Senin, Januari 19, 2009

VAKSINASI, REAKSINYA DAN NUKLIR Untuk Ketahanan Tubuh Ternak

Infovet

VAKSINASI, REAKSINYA DAN NUKLIR Untuk Ketahanan Tubuh Ternak


Sudah lazim dikenal masyarakat peternakan, agar ayam memiliki daya kebal sehingga terlindung dari serangan penyakit telah dilakukan usaha untuk mengatasi masalah penyakit dengan melakukan vaksinasi pada ayam, baik menggunakan vaksin aktif atau inaktif (killed).

Proses vaksinasi adalah dengan memasukkan agen penyakit yang telah dilemahkan dengan tujuan untuk merangsang pembentukan daya tahan atau kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit tertentu dan aman untuk tidak menimbulkan penyakit.

Demikian Gatut Wahyudi selaku Technical Service CP. Prima, Semarang dalam terbitan oleh Divisi Agro Feed Business Charoen Pokphand guna pelayanan oleh Customer Technical & Development Departement.


Pentingnya Reaksi Post Vaksinasi

“Reaksi yang merugikan terkadang kita jumpai sebagai akibat dari pembentukan respon kekebalan pada tubuh ayam. Reaksi yang ditimbulkan dapat berupa reaksi lokal maupun umum,” katanya.

Menurutnya, reaksi lokal adalah seperti mata berair, bengkak pada daerah muka, ayam menggosokkan mata pada punggungnya, menggoyang-goyangkan kepalanya atau terjadinya kerusakan jaringan pada daerah bekasinjeksi.

Adapun, gejala umum biasanya terjadi demam dan penurunan produksi. Pemberian vaksin ” killed bacterial” dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada bekas injeksi sebagai akibat dari reaksi adjuvant.

Gatut Wahyudi menjelaskan, pembengkakan pada daerah periorbital sering kita jumpai sebagai akibat pemberian killed vaksin coryza.

Encephalitis dan encephalopathy sering kita jumpai sebagai akibat dari reaksi setelah pemberian vaksin ND (R2B) dengan menunjukkan tanda-tanda yang khas seperti torticollis, tremors dan paralysis.

“Reaksi post-vaksin ini dapat terlihat pada hari kedua sampai enam hari setelah pemberian vaksin aktif seperti ND, IB atau IBD,” ungkapnya.

Adapun, lanjutnya, reaksi post-vaksin yang paling utama adalah munculnya penyakit gangguan pernafasan ringan dengan gejala batuk, bersin dan ngorok yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: Reaksi vaksin yang terlalu kuat

Sementara, adanya “rolling reaction” sebagai akibat dari pelaksanaan dan waktu vaksinasi yang kurang tepat, telah terjadi infeksi pada ayam yang tidak memiliki kekebalan.

”Reaksi ini berjalan sangat lambat dan terus-menerus,” tegas Gatut Wahyudi.

Ia pun melanjutkan, vaksin aktif seperti ND dan IB akan menimbulkan kekebalan setelah terjadinya reaksi pada sistim pernafasan. Tanpa timbulnya reaksi pernafasan tersebut kekebalan tidak akan terbentuk.

Pada dasarnya seberapa parah reaksi pernafasan terjadi setelah pelaksanaan vaksinasi tergantung pada:

- Level zat kebal induk. DOC dengan kekebalan induk rendah reaksi post-vaksin akan semakin jelas, tetapi akan memberikan reaksi yang positip untuk membentuk kekebalan aktif.
- Strain vaksin. Semakin kuat strain vaksin yang digunakan, reaksi yang ditimbulkan semakin kuat.
- Umur. Pada umumnya ayam muda akan memberikan reaksi yang lebih kuat.
- Dosis vaksin. Pemberian dosis yang tinggi reaksi semakin jelas.
- Aplikasi vaksin. Vaksin lewat air minum dan tetes mata reaksi yang ditimbulkan lebih lemah dibandingkan cara spray.
- Terjadinya infeksi E coli dan Mycoplasma gallisepticum.
- Kelembaban udara yang terlalu rendah.
- Adanya faktor immunosupresi. Faktor stres akan memberikan reaksi yang lebih hebat.
- Level immune yang rendah sebagai akibat jarak vaksin aktif yang terlalu jauh.
- Pelaksanaan vaksin yang ceroboh, sehingga ada beberapa ayam yang tidak tervaksin.
- Pelaksanaan vaksin aktif pada flok dengan banyak umur.
- Level amonia dan debu yangtinggi.
- Populasi kandang terlalu padat
- Kualitas liiter yang jelek.

