit anaplasmosis maupun piroplasmosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protozoa yang Lain&lt;br /&gt;Kalangan di luar kedokteran hewan dan peternakan pun mengenal dan mensosialisasikan penyakit karena protozoa. Dinas Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah Propinsi DKI Jakarta mengenal Penyakit karena Protozoa sebagai penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead).&lt;br /&gt;”Penyakit ini dimasukkan ke golongan parasit tetapi sebenarnya berbeda. Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air,” kata narasumber pada dinas tersebut.&lt;br /&gt;Salang satu gejala yang paling umum diketahui bila protozoa menyerang pencernaan adalah diare. ”Penyakit diare memiliki manusia dan ternak sebagai reservoirnya. penyakit ini dapat disebarkan lewat tinja hewan dan manusia yang sedang sakit. Penularannya bisa dengan jalan tinja mengontaminasi makanan secara langsung ataupun tidak langsung (lewat lalat). Oleh karena itu, manajemen penyehatan lingkungan lewat perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih juga harus dilakukan,” kata narasumber tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protozoa Pada Ternak Ruminansia&lt;br /&gt;Adapun sumber di Fakultas Peternakan Universitas Pajajaran menyampaikan, di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya.Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa dan fungi. Protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudahdilihat berdasarkan penyebaran silianya.&lt;br /&gt;Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichs yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang fermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulutumumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna.&lt;br /&gt;Jelas, secara tempat hidup protozoa di dalam tubuh, ada yang protozoa darah maupun yang tinggal di luar darah. Namun protozoa berpotensi merugikan dan menimbulkan penyakit, apalagi bila banyak faktor penunjang yang tidak dipedulikan.&lt;br /&gt;Dari penyebaran protoa yang menimbulkan beberapa penyakit tadi, tampak bahwa parasit lain seperti serangga pun berpotensi menjadi inang perantara yang menyebarkan protozoa untuk berpindah dari hewan ke hewan lain.&lt;br /&gt;Artinya, semakin dalam kita paham tentang makhluk-makhluk parasit, termasuk protozoa, akan makin kita peduli terhadap kesehatan ternak kita. (YR/ berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-4359013642186804485?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/4359013642186804485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=4359013642186804485' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4359013642186804485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/4359013642186804485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/penyakit-protozoa-bukan-dusta.html' title='Penyakit Protozoa Bukan Dusta'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-8754165621994016293</id><published>2009-01-18T17:18:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:21:43.378-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyakit Parasit'/><title type='text'>Jurus Akademik Menguasai Ilmu Serangga dan Penyakitnya</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/jurus-akademik-menguasai-ilmu-serangga.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus Akademik Menguasai Ilmu Serangga dan Penyakitnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Dr Drh FX Koesharto MSc, ahli serangga yang dimiliki Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, menerima Infovet dalam ruang kerjanya dalam rangka wawancara tentang lalat berkenaan dengan sebuah liputan terkait produk lalat sebuah perusahaan obat hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara yang dinamis itu menghantar pada suatu pemahaman bahwa seorang yang tekun pada bidangnya bakal sanggup menguasai ilmu itu, ilmu yang terbukti sangat dibutuhkan peternak dalam menangani persoalan serangga dan penyakit parasit yang dapat ditimbulkannya pada peternakan bahkan meluas pada kehidupan manusia sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan berkat keahliannya, Dosen FKH IPB Dr Drh FX Koesharto MSc pun ‘dipakai’ oleh berbagai kalangan bersifat nasional dan masuk katagori penting dalam bidang ini. Sebutlah prestasi-prestasi FX Koesharto yang juga menjadi referensi perusahaan obat hewan nasional PT Novartis Indonesia Animal Health Bussiness Unit yang dikenal sebagai perusahaan yang setia mengawal peternakan melawan parasit lalat dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Drh FX Koesharto MSc juga Dosen Entomologi Kesehatan (ENK, Pascasarjana FKH IPB), Pengajar International Field Biology Course in Indonesia (IBOY Training Course in Indonesia) 2005, bersama Departemen Pertanian menggawangi standarisasi pestisida, bersama Departemen Kesehatan meneliti Studi Komunitas Nyamuk Tersangka Vektor Filariasis Di Daerah Endemis di Jawa Timur, dan berbagai prestasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cermin pragmatis dari keberhasilan dunia akademis dalam mencetak insan yang tekun mendalami bidangnya. Nahwa, dengan belajar secara tekun siapapun dapatlah menguasai ilmu, dalam konteks liputan fokus kali ini tentang penyakit parasit. Dan dalam konteks Dr Drh FX Koesharto MSc adalah tentang serangga dan penyakit yang disebabkan oleh parasit serangga pada ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks almamaternya, kurikulum di FKH IPB Bogor lah yang menjadi jurus jitu menguasai ilmu lalat dan penyakitnya. Dalam bahasa peternak dan insan praktisi peternakan dan kesehatan hewan: “Inilah ilmu-ilmu yang dapat kita miliki untuk menjaga keamanan peternakan kita dari parasit dan penyakit yang disebabkan oleh parasit serangga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu-ilmu itu mutlak harus dikuasai oleh dokter hewan bahkan menjadi kurikulum wajib, apalagi dokter hewan ahli penyakit ternak lantaran parasit serangga, namun boleh dipahami oleh peternak dan masyarakat peternakan dan kesehatan hewan pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuasailah ilmu ini, itu kuncinya. Bahkan, dalam Jurusan Entomologi Kesehatan Pasaca Sarjana FKH IPB pun, akan didapat manfaat lebih dalam tentang ilmu itu, yang tentu mendasari penerapannya. Tentu saja, sebab di sini dipelajari biologi dan klasifikasi serangga, berbagai aspek bioekologi serangga, serta klasifikasi serangga sampai dengan familia (suku). Dibicarakan pula beberapa kaidah dasar dalam taksonomi dan sistematika hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertarik untuk menguasai ilmu ini untuk kepentingan hajat hidup lebih luas? Di sini, pelajari struktur dan fungsi alat tubuh serangga, bentuk dan susunan tubuh serangga, eksternal maupun internal, berikut fungsi faali berbagai bagian dan sistem dalam tubuh serangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pahamilah ihwal arthropoda pengganggu kesehatan, daur hidup, ekologi, serta peranan serangga, tungau dan caplak dalam mengganggu kesehatan manusia. Juga, berbagai alternatif cara pengendalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli bidang ini sudah tentu mesti menguasai soal penyakit yang ditularkan serangga vektor, berbagai penyakit yang disebabkan oleh parasit, bakteri, virus dan berbagai berbagai agen patogen yang dapat ditularkan oleh nyamuk, lalat, pinjal dan ektoparasit lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pun bagus untuk tahu proses penularan, hubungan antara patogen dan vektor, proses keberhasilan dalam proses transmisi serta proses keberhasilan vektor untuk menularkan ke inang. Mengertilah kondisi lingkungan dan perilaku manusia yang dapat menunjang proses penularan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupakan, biosistematika nyamuk, morfologi, eko-biologi nyamuk dalam kaitannya dengan lingkungan kehidupannya yang spesifik di dalam setiap habitat. Kuasai: taksonomi dan identifikasi nyamuk yang spesifik di dalam suatu daerah dan perubahan eksternal dan internal akibat perubahan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah soal arthropoda pengganggu kesehatan hewan, pelajari morfologi, daur hidup dan perilaku dari semua ektoparasit baik yang terbang dan merayap yang mengganggu kehidupan hewan dan ternak dalam penampilan dan produksi ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, soal serangga permukiman, pelajari investasi serangga dan tungau di tempat permukiman manusia, khususnya sebagai pengganggu ketentraman hidup maupun kesehatan. Kenali bioekologi dan cara-cara pengendaliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal parasitologi medis, bahas daur hidup dan bioekologi parasit, berikut patogenesis dan kelainan-kelainan yang diakibatkannya. Dengan satu penekanan: parasit-parasit yang ditularkan oleh arthropoda (serangga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang tertarik pun patut tahu tentang pestisida serangga kesehatan. Kajilah sifat fisik dan kimiawi, formulasi, aplikasi serta daya kerja pestisida yang biasa digunakan dalam dunia kesehatan dan veteriner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, kita juga butuh metodologi penelitian entomologi kesehatan. Bahas berbagai kaidah dasar tentang pelaksanaan suatu penelitian, dari sejak perumusan ide awal, perencanaan, pelaksanaan, analisis data, hingga pelaporan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu, lanjutkan secara kristis bahasan berbagai pendekatan dan metodologi khusus yang lazim ditempuh dalam penelitian bidang entomologi kesehatan baik di laboratorium maupun lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada bahasan pengendalian serangga kesehatan. Tahukah, di sini pun ada falsafah, strategi dan taktik dalam menghadapi masalah vektor dan serangga kesehatan lainnya. Untuk itu berbagai cara dan pendekatan pengendalian serangga dibahas secara kritis, terutama yang digunakan dalam dunia kesehatan dan veteriner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terlupa, filosofi entomologi kesehatan. Maknai ilmu entomologi dalam sudut pandang kesehatan manusia. Bahas fungsi peranan entomologis dalam upaya penanggulangan kerugian dan penyakit karena atau yang ditularkan oleh serangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuasai, proses penularan vektor serangga oleh patogen sampai proses penularan ke manusia, serta faktor lingkungan termasuk perilaku manusia yang menunjang penularan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kuasai masalah khusus entomologi kesehatan. Ada berbagai topik pilihan dalam lingkup entomologi kesehatan khususnya untuk menunjang tesis atau disertasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah mendalam berbagai aspek bidang Entomologi Kesehatan, pembahasan kritis terhadap beberapa permasalahan aktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas lebih mendalam permasalahan yang diakibatkan oleh ektoparasit pada hewan dan ternak terutama perubahan lingkungan yang terbaru serta dampak ekonomis yang ditimbulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hal akarologi kesehatan lanjut adalah telaah mendalam berbagai aspek bidang akarologi kesehatan dan veteriner, pembahasan kritis terhadap beberapa permasalahan aktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi: kevektoran dan transmisi penyakit, di sini menelaah kapasitas vektor dalam kaitannya dengan potensi penularan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tentang ekologi ektoparasit bahas hubungan antara parasit dengan lingkungannya, termasuk syarat-syarat makanan dan kondisi setempat untuk melangsungkan hidupnya. Ada juga praktikum untuk mempelajari komunitas parasit pada berbagai kondisi habitat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian soal fisiologi nyamuk, bahas lebih mendalam kondisi fisiologi nyamuk khususnya yang berkaitan dengan proses penularan penyakit dan keterdekatannya dengan manusia atau hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ilmu-ilmu wajib untuk menguasi penanganan terhadap serangga dan penyakit yang disebabkannya pada ternak, saat ini Dr Drh FX Koesharto MSc adalah salah satu pengajarnya, selain para dosen yang lain. Kajian ilmiah dalam kurikulum wajib di fakultas itulah yang menjadi dasar kuat kaum peternakan kita menangani serangga dan keberadaannya sebagai parasit penyebab penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang disebut: Ilmu yang bermanfaat! (YR/ berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-8754165621994016293?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/8754165621994016293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=8754165621994016293' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8754165621994016293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/8754165621994016293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/jurus-akademik-menguasai-ilmu-serangga.html' title='Jurus Akademik Menguasai Ilmu Serangga dan Penyakitnya'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-3552899082853571439</id><published>2009-01-18T17:16:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:49:59.121-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyakit Parasit'/><title type='text'>PARASIT LALAT</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/parasit-lalat.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARASIT LALAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalat adalah jenis serangga yang berasal dari subordo Cyclorrapha ordo Diptera. Secara morfologi lalat dibedakan dari nyamuk (subordo Nematocera) berdasarkan ukuran antenanya; lalat berantena pendek, sedangkan nyamuk berantena panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalat umumnya mempunyai sepasang sayap asli serta sepasang sayap kecil yang digunakan untuk menjaga stabilitas saat terbang. Lalat sering hidup di antara manusia dan sebagian jenis dapat menyebabkan penyakit yang serius. Lalat disebut penyebar penyakit yang sangat serius karena setiap lalat hinggap di suatu tempat, kurang lebih 125.000 kuman yang jatuh ke tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalat sangat mengandalkan penglihatan untuk bertahan hidup. Mata majemuk lalat terdiri atas ribuan lensa dan sangat peka terhadap gerakan. Beberapa jenis lalat memiliki penglihatan tiga dimensi yang akurat. Beberapa jenis lalat lain, misalnya Ormia ochracea, memiliki organ pendengaran yang sangat canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran lalat di areal peternakan juga perlu diwaspadai. Demikian diungkapkan Zuhri Muhammad SPt Technical Serice PT Medion Cabang Pekanbaru Riau. Menurutnya, lalat tetap menjadi biang kerok dalam penularan berbagai penyakit pada ayam peliharaan. Untuk itu, alumni Fakultas Peternakan Jenderal Soedirman ini menganjurkan perlunya pengontrolan ketat pada lalat di sekitar lokasi kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zuhri Muhammad, kontrol lalat pada suatu farm merupakan hal mendasar dalam sistem manajemen pengendalian penyakit. Lalat dapat menimbulkan pelbagai masalah seperti mediator perpindahan penyakit dari ayam sakit ke ayam sehat, mengganggu pekerja kandang, menurunkan produksi, menurunkan kualitas telur pada layer dan mencairkan feses atau kotoran ayam yang berakibat meningkatnya kadar amoniak dalam kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalat merupakan insekta yang unik bila dibanding dengan jenis insekta lain. Yang membedakannya adalah cara makan lalat yang meludahi makanannya terlebih dahulu sampai makanan tersebut cair. Setelah cair, makanan disedot masuk ke dalam perut. Hal ini disinyalir dapat memudahkan bakteri dan virus turut masuk ke dalam saluran pencernaannya dan berkembangbiak di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit yang disebabkan lalat dan larvanya seperti:&lt;br /&gt;(1) lalat menjadi vektor penyakit gastrointestinal pada mamalia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) NDV telah diisolasi pada lalat dewasa lalat rumah kecil (Fannia canicularis) dan larva lalat rumah (Musca domestica).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) larva dan lalat dewasa (M. Domestica) sering termakan ayam, kemudian menjadi “Hospes Intermediet” cacing pita pada ayam dan kalkun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) lalat rumah (M. domestica) yang memakan darah ayam yang tercemar kolera unggas dapat menyebarkan penyakit tersebut ke ayam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksesnya program kontrol dilakukan dengan suatu metode pendekatan terintegrasi yakni ada 4 strategi manajemen dasar yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Memelihara kotoran agar tetap kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Metode biologi, seperti menggunakan pemangsa yang menguntungkan (merangsang pertumbuhan musuh alami lalat yang biasanya banyak ditemui di kotoran dan musuh lalat ini dapat tumbuh baik jika kotoran kering). Kotoran kering akan membantu mendukung berkembangnya pemangsa dan benalu dari perkembangbiakan lalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi predator dan parasit terutama terdiri dari kumbang, kutu dan lebah. Pertumbuhan musuh lalat ini umumnya lebih lambat dibanding lalat itu sendiri. Populasi yang cukup tinggi pada hakekatnya bermanfaat bagi pengendalian lalat dan dapat dikendalikan hanya dengan jalan tidak mengganggu kotoran dalam jangka waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Metode mekanik yakni dengan biosekuriti yang meliputi manajemen kebersihan (pembersihan dan desinfeksi kandang, terutama setelah panen) dan manajemen sampah (pembuangan litter, kotoran dan bangkai ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pindahkan hewan yang mati dengan segera dan membuangnya dengan baik (dibakar atau lainnya) dan minimalkan akumulasi pakan yang tumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk luar kandang, Zuhri Muhammad SPt menganjurkan untuk membersihkan rumput liar di sekitarnya, hal ini bertujuan untuk menghindari kerumunan lalat dewasa serta menciptakan pergerakkan udara di sekitar kandang agar lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu manajemen kandang perlu ditingkatkan, hal dimaksud adalah ventilasinya, pengendalian kelembaban litter dan kebocoran air. Lalat dapat berkembangbiak di kotoran dengan kelembaban 55-85%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu perlu menghindari agar kandang tidak lembab, seperti mencegah kebocoran, pastikan air tidak masuk ke dalam lubang serta mengatur aliran udara agar dapat memberikan efek kering pada permukaan kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Kontrol kimia melalui aplikasi insektisida atau obat-obatan (spray, fogs dan lain-lain). Pada bagian ini, alumni Fakultas Peternakan Unsoed Purwokerto ini menganjurkan memilih Cyromazine yang secara nyata telah terbukti keampuhannya dalam membasmi lalat di farm-farm peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun aplikasi pemakaiannya adalah mencampur Cyromazine dengan pakan, kemudian gunakan 4-6 minggu berturut-turut, setelah itu dihentikan selama 4-8 minggu, lalu dipakai kembali, ini bertujuan untuk memutus siklus hidup lalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya ini dipakai untuk farm layer karena periode pemeliharaannya cukup panjang, sedang untuk broiler Zuhri lebih menganjurkan untuk menjaga kebersihan kandang, hindari genangan air dan jangan biarkan adanya pakan yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Mengurangi Lalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan kimia dan pestisida lainnya, memberikan dampak kimia negatif, yang berlanjut pada pertaruhan nilai kesehatan manusia akibat residu kimia yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak negatif yang serius terhadap lingkungan menyebabkan penurunan kualitas produksi akibat kerusakan unsur hara tanah yang diikat oleh residu kimia dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantisipasi kedua dampak serius diatas dan merespon ancaman pasar global akan kebutuhan produk organic, banyak cara dilakukan termasuk dengan cairan minuman stimulan yang: diterapkan pada ayam buras yang di antaranya dianggap punya keunggulan menekan ongkos produksi 15 s/d 25% untuk pengadaan pakan, mampu melepaskan pemakaian vitamin serta konsentrat buatan/pabrik, meningkatkan produktifitas telor dan daging secara kuantitatif dan kualitatif, menetralisir limbah kotoran (bebas polusi), mengurangi jumlah lalat dan serangga ternak, mengurangi ketegangan/stress pada ternak dan menekan angka mortalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Darman Suska, Infovet/ Berbagai Sumber)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1181465052575353707-3552899082853571439?l=kedokteranhewan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/feeds/3552899082853571439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1181465052575353707&amp;postID=3552899082853571439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3552899082853571439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1181465052575353707/posts/default/3552899082853571439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kedokteranhewan.blogspot.com/2009/01/parasit-lalat.html' title='PARASIT LALAT'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1181465052575353707.post-1197340505546807741</id><published>2009-01-18T17:15:00.000-08:00</published><updated>2011-06-08T19:48:16.465-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyakit Parasit'/><title type='text'>Penyakit Parasit Itu Berbahaya Mengatasinya Sangatlah Mulia</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_EvfG1XnN8wU/R3I75OFofuI/AAAAAAAAAJE/oGwSyv396rE/s1600-h/cover+Otober++07web.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148243178258202338" src="http://1.bp.blogspot.com/_EvfG1XnN8wU/R3I75OFofuI/AAAAAAAAAJE/oGwSyv396rE/s320/cover+Otober++07web.jpg" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://infovet.blogspot.com/2007/10/penyakit-parasit-itu-berbahaya.html"&gt;Fokus Infovet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Parasit Itu Berbahaya Mengatasinya Sangatlah Mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bulan Ramadhan tahun ini, sedikit memprihatinkan. Betapa tidak, di awal Ramadhan, serentetan bencana alam menimpa saudara kita yang hidup di sepanjang wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bencana alam dimaksud seperti gempa bumi yang kembali melanda Provinsi Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat dengan kekuatan 7,9 SR, 7,7 SR dan 7,8 SR.&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita pantas berduka, sebab semestinya saudara kita dapat melakukan ritual ibadah puasanya dengan aman, kehadiran gempa bumi sedikit membuncah ketenangan saudara kita dalam kekhusukannya menjalankan ibadah puasa dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan itu, dunia peternakan dan kesehatan hewan Indonesia juga belum sepenuhnya bisa bernafas legah. Di sana sini masih saja terdengar pembantaian unggas secara besar-besaran terkait ketakutan masyarakat terhadap bahaya penularan Avian Influenza dari unggas ke manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini memang tak dapat dipungkiri. Setelah empat tahun Indonesia bersama AI, kondisi AI sendiri di Indonesia belumlah pulih. Hal ini masih saja terlihat manakala adanya laporan-laporan suspect Flu Burung yang menimpa manusia dari berbagai daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penyakit ternak dari jenis parasit juga perlu diperhatikan. Hal ini terkait dengan kondisi iklim dipenghujung tahun 2007 ini yang cenderung basah, sehingga kekuatiran terhadap serangan parasit perlu ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Technical Service narasumber Infovet di berbagai tempat di Indonesia, iklim basah merupakan faktor awal yang memicu munculnya serangan berbagai parasit pada ternak. Ditegaskan, dari sejumlah parasit dimaksud yang perlu mendapat perhatian lebih adalah cacing, lalat dan kutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Parasit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya mendeskripsikan mata kuliah Parasitologi Veteriner memberikan ilmu-ilmu protozoologi (tentang protozoa), helmintologi (tentang cacing) dan entomologi (tentang serangga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Laboratorium Parasitologi FKH UNair itu, diagnosis protozoa meliputi protozoa saluran cerna dengan pemeriksaan feses, bedah saluran pencernaan, usapan kerongkongan dan kerokan usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus koksidiosis pada ayam dilakukan bedah bangkai dan uji biologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protozoa darah meliputi pemeriksaan ulas darah dan khusus leucocytozoonosis dlakukan bedah bangkai dan gerusan organ dalam. Toxoplasmosis meliputi pemeriksaan feses, uji tekan dan uji biologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun diagnosis penyakit helminth, meliputi bedah saluran pencernaan untuk identifikasi cacing, pemeriksaan feses secara natif, metode konsentrasi sedimentasi dan pengapungan. Identifikasi cacing secara natif dan pewarnaan Carmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi cacing dengan media basah dan preparat permanen. Pemeriksaan larva dan telur cacing dari padang rumput. Penghitungan telur cacing per gram tinja untuk mengetahui derajat infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan diagnosis penyakit arthropoda, yang disebabkan karena tungau dilakukan cara pengerokan kulit pada kelinci dan ayam kampung, identifikasi secara makroskopis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi arthropoda penyebab penyakit pada ternak yaitu pinjal, caplak dan kutu dilakukan dengan cara pembuatan sediaan permanen dengan dan atau tanpa pewarnaan, dilanjutkan pemeriksaan secara mikroskopis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan arthropoda yang bertindak sebagai vektor penyakit yaitu lalat dan nyamuk, identifikasi dilakukan secara makroskopis dan koleksi cara basah dan kering/pinning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa Parasitologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk analisa parasitologi, peternak dapat menggunakan lembaga negara yang diakui internasional unt