Gatut wahyudi pun menuturkan berdasar penelitian yang dilakukan oleh Dr Avinsh Dhawale dari Diamond Hatcheries India, untuk mencari hubungan antara reaksi post-vaksin terhadap produksi ayam breeder, dapat disimpulkan bahwa :

- Perlunya mengetahui lebih dahulu level antibodi sebelum melakukan revaksinasi
- Vaksin aktif dan inaktif hendaknya diberikan secara terpisah
- Perlunya pemberian antibiotik jika terjadi infeksi mycoplasma
Dengan memperhatikan faktor apa saja yang dapat menimbulkan reaksi post-vaksinasi, kerugian yang ditimbulkannya dapat dikurangi serendah mungkin.
Gatut Wahyudi pun memberi tips beberapa tindakan untuk mengurangi reaksi post-vaksin, yaitu:
- Lakukan sterilisasi pada alat injeksi
- Jangan melakukan vaksin pada ayam yang menunjukkan gejala klinis,lemah atau dalam kondisi stres.
- Gunakan vaksin yang berkualitas baik
- Pilih DOC yang berkualitas baik.
- Kontrol populasi mycoplasma dengan menggunakan program dan preparat antibiotik.
- Lakukan penyimpanan vaksin secara benar
- Hindari kontaminsai oleh agen penyakit lainnya
- Perhatikan tanggal kadaluarsa vaksin dan diluentnya.
- Gunakan vaksin IBD strain hot hanya pada daerah yang rawan outbreakIBD.
- Pilih strain vaksin yang tepat (mild vaksin).
- Perhatikan petunjuk pelaksanaan yang ada pada setiap kemasan
- Lakukan program biosecurity


Nuklir untuk Ketahanan Tubuh Ternak

Adapun menurut Irawan Sugoro selaku Pusat Penelitian dan Pengembangan Isotop dan Radioisotop (P3TIR Badan Tenaga Nuklir Nasional) pada sebuah sumber informasi P3TIR BATAN, definisi vaksin adalah suatu suspensi mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit tetapi telah dimodifikasi dengan cara mematikan atau menatenuasi sehingga tidak akan menimbulkan penyakit dan dapat merangsang pembentukan kekebalan/antibodi bila diinokulasikan.

Terkait dengan vaksinasi ini, Irawan Sugoro mengungkapkan, BATAN sudah melakukan pemanfaatan teknik nuklir radiasi yang dilakukan di bidang peternakan terutama di sub bidang kesehatan ternak, yaitu untuk melemahkan patogenisitas penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus dan cacing.

„Litbang pemanfaatan radiasi telah menghasilkan radiovaksin, reagen diagnostik, dan pengawetan,“ katanya.

Menurutnya, radiovaksin adalah teknik pembuatan vaksin dengan cara iradiasi. Pembuatan radiovaksin memiliki keunggulan dibandingkan dengan cara konvensional, yaitu mempercepat proses pembuatan vaksin dengan memperpendek waktu pasasel.

„Selain itu, radiovaksin yang diproduksi memiliki kualitas yang sama dengan vaksin buatan secara konvensional,“ tambah Irawan Sugoro.

Ia menjelaskan, sumber radiasi yang digunakan untuk pembuatan radiovaksin adalah sinar gama yang digunakan untuk menurunkan infektivitas, virulensi, dan patogenitas agen penyakit, tetapi diharapkan mampu merangsang timbulnya kekebalan pada tubuh terhadap infeksi penyakit.

Salah satu hasil penelitian yang telah menjadi produk adalah vaksin koksivet untuk penyakit Coccidiosis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh protozoa Emeria Sp pada usus yang mengakibatkan berak darah.

Ookista generasi 1 diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis optimum 125 Gy dan diinokulasikan ke ayam sehingga diperoleh ookista generasi II yang lemah sifat infektivitas dan patogenitasnya. Selanjutnya, ookista dari generasi II tersebutlah yang dijadikan vaksin. Vaksin ini diinokulasikan ke ayam berumur 7-10 hari sehingga ayam memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.

Sedangkan pada ternak besar, penelitian yang dilakukan saat ini adalah upaya pengembangan vaksin terhadap penyakit ternak, seperti brucellosis dan mastitis. Selain penelitian radiovaksin penyakit ternak yang berasal dari mikroorganisme, dilakukan pula penelitian radiovaksin penyakit ternak yang berasal dari cacing, seperti Coccidiosis, Fasciolosis, dan Haemonchosis. (Infovet/ berbagai sumber)

Tidak ada komentar: